Tampilkan postingan dengan label GSJ News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GSJ News. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Mikroba Endefit, Si Makhluk Kasat Mata

MIKROBAM merupakan makhluk hidup yang hanya terdiri dari satu sel. Segala keterbatasan yang terdapat pada mikrobatidak menjadikan makhluk tingkat rendah inimenjadi tidak berguna. Dan siapa sangka bahwa dibalik ukurannya yang kecil justru memberikan suatu pengaruh besar dalam kehidupan ini. 
Bahkan kehidupan manusia pun tak luput dari jasa mikroba. Seperti pada proses pencernaan saja misalnya, setelah nutrisi dalam makanan diserap oleh usus, selanjutnya proses pembusukan ampas makanan yang tak diserap tubuh dilakukan oleh bakteri Escherichia coli sebagai sisa dari hasil metabolisme tubuh. Fenomena pada proses pencernaan hanyalah satu diantara banyaknya fenomena lain yang di perankan oleh dunia mikroba.
Di lain sisi, terdapat istilah pada sebagaian masyarakat yang sering menyebut bakteri sebagai “kuman”. Namun kuman sendiri dalam dunia kesehatan lebih diidentikkan terhadap jenis mikrobapenyebab infeksidan penyakit mulai dari tingkat rendah bahkan hingga penyakit yang membahayakan. Tapi bukan demikian kiranya, mengingat besarnya keanekaragaman jenis mikrobaitu sendiri, maka tidak semua “mikroba” adalah “kuman”.
“Dari beragamnya jenis mikrobayang terdapat di jagad raya ini, ada jenis-jenis mikrobayang memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia,” tutur Siti Halimah, Mahasiswi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Riau (FMIPA UR) yang tengah fokus dengan dunia mikrobiologi.
Mikroba Endofit sebagai contoh lainnya. Endofit pertama kali ditemukan oleh Darnel dan teman-temannya dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 1904 dan menyepakati endofit sebagai mikroba yang hidup di dalam jaringan internal tumbuhan hidup tanpa menyebabkan efek negatif langsung. Sejak saat itu banyak penelitian-penelitian yang dilakukan guna mengetahui potensi mikroba endofit lebih jauh lagi. Potensi mikroba endofit yang telah terungkap misalnya dalam bidang pertanian, kesehatan bahkan dunia konservasi.
Hampir semua tumbuhan sehat pasti terdapat endofit. “Keberadaanmikroba endofit dapat berasosiasi dengan baik terhadap tumbuhan inangnya bahkan kehadiran mikrobaendofit memberikan kuntungan bagi tumbuhan yang di diaminya,” jelas Siti.
Hal ini dikarenakan mikroba endofit dapat menghasilkan suatu senyawa yang menguntungkan bagi perkembangan tumbuhan itu sendiri. Uniknya lagi, mikroba endofit dapat menghasilkan senyawa yang dapat melindungi tumbuhan inangnya dari serangan penyakit,” ucapnya.
Di dunia pertanian, mikroba endofit dapat dimanfaatkan sebagai musuh alami hama. Contoh lain dari manfaatmikroba endofit adalah kemampuannya dalam meningkatkan ketahanan tanaman kentang (Solanum tuberosum) terhadap serangan hama cacing atau nematoda sista kuning (Globodera rostochiensis). Selain itu, mikroba endofit juga dapat digunakan untuk pembuatan formulapupuk hayati.
Dimanamikrobaendofit mampu dengan sangat baik mengikat unsur N2 atau nitrogen, salah satu unsur yang sangat penting dalam pertumbuhan tanaman. Mikrobaendofit juga mampu memproduksi fitohormon, meningkatkan produksi penyerapan mineral, fiksasi Nitrogen, mengurangi kerusakan akibat perubahan cuaca dan meningkatkan ketahanan tanaman dari penyakit.
Potensi makhluk mikro yang kasat mata tersebut juga dapat diaplikasikan sebagai penghasil senyawa obat-obatan sehingga tidak perlu meramu obat dari tanaman maupun hewan. Dengan begitu kemungkinan untuk menghasilkan senyawa-senyawa yang di butuhkan dalam kehidupan manusia hanya akan dilakukan dalam sebuah ruangan yang mana “karyawannya” adalah mikrobaendofit.  Selain itu, kemampuan mikrobaendofit dapat membantu proses konservasi dan kelestarian alam karena tidak perlu lagi menggunakan tanaman maupun hewan yang berpotensi menghasilkan senyawa aktif, sehingga kelestariannya di alam tetap terjaga dengan baik. (diah-gsj/dac)

Olah Kulit Buah Jadi Pupuk Cair Organik

 PUPUK merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam kegiatan tanam-menanam. Pupuk juga berfungsi sebagai penyubur tanah yang tandus atau sedikit kandungan unsur hara. Pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (buatan).
Pupuk juga memiliki berbagai macam bentuk. Ada yang seperti pasir, bubuk, atau bahkan cair. Sayangnya beberapa jenis pupuk menyebabkan tanah yang ditanami ketika panen tidak dapat ditanam kembali dikarenakan pupuk tersebut memiliki kandungan kimia hasil olahan limbah yang membuat tanah dan dapat diolah kembali. Biasanya pupuk ini merupakan pupuk non-organik atau buatan.
Siswi SMA Negeri 1 Pekanbaru, Dela Oktadiani yang biasa dipanggil Dela berinisiatif mengolah kulit buah dan limbah sayur menjadi sebuah pupuk cair. Menurutnya, pupuk organik saat cenderung dihindari dikarenakan baunya yang menyengat karena merupakan hasil pembusukan kotoran. Selain itu, pupuk ini juga praktis dan dapat diolah sendiri dirumah.
“Pembuatan pupuk ini menggunakan prinsip fermentasi an-aerob dengan bantuan EM4” Ungkap Dela saat diwawancarai akan hasil temuannya itu.
Cara membuatnya cukup mudah, yakni mengumpulkan sisa-sisa limbah kulit buah/sayuran yang kemudian difermentasikan disebuah lubang dan dicampurkan oleh EM4 dan bahan lain dan diolah sehingga menghasilkan cairan yang menjadi pupuk cair organik.
Karyanya ini telah diikut sertakan dalam ajang kompetisi karya ilmiah tingkat Provinsi. Namun sayang, karyanya belum berhasil menjadi pemenang. “Walaupun belum berhasil, saya senang sudah bisa menemukan hal yang bermanfaat bagi diri saya sendiri dan oranglain,” ucapnya sambil tersenyum.
Manfaat pupuk ini tentunya dapat memperbaiki pemenuhan unsur hara tanaman dan dapat mengurangi sampah rumah tangga terutama sampah buah dan limbah sayuran. Selain itu, bentuknya praktis dan aroma pupuk yang tidak menyengat merupakan keunggulan karya ini.(melati-gsj/dac)

