Tampilkan postingan dengan label Green Holic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Green Holic. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2012

Sejarah Lahirnya Sepeda “Lawas” Onthel

UNIK: Selain tua, sepeda onthel juga mamiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan sepeda yang lainnya.(Ft.Teguh_GSJ)

SEJARAH sepeda lawas (onthel) bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes.
Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, yakni sebuah batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu.
Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang pada masa itu untuk berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya.
Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada. Dari sinilah tercipta sebuah sepeda, atau sepeda pertama kali terutama onthel.
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transport yang bergengsi. (teguh-gsj/dac)

Onthel dan Fotografi

SEPEDA ONTHEL: Indah saat melakukan foto dengan menggunakan sepeda onthel sebagai pendukungnya beberapa waktu lalu.(Ft.Teguh_GSJ)

SEPEDA Onthel memang tua dan ketinggalan zaman, namun sepeda ini sangat banyak digunakan banyak orang untuk berfoto ria. Bahkan tidak jarang seseorang yang akan berfoto dengan sepeda zaman dahulu ini menggunakan kostum-kostum yang unik. Seperti pakaian zaman pribumi seperti layaknya seorang Soekarno.
Tua muda, laki-laki perempuan sangat menikmati onthel apabila sedang berpose. Namun apa saja kenikmatan yang dapat diperoleh ketika kita memilih sepeda onthel sebagai objek untuk berfoto? Untuk itu Riau Pos Bike Community telah berbincang dengan salah seorang wanita yang sangat mengagumi onthel sebagai temannya berpose, Indah Merdeka Putri (16).
“Seru aja, modelnya yang unik membuat orang-orang yang berfoto dengan onthel bisa mengenang zaman dahulu,” terang Indah Merdeka Putri yang saat ini masih duduk di kelas 12 SMAN 4 Pekanbaru.
Selain itu, wanita kelahiran Desember ini juga mengatakan dapat berfoto dengan sepeda onthel merupakan sebuah kebanggaan.
“Sepeda onthel memang kuno, tapi kekunoannya inilah yang membuat kita terlihat keren,” tambah Indah.
Oleh karena itu, sepeda onthel tidak bisa dipisahkan dengan dunia fotography. Hal ini dikarenakan hanya dengan berfoto dengan sepeda onthel kita seolah-olah bisa kembali kezaman dulu. (teguh-gsj/dac)

Kamis, 06 September 2012

Perayaan Anniversary B2W di Pekanbaru, Night Ride Serta Bike to Eat

BENDERA: Beberapa anggota komunitas pesepeda B2W Pekanbaru berfoto bersama dengan bendera B2W di atas jembatan Siak 3 (27/8/2012).(Ft.Teguh_GSJ)

SENIN (27/8) lalu, dalam rangka memperingati hari jadi Bike to Work Indonesia yang kedelapan, enam orang yang tergabung ke dalam B2W-Pekanbaru melakukan acara gowes bareng di Pekanbaru. Acara yang seharusnya dilakukan pada pagi hari ini terpaksa ditunda hingga pada malam hari dikarenakan hujan yang turun mengguyur kota Pekanbaru pada pagi harinya.
“Seharusnya pagi, tapi karena hujan terpaksa diganti pada malam hari. Night Ride Bike to Eat, atau yang biasa disebut bersepeda menuju tempat makan,” terang Abi Karyanto salah satu pergagas berdirinya B2W di Pekanbaru.
Memilih titik berkumpul di patung tugu selais, seluruh anggota B2W-Pekanbaru memulai gowes bareng mereka sejak pukul setengah delapan malam. Dari sana mereka menuju jembatan siak 1 serta jembatan siak 3. Disana bersama-sama seluruh anggota B2W-Pekanbaru istirahat sejenak  sambil berfoto bersama. Puas berfoto, seluruh anggota langsung menuju tempat makan atau titik akhir yang telah mereka sepakati di jalan Riau.
Memang pada malam itu hanya bisa diikuti oleh enam orang anggota saja dari 40 anggota, namun bagi mereka acara malam ini sangatlah penting. Selain untuk ikut serta memperingati hari jadi Bike to Work Indonesia, acara ini juga disampaikan untuk memperingati pejuang-pejuang pesepeda yang ingin mewujudkan bersepeda ke tempat kerja. (teguh-gsj/dac)

HUT Ke-8 Bike to Work

GOWES BERSAMA: Beberapa kegiatan angggota B2W Pekanbaru saat gowes beberapa waktu lalu.(ft.Teguh_GSJ)

