Bisa dilihat dari kondisi cuaca yang tidak menentu dan fenomena hujan yang tidak merata yang merupakan dampak dari pemanasan global itu sendiri. Hal ini tentunya sangat menakutkan bagi kita semua.
Still Night Ride
KOMUNITAS sepeda Fixie Pekanbaru atau yang biasa disebut Fixstop, Rabu (8/8) malam melaksanakan aktivitas mereka bersepeda di malam hari meskipun di bulan puasa. Bersepeda di malam hari atau yang biasa disebut Night Ride ini sebenarnya merupakan kegiatan yang telah menjadi rutinitas seluruh anggota Fixstop setiap Minggunya.
Unri Fasilitasi Wisata ke SM Bukit Batu
Universitas Riau (Unri) turut aktif menfasilitasi kegiatan wisata alam dan budaya ke Suaka Marga Satwa (SM) Bukit Batu yang sekarang telah menjadi bagian dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).
Selamatkan Ozon dengan Inovasi
DALAM rangka memperingati hari Ozon Internasional yang jatuh tanggal 16 September tiap tahunnya, SMAN 1 Pekanbaru mengadakan berbagai macam perlombaan
Tampilkan postingan dengan label combat climate change (3C). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label combat climate change (3C). Tampilkan semua postingan
Senin, 11 April 2011
Combat Climate Change (3C) - Adhitya Hadi Pratama: Selamatkan Bumi Kita
Foto: Adhitya Hadi Pratama
Pemanasan global dan perubahan iklim, merupakan fenomena yang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk meminimalisir keadaan ini, bukan sekedar untuk mecegah lagi, karena memang hal ini telah benar-benar terjadi saat ini. Bisa dilihat dari kondisi cuaca yang tidak menentu dan fenomena hujan yang tidak merata yang merupakan dampak dari pemanasan global itu sendiri. Hal ini tentunya sangat menakutkan bagi kita semua.
Minggu, 03 April 2011
Combat Climate Change (3C) - Iqbal Musyaffa: Tak Repot Lestarikan Lingkungan
Foto: Iqbal Musyaffa
Akhir-akhir ini sering diramaikan oleh berita bencana yang terjadi di beberapa belahan dunia mulai dari tsunami Aceh sampai tsunami dan gempa di negeri sakura, Jepang. Di Indonesia sendiri banyak bencana datang silih berganti. Tsunami, gempa, letusan gunung berapi, banjir lahar dingin mulai akrab dengan masyarakat. Cuaca pun mulai sulit diprediksi. Cerah di pagi hari bisa diikuti dengan hujan lebat berangin di siang hari. Fenomena-fenomena alam tersebut merupakan dampak dari suhu bumi yang mulai memanas secara global dan perubahan iklim.
Minggu, 27 Maret 2011
Combat Climate Change (3C) - Redha Alfian: Mulai Sadarkan Diri
Foto: Redha Alfian
Senin, 21 Maret 2011
Combat Climate Change (3C) -Muhammad Zulaftori : 12 Prinsip Kimia Hijau
foto: Muhammad Zulfatori
Tahun 2005, Ryoji Noyori, mengajukan tiga aspek pengembangan kimia hijau. Yaitu karbon dioksida superkritis sebagai pelarut hijau, hidrogen peroksida sebagai agen oksidasi hijau, dan penggunaan hidrogen dalam sintesis senyawa asimetris. Kemudian Paul Anastas dan John C Warner mengembangkan 12 prinsip definisi kimia hijau (green chemistry). Pertama, mencegah terbentuknya sampah sisa proses kimia. Caranya merancang sintesa kimia yang mencegah terbentuknya sampah atau polutan. Kedua, merancang bahan kimia dan produk turunannya yang aman dan menghasilkan produk kimia efektif. Tapi tanpa atau rendah efek racunnya. Ketiga, merancang sintesa kimia yang jauh berkurang efek bahayanya. Berarti merancang proses dengan menggunakan dan menghasilkan senyawa yang memiliki sedikit atau tanpa efek beracun terhadap manusia dan lingkungan.
