Minggu, 10 Juli 2011

Info Cagar Biosfer: Kerajinan Rotan Roda Masa Depan

Kerajinan Rotan Roda Masa Depan

internet
ROTAN: Tanaman yang satu ini adalah salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Perekonomian tidak hanya diukur dari pengelolaan dan penataan sumber daya manusianya. Tetapi juga dilihat dari sumber alamnya. Budidaya rotan memang menjanjikan. Sebab, tanaman yang satu ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sepintas rotan memang terlihat seperti tumbuhan yang tidak ada nilai jual, tetapi jika diolah dengan baik,  rotan akan menjadi sebuah karya yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dunia mengenal Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia. Indonesia memasok 70 persen kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh. Sekitar 300 dari 600 jenis rotan dunia berasal dari Indonesia. Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Malesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara, termasuk hutan GSK-BB. Namun, sebagian kecil rotan juga dibudidayakan oleh masyarakat lokal. Mereka adalah Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dan KalimantanTimur.
Tidak hanya masyarakat lokal di Kalimantan, di Giam Siak Kecil Bukit Batu, sebagian masyarakat juga membudidayakan tumbuhan ini. Rotan bukanlah tumbuhan yang asing terlihat di kawasan inti Cagar Biosfer. Masyarakat biasa mengolah rotan menjadi anyaman seperti tikar dan keranjang rotan. Selain itu, rotan juga memiliki manfaat besar bagi industri mebel. Rotan merupakan tumbuhan yang memiliki habitus memanjat.
Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan juga mengeluarkan air, jika ditebas, airnya dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas.
Masyarakat Giam Siak Kecil Bukit Batu mengolah rotan tersebut dengan cara sederhana, yaitu mengawetkan rotan melalui pemasakan dengan minyak tanah bagi rotan yang berukuran besar dan  pengasapan bagi rotan yang berukuran sedang. Pengelolaan rotan ini, biasa dilakukan oleh kaum ibu-ibu, karena kaum ibu dominan dalam hal menganyam untuk membuat kerajinan yang memiliki kreativitas dalam seni..
Pengelolaan rotan yang dimanfaatkan untuk menopang perekonomian akan berdampak positif dimasa depan. Sebab, semakin tinggi kreativitas masyarakat dalam mengelola rotan, akan mendongtkrak perekonomian masyarakat. (pia-gsj/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province