SATU Sepeda Satu Indonesia, Satu Sepeda Sejuta Sahabat. Paling tidak itulah selogan yang tak henti-henti terus dikumandangkan oleh seluruh anggota Bike to Work (B2W) Indonesia kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Tidak terasa sejak pertama kali dideklarasikan pada tahun 2005 di balai kota DKI Jakarta, kini (27/8) (B2W) telah berumur delapan tahun,” ucap Toto Sugito pada situs resmi B2W Indonesia.
Sejarahnya, B2W berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang tergabung kedalam komunitas Jalur Pipa Gas (JPG).  Yang seluruh anggotanya memiliki spirit, gagasan serta harapan untuk terciptanya udara bersih di perkotaan. Sehingga terwujudlah Bike to Work Community atau yang pada saat itu lebih dikenal Komunitas Pekerja Pesepeda.
6 Agustus 2004 menjadi hari pertama mereka berkampanye penggunaan sepeda menuju tempat kerja. Namun baru setahun kemudian barulah terwujud peresmian Bike to Work Indonesia. Yang mana 27 Agusutus menjadi hari dideklarasikannya komunitas berlogo warna kuning ini.
Banyak cara yang dilakukan coordinator B2W masing-masing daerah untuk ikut memperingatinya. Seperti Nigth Ride yang dilakukan anggota B2W DKI Jakarta. Bersepeda yang dimulai dari tugu monas ini juga diselingi dengan acara pembacaan deklarasi. Sementara di Bandung, seluruh anggota B2W Bandung memilih untuk merayakannya dengan bersepeda sore.
Di usianya yang ke delapan, Bike to Work Indonesia berharap agar pemerintah dapat memenuhi hak-hak pesepeda seperti yang telah dikeluarkan dalam undang-undang.
Sementara itu dalam hal terpisah, Hendri Bhirowo selaku ketua B2W Pekanbaru menyampaikan bentuk terima kasihnya kepada pihak-pihak yang selama ini telah membantu. Baik dalam bentuk apapun sehingga B2W Indonesia dapat survive sampai dengan saat ini. (teguh-gsj/dac)

Senin, 27 Agustus 2012

Berawal dari Hobi Menjadi Jati Diri



TAK terfikir baginya untuk  memilih sepeda motor sebagai kendaraan nya. Ia lebih memilih sepeda, alat transportasi sederhana dengan tenaga kayuh sebagai penggeraknya. Fajri Fathah,  siswa  kelas X 9  Sekolah Menengah Atas  Negeri 3 ini memilih untuk mengayuh sepedanya dari kediamannya di jalan Perkasa Gang Sawojajar no 232B menuju sekolah, ketimbang mengendarai sepeda motor yang kerap menjadi alat transportasi para siswa siswi lainnya.
Untuk sampai disekolah saja ia harus mengayuh 3 kilometer perjalanan, dengan menempuh waktu lebih kurang 15 menit.  “Panas, debu, asap kendaraan dan keringatan sih sudah biasa saya hadapi, jadi saya tidak akan mengeluh kalau cuma karna matahari yang menyengat dan keringat yang bercucuran,” ujarnya ketika ditanyai perasaannya bila mengayuh sepeda.
Kecintaannya kepada sepeda sudah sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, sejak kelas 3 SD telah menjadikan sepeda sebagai alat transportasinya. Berawal dari hobi, kini jumlah sepedanya mencapai 5 sepeda dan itu semua ia pergunakan.
Sepeda bukan hanya sebagai alatransportasi ke sekolah, oleh Fajri sepeda telah menjadi pilihan utamanya untuk mengantarnya kemana-mana. Sewaktu SMP ia memiliki club sepeda yang anggotanya teman-teman satu sekolah dengannya yang juga memilih sepeda sebagai alat transportasi yang mereka anggap hemat, tepat dan tidak menimbulkan asap.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini menyampaikan keinginannya yang sekaligus menjadi keluhnya bila bersepeda di kota kita yang tercinta ini, mulai dari dicegat saat bersepeda, ragu bila di lampu lalu lintas dan beberapa keluhan lainnya. “ Aku pengennya ada jalur khusus buat semua pengendara sepeda di Kota Pekanbaru ini, aku rasa kalau pemerintah mau membuatkan jalur khusus sepeda, maka akan banyak pula yang beralih ke sepeda, mungkin sekarang mereka ga pakai sepeda karena menghindari resiko kecelakaan di jalanan “ urainya ketika di tanyai keinginnannya untuk kota ini. (atin-gsj/dac)