Askul Tinjau Lokasi Penanaman Jelutung

SELASA (11/7) lalu Green Student Journalists (GSJ) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) khususnya di Resort Bukit Batu.
Selain GSJ juga hadir tiga orang Jepang, dua dari pihak Askul yakni Shunichiro Azuma dan Hideshi Kitamura serta satu dari pihak Asia Pulp and Paper (APP) Jepang yakni Koichi Morizumi. Sebagai konsumen produk APP pihak Askul ini bertujuan untuk melihat lokasi penanaman Jelutung yang ditanam di Resort Bukit Batu sejak November tahun lalu.
Menurut Johannes Koto, Forest Conservation Sinarmas Forestry penanaman jelutung yang dilakukan oleh Sinarmas dan Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH) ini merupakan simbiosis mutualisme.
“Jelutung ini ditanam bertujuan untuk membantu masyarakat setempat juga, jadi di sini kita mengharapkan masyarakat nantinya juga bisa mengambil manfaat dari jelutung ini sehingga masyarakat tidak perlu merambah hutan,” ungkap Johanes Koto.
Jelutung ini sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti getahnya bisa digunakan untuk kosmetik atau kayunya bisa digunakan untuk batang pensil. Untuk menuju lokasi penanaman jelutung tersebut digunakan speed boat, karena lokasi penanaman berada di tepi sungai yang ada di sekitar cagar biosfer Bukit Batu.
Berdasarkan keterangan dari Syamsudin, Ketua KMPH luas dari masing-masing lokasi tersebut antara lain, lokasi pertama memiliki luas 0,375 hektare sementara lokasi kedua seluas 0,75 hektare. Sedangkan lokasi ketiga memiliki luas 2,25 hektare dan lokasi keempat memiliki luas 3 hektare. Jelutung-jelutung tersebut ditandai dengan batang kayu bercat merah disebelahnya.
Dari ke empat lokasi penanaman tersebut memiliki perbedaan antara lokasi yang satu dengan yang lainnya. Jelutung yang ditanam pada lokasi pertama dan kedua tampak tidak terlalu subur, bahkan juga ada beberapa yang mati. Berbeda dengan jelutung di lokasi keempat yang tampak cukup subur.
“Memang terlihat perbedaan yang signifikan, karena jelutung memang biasanya tumbuh subur di tanah rawa yang sedikit lebih basah. Dan dari lokasi-lokasi tersebut pada lokasi keempat tanahnya memang lebih basah dibandingkan yang lainnya,” ungkap Iwan Setiawan dari Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) yang juga ikut bersama rombongan.
Lokasi terakhir (lokasi empat, red) tersebut ditanam pada akhir Juli lalu. Pada lokasi keempat ini jelutung ditanam dengan jarak antar tanaman seluas 5x3 meter. (afra-gsj/dac)


YMI Konversi Kotoran Ternak Sapi Jadi Biogas

RABU, (12/9) Yayasan Mitra Insani mengadakan Kick Off Meeting dengan masyarakat Siak Kiri, serta Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Dinas Peternakan Kabupaten Siak. Pertemuan tersebut membahas tentang rencana  biodaigeister  yakni konversi kotoran ternak sapi menjadi biogas.
Rencana kegiatan tersebut disambut baik oleh masyarakat maupun dinas terkait seperti dinas Peternakan. Kerena hal iniu berhubungan dengan program dinas peternakan yakni menjadikan beberapa kecamatan di kabupaten Siak sebagai sentra peternakan.
Proyek  ini merupakan hibah dari Energi Environment Partnership (EEP) Indonesia dengan mitra lokal dari  Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) Jakarta. Dan untuk kali ini kegiatan akan pertama akan difokuskan di kecamatan Kerinci Kanan Kabupaten Siak, mengingat di kecamatan tesebut memiliki potensi yang besar karena masyarakatnya sebagian besar beternak sapi.
“Beberapa kecamatan lain juga banyak yang berternak sapi, sayangnya saat ini masih banyak yang berternak secara liar, tanpa menggunakan kandang. Hal itu akan mempersulit proses pengumpulan kotoran sapi yang akan dijadikan biogas,” ungkap Hisam Setiawan dari YMI.
Menurutnya pembuatan biogas dari kotoran sapi ini cukup mudah, namun kadang juga mengalamai kendala seperti tabungnya bocor, kemudian takaran jumlah kotoran dari berapa sapi yang bisa mencukupi untuk satu kali pengkonversian. Selain itu masih banyak masyarakat yang belum menyadari manfaat limbah kotoran sapi. Maka untu mengatasi kendala tersebut akan diadakan pelatihan kepada masyarakat pada akhir September nanti.
“Namun dalam hal ini yang terpenting adalah kemauan dan komitmen masyarakat,” kata Hisam.
Pihak YMI sendiri dan penghibah menginginkan keberlanjutan dari program ini. Untukpembangunan biodigister lengkap akan disubsidi 50 persen oleh penghibah dan 50 persennya lagi merupakan dana dari masyarakat dengan sistem kredit.  Konversi kotoran sapi menjadi biogas ini diharapkan mampu membantu masyarakat dalam menangani limbah sekaligus memudahkan masyarakat dalam mengatasi kelangkaan minyak tanah maupun peredaran gas elpiji yang sulit didaerah pedesaan. (asrul-gsj/dac)

Kamis, 13 September 2012

Chooper C-515 Mesin Pencacah Multifungsi

MESIN PENCACAH: Sofyan sedang memperagakan mesin pencacah digunakan untuk membuat kompos. (Ft.Teguh_GSJ)
MASALAH yang sampai saat ini tak kunjung selesai adalah masalah sampah. Tidak ditengah perkotaan, pinggir desa maupun di daerah pertanian dan perkebunan sekalipun.  Menyikapi persoalan itu, CV Sispra Jaya mempunyai terobosan dengan membuat mesin pencacah yang bisa digunakan untuk membuat kompos.
Namun ternyata mesin itu bukan hanya bisa digunakan untuk  itu, saja tapi juga bisa digunakan untuk membuat makanan ternak. Mesin yang dinamakan Chooper C-515 ini dirancang khusus untuk  digunakan  di perkebunan kelapa sawit.  Agar daun-daun kelapa sawit yang telah dipotong tidak menjadi sampah. Daun-daun itu bisa diolah dengan mesin pencacah sehingga bisa menjadi pakan ternak sapi.
Nah pembuatan Chooper C-515, bertujuan untuk menguntungkan petani. Karena dengan diolahnya daun-daun tadi dan menjadi pakan ternak maka dapat mengurangi sampah sekaligus menanggulangi pakan ternak yang biasanya harus dibeli atau dicari lagi secara khusus.
“Jadi para petani tidak perlu lagi mencari rumput untuk pakan ternak, sehingga waktu yang digunakan lebih efisien,” ujar Manager CV  Sispra Jaya, Sofyan.
Selain menajdi pakan ternak limbah kelapa sawit bisa diolah menjadi kompos dengan mesin pencacah tersebut.
Saat ini Chooper C-515 ini tidak diproduksi secara missal. Dan baru melayani pembelian via pesanan. Mesin dengan bahan bakar solar ini dibandrol harga sekitar 18 juta.
“Saat ini konsumennya sudah cukup banyak, meliputi Duri, Sorek, Tembilahan, serta Pasir Pengaraian, yang jelas untuk wilayah Riau sudah banyak yang tahu mengenai mesin ini, hanya saja bagi yang berminat bisa langsung ke pusat pembuatan mesin di Kulim karena kami menjual mesin ini via pesanan,” lanjut Sofyan. (asrul-gsj/dac)

Hylarana Rawa Miliki Perbedaan Jarak Genetik

Hylarana Rawa: Katak Langka yang ditemukan Giam Siak Kecil dengan perbedaan jarak genetik.(Ft Internet)

PENEMUAN  Spesies Katak Baru di Giam Siak Kecil Spesies katak baru dari genus atau marga Hylarana berhasil diidentifikasi peneliti. Katak ini ditemukan di rawa-rawa gambut yang ada di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, bagian dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu di Riau, sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sumatera.
Spesies katak baru bernama Hylarana Rawa yang diidentifikasi oleh Masafumi Matsui dari Kyoto University serta Mumpuni dan Amir Hamidy dari Pusat Riset Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu sudah dipublikasikan di the Herpetological Society of Japan pada Juni 2012.
Amir Hamidy menjelaskan menurut hasil analisis molekuler spesimen katak yang diteliti memiliki perbedaan jarak genetik cukup besar yakni antara 13,9 persen dan 15,7 persen dari jenis-jenis lain sekerabatnya sehingga dikategorikan sebagai jenis baru.
“Umumnya jarak genetik di gen 16 SRNA antar jenis katak hanya tiga persen sampai empat persen. Penemuan ini sangat menguatkan bahwa spesimen ini merupakan jenis baru,” kata Amir, peneliti LIPI yang sedang belajar di Kyoto University, Jepang.(melati-gsj/dac)





