Tampilkan postingan dengan label Info Cagar Biosfer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Cagar Biosfer. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Askul Tinjau Lokasi Penanaman Jelutung

SELASA (11/7) lalu Green Student Journalists (GSJ) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) khususnya di Resort Bukit Batu.
Selain GSJ juga hadir tiga orang Jepang, dua dari pihak Askul yakni Shunichiro Azuma dan Hideshi Kitamura serta satu dari pihak Asia Pulp and Paper (APP) Jepang yakni Koichi Morizumi. Sebagai konsumen produk APP pihak Askul ini bertujuan untuk melihat lokasi penanaman Jelutung yang ditanam di Resort Bukit Batu sejak November tahun lalu.
Menurut Johannes Koto, Forest Conservation Sinarmas Forestry penanaman jelutung yang dilakukan oleh Sinarmas dan Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH) ini merupakan simbiosis mutualisme.
“Jelutung ini ditanam bertujuan untuk membantu masyarakat setempat juga, jadi di sini kita mengharapkan masyarakat nantinya juga bisa mengambil manfaat dari jelutung ini sehingga masyarakat tidak perlu merambah hutan,” ungkap Johanes Koto.
Jelutung ini sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti getahnya bisa digunakan untuk kosmetik atau kayunya bisa digunakan untuk batang pensil. Untuk menuju lokasi penanaman jelutung tersebut digunakan speed boat, karena lokasi penanaman berada di tepi sungai yang ada di sekitar cagar biosfer Bukit Batu.
Berdasarkan keterangan dari Syamsudin, Ketua KMPH luas dari masing-masing lokasi tersebut antara lain, lokasi pertama memiliki luas 0,375 hektare sementara lokasi kedua seluas 0,75 hektare. Sedangkan lokasi ketiga memiliki luas 2,25 hektare dan lokasi keempat memiliki luas 3 hektare. Jelutung-jelutung tersebut ditandai dengan batang kayu bercat merah disebelahnya.
Dari ke empat lokasi penanaman tersebut memiliki perbedaan antara lokasi yang satu dengan yang lainnya. Jelutung yang ditanam pada lokasi pertama dan kedua tampak tidak terlalu subur, bahkan juga ada beberapa yang mati. Berbeda dengan jelutung di lokasi keempat yang tampak cukup subur.
“Memang terlihat perbedaan yang signifikan, karena jelutung memang biasanya tumbuh subur di tanah rawa yang sedikit lebih basah. Dan dari lokasi-lokasi tersebut pada lokasi keempat tanahnya memang lebih basah dibandingkan yang lainnya,” ungkap Iwan Setiawan dari Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) yang juga ikut bersama rombongan.
Lokasi terakhir (lokasi empat, red) tersebut ditanam pada akhir Juli lalu. Pada lokasi keempat ini jelutung ditanam dengan jarak antar tanaman seluas 5x3 meter. (afra-gsj/dac)


Kamis, 13 September 2012

Keanekaragaman Paku-pakuan

PAKU-PAKUAN:Paku-pakuan  salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang menambah keanekaragaman GSK-BB.(Ft.Diah_GSJ)