Bike Packer, Idul Fitri Bukan Halangan

SEPEDA LIPAT: Edward saat bersepeda di Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Riau-Sumatera Barat menggunakan sepeda lipatnya. (Ft. Teguh-GSJ)

IDUL FITRI bukan menjadi penghalang bagi pencinta sepeda. Setidaknya inilah yang ditunjukkan anggota Bike Packer Community. Kamis (23/8) salah satu anggota Bike Packer Community, Edward bersepeda di jalan lintas Riau-Sumatera Barat. Bike Packer Community sendiri merupakan komunitas sepeda yang mana anggotanya suka berpetualang.
“Suasana lebaran idul fitri bukanlah suatu halangan kita untuk bersepeda, justru momen lebaran momen yang tepat karena kita juga bisa sekaligus pulang kampung,” terang Edward pria kelahiran 40 tahun silam.
Memilih bersepeda di jalan yang menghubungkan Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat ini juga tanpa alasan. Pria yang juga merupakan penasihat dari komunitas sepeda gunung Challenger MTB Club ini beralasan jalan tersebut cukup indah pemandangannya untuk dilalui. Terutama jika kita bersepeda diatas jembatan layang kelok sembilan yang baru diresmikan.
“Memang tidak diperbolehkan berhenti diatas jembatan, tapi melewatinya saja sudah cukup memuaskan. Puas dengan pemandangan yang dapat kita nikmati dari atas jembatan dengan menggunakan sepeda,” tambah Edward.
Selain itu, pria yang juga kelahiran Palembang ini juga bersepeda setibanya di Sumatera Barat. Terutama di Bukittinggi yang terkenal masih cukup banyak kita temui orang yang menggunakan sepeda ontel sebagai kendaraan pribadinya. (teguh-gsj/dac)

Senin, 13 Agustus 2012

Ngabuburit Pakai Sepeda

SORE HARI: Fly over di pertigaan Jalan Sudirman-Imam Munandar saat ini sering menjadi lintasan bagi pesepeda terutama pada sore hari menjelang saat berbuka puasa. Tampak sejumlah pemuda mulai memanfaatkan jembatan layang yang sebentar lagi akan menjadi ikon baru Kota Pekanbaru itu.(Foto :Teguh GSJ)

BANYAK cara yang dapat kita lakukan untuk bersepeda di bulan puasa, salah satunya dengan ngabuburit atau bersepeda sore.  Seperti yang dilakukan oleh lima pemuda yang ditemui Riau pos Bike Community bersepeda setiap sore di bulan puasa. Feryan Al Fatha, Hermawan, Bagus Darmawan, Ponco Rafael serta Boby Restu.
Bersepeda telah menjadi pilihan utama mereka untuk menghabiskan waktu sore hari sambil menunggu buka puasa. 
“Kami hampir setiap hari ngabuburit dengan bersepda bersama-sama, biasanya kami start dari jalan lumba-lumba menuju bandara sejak pukul lima sore,” terang Feryan Al Fatha.
Selain itu pria yang masih menyandang status mahasiswa di pasca sarajana manajemen Universitas Riau ini juga mengatakan, bila bersepeda merupakan salah satu kegiatan yang positif. Selain bisa menunggu waktu berbuka, dengan bersepeda setiap sore maka badan akan terasa sehat terutama di bulan puasa.
Banyak manfaat yang dapat kita rasakan jika kita bersepeda di bulan puasa. Seperti untuk tetap menjaga kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Selain itu juga bisa untuk tetap menjaga stamina tubuh, tentunya dengan porsi bersepeda yang dikurangi dari hari biasanya selain bulan puasa.
“Kenapa kami memilih bersepeda? Selain bersepeda tidak terlalu melelahkan, kita juga bisa menikmati udara serta pemandangan wajah kota yang cukup bagus pada sore harinya,” ujar Hermawan kepada Riau Pos Bike Community.
Untuk tempat tujuan bersepeda, kelima pria ini memilih Bandara Sultan Syarief Qasim II yang baru sebagai tempat tujuan mereka ngabuburit.
“View disini bagus, selain itu jalan menuju ke bandara juga cukup mulus aspalnya (Jalan Sudirman). Selain itu, di bandara baru ini polusinya masih cukup sedikit dikarenakan masih minimnya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang disini,” tambah Hermawan pria berusia 25 tahun ini.
Untuk itu, kelima pria ini juga berpesan bahwa ngabuburit yang positif ialah bersepeda. Apalagi jika bersepeda dersama-sama, puasa tidak terasa dan pastinya puasa lacar. (teguh-gsj/dac)

