Tampilkan postingan dengan label Laporan peserta H2C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan peserta H2C. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2011

Nature Park Rumbai, Area Hijau di Pusat Kota Bertuah


Minggu pagi (21/11) sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan Green Student yang terdiri dari kumpulan mahasiswa dan pelajar Riau akhirnya meminjakkan kaki di atas kawasan hutan perawan seluas 400 ha milik PT. CPI (Chevron Pasifik Indonesia). Sesaat sebelum itu, Green Student mendapatkan pembekalan tentang gambaran kepedulian PT. CPI terhadap lingkungan hidup dan sumbangsih area hijau di Kota Pekanbaru. Kawasan dengan nama Hutan Alam Rumbai (Nature Park Rumbai) tersebut menjadi bentangan hutan terluas yang berada di Kota Pekanbaru. Dedaunan lembab dan ranting rapuh yang berserekan di tanah menyambut siapa saja yang menyambangi Hutan Alam Rumbai dan diiringi dengan suara hewan yang bergemuruh secara bergantian seraya memanggil para penjelajah dari Green Student. Rangkaian kegiatan yang diberi nama Happy Hiking in Chevron ini merupakan kerjasama antara PT.CPI dengan SEFO (Save The Earth Foundation) Riau Pos.

Perjalanan Green Student dimulai dari membagi seluruh peserta yang berjumlah 50 orang menjadi 5 kelompok, dengan artian setiap kelompok memiliki 10 anggota dari Green Student. Tidak sulit bagi Green Student untuk menjelajahi sebagian kecil dari kekayaan alam Riau ini, karena setiap kelompok tracker (sebutan untuk penjelajah hutan di Rumbai Camp) dipandu oleh minimal satu orang Guide. Guide atau Park Ranger adalah orang yang sudah terbiasa dengan lingkungan hutan dan menjadi pemandu perjalanan hutan bagi tiap kelompok tracker. Park Ranger sudah ada sejak tahun 2001. Beruntung, masih ada perusahaan besar seperti Chevron yang masih peduli dengan kelestarian alam di bumi lancang kuning ini. Hal ini seiring sejalan dengan Visi Lingkungan Hidup dari PT. CPI sendiri, yaitu “Menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia”. Mengingat tingginya tingkat deforestasi periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun. Sudah pasti, dengan menjaga keeksistensian hutan dapat pula melestarikan kelangsungan hidup hewan-hewan liar yang hidup bebas di habitat aslinya. Sudah sejak lama, Nature Park Rumbai dikunjungi tamu dan peneliti dari mancanegara, diantaranya adalah dari Finlandia yang meneliti jamur pada tahun 2008 dan peneliti Australia yang meneliti hutan tropis di tahun 2007.
Sebelum berjalan lebih jauh, para tracker dari Green Student sempat menemani Manager Comunication and Media Relations PT. CPI, Hanafi Kadir untuk menjelajahi salah satu jalur yang ada di Hutan Alam Rumbai. Pada kesempatan itu, jalur yang dipilih adalah jalur merah dengan jarak lebih kurang 1 Km. Di area hutan yang sudah sering didatangi tracker dari mancanegara ini, terdapat 10 jalur atau jogging track. Beberapa jalur tersebut diberi nama Jalur Nenas, Jalur Merah, Jalur Biru, Jalur Kuning, Jalur Orange dan Jalur Biru Sungai Ambang.
Perjalanan Green Student dilanjutkan, setelah 30 menit lamanya menemani Manager Comunication and Media Relations PT.CPI Hanafi Kadir bersama melintasi jalur merah. Hal yang cukup mengganggu perjalanan adalah untaian rotan dengan durinya yang bisa saja melukai tracker Green Student. Ini seperti peringatan dari kumpulan rotan bahwa setiap tracker yang berkunjung ke Nature Park Rumbai harus berhati-hati dengan keberadaan tanaman yang pemanfaatannya sebagai bahan baku kursi ini. Bahkan yang lebih unik adalah pemanfaatan rotan di Kalimantan Tengah, masyarakat suku dayak sudah biasa memanfaatkan batang rotan muda sebagai komponen sayur.
Hutan di kawasan Rumbai Camp tersebut, diidentifikasi sebagai area yang didiami 14 spesies mamalia (6 spesies dilindungi), 5 jenis primata (1 spesies dilindungi), 9 jenis reptil (2 spesies dilindungi), 75 spesies burung (14 spesies dilindungi), dan 120 spesies kayu (4 spesies dilindungi). Empat spesies kayu yang dilindungi tersebut adalah Tembesu (Fagraea fagrans), Jelutung (Dyera costulata), Gaharu (Aquilaria malaccensis) dan Kulim (Scorodocarpus borneensis). Pada kesempatan itu pula, seorang guide yang akrab disapa Pak Joni menunjukkan keistimewaan dari kayu kulim dengan ciri berbau bawang, sehingga kayu yang banyak digunakan untuk tiang jembatan ini mudah untuk dikenali. ”Memang berbau bawang. Setelah kulit kayu kulim dikikis sedikit, kemudian kita mendekatkan hidung ke bagian kulit kayu yang dikikis tersebut. Maka, kita akan menghirup bau menyerupai bawang”, ujar Fitriandini (21) seorang mahasiswa jurusan Teknik Informatika di UIN Suska Riau yang juga tergabung dalam Green Student Journalist.
Terdapat pula 6 Spesies mamalia yang dilindungi yaitu Tapir (Tapirus indicus), Kucing hutan (Felis bengalensis), Landak (Hystrix brachyura), Beruang madu (Helarctos malayanus), Tupai tanah (Lariscus insignis), Kancil, dan Pelanduk (Tragulus spp). Keberadaan hewan-hewan tersebut semakin mempertegas bahwa kekayaan hayati dari Nature Park Rumbai dapat diperhitungkan. Tidak sekedar melintasi kawasan Nature Park Rumbai, tracker dari Green Student juga memperoleh banyak pengetahuan dengan turun langsung untuk berbaur dengan kehidupan di dalam hutan. Pada kesempatan ini pula, Green Student tidak membuang kesempatan untuk dapat menyaksikan area yang pernah dilintasi seekor tapir di jalur kuning. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa jejak kaki tapir di suatu titik yang berdekatan dengan sekumpulan tanaman kantong semar (Nephentes spp). Tapir merupakan hewan penyendiri, menandai jalur-jalur besar di darat sebagai teritori atau daerah kekuasaannya, walaupun daerah ini biasanya berdampingan dengan daerah kekuasaan individu lain. Hewan yang memeiliki masa hamil sekitar 400 hari ini, menandai teritorinya dengan mengencingi tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya dan kerap kali mengikuti jalur lain dari yang telah mereka buat yang telah ditumbuhi tumbuhan.
Kurang dari 2 Km dari lokasi keberadaan jejak tapir, Green Student akan sampai di pintu keluar dari Hutan Alam Rumbai. Disela-sela perjalanan, Pak Joni bersama Budi Koesoemo menyempatkan untuk membagi ilmu kepada Green Student. Mulai dari kekayaan alam Nature Park Rumbai, hingga alasan kenapa tracker dilarang untuk menelusuri jogging track pada saat hujan. Menurut Pak Joni, terdapat 2 alasan utama adanya larangan tersebut. Pertama, petir cenderung menyambar objek yang paling tinggi dan keberadaan tracker di bawah pohon yang menjulang tinggi menjadi kekhawatiran untuk tetap melanjutkan penjelajahan. Kedua, adanya tumbuhan serupa miang yang sangat berbahaya bagi kulit sensitive. Karena tanaman ini dapat menyebabkan kulit membengkak dan menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat. Biasanya tanaman ini berada di dahan-dahan pohon dan metode penyebarannya bisa sangat progressive dikala hujan, karena tanaman ini bisa saja jatuh dikulit para tracker dengan bantuan air hujan yang menetes.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kaki di dalam Hutan Alam Rumbai sepanjang 4,6 Km yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam, rombongan Green Student sampai di pintu keluar dari Hutan Alam Rumbai dan mengakhiri kegiatan Happy Hiking in Chevron di suatu lokasi yang masih berada di kawasan Rumbai Camp yaitu sebuah danau buatan yang disebut dengan Waduk Sungai Ambang.