Keempat, memanfaatkan asupan proses kimia dari material terbarukan. Bahan baku dari produk agrikultur atau aquakultur bisa dikatakan sebagai bahan baku terbarukan. Sedangkan hasil pertambangan dikatakan sebagai bahan tak dapat diperbaharui. Kelima, Menggunakan katalis. Reaksi yang memanfaatkan katalis memiliki keunggulan, karena hanya menggunakan sedikit material katalis untuk mempercepat dan menaikkan produktifitas dan proses daur reaksi. Keenam. Menghindari proses derivatisasi tehadap senyawa kimia. Artinya menghindari tahapan pembentukan senyawa antara atau derivat ketika melakukan reaksi.
Ketujuh, Memaksimalkan ekonomi atom dengan jalan merancang proses. Sehingga hasil akhir mengandung proporsi maksimum terhadap asupan awal proses dan tidak menghasilkan sampah atom. Kedelapan, penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang lebih aman. Caranya mencoba menghindari penggunaan pelarut, agen pemisah, atau bahan kimia pembantu lainnya. Air adalah contoh pelarut segala (universal solvent) yang ramah lingkungan.
Kesembilan, meningkatkan efisiensi energi. Yaitu melakukan reaksi pada kondisi mendekati atau sama dengan kondisi alamiah. Misalnya suhu ruang dan tekanan atmosfer. Kesepuluh, Merancang bahan kimia dan produknya yang dapat terdegradasi setelah digunakan menjadi material tidak berbahaya atau tidak terakumulasi setelah digunakan. Kesebelas, analisis pada waktu bersamaan dengan proses produksi untuk mencegah polusi. Dalam sebuah proses, dimasukkan tahapan pengawasan dan pengendalian bersamaan dengan dan sepanjang proses sintesis untuk mengurangi pembentukan produk samping.***
Minggu, 13 Maret 2011
Combat Climate Change (3C)-Yusparizal: Solusi Vegetarian
foto: Yusparizal
Panas mentari yang begitu menyengat. Hal yang bagi masyarakat kota bertuah kerap alami. Data yang ada memang menunjukkan bahwa bumi terus mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Selain itu, kita tentu juga menyadari makin banyaknya bencana alam yang cenderung semakin tidak terkendali. Mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang tidak menentu. Sadarilah kawan, bahwa semua ini adalah tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa bumi sedang mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran. Hal ini terkait dengan isu global yang makin marak dibicarakan oleh masyarakat dunia yaitu global warming (pemanasan global). Secara singkat pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sekarang, pertanyaannya adalah: mengapa suhu permukaan bumi bisa meningkat? Dan bagaimana cara mengatasi pemanasan global?
Minggu, 06 Maret 2011
Combat Climate Change (3C) - Bobby Satria : Hikmah Perubahan Iklim
Foto: Bobby Satria
Ada yang menganggap bahwa perubahan iklim merupakan bagian dari peningkatan radiasi matahari. Namun yang terjadi sebenarnya adalah perubahan iklim disebabkan oleh pemanfaatan energi fosil yang berlebihan. Ditambah dengan banyaknya perusakan hutan, alih fungsi lahan hijau, sampah dan limbah, semakin memperkuat dugaan bahwa penyebab utama terjadinya perubahan iklim adalah manusia. Secara sadar atau tidak, manusia akan selalu memproduksi gas Karbonmonoksida (CO), Karbondioksida (CO2), Metana (CH4) dan gas-gas rumah kaca lainnya. Bila konsentrasi gas rumah kaca semakin meningkat di atmosfer bumi, hal ini akan menghalangi pantulan radiasi matahari dari permukaan bumi dan memancarkannya kembali ke bumi. Hasilnya temperatur di permukaan bumi lambat laun pun meningkat.
Banyak orang yang melihat perubahan iklim dari sisi buruknya. Namun bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda kita akan menemukan hikmah dari perubahan iklim. Adanya isu perubahan iklim, membuat pola pikir manusia tentang alam ikut berubah. Meskipun kebanyakan manusia tidak memiliki perhatian khusus terhadap alam, namun manusia saat ini sudah bisa dikatakan semakin lebih mencintai alamnya. Buktinya, banyak berbagai bentuk kepedulian manusia pada alam seperti kesadaran tidak membuang sampah sembarangan, banyak program-program menanam seribu pohon, program penghijauan halaman rumah, di bangun atau direhabilitasinya taman-taman dan masih masih banyak yang lain.