Para peneliti selanjutnya juga mencari karakter morfologi yang membedakan katak jenis baru itu dengan katak jenis-jenis lain yang sekerabat, dan berhasil mengidentifikasi salah satu karakter seks sekunder pada spesimen katak jantan yakni keberadaan kelenjar di lengan atas atau humeral gland yang sangat besar dibandingkan dengan ukuran badannya.
    Selain memiliki humeral gland yang merupakan ciri seks sekunder katak jantan beberapa marga, katak jenis baru itu juga memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil untuk ukuran katak dewasa marga Hylarana, serta selaput kaki yang minimum.
“Karena bukti-bukti kuat telah kami temukan selanjutnya kami mendiskripsikannya sebagai jenis baru. Jenis baru ini kami beri nama Hylarana rawa. Nama spesies ini kami ambil dari kata ‘rawa’ yang merupakan habitat dari jenis ini,” jelasnya.
    Habitat Hylarana rawa merupakan rawa gambut yang pH-nya cukup rendah (asam). Tidak semua jenis katak bisa hidup di daerah rawa gambut yang asam, hanya jenis-jenis tertentu saja yang bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan seperti itu.(melati-gsj/dac)

Peran Jeruk Bagi Lingkungan

Jeruk:  Jeruk merupakan salah satu buah yang sudah dikenal masyarakat. Selain mengandung vitamin C juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit.(Ft.Lia_GSJ)

Jeruk merupakan salah satu buah yang sudah dikenal masyarakat. Selain mengandung vitamin C juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit, yaitu menurunkan kolesterol, menyembuhkan bibir pecah-pecah, sariawan dan lainnya.
Buah ini merupakan salah satu jenis buah paling popular di belahan dunia manapun. Rasanya yang variatif, mulai dari manis, asam, hingga campuran keduanya. Sehingga membuat buah ini mudah akrab dengan lidah masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia.
“Terlebih tak cuma buahnya saja yang bermanfaat dan halal dikonsumsi. Kulit jeruk pun bermanfaat bagi kehidupan manusia,” kata Dedeh Srigayanti, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi dan Humas sambil tersenyum.
“Bagian buah jeruk yang sering terlupakan ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil,”tambahnya.
Dunia teknologi yang semakin canggih telah membuka wahana baru tentang semua itu. Membuka cakrawala melakukan eksperimen sesuatu yang telah Allah SWT ciptakan. Karena semua sumber daya alam yang telah Allah ciptakan tentu ada manfaatnya bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Menimbang saat ini kondisi lingkungan juga semakin buruk akibat penggunaan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Sehingga jumlahnya semakin lama sudah mulai menipis. Bagitu banyak dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan bakar ini, salah satunya yang menjadi masalah global dan perlu penanganan segera yaitu mengenai isu global warming.
“Dampak ini tidak hanya berpengaruh terhadap keadaan lingkungan saja, namun juga berdampak terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi,” sambung Melani Imelda Dahlia yang juga Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Ilmu Komunikasi dan Humas meyakinkan.
Kulit jeruk ini ternyata mengandung minyak atsiri yang mudah menguap dan terbakar. Minyak atsiri yang telah diketahui sangat baik sebagai alternatif bahan bakar  yang ramah lingkungan. Sehingga  nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil. Bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis tentunya.    Dari kulit jeruk itu juga terdapat sebuah bahan kimia bernama limonene yang bisa digunakan untuk keperluan kosmetik dan produk kebersihan.
Saat ini para ahli tengah mengembangkan segala kemungkinan untuk menggantikan bahan bakar minyak yang semakin lama semakin habis. Selain itu semakin meroketnya harga bahan bakar, membuat banyak orang berlomba-lomba untuk menemukan bahan bakar alternatif.
Winda Hidayatul Habibah, Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Biologi mengatakan, semua tidak terlepas dari ulah manusia itu sendiri. Akibat kerakusan segelumit manusia di belahan bumi ini, semua lapisan masyarakat dunia merasakannya.
“Sehingga dibutuhkan alternatif untuk memanipulasi hal tersebut. Tentunya semua adalah bahan yang ramah lingkungan. Agar global warming dapat dicegah,” ujarnya lagi.
Kulit jeruk dipilih karena hampir di seluruh dunia mengkonsumsi jeruk. Apalagi Brazil yang terkenal sebagai negara penghasil jus jeruk terbesar di dunia. Dari sini saja terdapat sekitar 8 juta ton kulit jeruk yang terbuang sia-sia.
Selain kulit jeruk, beberapa limbah lain yang bisa diproduksi menjadi bahan bakar alternatif diantaranya jerami, kerang, kulit apel, kopi, dan padi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang kulit jeruk. Supaya potensi minyak atsiri yang ada di dalam kulit jeruk dapat di dimanfaatkan kepada masyarakat, sehingga dapat membantu mengatasi masalah tentang bahan bakar.(lia-gsj/dac)

Kamis, 06 September 2012

Peduli Lingkungan dengan Menjadi Vegetarian

RELAWAN. Relawan Tzu Chi tampak sedang mempersiapkan menu makanan yang akan disantap dalam acara makan bersama vegetarian.(Ft.Asrul_GSJ)

BANYAK  cara untuk peduli dan ramah terhadap lingkungan, salah satunya adalah dengan menjadi vegetarian. Hal ini dilakukan oleh yayasan Tzu Chi  dengan membuat kegiatan bertema makan vegetarian bersama selama tiga hari, Senin-Rabu (27-29/8) lalu.
Dalam kegiatan itu, yayasan yang beralamat di jalan Ahmad Yani no 42 E-F Pekanbaru ini mengundang seluruh  relawannya yang ada di Riau dan para vegetarian yang ada di Pekanbaru untuk ikut hadir dan makan bersama.
“Tidak hanya para vegetarian saja yang boleh datang disini, tapi siapa saja yang datang kesini juga boleh ikut makan bersama, setidaknya orang non vegetarian bisa ikut mencicipi makanan vegetarian,” ujar Lina, salah satu relawan di Tzu Chi.
Menurut Lina, banyak orang non vegetarian yang menganggap makanan vegetarian itu tidak enak dan hanya terdiri dari sayur-sayuran yang membosankan, tapi di kegiatan tersebut Tzu Chi ingin merubah paradigma tersebut dan menunjukkan bahwa makanan vegetarian bisa disajikan dan diolah dengan sangat lezat.
“Kegiatan ini setidaknya merupakan sosialisasi kepada masyarakat sebagai ajakan untuk mencoba dan memulai hidup sebagai vegetarian karena ternyata dengan menjadi vegetarian kita akan lebih ramah terhadap lingkungan,” tutur Santi, mahasiswa kedokteran di salah satu Universitas di Taiwan.
Mahasiswa yang sedang liburan tersebut mengaku saat ini telah menjadi vegetarian dan telah cukup lama menajdi relawan di Tzu Chi. Dengan menjadi vegetarian ia mengaku menjadi orang yang lebih mempunyai cinta kasih karena telah mengurangi pembunuhan dengan memakan daging dari yang bernyawa. Selain itu, peternakan yang menghasilkan banyak daging, seperti sapi dan ayam merupakan penyumbang metana yang besar dalam global warming.
Maka dengan menjadi vegetarian maka ia telah mengurangi konsumsi daging yang dihasilkan oleh peternakan- peternakan penyumbang metana tersebut.
“Seandainya saja semua orang di dunia ini menjadi vegetarian maka tidak akan ada lagi peternakan, dan hal itu meminimalisir sumbangan metana, selain itu tentu makin banyak kebun sayur yang lebih ramah lingkungan karena semakin banyak tanaman hijau maka semakin banyak penyerap karbon sehingga hal itu akan mengurangi pemanasan global,” Ungkap Khun Hua, relawan Tzu Chi yang sudah 10 tahun menjadi vegetarian.
Menurut Khun Hua yang di yayasan sering dipanggil Shixiong atau saudara laki-laki ini banyak orang yang makan tapi tidak tahu dari mana makanan tersebut berasal, hal itu merupakan tindakan yang tidak bijak. Namun memaksa orang untuk menjadi vegetarian juga bukanlah hal yang baik, intinya untuk menjadi vegetarian memang dibutuhkan kesadaran diri sendiri untuk merubah lingkungan ini menjadi lebih baik.
Selain itu dengan menjadi vegetarian ia juga merasa lebih sehat karena mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang lebih alami dan baik untuk kesehatan. Saat ini sudah hampir seluruh keluarganya vegetarian.
Selain makan bersama, juga ada pemutaran film tentang keseimbangan lingkungan yang bisa ditonton oleh pengunjung kegiatan. Film tersebut merupakan salah satu media sosialisasi kepada pengunjung untuk lebih ramah terhadap lingkungan.
Yayasan Tzu Chi juga membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi relawan. Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras dan negara yang aktivitasnya berdasarkan cinta kasih universal. Yayasan yang berpusat di Taiwan ini berdiri sejak tahun 1966 dan saat ini telah tersebar di 53 negara di dunia. (asrul-gsj/dac)