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) merupakan cagar biosfer ketujuh yang memiliki karakteristikan dan berbeda dari agar biosfer lainnya di Indonesia. Keunikan GSK-BB disebabkan karena di dalamnya terdapat berbagai  ekosistem. Diantaranya adalah hutan rawa gambut, tasik-tasik dan berbagai sumber daya alam lainnya.
Beragamnya jenis ekosistem di GSK-BB mempengaruhi keanekaragaman jenis  flora dan fauna yang menghuninya. Paku-pakuan merupakan salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang menambah kekayaan keanekaragaman GSK-BB. Meskipun kita sering melihat tumbuhan yang masih tergolong tumbuhan tingkat rendah ini, namun kita sering tidak menghiraukannnya dan menganggapnya sebagai tumbuhan yang kurang penting.
“Tumbuhan ini termasuk tumbuhan pioner yang mampu tumbuh sebelum jenis lain tumbuh. Selain itu, paku-pakuan juga berperan sebagai penyedia oksigen, penyerap air, habitat hewan kecil dan indikator lingkungan,” jelas Eka Indra Haryanti yang mencoba mengungkap manfaat tumbuhan berpembuluh yang tidak menghasilkan biji ini.
“Selain itu, kini banyak jenis paku-pakuan yang telah dijadikan sebagai tanaman hias,” tutur Eka menambahkan.
Dalam penelitiannya, Eka yang tengah melakukan penelitian di Zona Penyangga dan Zona Transisi GSK-BB mencoba mengungkapkan manfaat lain dari tumbuhan paku. Seperti paku ekor kuda (Equisetum debile), paku tanduk rusa (Platyceriumcoronarium) dan paku suplir (Adiantum sp) sebagai tanaman hias, Diplaziumesculentum dapat dijadikan sebagai sayuran, untuk pembuatan pupuk hijau seperti Azollapinnata serta sebagai pelindung tanaman di persemaian seperti Gleichenialinearis. “Pemanfaatan tumbuhan paku sebagai sumber obat tradisional juga telah banyak dilaporkan. Seperti halnya paku resam (Gleichenialinearis) yang mana remasan daunnya digunakan untuk obat luka dan seduhan daunnya digunakan untuk obat demam. Dari manfaat paku-pakuan tersebut, Eka yang merupakan mahasiswi tingkat akhir jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Riau (FMIPA UR) ingin menggali keanekargaman paku-pakuan di GSK-BB.(diah-gsj/dac)

Kamis, 06 September 2012

Kerusakan Hutan, Ancaman Kelestarian Populasi Burung

NYARIS PUNAH: Treron Curvirostra jenis  burung yang nyaris punah keberadaannya.(Ft.Diah_GSJ)

INDONESIA memiliki keanekaragaman burung yang tinggi. Hal ini terbukti dari catatan dunia ilmiah tahun 2009 yang menyatakan bahwa jenis burung yang terdapat di Indonesia adalah 1598 jenis. Dari jumlah tersebut banyak terdapat jenis burung yang khas dan tidak ditemukan di belahan dunia lain.
Namun kelestarian burung sangat berpengaruh terhadap kelestarian hutan. Jumlah areal luasan hutan yang semakin berkurang dengan adanya kegiatan illegal loging maupun izin pemanfaatan hutan secara tak terkendali dapat mengancam keberadaan fauna burung.