Minggu, 27 Februari 2011
Combat Climate Change (Kampanyekan kantong kertas
Kiriman:
Adi Saputra, Jurusan Akuntansi
Universitas Andalas, Padang
Universitas Andalas, Padang
Sampah plastik sudah umum ditemukan di mana-mana. Sampah yang awet dan tidak (mudah) teruraikan ini sangat lazim digunakan oleh sebagian besar penduduk di dunia. Disamping mudah penggunaannya, juga praktis dan tahan lama untuk sarana penyimpanan. Tapi ternyata keamanan itu tidak diimbangi dengan kemampuan penguraian yang memadai. Bakteri tak cukup berminat untuk membusukkannnya karena plastik sangat susah diuraikan oleh mikroorganisme (dan sebagian bakteri dan rakyat mikroorganisme mengatakan bahwa rasa plastik itu tak enak, tak selezat daun kering atau bangkai binatang).
Solusi yang bisa digunakan masyarakat adalah dengan membakarnya. Tapi tak habis di situ, karbon hasil pembakaran plastik secara tidak sempurna akan mengotori udara dan mengikis lapizan ozon di atmosfir. Selain itu, sisa palstik yang terbakar dapat meracuni tanah. Sampah plastik dapat merusak unsur hara tanah dan mencemari pH air. Tanah hanya mampu menguraikan bahan-bahan yang bersifat organik, sedangkan plastik adalah bahan anorganik sintesis yang sengaja dibuat oleh manusia.
Di beberapa negara maju, isu plastik ini sungguh sangat menyita perhatian pemerintah setempat. Seperti Irlandia yang telah mengganti kantong plastik dengan produk campuran plastik dan kertas (90 persen kertas) untuk berbagai keperluan. Denmark yang memberlakukan pajak tinggi untuk penggunaan plastik dan kertas. Lalu DPR-nya Perancis yang melarang penggunaan tas-tas plastik yang tak bisa terurai. Terakhir, Italia yang juga memberlakukan pelarangan serupa pada tahun 2010. Mereka sudah menggunakan kantong kertas sebagai pengganti plastik dalam setiap kegiatan jual beli.
Indonesia yang juga merupakan konsumen plastik terbesar tak cukup menyadari bahwa sampah dan limbah plastik tak dapat terurai lingkungan. Bahkan bisa awet bertahun-tahun meskipun ditimbun di dalam tanah. Padahal setiap kali kita berbelanja (apapun itu) akan menggunakan plastik sebagai pembungkusnya. Tapi, tak banyak yang menyadari bahaya dan kerugian yang ditimbulkan sampah plastik. Namun, ada pula sebagian sudah ada yang coba menguranginya dengan mendaur ulang plastik bekas dan menggunakannya kembali untuk kegiatan sehari-hari.
Perhatian pemerintah pun belum sedemikian penuh. Hanya semacam wacana tanpa ada realisasi. Padahal sampah plastik sudah menggunung. Menteri Lingkungan Hidup juga tak mampu berbuat apa-apa. Seandainya saja ada tindakan tegas dari pemerintah, maka akan ada sedikit solusi atas permasalahan plastik ini. Mungkin semacam himbauan bagi produsen plastik untuk tidak menggunakan bahan plastik sepenuhnya, atau larangan penggunaan kantong berbahan plastik.
Kita, sebagai salah satu konsumen dan pengguna produk berbahan plastik, mungkin bisa sedikit membantu memberikan andil dalam menjaga lingkungan kita (bagi yang berselera tinggi). Dengan membiasakan hal baik, maka hal itu akan sedikit demi sedikit mampu teratasi. Misalnya saja, membawa plastik sendiri ketika berbelanja, memberikan sampah plastik kepada pemulung untuk di daur ulang, menggunakan botol air minum yang memang diperuntukkan untuk menyimpan air minum dan dapat digunakan berkali-kali (Jangan menggunakan botol air mineral untuk keperluan menyimpan air minum lebih dari dua kali karena penggunaan berkali-kali akan mengikis zat karsinogen yang dapat menyenyebab kanker jika ikut terkonsumsi bersama air) dan jangan membuang sampah plastik di sembarang tempat. Buanglah di tempat sampah khusus untuk bahan sampah anorganik agar bisa dimanfaatkan (daur ulang) kembali.