Manfaatkan Biji Nangka Bahan Baku Susu

SUSU: Azizah, Alumnus SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan menunjukkan susu biji nangka yang diolah oleh para siswa SMKN 1 Pangkalan Kerinci.(Ft.Teguh_GSJ)

SETELAH makan nangka pasti semua orang akan membuang bijinya. Namun tidak dengan para siswa di SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Mereka mengumpulkan biji nangka itu kemudian mengolahnya sebagai bahan baku susu.
“Sayang kalau harus dibuang, kan biji-biji nangka itu masih bisa dimanfaatkan,” ujar Budi Iswanto, alumni SMKN 1 Pangkalan Kerinci, saat ditemui di pameran teknologi beberapa waktu lalu.
Menurut Budi membuat susu biji nangka sangat mudah, biji nangka dipilih yang tidak busuk. Kemudian di cuci bersih, di rebus lalu dikupas kulitnya. Setelah itu biji-biji nangka itu diblender di campur dengan gula dan susu.
Susu biji nangka tersebut merupakan hasil karya para siswa jurusan kimia. Kandungan zat-zat didalamnya telah diperiksa di laboratorium dan ternyata aman untuk dikonsumsi.
“Rasa susu biji nangka ini juga khas, enak kok, kalau pernah mencicipi biji nangka yang direbus, rasanya seperti itulah, tapi karena sudah dicampur dengan susu dan gula rasanya lebih enak lagi,” promo Budi.
Pemanfaaatan biji nangka untuk dibuat susu ini sudah lama dilakukan oleh para siswa di SMKN 1 Pangkalan Kerinci. “Sudah lama, beberapa tahun yang lalu lah, sejak saya masih menjadi siswa disana juga sudah sering membuat susu biji nangka, “Ungkap Budi yang saat ini sudah menjadi mahasiswa di Universiatas Riau.
Sayangnya saat ini susu biji nangka itu masih diproduksi secara terbatas di sekolah saja. untuk dipasarkan secara umumpun saat ini belum memungkinkan karena selain produksinya masih skala kecil, konsumennya juga belum banyak.
“Saat ini baru nata de coco yang sudah kami pasarkan secara luas, dan peminatnya cukup banyak. Semoga kedepannya susu biji kedelai ini juga akan menyusul,” ungkapnya. (asrul-gsj/dac)

Senin, 27 Agustus 2012

Air Bersih Hasil Destilasi Surya

DESTILASI SURYA: Muhammad Susanto  menjaga pameran teknologi Destilasi Surya hasil karya para mahasiswa Fakultas Teknik UIR beberapa saat lalu.(Ft. Teguh GSJ)

ISU semakin berkurangnya air bersih semakin  kerap kita dengar seiring dengan berbagai macam perubahan iklim. Hal itu menyebabkan kita harus mencari alternatif lain untuk menghemat pemakaian air bersih.
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR) misalnya, membuat sebuah alat yang bisa digunakan untuk menetralisir air asin. Alat tersebut dinamakan dengan distilator surya. Destilasi merupakan istilah dari penyulingan, yakni proses mendidihkan zat cair dan mengembunkan uap kemudian menampung embun kedalam wadah yang lain.
“Nah air asin yang didihkan tadi mengembun, uapnya yang kita tampung kewadah lain itu sudah menjadi air tawar,” ujar Muhammad Susanto, mahasiswa Fakultas Teknik
Dengan alat-alat yang sederhana para mahasiswa ini mampu membuat teknologi baru yang kelak jika dikembangkan akan mampu menanggulangi masalah kesulitan air bersih.
Bahan yang digunakan untuk membuat penetralisir air terdiri dari plat kuningan, kaca penutup, kanal basin atau bak penampungan, isolasi, pipa air keluar, plat penyerap, pipa air masuk, reservoir air laut dan alat pengukur temperatur. Penetralisir air ini menggunakan tenaga surya.
Susanto menjelaskan proses kerja destilasi adalah dengan mengandalkan tenaga surya. Radiasi surya menembus kaca penutup dan mengenai  permukaan plat penyerap maka plat penyerap akan panas. Panas tersebut akan memanaskan air asin yang ada di dalam basin.
Kemudian air akan menguap dan berkumpul di bawah permukaan kaca penutup. Kemudian uap air itu akan mencair dan mengikuti kemiringan kaca penutup tersebut dan masuk kedalam kanal terus mengalir ke tempat penampungan air bersih. Sedangkan garam akan tertinggal dia atas plat penyerap karena adanya perbedaan massa jenis.
Menurutnya air yang dihasilkan  oleh destilasi ini aman untuk  dikonsumsi karena tidak ada bahan-bahan kimia yang tercampur disana. Namun teknologi ini harus lebih dikembangkan lagi agar  temperature  yang  didapatkan  lebih tinggi sehingga benar-benar meyakinkan  untuk  dikonsumsi.
Dengan dana sekitar Rp500.000,-  destilasi ini  sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun saat ini daya hasilnya masih minim. Destilasi buatan para mahasiswa teknik ini pernah diuji cobakan dengan dipanaskan dibawah matahari mulai pukul 9.00 Wib  hingga pukul 15.00 Wib  dengan temperatur  matahari 29,30 celcius. Air yang dimasukkan sebanyak 12 liter setelah  dipanaskan hanya bersisa 7,2 liter dan hasil air tawarnya hanya 830 mililiter.
“Intinya, air bersih yang dihasilkan oleh destilasi ini masih sangat minim, kedepannya destilasi surya ini harus lebih dikembangkan lagi agar benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutur Susanto. (asrul-gsj/dac)

Kurangi Polusi dengan Alat Sedot Air Tanpa Mesin

ALAT PENYEDOT AIR: Alat penyedot air tanpa mesin hasil karya mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim yang ramah lingkungan. (Ft. Diah GSJ)