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) merupakan salah satu hutan yang masih tersisa di Provinsi Riau. Keberadaan GSK-BB sangat berperan penting dalam menjaga kelestarian keanekaragaman burung. Bahkan GSK-BB juga merupakan salah satu tempat persinggahan bagi burung-burung yang berasal dari Negara-negara subtropis seperti Jepang, pada saat musim dingin.
Masih banyaknya ancaman perambahan hutan di GSK-BB juga menjadi ancaman bagi spesies burung yang ada di Riau. “Hutan alam di wilayah inti Cagar Biosfer GSK-BB merupakan tempat atau rumah bagi banyak spesies burung hutan yang bergantung pada hutan alam tersebut. Beberapa diantaranya bahkan mengalami resiko penurunan populasi. Berdasarkan hasil pengamatan selama 1 tahun terakhir ini jumlah spesies burung yang dijumpai di wilayah GSK-BB khususnya daerah Suaka Margasatwa Bukit Batu yaitu 172 spesies burung,” jelas Dendy Sukma Haryadi, mahasiswa Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang baru saja menyelesaikan program studinya.
Dendy juga menambahkan, bahwa spesies-spesies burung hutan (burung spesialis hutan alami) tidak dapat dijumpai pada wilayah zona transisi dan zona penyangga dari cagar biosfer GSK-BB dimana vegetasi yang dijumpai merupakan vegetasi antropogenik (vegetasi yang telah berbeda dari kondisi alaminya karena ada campur tangan manusia-Red).
Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi antropogenik tidak dapat mendukung kebutuhan hidup dari spesies burung hutan. Sementara hutan di Indonesia mengalami deforrestasi mencapai 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005 yang tentunya sangat mempengaruhi kelestarian burung-burung di Indonesia.
Menilik keanekaragaman jenis burung yang masih tersisa di GSK-BB, Dendy menyatakan bahwa dari 172 jenis burung yang dijumpai di GSK-BB saat ini, 3 spesies tercatat sebagai “vulnerable species”atau spesies yang menghadapi resiko kepunahan yang tertinggi.
Selain itu International Union for the Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN)Red List 2011 juga mencatat,adanya spesies burung Puyuh hitam (Melanopedrix niger), Sempidan merah (Lophura erythrophthalma) dan Empuloh paruh-kait (Setornis criniger), dan 32 spesies lainnya masuk dalam kategori “Near-threatened species” atau spesies yang hampir punah seperti Betet ekor panjang, Nuri tanau, Kadalan beruang, Luntur Kasumba, Luntur Diardi, Luntur Putri, Julang jambul hitam, Kangkareng hitam, Enggang cula, Enggang papan, Rangkong gading, Takur, Caladi badok, Sempur hujan darat, Sepah tulin, Cipoh jantung, Cica daun kecil, Cucak rumbai kuning, Brinji bergaris, Pelanduk merah, Pelanduk dada putih, Asi topi jelaga, Asi besar, Asi dada kelabu, Kucica ekor kuning, Seriwang jepang, Pentis kumbang.    
Besarnya keanekaragaman burung yang terdapat di GSK-BB tak lepas dari syarathidup ideal bagi burung-burung yang masih dimiliki oleh  GSK-BB. (diah-gsj/dac)