So, langkah kecil apapun yang kita lakukan akan sangat berarti bagi masa depan bumi. Rise your hand to join us, Combat the Climate Change.***
Solusi yang bisa digunakan masyarakat adalah dengan membakarnya. Tapi tak habis di situ, karbon hasil pembakaran plastik secara tidak sempurna akan mengotori udara dan mengikis lapizan ozon di atmosfir. Selain itu, sisa palstik yang terbakar dapat meracuni tanah. Sampah plastik dapat merusak unsur hara tanah dan mencemari pH air. Tanah hanya mampu menguraikan bahan-bahan yang bersifat organik, sedangkan plastik adalah bahan anorganik sintesis yang sengaja dibuat oleh manusia.
Di beberapa negara maju, isu plastik ini sungguh sangat menyita perhatian pemerintah setempat. Seperti Irlandia yang telah mengganti kantong plastik dengan produk campuran plastik dan kertas (90 persen kertas) untuk berbagai keperluan. Denmark yang memberlakukan pajak tinggi untuk penggunaan plastik dan kertas. Lalu DPR-nya Perancis yang melarang penggunaan tas-tas plastik yang tak bisa terurai. Terakhir, Italia yang juga memberlakukan pelarangan serupa pada tahun 2010. Mereka sudah menggunakan kantong kertas sebagai pengganti plastik dalam setiap kegiatan jual beli.
Indonesia yang juga merupakan konsumen plastik terbesar tak cukup menyadari bahwa sampah dan limbah plastik tak dapat terurai lingkungan. Bahkan bisa awet bertahun-tahun meskipun ditimbun di dalam tanah. Padahal setiap kali kita berbelanja (apapun itu) akan menggunakan plastik sebagai pembungkusnya. Tapi, tak banyak yang menyadari bahaya dan kerugian yang ditimbulkan sampah plastik. Namun, ada pula sebagian sudah ada yang coba menguranginya dengan mendaur ulang plastik bekas dan menggunakannya kembali untuk kegiatan sehari-hari.
Perhatian pemerintah pun belum sedemikian penuh. Hanya semacam wacana tanpa ada realisasi. Padahal sampah plastik sudah menggunung. Menteri Lingkungan Hidup juga tak mampu berbuat apa-apa. Seandainya saja ada tindakan tegas dari pemerintah, maka akan ada sedikit solusi atas permasalahan plastik ini. Mungkin semacam himbauan bagi produsen plastik untuk tidak menggunakan bahan plastik sepenuhnya, atau larangan penggunaan kantong berbahan plastik.
Kita, sebagai salah satu konsumen dan pengguna produk berbahan plastik, mungkin bisa sedikit membantu memberikan andil dalam menjaga lingkungan kita (bagi yang berselera tinggi). Dengan membiasakan hal baik, maka hal itu akan sedikit demi sedikit mampu teratasi. Misalnya saja, membawa plastik sendiri ketika berbelanja, memberikan sampah plastik kepada pemulung untuk di daur ulang, menggunakan botol air minum yang memang diperuntukkan untuk menyimpan air minum dan dapat digunakan berkali-kali (Jangan menggunakan botol air mineral untuk keperluan menyimpan air minum lebih dari dua kali karena penggunaan berkali-kali akan mengikis zat karsinogen yang dapat menyenyebab kanker jika ikut terkonsumsi bersama air) dan jangan membuang sampah plastik di sembarang tempat. Buanglah di tempat sampah khusus untuk bahan sampah anorganik agar bisa dimanfaatkan (daur ulang) kembali.
So, langkah kecil apapun yang kita lakukan akan sangat berarti bagi masa depan bumi. Rise your hand to join us, Combat the Climate Change.***
Minggu, 20 Februari 2011
Combat Climate Change (3C) - Joshua Immanuel: Hemat Energi
Foto: Joshua Immanuel
Seringkali kita terjebak dalam pikiran bahwa mencegah perubahan iklim hanya bisa dilakukan dengan cara-cara yang rumit dan besar. Namun pernahkah kita menyadari bahwa, banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk melawan perubahan iklim. Misalnya, dengan mengganti dekorasi kamar dengan dekorasi ramah energi. Hal ini bisa membantu menciptakan suasana yang hidup, adem dan menyenangkan di kamar.