AIR, merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditolerir lagi keutamaannya. Namun kebutuhan terhadap air justru berbanding terbalik dengan ketersediaannya di permukaan bumi yang semakin sulit untuk didapatkan. Hal ini menyebabkan penggunaan mesin air menjadi pilihan utama masyarakat saat ini. Penggunaan mesin air tersebut tentunya membutuhkan energi listrik untuk dapat mengaktifkannya.
Namun apa jadinya jika mesin air tersebut digunakan di daerah yang tidak ada atau bahkan belum terdapat aliran listrik? Tentunya mesin air menjadi hal yang percuma terlebih lagi bagi masyarakat yang kurang mampu akan kesulitan untuk membeli alat tersebut. Desa Dayang Suri Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak salah satu contohnya. Desa yang belum dialiri arus listrik dari PLN dan masih sedikitnya PLTD yang berada di desa tersebut menyebabkan masyarakat yang berada di daerah ini masih mengandalkan air sumur plus timbanya serta tampungan air hujan.
“Pada dasarnya masyarakat desa ini masih ada yang belum mempunyai diesel sendiri, sehingga hanya mengandalkan sumur timba, serta jika kemarau panjang masyarakat harus mandi di parit yang ada airnya dan kadang mandi di Sungai Siak yang tempatnya cukup jauh dari pemukiman masyarakat,” jelas Wahyu Dwi Andika, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Untuk alasan itulah Dika, demikian sapaan akrabnya, bersama teman-teman sekelompoknya mencoba untuk membantu memcahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di desa tersebut melalui program kerjanya di Kuliah Kerja Nyata (KKN) Juli-Agustus 2012.
Dika pun menambahkan bahwa tujuan program kelompoknya ini adalah untuk melatih masyarakat dalam hal pengenalan, pembuatan, penggunaan alat serta pengembangkan alat ini agar diharapkan mampu membantu masyakat dalam memudahkan mengambil air dari sumur tanpa harus menggunakan alat mesin dan biaya serta tenaga yang relatif rendah. Mengingat sektor perekonomian masyarakat desa Dayang Suri yang menengah dan tidak adanya PLN, maka program ini diharapkan dapat mengurangi beban masyarakat dalam penyediaan air serta dapat menghemat dalam penggunaan biaya, tenaga dan tanpa harus menggunakan energi listrik.
Bahkan dalam pengembangan sekala besar alat ini juga diharapkan mampu untuk membantu dalam sektor pertanian irigasi dengan mengalirkan air sungai ke areal pertanian.
“Penggunaan alat ini cukup mudah dan praktis.Tabung yang telah dimodifikasi diisi dengan air hingga penuh dan ditutup rapat agar tidak terdapat gelembung udara yang masuk ke dalam tabung. Setelah dilakukan pengisian air, tabung tersebut di letakkan di tempat yang lebih tinggi dari permukaan air,” paparnya.
Selang penyedot yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam sumur, lalu buka selang pengeluaran agar air mengalir ketempat yang telah di siapkan. Dalam pembuatan alat ini yang perlu di perhatikan adalah kerapatan tabung, besar kecilnya tabung dan selang yang digunakan dalam pembuatan alat ini besarnya harus seimbang, namun tentunya selang yang berada di dalam sumur harus lebih panjang dari selang pengeluaran.(diah-gsj/dac)

KKN UIN Suska Lakukan Penanaman di Bakuok

TANAM POHON: Mahasiswa  Kuliah Kerja Nyata UIN Suska Riau, Sabtu  (10/8/2012) lalu telah melakukan penanaman  di Desa Aursati Dusun IV Bakuok, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. (Ft.Afra GSJ)

SABTU  (10/8) lalu telah dilakukan penanaman di Desa Aursati Dusun IV Bakuok, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Penanaman ini dilakukan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXXVI UIN Suska Riau yang ada di tempat tersebut. Ada sebanyak 100 bibit tanaman yang didistribusikan ke tempat ini.
“Ini merupakan bagian dari rencana kerja mahasiswa KKN se-Kecamatan Tambang dalam melakukan penghijauan di desa tempat KKN nya masing-masing,” ungkap Solahuddin, selaku koordiator desa untuk KKN UIN Suska di Desa Aursati Dusun IV Bakuok. Untuk tempatnya sendiri menurut Solahuddin sudah dikoordinasikan dengan pihak desa dan pengurus mesjid. Ini dikarenakan KKN UIN Suska tahun 2012 ini merupakan KKN Tematik Berbasis Masjid.
“Selain melakukan penanaman, kegiatan lingkungan lainnya yang kami lakukan adalah membersihkan mesjid setiap satu kali dalam satu minggu yakni pada hari Kamis,” ujar Solah lagi. Hal ini juga didukung oleh masyarakat yang ada di Desa tersebut. Seperti yang diungkapkan Bayu Rizki Hidayat, salah seorang tokoh pemuda di Dusun IV Desa Aursati ini.(afra-gsj/dac)

Lebaran, Pasukan Kuning Tetap Bergerak

BERTUGAS: Meski dalam suasana idul Fitri, petugas kebersihan tetap menjalankan tugasnya membersihkan sampah yang berserakan. (Ft. Fadlan GSJ)

KETIKA umat muslim berhari raya Idul Fitri, petuga kebersihan yang dikenal dengan sebutan pasukan kuning tetap menjalankan tugasnya. Senin (20/8), hari raya Idul Fitri atau lebaran menjadi salah satu libur besar bagi setiap kaum muslimin dan muslimat di seluruh belahan dunia.
Pada umumnya seluruh pekerja di liburkan dari segala aktivitas. Namun tidak untuk petugas kebersihan Pemerintah Kota Pekanbaru yang tergabung dalam Dinas Kebersihan Pertanaman dan Pemakaman (DKPP) Pekanbaru. Para pekerja yang sering disebut sebagai pasukan kuning ini tetap bekerja membersihkan, menyapu, dan memungut setiap sampah yang teronggok di setiap sudut jalan Kota Bertuah.
Masyarakat justru menyambut baik langkah yang dilakukan oleh DKPP ini. Seperti yang diungkapkan salah satu warga yang melintas “Jangan seperti tahun lalu seusai salat Ied sampah bertumpuk dimana-mana, justru menganggu kenyamanan kita dan warga lain yang lewat”. Pada hari raya lebaran tahun ini DKPP tetap bersiaga dengan sejumlah pekerja harian lapangan atau pasukan kuning tetap untuk membersihkan, mangangkut sampah kota. Dan ini bertujuan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi penumpukan volume  sampah yang berlebihan, terutama di jalan-jalan protokol. 
“Para petugas seperti kita ini yang beragama muslim hanya istirahat, pada salat Ied , tapi setelah itu kita akan kembali bekerja,” ujar Misrun salah satu petugas kebersihan ini.
Para petugas tidak  keberatan ketika  diberi tugas bekerja dalam waktu liburan. Bahkan mereka senang karena bisa mengurangi sampah terutama demi kenyamanan seluruh warga kota Pekanbaru. (fadhlan-gsj/dac)

Senin, 13 Agustus 2012

Motor Berbahan Bakar Kaleng Bekas di Pekanbaru

Anda pasti sudah pernah mendengar tentang mobil listrik yang dipopulerkan oleh Dahlan Iskan, atau mobil Esemka yang di rakit sendiri oleh para siswa SMK di Solo? Tapi sepeda motor dengan menggunakan bahan bakar kaleng bekas? Yang ini baru ada di SMKN 5 Pekanbaru!