Lumut, Tumbuhan Pionir Eksotis Yang Juga Kaya Manfaat

LUMUT: Keberadaan lumut di ekosistem sangat berperan penting dalam menjaga kelembaban tanah dan kelembaban udara.(Ft.Diah_GSJ)

KEHIDUPAN  memang memiliki sejuta keunikan. Keunikan tersebut salah satunya tergambar dari proses yang terjadi di alam. Alam memiliki caranya sendiri untuk memulihkan keadaannya yang rusak sehingga dapat kembali ke kondisi semula. Proses pemulihan tersebut membutuhkan tahap-tahap yang sering didengar sebagai suksesi. Setelah terjadinya bencana alam, seperti gunung meletus atau kebakaran hutan misalnya, ekosistem akan kehilangan berbagai bentuk kehidupan dari organisme penghuninya.
Sebagai tahap awal suksesi, lumut merupakan tumbuhan pionir yang mengawali terbentuknya ekosistem yang baru karena lumut memegang peranan penting dalam keseimbangan air dana kumulasi humus pada tanah. Kehadiran lumut yang mampu menyerap air dalam jumlah banyak dapat melembabkan tanah yang kering. Kondisi tanah yang lembab memungkinkan bagi tumbuhan atau organisme lainnya untuk dapat tumbuh dan hidup dengan baik sehingga dapat membentuk suatu ekosistem baru.
Lumut atau Bryophyta dalam nama ilmiahnya, merupakan tumbuhan yang tergolong dalam jenis tumbuhan tingkat rendah. Meskipun demikian, lumut memiliki banyak fungsi dan kegunaan yang masih banyak belum diketahui oleh masyarakat umum. Selain sebagai tumbuhan pionir dalam proses suksesi, lumut juga dapat digunakan sebagai obat-obatan maupun sebagai tanaman hias.
“Diberbagai belahan dunia, lumut telah dimanfaatkan mulai dari segi medis, keperluan rumah tangga, ekologi, teknologi, maupun estetika,” terang Fandri Sofianastiti, yang kini tengah fokus dalam penelusuran keanekaragaman lumut di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (CB GSK-BB).
Beberapa contoh lumut yang telah diketahui dapat dijadikan sebagai obat-obatan diantaranya yaitu, Marchanti Apolymorphayang tergolong lumut hati, dapat digunakan sebagai obat hepatitis, menghilangkan racun akibat gigit anular,Conocephalumconicum, juga termasuk lumut hati, berfungsi sebagai anti bakteri, antifungi, mengobati luka bakar dan luka luar,Cratoneuronfilicinum, termasuk lumut daun yang mengandung senyawa untuk mengobati penyakit jantung,Haplocladiumcatillatum, merupakan lumut daun, yang berguna untuk mengobati pneumonia.
Tak sampai disitu, lumut juga memiliki kegunaan dibidang holtikultura dan seni. Sebagai ground coverataukarpet lumut berfungsi untuk menstabilkan dan mempertahankan kelembaban tanah terutama pada lapisan tanah atas. Lumut juga dapat dijadikan ornamentasi dalam pembuatan pot atau Bakilandscape. Bakilandscape sendiri merupakan semi holtikultura atraktif yang berasal dari Jepang.
Peran terpenting lumut dalam ekosistem yaitu dapat menjaga iklim mikro (kelembaban) yang ada pada suatu lingkungan maupun vegetasi yang menjadi habitatnya. Indonesia merupakan negara tropis yang tidak dapat dipisahkan dari faktor iklim mikro,sehingga lumut merupakan salah satu kelompok tumbuhan yang sangat berperan menjaga hutan dari perubahan lingkungan terutama sejak maraknya isu pemanasan global atau global warming.Namun terbatasnya kisaran habitat yang dapat dihuninya, terutama berkaitan erat dengan kelembaban, makalumat merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai bioindikator perubahan lingkungan.(diah-gsj/dac)

Senin, 27 Agustus 2012

Perambahan Hutan Ketakutan yang Terabaikan

PERAMBAHAN HUTAN: Perambahan Hutan  masih sering terjadi di Riau, termasuk di kawasan  Cagar Biosfer. (Ft. Internet)

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu merupakan surga keanekaragaman hayati.  Potensi daerah yang besar, kearifan lokal yang mendukung, dan sumber daya yang terjaga. Namun, dibalik itu semua tersimpan berbagai ancaman hilangnya potensi daerah yakni karena sebagian wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu didominasi hutan rawa gambut.
Hutan rawa gambut rawan akan kasus perambahan hutan. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh badan pengelola cagar biosfer. Tindakan-tindakan di lapangan seringkali diikuti cara informal yang lebih berhasil daripada pendekatan formal. Badan pengelola yang mengikutsertakan setiap pemangku kepentingan diharapkan mampu menjembatani solusi.
Kasus perambahan hutan adalah masalah pelik yang harus dihadapi. Tercatat setiap tahun Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu menjadi sasaran kasus pembalakan hutan. Tahun 2011 kasus perambahan hutan meliputi sekitar 2.000 hektare kawasan inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu yang ditangani pihak kepolisian dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Dilansir dari Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari). Laju kerusakan hutan rata-rata 160.000 hektare/tahun atau 5,6 persen. Tidak hanya itu, perambahan di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Batu hingga kini mengancam kelestarian habitat harimau.
Seekor harimau dan seorang warga tercatat tewas pada September 2010 di kawasan tersebut. Hal ini butuh perhatian khusus sehingga masalah perambahan hutan tidak lagi menjadi ancaman bagi kelestarian di Cagar Biosfer. Dan perambahan hutan bukanlah sebuah ketakutan yang terabaikan kembali. (melati-gsj/dac)