‘’Seli’’ si Sepeda Praktis

SEPEDA LIPAT: Salah satu sepeda yang sering digunakan oleh komunitas Bike to Work salah satunya sepeda lipat (Foto:Teguh GSJ)

MAJUNYA tekhnologi membuat orang mulai berfikir untuk mempermudah segala sesuatunya termasuk bersepeda. Tuntutan aktivitas yang tinggi terkadang membuat orang sulit untuk bersepeda. Namun ada segelintir orang yang masih bisa bersepeda. Untuk mempermudah semua itu ada Seli atau sepeda lipat.
Oleh karena itu Riau Pos Bike Community telah berbincang dengan Abi Karyanto yang menggunakan Sepeda lipat (Seli)  dalam kehidupannya sehari-hari.
“Sepeda lipat sangat praktis, terutama untuk yang kerja kantoran tapi masih berfikir untuk kesehatannya,” terang pria yang bekerja sebagai Supervisior Administrasi dan Keuangan di PLTD Riau.
Sepeda lipat sendiri pertama kali lahir pada 1982. Dr David Hon, ialah seorang yang pertama kali mulai memproduksi sepeda lipat. Sepeda lipatnya ini dinamai Sepeda Lipat Dahon, yang mana sepeda ini menjadi produsen sepeda lipat terbesar di dunia.
Sepeda yang dalam bahasa inggrisnya Folding Bike ini sekarang sangat digemari banyak orang, terutama bagi mereka yang menjalankan program bike to work.
“Jika kita menggunakan sepeda ke kantor, maka seli merupakan pilihan yang tepat. Seandainya saat pulang kantor kita lelah sehingga tidak memungkinkan untuk bersepeda, maka kita bisa melpat seli lalu memasukkannya ke mobil,” ucap Abi Karyanto yang hampir setiap jumat menggunakan sepeda lipatnya untuk pergi ke kantornya. (teguh-gsj/dac)

CFD Corner

SILAHTURAHMI:  Di Car Free Day bisa dijadikan tempat untuk silahturahmi antar komunitas sepeda.(Foto:Teguh GSJ)
 

Senin, 06 Agustus 2012

CFD Corner - Main Remote Control

REMOTE CONTROL: Semua orang bisa memanfaatkan Car Free Day untuk beraktivitas, salah satunya bermain remote control.

Puasa, P2C2 Tetap Aktif

BERSAMA: Beberapa pembina P2C2 saat  buka bersama beberapa waktu silam.


TIDAK ada yang bisa menghalangi individu ataupun sekelompok orang jika bersepeda, termasuk puasa. Jumat (29/7) lalu, Pandau Permai Cyclist Community atau yang biasa disebut P2C2 tetap bersepeda bersama-sama meskipun seluruh anggota sedang dalam keadaan berpuasa.
“Yang spesial dari gowes kali ini, kami semua bersama-sama gowes menuju tempat bukaan untuk melakukan buka bersama,” terang Reja Agung Prayuda Wakil Ketua P2C2.
Beranggotakan 25 orang dan sepeda, seluruh anggota P2C2 yang mayoritas warga Pandau ini bersama-sama  memulai gowes dari Pandau. Dengan tujuan salah satu tempat makan yang ada di daerah kubang. Minimal jarak yang mereka tempuh lebih kurang sejauh 15 kilometer.
Tidak hanya bersepeda sore menuju tempat bukaan, seluruh anggota P2C2 juga melaksanakan night ride atau gowes pada malam hari. Biasanya malam minggu menjadi pilihan utama seluruh anggota P2C2 saat night ride. Keliling kota serta nongkrong sesama anggota menjadi aktivitas yang tidak pernah tertinggal setiap malam minggunya. (teguh-gsj/dac)

Bersepeda di ”Kota Raja”