Laporan Asrul Rahmawati, Pekanbaru

MOTOR RAKITAN: Siswa SMKN 5 Pekanbaru bersama sepeda motor hasil rakitan mereka  yang menggunakan bahan bakar gas dari kaleng bekas. (Foto :teguh GSJ)
SEPEDA  motor berbahan bakar kaleng bekas ini merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan karena me- recycle kaleng bekas minuman yang biasanya dibuang begitu saja di tempat sampah. Perakitan setiap satu sepeda motor ini ternyata tidak membutuhkan waktu lama, hanya tiga hari. Kegiatan merakitnya sendiri dilakukan oleh siswa-siswa kelas 3 dan kelas 2 yang dengan dibimbing oleh beberapa guru. Selain merakit sepeda motor menggunakan bahan bakar kaleng bekas, para siswa SMKN 5 pekanbaru juga merakit sepeda motor berbahan bakar gas.
“Ini merupakan hasil kreativitas siswa kelas 2 dan 3 dijurusan teknik sepeda motor, dibimbing oleh guru bidang studinya, untuk urusan merakit, kami saat ini bekerjasama dengan Kanzen sehingga kami bisa mendapatkankan sparepart nya dari sana” ujar Widya, salah satu guru yang mengajar di jurusan teknik Sepeda Motor.(ini memang nama jurusannya kok)
Menurut Widya, konversi ini lebih murah karena menggunakan barang bekas, begitu juga yang menggunakan gas elpiji, bahannya mudah di dapat dan bisa menghemat pemakaian bahan bakar fosil (bensin). Selain itu, knalpotnya juga tidak mengeluarkan polusi seperti ketika menggunakan bensin.
Setiap 3 kilogram gas bisa digunakan untuk perjalanan sejauh 300 kilometer sampai 320 kilometer, sementara itu untuk kaleng bekas baru bisa dipakai untuk perjalanan selama 20 menit.  “Kedepannya, penggunaan bahan bakar kaleng bekas ini harus lebih dikembangkan sehingga bisa dipakai untuk waktu yang lebih lama,” ujar Alvin Alrasyid, salah satu tim perakit sepeda motor.
Menurut penjelasan Alvin, proses pembuatannya juga tidak rumit. Pertama-tama dengan mencampur soda api dengan air, kemudian kalengnya dimasukkan kedalam adonan tersebut. setelah kalengnya meleleh maka gas hydrogennya akan keluar.
“Nah gas hidrogen yang keluar itulah yang akan digunakan sebagai bahan bakar sepeda motornya,” papar Alvin.
Pemasangan tabung gas elpiji tidak terlalu ribet, mirip dengan ketika kita menggunakan kompor untuk memasak. Gas dialirkan melalui selang ke karburator motor. Sepeda motornya pun tidak terlalu banyak modifikasi agar bisa berjalan. Hanya dilakukan perubahan pada bagian karburator untuk menjadikan gas sebagai bahan bakar. Sementara itu gas elpiji 3 kilogram tadi dipasang di jok bagian belakang yang dipasang slang untuk menghubungkannya dengan karburator.
Sepeda motor menggunakan bahan bakar gas elpiji ini sudah berulang kali di ujicobakan, bahkan salah satu guru di SMKN 5 sudah menggunakan sepeda motor ini berulang kali pulang pergi dari rumah ke sekolah.
“Salah satu guru Pembina di jurusan ini sudah sering menggunakannya kok, jadi kemungkinan gas meledak atau mati ditengah jalan kecil,” terang Widya.
Bahkan ternyata di padenglang, Banten, konversi gas elpiji sebagai bahan bakar sepeda motor sudah di lakukan oleh para tukang ojek. Memang jika dikalkulasikan secara finansial konversi bahan bakar fosil ke gas ini lebih murah. Tiga kilogram gas elpiji saja saat ini harganya hanya sekitar 15 ribu rupiah, dan itu bisa bertahan untuk perjalanan sejauh 300 sampai 350 kilometer. Bandingkan dengan harga bensin saat ini.
“Konversi bensin ke gas ini juga sepertinya akan menjadi alternatif yang nantinya akan menanggulangi kelangkaan bensin. Karena seperti yang kita tahu,minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, makin lama akan semakin berkurang,” tukas Widya.
Tampaknya masyarakat Riau perlu memikirkan dan mencoba teknologi tersebut. Sayangnya penggunaan bahan bakar gas ini tidak tercantum di Surat tanda Nomor Kendaraan (STNK) jadi bagaimana nantinya jika terjadi razia? Apakah teknologi ramah lingkungan ini juga dianggap pelanggaran? (asrul-gsj)

SMKN 1 Hadirkan Sabun VCO

FOTO: Teguh GSJ
SABUN TRANSPARAN: Budi sedang menunjukkan sabun transparan hasil karya siswa SMKN 1 Pangkalan Kerinci yang dibuat dari bahan-bahan ramah lingkungan,
PEKANBARU (RP)- SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Pelalawan turut serta dalam pameran teknologi yang dilakukan dalam rangka peringatan hari teknologi nasional dan ulangtahun provinsi Riau yang ke 55, Kamis-Jumat (9-10/8) lalu. Kegiatan yang dilakukan di halaman kantor gubernur provinsi Riau itu diisi oleh berbagai macam instansi.
Banyak hasil teknologi yang ada disana. Salah satunya adalah sabun transparan yang di pamerkan oleh para siswa SMKN 1 Pangkalan Kerinci. Yang menarik dari sabun tersebut adalah, bentuknya yang lucu dengan berbagai model binatang. Selain itu sabun tersebut berwarna transparan dan dibungkus rapi seperti souvenir.
Sabun yang dibuat sendiri oleh para siswa SMKN 1 Pangkalan Kerinci tersebut ternyata memiliki kandungan Virgin Coconut Oil (VCO) yang didapat dari ekstrak kelapa murni. Berdasarkan riset dan uji klinis VCO ini mempunyai bermacam-macam khasiat. Diantaranya adalah mematikan virus yang menyebabkan mononucleosis, influenza, hepatitis C, cacar air dan penyakit kulit.
Menurut keterangan Budi Ismanto,pengelola stand, pembuatan sabun transparan itu tidak terlalu sulit. Sebelum dibuat menjadi sabun, perlu dibuat VCO nya dulu. Lalu Azizah, alumni SMKN 1 Pangkalan kerinci yang ikut menjaga stand itu menjelaskan proses pembuatan VCO.
“Bahan VCO adalah kelapa murni, yang di jadikan santan. Kemudian direbus dan didiamkan. Maka santan yang sudah direbus itu akan terpisah menjadi dua bagian. Nah, yang kita ambil adalah santan kentalnya, kemudian dimasak sampai menjadi belondo. Belondo itu disaring. Jadi deh VCO nya,” ternag Azizah.
VCO ini selain bisa digunakan untuk membuat sabun, juga bisa dicampurkan pada pembuatan kosmetik dan bahan obat-obatan. Setelah ada VCO nya maka dilanjutkanlah dengan pembuatan sabun.
“Untuk membuat sabunnya cukup mudah, tinggal mencampurkan gliseril, gliserol, VCO tadi dan bahan pembuat sabun lainnya. Lalu di rebus sekitar tiga jam, sambil terus diaduk terus. Kemudian tinggal dicetak dan dikeringkan,” lanjut Azizah.
Saat ini sabun itu belum dipasarkan secara bebas, baru sampai tahap dijadikan souvenir saja.(asrul-GSJ)