Senin, 06 Agustus 2012

Ikan Selais, Maskot Cita Rasa Daerah

KAN SELAIS: Ikan Selais telah dinobatkan sebagai  maskot Kota Pekanbaru lewat tugu yang terletak di jalan Sudirman. Ikan ini bisa ditemukan di hampir semua wilayah Riau.
IKAN  Slays atau Selais (Kryptopterus macrocephalus, Kryptopterus lais) telah dinobatkan sebagai  maskot Kota Pekanbaru. Keberadaan ikan ini ternyata hampir merata hanya di wilayah Provinsi Riau. Nilai ekonomi tinggi menjadikan ikan ini selalu incaran para nelayan untuk dijual.
Kawasan Giam Siak Kecil Bukit Batu memiliki 30 jenis ikan tersebar di aliran sungai dan tasik salah satunya adalah ikan ini. Danau kecil yang ada di hutan rawa gambut itu, memberikan keleluasanpengembangan ikan selais lebih terjaga dan terkendali. Bentuk tubuhnya memanjang dan pipih dengan kepala berbentuk  kerucut, tidak bersisik terlihat unik dan elegan.
Warnanya hijau keabu-abuan dan memiliki mulut yang lebar  terletak di ujung kepala. Cita rasa yang lezat dan digemari semua orang menjadikan ikan ini sangat spesial. Populasinya yang semakin berkurang di perairan alami.
Menyebabkan ikan ini sulit ditemukan. Hal ini diakibatkan penangkapan ikan yang dilakukan terus menerus, sementara ekosistem habitatnya terganggu. Dengan membudidayakannya merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produksi perikanan dimasa mendatang. Cagar biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu adalah kawasan yang dibentuk untuk melestarikan dan membudidayakan sehingga ikan ini tetap menjadi maskot cita rasa daerah  Provinsi Riau.(melati-gsj/dac)

Rabu, 18 April 2012

Info CB: Madu Jadi Lilin

Madu Jadi Lilin

Hutan yang ada di Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) menyimpan berbagai kenekaragaman hasil alam yang tidak ternilai harganya. Sehingga harus dilindungi dan dilestarikan.

Nah, sejak ditetapkan menjadi Cagar Biosfer semua akses masuk ke dalam hutan lindung ini harus atas izin pengelolanya.

Oleh kerena itulah mata pencaharian masyarakat disana dialihkan. Salah satunya dengan usaha budidaya madu menjadi lilin lebah yang bisa digunakan sebagai pengganti sabun.

Info CB: Arwana Asia, Merah Keberuntungan

Arwana Asia, Merah Keberuntungan

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu menyimpan banyak sekali keanekaragaman flora dan fauna. Salah satu di antaranya adalah Sceleropages formosus yang lebih dikenal dengan Arwana Asia. Selain itu, ikan ini juga sering disebut sebagai Siluk Merah. Ikan ini termasuk ikan air tawar yang memang hidup di kawasan Asia Tenggara.

Senin, 12 Maret 2012

Info Cagar Biosfer: Sosialisasi Cagar Biosfer Lewat Blog

 BLOG: Kini telah hadir blog khusus GSK-BB
   CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Rabu, 01 Februari 2012

Info Cagar Biosfer: Program Air Bersih Dilanjutkan ke Bukit Batu


   Bukit Batu merupakan kawasan yang terdapat di zona inti Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) Riau. Dimana Bukit Batu tersebut akan menjadi objek dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk membantu pemerintah. Yaitu mengupayakan air bersih di kawasan gambut cagar biosfer dengan memasang alat IPAG60nya. 