BERSEPEDA: Di Rengat, warga  bisa menikmati bersepeda di sekitar lingkungan yang masih hijau.
BANYAK cara yang dapat kita lakukan untuk menikmati olahraga sepeda, terutama jika kita berada di kota yang masih cukup alami seperti di kota Rengat. Terkenal Sebagai kota Raja, Rengat menjanjikan suasana bersepeda yang segar.
‘’Nikmati dulu bersepeda di Tepian Sungai Indragiri,’’ paling tidak itulah yang dikatakan oleh warga Rengat kepada pesepeda yang sengaja datang jauh-jauh dari luar kota.
“Suatu kesegaran tersendiri jika kita bersepeda di tepi Sungai Indragiri, suatu suasana bersepeda yang belum tentu kita dapatkan jika kita bersepeda di kota lain,” terang Deni Darman Putra salah satu pesepeda dari komunitas sepeda yang ada di Rengat.
Selain bersepeda di tepi sungai, Rengat juga menjanjikan suasana bersepeda yang tentunya sangat dicari pecinta sepeda. Seperti lingkungan sekitar yang indah serta udara yang segar. Di Rengat sendiri suasana seperti ini sangat mudah kita dapatkan jika kita bersepeda di daerah Sei Guntung. Daerah yang masih banyak kita temukan banyak pepohonan yang rindang.
Tidak berhenti sampai disitu, Rengat masih menyimpan satu trek yang tentunya tidak pernah ditinggalkan teman-teman goweser jika mengayuh di Rengat. Trek Danau Raja, sebuah trek yang mana keindahannya sangat membuat kita tidak akan melupakan jika bersepeda disini.
“Hal ini dikarenakan keindahan Danau Raja yang tertutupi oleh bunga teratai yang mekar,” tambah Deni Darman Putra kepada Riau Pos Bike Community. (teguh-gsj/dac)

Flyer Wing, Sepeda Anak Tangga

BERMAIN DI MALL: Seorang anak saat bermain Fly Wing di salah mall yang ada di Pekanbaru beberapa waktu silam.
FLYER WING  adalah scooter berbentuk  sepeda yang bergerak seperti naik tangga. Bentuknya hampir menyerupai otopet dengan stang dan tangkai panjang. Namun, ada sedikit perbedaan pada penggunaannya.
“Cara mengunakannya adalah dengan menggabungkan pedal dan rem tangan dari sepeda dengan sikap tegak,” terang Adi Mulyadi  Sales Manajer ACE Hardware saat menerangkan cara penggunaannya kepada Riau Pos Bike Community
Flyer Wing dapat dikatakan pedal bertenaga, jika terus  menerus  mengayuh dan akan memberi efek seperti  latihan bantalan aerobik yang berat sehingga mudah membakar kalori di dalam tubuh. Mengunakan Flyer Wing dapat berfungsi sebagai penganti lari atau jogging, yang mana saat mengunakan Flyer Wing kita merasa seperti berlari di udara.
Di Pekanbaru sendiri, scooter berbentuk sepeda ini belum  sepopular sepeda sehingga belum ada komunitas Flyer Wing. Flyer wing sangat cocok untuk semua umur mulai dari anak-anak, remaja bahkan dewasa. (febria-gsj/dac) 

Ajak Keluarga Bersepeda

ISTIRAHAT: Selepas gowes, berfoto bersama menjadi salah satu plihan keluarga Abi Karyanto . Bagi keluarga ini bersepeda adalah upaya untuk lebih mendekatkan sesama anggota keluarga.
TIDAK ada rotan akarpun jadi, tidak ada teman gowes, keluargapun jadi untuk diajak bersepeda bersama-sama. Selogan inilah yang sering diucapkan oleh Abi Karyanto yang cukup sering bersepeda bersama seluruh anggota keluarganya.
“Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membudayakan kegiatan bersepeda, salah satunya dapat kita mulai dengan mengajak keluarga kita sendiri untuk bersepeda bersama-sama,” terang Abi Karyanto kepada Riau Pos Bike Community.
Lebih lanjut pria yang saat ini bekerja sebagai supervisor administrasi dan keuangan di PLTD Teluk Lembu ini mengatakan, bersepeda bersama seluruh anggota keluarganya te lah lama dilakukannya. Paling tidak sekali sebulan telah menjadi agenda wajib bagi seluruh anggota keluarganya. Yang mana seluruh anggotanya berjumlahkan lima orang.
“Setiap sebulan sekali paling tidak kami memiliki agenda rutin, biasanya kami menyebutnya dengan Bike to Eat atau bersepeda bersama-sama menuju tempat makan bersama-sama. Itu biasanya kami lakukan setiap akhir bulan sekali dalam sebulan,” tambah Abi Karyanto yang juga bekerja sebagai Pranotocoro di setiap pernikahan adat jawa ini.
Banyak manfaat yang dapat kita rasakan jika kita mengajak seluruh anggota keluarga kita untuk bersepeda bersama-sama. Hal ini dikarenakan bersepeda tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Seperti dapat memupuk rasa kebersamaan antar anggota keluarga untuk terus bersama-sama. Selain itu juga bisa mengurangi ego antar anggota keluarga. Dengan saling menunggu saat gowes bersama-sama.
“Apalagi jika gowesnya ditanjakan, disini ego kita memang diuji. Oleh karena itu banyak orang yang mengatakan jika menanjak janganlah melihat keatas tapi lihatlah kebawah, karena jika kita melihat keatas maka dengan melihat jarak yang jauh maka semangat kita akan terpatahkan. Beda halnya jika kita terus mengayuh dengan hanya melihat kebawah,” terang Abi Karyanto yang dirumahnya juga memiliki sebuah sepeda ontel unik dengan balutan batik kepada Riau Pos Bike Community.
Selanjutnya, pria yang juga tergabung dalam anggota Bike to Work Pekanbaru ini juga berpesan. Bersepeda sendirian asik, berdua lebi asik tapi jika beramai jauh lebih seru dan asik. Selain itu pria yang juga hobi menulis ini juga mengatakan dengan berseoeda maka kita telah menjaga tali silahturahmi sesama kita. Misalnya dengan saling tegur sapa setiap berselisih jalan dengan pesepeda lain, seperti membunyikan kring-kring sepeda. (teguh-gsj/dac)