Senin, 06 Agustus 2012

SMKN 2 Teluk Kuantan Raih Adiwiyata Nasional

BAWA SAMPAH: Siswa SMKN 2 Teluk Kuantan membawa 10 lembar sampah dan dibuang di gerobak yang disediakan sebagai tiket pulang yang dilakukan setiap hari.
UPAYA mendukung kebersihan lingkungan yang dilakukan SMKN 2 Teluk Kuantan selama ini, akhirnya membuahkan hasil dengan meraih sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Penghargaannya diberikan Menteri Lingkungan Hidup pada saat peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, 5 Juni 2012 lalu di Jakarta.
Kepastian penghargaan Sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) ini berdasarkan surat dari kementerian lingkungan hidup nomor 5643 tanggal 2 Juni 2012.
Kepala Sekolah SMKN 2 Teluk Kuantan Drs Arman Yulis MM mengatakan, penghargaan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup tersebut cukup layak diberikan kepada SMKN 2 Teluk Kuantan. Karena, upaya kebersihan lingkungan sekolah telah dilakukan pihaknya beberapa tahun sebelumnya.
“Ini adalah buah hasil dari semua stake holder di sekolah yang telah dilakukan secara bersama-sama dari dulu. Selain itu perhatian dari Pemkab Kuantan Singingi terhadap sekolah ini juga sangat membantu,” ujar Arman Yulis.
Ditambahkan mantan Kepala Sekolah SMKN 1 Benai ini, sebelum menetapkan SMKN 2 Teluk Kuantan meraih Adiwiyata Nasional ini, tim Adiwiyata dari pusat serta provinsi Riau telah melihat langsung kondisi lingkungan di SMKN 2 Teluk Kuantan. Hasil tinjauan tersebut yang menjadi perhatian dan nilai lebih adalah tiket 10 lembar sampah sebelum pulang yang dilakukan setiap siswa setiap hari sekolah.
“Siswa di SMKN 2 Teluk Kuantan wajib membawa 10 lembar sampah ketika pulang sekolah dan kalau tidak ada membawa lembaran sampah, mereka belum bisa pulang. 10 lembar sampah yang dibawa siswa harus memilih salah satu yakni sampah organik atau  anorganik. Kita sudah menyediakan tong sampahnya yang dijaga guru dan satpam sekolah,” paparnya.
Arman Yulis menambahkan, selain tiket 10 lembar sampah sebelum pulang, yang menjadi perhatian juga gerakan 1000 jari di SMKN 2 Teluk Kuantan. Gerakan 1000 jari ini adalah sebanyak 5 kelas piket lapangan setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Gerakan 1000 jari ini, kata Arman, dapat apresiasi dari tim pusat karena belum pernah diterapkan di sekolah lain.
“Dinamakan gerakan 1000 jari karena jika satu kelas sebanyak 40 siswa dan 5 kelas setiap pagi makan cukup banyak jari yang membersihkan lingkungan sekolah, karena itu namanya gerakan 1000 jari. Apalagi siswa SMKN 2 Teluk Kuantan saat ini lebih 1000 siswa,” paparnya.
Menurut Arman, dengan dua program ini, kondisi sekolah bersih setiap saat baik pada pagi hari maupun pulang sekolah karena sampah sudah dibawa pulang siswa melalui tiket sampah. Menurutnya, program ini cukup bagus, namun perlu peningkatan kualitasnya dimasa datang.
Program lainnya yang dilakukan SMKN 2 Teluk Kuantan adalah mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, gotong royong setiap Sabtu pagi, melakukan penghijauan terus menerus seperti tanaman obat, hutan berbagai macam buah, memanfaatkan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis terutama sampah anorganik yang dilakukan para siswa.
“Semakin banyak sekolah yang peduli lingkungan semakin baik bagi dunia, karena itu perlu pembinaan dan SMKN 2 Telah melakukannya. Kita berharap dimasa mendatang cukup banyak sekolah yang kita bina,” ujarnya.(jps-gsj/dac)

Buka Bersama Mapala Se-Pekanbaru

BUKA BERSAMA:Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UIN Suska Pekanbaru melaksanakan buka puasa bersama. Kegiatan ini dilaksanakan Selasa (31/7), di Homestay Mapala Suska kampus UIN Suska Pekanbaru yang berada di Jalan KH Ahmad Dahlan.
KEGIATAN buka puasa bersama buka hanya milik lingkungan pemerintah, tapi tradisi ini juga dilakukan kalangan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Pekanbaru. Kegiatan ini dilaksanakan Selasa (31/7), di Homestay Mapala Suska kampus UIN Suska Pekanbaru yang berada di Jalan KH Ahmad Dahlan.
Kegiatan tersebut dihadiri Mapala se-Pekanbaru. Tidak ketinggalan pula hadir Dewan Senior dan Dewan Kehormatan Mapala Suska serta Unit Kegiatan Kampus (UKK) dan Unit Kerja Mahasiswa (UKM) yang ada dilingkungan UIN Suska Riau juga hadir dalam kesempatan itu.
Kegiatan yang diadakan oleh Mapala Suska ini bukan yang pertamakalinya. Sebelumnya buka bersama sudah dilakukan secara bergiliran di setiap sekretariat atau homestay Mapala se-Pekanbaru. Jadwal yang sudah ditentukan yakni mulai 25 Juli lalu hingga 12 Agustus nanti. “Dengan begitu kegiatan buka bersama ini bisa menjadi ajang silaturahmi antar sesama Mapala di Pekanbaru. Sengaja dilakukan dengan berpindah-pindah tempat agar bisa ganti-ganti suasana untuk bertukar pikiran,” ungkap Adi Perwira, Dewan Senior Mapala Suska.
Menurut  Adi, tujuan utama kegiatan tersebut adalah untuk mempererat silaturahmi Mapala se-Pekanbaru, agar terjalin keakraban seperti mengenalkan anggota-anggota baru dengan Mapala-Mapala lainnya. Usai buka bersama Mapala Suska juga mengadakan hiburan berupa permainan musik perkusi dengan alat-alat milik Mapala Suska.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama masing-masing perwakilan Mapala se-Pekanbaru membahas persiapan kepanitiaan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Mapala se-Pekanbaru yang tergabung dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) tahun ini ikut ambil bagian di kepanitiaan dalam cabang olahraga panjat tebing.
“Semoga kedepannya persatuan dan kebersamaan sesama anggota mapala dapat ditingkatkan, bukan hanya untuk Mapala Suska tetapi juga untuk Mapala se-Pekanbaru,” harap Adi. (asrul-gsj/dac)

Mahasiswa Kukerta UIN Suska Distribusikan Bibit Pohon

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Islam Negeri (UIN) Suska, Rabu (1/8)  lalu telah melakukan pendistribusian bibit. Bibit pohon tersebut di distribusikan ke sembilan desa yang ada di kecamatan Tambang. Hal ini dikarenakan akan diadakannya penanaman di sembilan desa tersebut sesuai dengan program mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) UIN Suska Riau yang ada di kecamatan Tambang. Kesembilan desa tersebut antara lain Tarai Bangun, Rimbo Panjang, Kualu, Terantang, Palung, Kemang Indah, Parit Baru, Aursati dusun 1-2 serta Aursati dusun 3-4.
“Ada 1100 batang pohon yang didistribusikan ke sembilan desa tersebut,” ungkap Ade Gunawan selaku koordinator Kukerta UIN Suska Riau untuk kecamatan Tambang.
Ade juga mengatakan bahwa semua bibit ini merupakan bantuan dari dinas kehutanan, bagian bapedas (badan penanaman daerah aliran sungai).
Jenis tanaman yang didistribusikan itu antara lain, mahoni, pulai, durian dan petai. Rata-rata seluruh desa mendapatkan 100 bibit. (afra-gsj/dac)