Rabu, 25 Januari 2012

Info Cagar Biosfer: Aquilaria beccarian,Penyeimbang Alam dan Manusia


   Mengulas keanekaragaman hayati Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) tak pernah ada habisnya. Satu diantaranya adalah pohon gaharu atau Aquilaria beccariana. Pohon gaharu ini merupakan satu diantara pohon lain yang menjadi indikator bagi hutan rawa yang terdapat di cagar biosfer.
Pohon gaharu merupakan jenis tanaman yang paling banyak diburu orang. Penyebabnya yaitu tingginya nilai ekonomis dari kayu gaharu itu sendiri. Tumbuhan yang menjadi buruan ini bisa dikatakan merupakan tanaman saingan dari kayu cendana.
   Bisa dikatakan demikian sebab keduanya memiliki nilai ekonomis yang tinggi akibat kegunaannya sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis wewangian yang dipakai manusia.
 Sekarang pohon gaharu tergolong spesies tanaman yang rentan punah. Hal itu disebabkan minimnya jumlah bibit gaharu akibat minimnya upaya pelestarian kayu gaharu tersebut.
   Pohon gaharu ini memiliki keunikan. Adapun keunikan dari pohon gaharu adalah proses terciptanya gubal gaharu atau damar wangi yaitu bahan yang dipakai untuk bahan baku wewangian. Bila tanaman pada umumnya akan sakit dan mati terinfeksi penyakit sehingga orang akan berusaha mencari cara menyingkirkan tanaman dari segala infeksi, tapi semua itu tidak berlaku pada pohon gaharu.
   Yang anehnya, pohon gaharu ini akan bermanfaat akibat terinfeksi penyakit. Infeksi ini terjadi akibat kapang parasit dari sejenis jamur yang bernama Phaeoacremonium parasitica. Infeksi ini menjadikan terciptanya gubal gaharu atau damar wangi yang bisa dimanfaatkan.
   Budidaya dari gaharu masih sedikit dilakukan, bisa dihitung beberapa orang saja yang melakukannya. Hal tersebut tidak lepas dari masih rendahnya kesadaran masyarakat, mereka lebih senang mencari kayu gaharu dari hutan bahkan penjarahan pohon gaharu dilokasi budidaya kerap terjadi.
   Namun berbeda halnya  yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF), untuk melestarikan pohon gaharu dengan hasil yang baik. Kepedulian perusahaan swasta yang menginisiasikan cagar biosfer Riau tersebut terlihat jelas dengan dicanangkannya program penelitian inokulan gaharu pada 2012 ini.
Inokulan gaharu merupakan salah satu bentuk pengembangbiakkan gaharu dengan cara penyuntikkan. Penyuntikkan gaharu
    Kegiatan yang masih dalam proses tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan gaharu dengan baik dan benar. Sehingga pemanfaatannya sebagai pembangkit nilai ekonomi mejadi penyeimbang hubungan alam dan manusia.(pia-gsj/news)

Senin, 09 Januari 2012

Info Cagar Biosfer: Bukit Batu

Bukit Batu
BUKIT BATU: Zona inti Cagar Biosfer GSK-BB yang menjadi bagian dari wilayah Bukit Batu tampak indah.
 
Bukit Batu adalah sebuah nama yang diambil dari satu kecamatan di Kabupaten Bengkalis. Yaitu Kecamatan Bukit Batu. Dimana nama tersebut adalah nama belakang dari cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) Provinsi Riau. Selain dari pada itu, nama Bukit Batu juga merupakan nama dari suaka margasatwa. Yaitu Suaka Margasatwa Bukit Batu yang memiliki luas 21.500 Ha.

Selasa, 03 Januari 2012

Info Cagar Biosfer: Paku Rawa, Pelengkap Makanan Pokok

Paku Rawa, Pelengkap Makanan Pokok

internet
PAKU RAWA: Salah satu tanaman yang digunakan sebagai makanan pokok di daerah sekitar cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).
 
Indonesia patut diacungkan jempol dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Baik hasil lautan maupun daratannya. Demikian juga halnya dengan Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Masing-masing zonanya menyimpan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan. Baik untuk meningkatkan perekonomian maupun sebagai bahan konsumsi atau sumber makanan bagi masyarakatnya.