Hanya perlu beberapa sentuhan kecil dan kita akan menghemat energi, menjaga kesehatan dan memperbaiki semangat belajar. Pertama, mengganti cat kamar. Cat berwarna gelap tidak memantulkan cahaya dengan baik, karena itu kamar dengan cat berwarna gelap terkesan tidak rapi dan sesak, memerlukan penerangan tambahan bahkan terkadang di siang hari. Mengganti warna cat kamar dengan warna yang cerah dan memantulkan cahaya akan membantu mengurangi energi pencahayaan, selain itu warna yang lebih cerah juga sangat membantu menghidupkan suasana di dalam kamar.
Hanya perlu beberapa sentuhan kecil dan kita akan menghemat energi, menjaga kesehatan dan memperbaiki semangat belajar. Pertama, mengganti cat kamar. Cat berwarna gelap tidak memantulkan cahaya dengan baik, karena itu kamar dengan cat berwarna gelap terkesan tidak rapi dan sesak, memerlukan penerangan tambahan bahkan terkadang di siang hari. Mengganti warna cat kamar dengan warna yang cerah dan memantulkan cahaya akan membantu mengurangi energi pencahayaan, selain itu warna yang lebih cerah juga sangat membantu menghidupkan suasana di dalam kamar.
Minggu, 13 Februari 2011
Combat Climate Change (Haris Nur Ali): Solusi Untuk Hutan Kita
Berbicara masalah keberlangsungan hidup hutan yang ada di muka bumi ini, sepertinya semua jawaban sama: sedang mengalami masa krisis. Permasalahan di sektor kehutanan di negara kita pun dari tahun ke tahun sepertinya juga belum membaik. Aktivitas illegal logging, misalnya, masih saja terus terjadi di sejumlah tempat di Indonesia.
Kemarin, saya membaca berita di media massa terkait keberlangsungan hutan alami yang terjadi di tanah air belakangan ini. Saya sunguh sangat miris membacanya. Bagaimana tidak? Ambil contoh seperti yang terjadi di kawasan teluk Pandan, Kutai Timur Kalimantan Timur (Kaltim).
Di kawasan konservasi lingkungan yang masih tersisa di Kaltim itu, terdapat benteng terakhir hutan tropis dataran rendah, rusak akibat aktivitas pembalakan liar dan pembukaan lahan tanpa izin. Anehnya, aktivitas itu dilakukan oleh puluhan warga setempat. Mereka bahkan, selain melakukan kegiatan illegal logging, juga berani bertengger mendirikan tenda-tenda di sekitar lokasi untuk melakukan kegiatan tebang hutan sejak pagi hingga sore.
Kemarin, saya membaca berita di media massa terkait keberlangsungan hutan alami yang terjadi di tanah air belakangan ini. Saya sunguh sangat miris membacanya. Bagaimana tidak? Ambil contoh seperti yang terjadi di kawasan teluk Pandan, Kutai Timur Kalimantan Timur (Kaltim).
Di kawasan konservasi lingkungan yang masih tersisa di Kaltim itu, terdapat benteng terakhir hutan tropis dataran rendah, rusak akibat aktivitas pembalakan liar dan pembukaan lahan tanpa izin. Anehnya, aktivitas itu dilakukan oleh puluhan warga setempat. Mereka bahkan, selain melakukan kegiatan illegal logging, juga berani bertengger mendirikan tenda-tenda di sekitar lokasi untuk melakukan kegiatan tebang hutan sejak pagi hingga sore.
Minggu, 06 Februari 2011
3C (Satria Antoni):Budidayakan Terumbu Karang
Istilah pemanasan global (global warming) sangat familiar di ranah publik dan menjadi isu sentral dunia hari ini. Istilah ini mencuat diseantero dunia ketika kerusakan lingkungan hidup yang semakin serius menjadi-jadi. Kemudian barulah disadari oleh segelintir pakar dari berbagai disiplin ilmu namun demikian berkat lobi-lobi mereka akhirnya PBB melaksanakan konferensi tentang lingkungan hidup di Stockholm Swedia pada tanggal 5 Juni 1972 yang kemudian hari itu disepakati sebagai “Hari Lingkungan Hidup Sedunia”.