Rabu, 01 Agustus 2012

Buka Bersama, Moment untuk Melepas Rindu



Green Student journalists
(GSJ) mengadakan buka bersama di basecamp GSJ jalan Thamrin no 8, Sail, Pekanbaru, Selasa (31/7) lalu. Sebelum acara berbuka dimulai GSJ juga membahas nama baru bagi GSJ yakni dengan penambahan dua huruf e dibelakangnya menjadi GSJee. Ee tersebut merupakan singkatan dari Enterpreneur Education.
Nama tersebut dipilih karena nantinya selain belajar tentang lingkungan dan jurnalistik GSJee juga akan belajar bersama-sama mengenai Enterpreneurship.
Selain itu rapat tersebut juga membahas tentang kelanjutan hunting coordinator GSJee Indonesia yang saat ini tengah berlangsung. Hunting coordinator ini diadakan untuk mempermudah GSJee dalam memilih orang-orang yang bersedia menjadi koordinator GSJee di seluruh Indonesia.
“Saat ini kita sedang mencari orang yang benar-benar mempunyai komitmen untuk serius dalam mengindonesiakan GSJee. Orang tersebut haruslah memiliki tingkat kepedulian terhadap lingkungan yang tinggi, kemudian juga young and smart,” ungkap Andi Noviriyanti, Pendiri GSJee.
Menurut Andi Noviriyanti, sayang sekali jika GSJee ini hanya berkembang di Riau saja, komunitas anak-anak muda yang care terhadap lingkungan seperti ini haruslah berkembang dan dikenal luas di seluruh Indonesia. Isu lingkungan saat ini sudah mulai banyak diperbincangkan dimana-mana, anak-anak muda seluruh Indonesia pun sudah seharusnya ambil bagian dalam hal ini.
Rapat sore itu juga mebahas tentang pengembangan blog GSjee, kemudian juga mulai akhir Agustus telah dijadwalkan untuk membuat diskusi rutin yang diadakan sebulan sekali membahas topik-topik lingkungan aktual saat ini melalui jejaring sosial, seperti facebook, twitter maupun mailing list. Untuk jangka panjangnya GSjee juga berencana untuk membuat sekolah jurnalis lingkungan online.
“Semakin mudahnya teknologi membuat orang semakin mudah belajar, GSJee tidak akan ketinggalan dalam hal ini. Nantinya akan dibuat modul-modul pembelajaran yang bisa diakses melalui internet,” lanjut Novi, panggilan akrabnya.
Buka bersama tersebut juga menjadi ajang silaturahmi bagi seluruh anggota GSJee yang saat ini sudah menyebar di berbagai wilayah Indonesia. Misalnya Waritsa Nurfadhilah yang saat ini tengah melanjutkan pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta, kemudian ada juga Edo Janfien yang saat ini tengah melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu komunikasi Unpad Bandung.
“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman GSJee yang ada di Riau. Semakin hari GSjee semakin banyak anggota baru namun moment seperti ini merupakan saat yang tepat untuk saling mengenal, dan melepas rindu dengan sesama GSJee” ujar Waritsa yang biasa di sapa Icha.
“Sebagai GSjee yang saat ini sudah tidak berada di Riau lagi, kami bertekad untuk mengenalkan GSJee dengan teman-teman yang ada di Bandung dan Yogyakarta, maupun di seluruh Indoensia dan mengajak mereka untuk bergabung di GSJee,” tambah Edo. (asrul-GSJee)

Jumat, 27 Juli 2012

SMAN 8 Kembali Sosialisasi Adiwiyata

Ahad 15 Juli 2012
Dalam rangka menindaklanjuti pembinaan-pembinaan  dalam bidang lingkungan hidup, SMA Negeri 8 Pekanbaru, Green School yang baru saja menggandeng penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri ini  diundang oleh SMPN 1 Bukit Batu dan SMAN 1 Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Undangan ini berkenaan untuk melakukan sosialisasi Adiwiyata dan pengintegrasian Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) ke dalam kurikulum.
Sosialisasi ini dilaksanakan pada Selasa(10/7) dan Rabu (10/7) di sekolah masing-masing dengan sasaran para guru dan siswa-siswi. Sosialisasi di SMPN Bukit Batu dilakukan pada Selasa mulai pukul 07.00-10.00 untuk siswa kelas VII, VIII dan IX dengan materi  sosialisasi Adiwiyata dan pembinaan terhadap kepedulian lingkungan, diantaranya air, sampah dan lubang resapan biopori (LRB), dilanjutkan pukul 10.30-16.00 WIB untuk guru dengan materi sosialisasi Adiwiyata dan dilanjutkan dengan pengintegrasian PLH kedalam kurikulum. Sedangkan sosialisasi di SMAN 1 Bukit Batu dilakukan keesokan harinya dengan materi yang sama diikuti oleh siswa-siswi kelas XI IPA dan IPS.
    Dalam acara ini juga hadir Badan Lingkungan hidup (BLH) Kabupaten Bengkalis yang akrab disapa Bu Ana, Kepala Sekolah SMPN 1 dan SMAN 1 Bukit Batu yaitu Siti Arby SPd dan Drs. Rahman MPd. Sosialisasi kedua sekolah ini dilakukan oleh Nurhafni MPd, Wakasek Humas SMAN 8 yang juga sudah pernah memperoleh penghargaan sebagai guru berprestasi dan aktif dalam kegiatan-kegiatan lingkungan.
    Para siswa di SMP dan SMA tersebut sangat senang dan antusias sekali dengan kegiatan ini yang membantu memperluas wawasan mereka mengenai lingkungan dari sebelumnya.Bahkan siswa SMAN 1 Bukit Batu langsung mempraktekkan LRB saat itu juga. Tidak hanya siswa, para guru pun merasakan hal yang sama.
    “Saya tidak suka dengan sampah yang berserakan, asal ada sampah selalu saya kutip dan bahkan langsung dibakar. Dikantong saya ini selalu ada korek api, makanya setiap ada sampah langsung dibakar. Namun dengan adanya sosialisasi ini, saya paham bahwa pembakaran bisa merusak lingkungan. Oleh karena itu, kedepan kami akan mulai mengolah sampah -sampah contohnya kertas diolah menjadi kertas daur ulang dan sampah organik jadi kompos, sehingga tidak ada pembakaran lagi, bahkan denganadanya biopori sampah organik bisa kita masukkan di LRB,” tutur Drs. Rahman MPd usai sosialisasi.
    Sementara Kepala sekolah SMPN 1 Bukit Batu yang sudah lebih dulu melakukan kunjungan SMAN 8 sudah membuat green house, kertas daur ulang, LRB dan bahkan sudah menambah dan merevisi visi dan misi sekolah menjadi lebih berwawasan lingkungan dari sebelumnya. Selain itu, pembinaan terhadap sekolah ini juga sudah dilakukan dua kali.
    Dua sekolah yang merupakan binaan SMAN 8 tersebut mengaku juga ingin meraih prestasi di bidang lingkungan. Dalam waktu dekat ini, kedua sekolah akan melakukan kunjungan ke SMAN 8 dan ketika bulan ramadhan berakhir nanti  akan kembali mengundang SMAN 8 untuk pembinaan dan program-program lingkungan lainnya.
“Sebagai sekolah yang sudah meraih prestasi di bidang lingkungan, alangkah baiknya kita dapat berbagi agar sekolah-sekolah yang lain khususnya provinsi Riau, juga dapat meraih prestasi seperti SMAN 8. Karena kita bisa hebat apabila kita juga bisa membuat orang lain jadi hebat juga. Artinya kita hebatnya tidak sendiri saja, tapi secara bersama. Intinya jangan jadikan program adiwiyata ini  hanya sebagai ajang untuk meraih juara/prestasi, lalu setelah diperoleh kita berhenti begitu saja,” tegas Nurhafni mengakhiri.(yayang-gsj/dac)

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province