Selasa, 20 Desember 2011

Info Cagar Biosfer: Disosialisasikan di GSJ Weekend School

Disosialisasikan di GSJ Weekend School

Sejak Juli 2011 Green Student Journalists (GSJ) telah melaksanakan kegiatan GSJ Weekend School yang dilaksanakan setiap Sabtu-Ahad. Kegiatan tersebut merupakan upaya mensosialisasikan persoalan-persoalan lingkungan kepada para pelajar dan mahasiswa di Riau. Dalam kegiatan ini turut mengenalkan tentang Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) kepada generasi muda tersebut.

“Duta cagar biosfer mengkampanyekan tentang GSK-BB kepada para pelajar di kegiatan GSJ Weekend School ini,” tutur Andi Noviriyanti, Direktur Eksekutif Save The Earth Foundations (SEFo) Riau Pos, sekaligus penggagas kegiatan tersebut. Sepanjang Juni hingga Oktober 2011 di GSJ Weekend School telah empat kali kegiatan kampanye Cagar Biosfer GSK-BB dilakukan, tambahnya.

Oleh karena itu, untuk terus mengenalkan tentang keberadaan cagar biosfer ketujuh di Indonesia dan satu-satunya di Riau ini para duta GSK-BB akan terus mengkampanyekannya dalam kegiatan GSJ Weekend School untuk tahun 2012 nanti. “Kita akan mulai akhir januari 2012 nanti,” lanjutnya.

“Kegiatan GSJ Weekend School merupakan langkah strategis untuk mengenalkan cagar biosfer kapada generasi muda,” jelas Novi begitu panggilan akrabnya. Sebab di sini para generasi muda tersebut bisa melihat bahwa Riau memiliki kekayaan alam dunia yang bisa menjadi solusi bagi persoalan global yang sekarang ini menghantui dunia, yaitu global warming dan perubahan iklim.

Novi juga berharap dengan tetap disosialisasikannya cagar biosfer GSK-BB, para generasi muda akan merasa memiliki terhadap warisan Riau untuk dunia itu. Sebab meskipun ia telah ditetapkan sebagai cagar biosfer namun pengelolaannya tetap menjadi tanggung jawab bersama masyarakat Riau. Generasi muda harus memahami itu sebagai bagian dari masa depan mereka di masa yang akan datang.(tya-gsj)

Minggu, 11 Desember 2011

Info Cagar Biosfer: Mahang, Objek Pembalakan Liar

Mahang, Objek Pembalakan Liar

MAHANG: Jenis kayu mahang memiliki nilai ekonomi tinggi namun ia juga rentan sebagai objek pembalakan liar.
 
KEANEKARAGAMAN hayati di cagar biosfer giam siak kecil-bukit batu (gsk-bb) sangat beragam. satu di antaranya adalah pohon mahang. namun sayangnya, keberadaan mahang kini menjadi objek pembalakan liar.
Mahang adalah jenis kayu yang banyak digunakan oleh berbagai sektor produksi meuble. selain dari pada itu, Mahang juga memiliki manfaat yang besar. Diantaranya sebagai bahan bangunan, plywood, papan, rangka pintu, jendela, korek api, moulding dan pulp. Jenis kayunya yang keras serta awet, membuat mahang banyak dicari untuk diproduksi. Maka dari itu, jenis kayu Macaranga motleyana banyak diburu oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Minggu, 04 Desember 2011

Info Cagar Biosfer: Masiswa Penelitian di GSK-BB

Masiswa Penelitian di GSK-BB

<RESAM: Satu di antara tumbuhan pandan berduri yang eksotis di Cagar Biosfer GSK-BB adalah Resam.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK_BB) menjadi tujuan penelitian yang diminati banyak pihak. Sesuai dengan tujuan dan fungsi awalnya. Hal serupa juga dilakukan oleh mahasiswa jurusan Biologi Fakultas FMIPA Universitas Riau, Diah Sulistio Ningrum. Ia melakukan sebuah penelitian mengenai hewan endemik tanah di cagar biosfer. Penelitian tersebut guna untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah atau untuk skripsinya.