Senin, 12 Maret 2012

Tips And Trik: Bersepeda Aman di Malam Hari

   PENGGUNA sepeda juga harus menggunakan pakaian berwarna atau putih agar bisa dikenali pengendara lain dengan mudah. Pastikan pula, Anda memiliki lampu putih dan lampu belakang merah atau reflektor dengan jarak pandang 500 kaki. Pedal juga harus memiliki reflektor untuk visibilitas tambahan.

Riau Pos Bike Community: Aquaduct, Sepeda Unik Penghasil Air Jernih

 SEPEDA UNIK : Model sepeda unik ini sangat digandrungioleh pecinta olahraga sepeda.

BENTUK sepeda ini sangat disenangi. Banyak masyarakat berlomba-lomba membuat sepeda yang unik. Salah satunya sepeda yang dapat menghasilkan air jernih. Sepeda ini diberi nama Aquaduct.

Riau Pos Bike Community: Let’s Go Piknik

 SANTAI : Usai gowes bersama anggota Piknik santai dan foto bersama
FIXIED Gear Unik atau yang biasa disingkat menjadi Piknik. Piknik sendiri berdiri pada akhir 2009 yang pada mulanya hanya beranggotakan 6 orang yang mana Yandra Harakay dan Reza E. Kanpay merupakan dua orang pioner dari berdirinya klub sepeda yang sering nongkrong di depan Hotel Aryaduta ini.

Riau Pos Bike Community: Siswanto, ”Umar Bakrinya” Universitas Riau

 BERSEPEDA : Siswanto memilih bersepada daripada menggunakan kendaraan bermotor untuk mengajar. Tampak Siswanto santai dengan sepeda ontelnya.

   DENGAN menyandang tas hitamnya diatas sepeda kumbang, Siswanto hampir setiap hari melaksanakan program Bike to Work. Pria gemuk dan lucu ini sendiri merupakan Kepala Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau. Berangkat setiap paginya ke kampus, Siswanto juga tidak melupakan keamanan dalam bersepeda. Yang terutama yakni menggunakan topi untuk melindungi panas matahari. 

Senin, 27 Februari 2012

Riau Pos Bike Community: Warna Kuning?

RAMBU LALU LINTAS: Contoh rambu-rambu lalu lintas.
yang ada.

   MENGAPA tidak merah, biru, atau bahkan hijau seperti warna-warna partai? Tidak, tidak. Yang pasti pemilihan kuning sebagai latar belakang warna pada penunjuk marga jalan tidak merujuk kepada partai yang berwarna sama. Lalu mengapa warna kuning?

Riau Pos Bike Community: Bike to Campus, Sehat dan Hemat

 PARKIR: Heyder Ahmed sedang memarkirkan sepedanya di depan kampus.

  SELAMA ini sering kita mendengar namanya Bike to Work, tapi tahukah Anda bahwa Bike to Work memiliki arti yang sangat luas? Tidak hanya menggunakan sepeda ke kantor, tapi Bike to Work juga bisa berarti bersepeda ke kampus. Namun apa saja kelebihan dan kekurangan dari Bike to Campus ini? serta bagaimana pandangan kaula muda yang zaman sekarang cendrung lebih memilih sepeda motor sebagai kendaraan pribadinya?

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province