Seiring berjalannya waktu, kondisi lingkungan ternyata semakin memprihatinkan. Setiap tahun PBB mengadakan konferensi perubahan iklim guna mengatasi pemanasan global karena telah mengancam keberlangsungan hidup di planet bumi. Konferensi ini dihadiri oleh seluruh negara maju/industri dan berkembang. Konferensi ini menghasilkan tekad semua negara di dunia untuk menyelamatkan planet bumi melalui deklarasi “Sustainable Development” dengan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Minggu, 30 Januari 2011
Combat Climate Change (3C): Jalan Kaki Jaga Bumi

KITA ketahui bersama, perubahan iklim adalah hal yang sering diperbincangan akhir-akhir ini, begitu pula dengan isu pemanasan global. Pemanasan global disebabkan oleh tingginya kadar gas rumah kaca, serta gas-gas berbahaya lainnya di atmosfer. Menurut World Bank, 70% penyebab utama pencemaran udara, yang menjadi penyebab pemanasan global adalah dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Bisa kita lihat realitas sekarang, kendaraan bermotor setiap tahun jumlahnya meningkat. Orang-orang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor untuk berpergian, baik jauh maupun dekat. Bahkan tak jarang pula sebagian orang menggunakan kendaraan bermotor hanya untuk jalan-jalan sore. Kalau kita kalkulasikan emisi gas buang dari seluruh kendaraan bermotor setiap harinya, mungkin kita hanya bisa menggelengkan kepala mengetahui berapa ton karbon yang terbang ke atmosfer bumi pada waktu bersamaan. Sedangkan pohon-pohon yang menyerap karbon semakin berkurang. Hemm.. ,bagaimana bisa kita menghadapi global warming kalau begitu faktanya? Tapi, jangan putus asa dulu. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan bumi . Dengan modal sepasang kaki yang menjadi penggerak untuk melangkah ke sana kemari, kita bisa menyelamatkan bumi, yaitu dengan ber jalan kaki, sebagai pengganti kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor.
Jalan kaki sama artinya dengan tindakan menyelamatkan bumi. Karena jalan kaki adalah kegiatan yang zero emission, alias tidak ada menghasilkan emisi. Pergi ke sekolah jalan kaki, pergi ke kampus jalan kaki, pergi belanja, bekerja, dan lain-lain dengan jalan kaki. Maka dari itu jalan kaki tergolong kegiatan berpindah tempat yang dapat mencegah polusi jika dibandingkan dengan memakai kendaraan bermotor.
Disamping itu, jalan kaki adalah tergolong kegiatan yang murah karena kita sudah dianugerahi sepasang kaki tanpa harus membeli, dan mudah karena sejak bayi kita sudah diajarkan bagaimana caranya berjalan. Cukup dengan mengayunkan kaki, kita dapat bergerak, berjalan kemana kita kehendaki. Berbeda dengan menggunakan kendaraan bermotor. Walaupun kegiatan mengayun kedua kaki tidak secepat kendaraan bermotor, tetapi jalan kaki banyak memberi manfaat. Dari segi kesehatan, bisa membuat tubuh lebih sehat, karena telah melakukan olahraga ringan yang murah meriah. Selain itu juga bisa meredakan encok lutut, mencegah kanker usus besar, mencegah osteoporosis dan juga bisa untuk kesehatan jiwa.
“Bisa mengirit pemakaian bensin”. Yap, itu manfaat lain dari jalan kaki. Setiap kendaraan bermotor pasti membutuhkan bahan bakar minyak untuk menjalankan mesinnya. Padahal, peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang menggunkan bahan bakar minyak tidak sebanding dengan jumlah minyak bumi yang semakin hari semakin menipis persediaannnya. Disebabkan minyak bumi adalah termasuk sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Maka dari itu, jalan kaki adalah solusi terbaik untuk penghematan minyak bumi tersebut. Mulai dari sekarang, ya! Kapan lagi kita akan memulai membudayakan untuk jalan kaki kalau tidak dari sekarang.***
kiriman Risky Ade Maisal, Mahasiswa Politeknik Caltex Riau



indah lestari