Untuk memasuki kawasan GSK-BB, Diah biasa ia dipanggil, bercerita bahwa terlebih dahulu harus meminta izin ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau . Sebab, memasuki kawasan cagar biosfer tersebut harus mematuhi prosedur. Artinya tidak boleh sembarangan, harus dengan izin terlebih dahulu.

Selain melengkapi administrasi yang sudah ditentukan oleh BBKSDA Riau, mahasiswa biologi yang terdiri dari enam orang itu merancang atau mempersiapkan keperluan mereka ketika berada di kawawasan cagar biosfer tersebut. Seperti, mempersiapkan persediaan makanan, dan perlengkapan keamanan mereka.

Minggu, 27 November 2011

Info Cagar Biosfer: Menderes, Masa Depan di Pohon Karet

Menderes, Masa Depan di Pohon Karet

internet
MENDERES: Salah satu mata pencaharian masyarakat di sekitar Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu adalah menderes karet.
 
Kehidupan yang sustainable adalah kehidupan yang memiliki keseimbangan antara alam dan manusia. Hal tersebutlah yang kerap dilakukan oleh masyarakat di sekita Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Antara mereka dan alam (lingkungan) saling bergantungan. Baik dari segi pembangunan maupun perekonomian.

Senin, 21 November 2011

Info Cagar Biosfer: Komitmen Terhadap Konservasi

Komitmen Terhadap Konservasi

foto: gsj/riau pos
LESTARI: Paduan antara tasik dan warna-warni daun pepohonan di Cagar Biosfer GKS-BB cermin kondisi lingkungan yang masih alami.

PARA ahli biologi dan ekologi mengidentisifikasi bahwa dataran rendah dari lansekap Giak Siam Kecil Bukit Batu (GSK-BB) memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

Selasa, 15 November 2011

Info Cagar Biosfer: Tabungan Dari Alam

Tabungan Dari Alam
 

MEMASANG KERAMBA: Seorang nelayan di kawasan Cagar Biosfer GSK-BB memasang keramba penangkap ikan.
 
CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) adalah satu-satunya cagar biosfer yang diinisiasikan oleh pihak swasta yakni Sinarmas Forestry (SMF). Pihak SMF sendiri berkomitmen terhadap konservasi, maka dari itu lahan seluas 72.255 Ha dialokasikan untuk menghubungkan dua suaka margasatwa yaitu Siak Kecil dan Bukit Batu untuk menjadi suatu kawasan cagar biosfer. Dan pada akhirnya usulan SMF untuk menjadikan kawasan suaka margasatwa menjadi cagar biosfer disetujui oleh pihak pemerintah. Dan resmi 2 tahun lalu GSK-BB menjadi cagar biosfer pertama di Riau.

GSK-BB ibarat nafas baru bagi Riau, potensi alamnya yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat disana menjadikan cagar biosfer ini semakin berkembang. “GSK-BB mempunyai potensi alam yang luar biasa, berbagai ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, hasil hutan yang bagus, serta budidaya masyarakat terhadap potensi alam benar-benar membuat cagar biosfer tersebut memiliki keunikkan yang berbeda dari cagar biosfer lain,” tutur Herfita Staff Flagship SMF.

Sabtu, 12 November 2011

Info Cagar Biosfer: Masyarakat di GSK-BB Simbiosis Mutulisme dengan Alam

Masyarakat di GSK-BB Simbiosis
Mutulisme dengan Alam



Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) semakin mendunia semenjak digelarnya Workshop Internasional South-South Cooperation (SSC), awal Oktober lalu. Dalam hal tersebut, pemerintah dan pihak swasta bekerjasama dengan pihak luar negeri untuk mengembangkan cagar biosfer tersebut. Baik dalam perekonomian, sosial, politik dan budaya masyarakat yang tinggal di GSK-BB. Partisipasi dari  berbagai pihak untuk mengembangkan cagar biosfer tersebut sangat berpengaruh dengan hiruk pikuk kehidupan masyarakat disana. 

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province