Strategi Chevron dalam Perlindungan Lingkungan
Di kegiatan Happy Hiking in Chevron (21/11) selain mengenalkan kawasan Hutan Alam Rumbai, Chevron juga memberikan pembekalan kepada Green Student tentang upaya dan strategi Chevron dalam Perlindungan Lingkungan Hidup kini dan masa mendatang, yang diwakili oleh Budi Koesoemo, salah seorang aktivis di Ecology Club of Rumbai. Ecology Club of Rumbai secara sederhana diartikan sebagai organisasi pecinta lingkungan yang didirikan di bawah naungan PT.CPI dan mendukung penuh segala aktivitas positif yang diupayakan oleh Ecology Club. Sekitar 200 karyawan PT.CPI menjadi anggota dari klub ini.
Dalam rangka keikutsertaannya untuk mengurangi emisi gas kaca (GHG), PT.CPI berkomitmen untuk menghentikan Flaring (Suar Bakar) pada tahun 2014 dan Venting pada akhir tahun 2010. Ini berlaku untuk setiap operasi yang sudah berjalan maupun operasi yang akan dibangun. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2009 defenisi dari pembakaran suar bakar (flaring) adalah pembakaran secara kontinyu maupun yang tidak menerus dari gas-gas yang dihasilkan oleh kegiatan operasi minyak dan gas pada cerobong tetap (stationary stack) baik vertikal maupun horizontal. Sedangkan, Venting adalah pelepasan gas-gas hidrokarbon yang disengaja dan bersifat kontinyu atau tidak menerus yang dihasilkan dari kegiatan operasi minyak dan gas, yaitu dari proses separasi fluida, ke udara terbuka melalui cerobong tetap.
Selain hal diatas, PT.CPI juga melakukan program penghijauan dengan konsep memulihkan ekosistem awal. Salah satu caranya adalah membuat kriteria khusus jenis tanaman yang akan ditanam. Kriteria tanaman tersebut adalah menggunakan tanaman asli lokal, menggunakan jenis tanaman yang beragam, jenis tanaman yang cepat tumbuh, membutuhkan banyak cahaya, menghasilkan banyak serasah dan mudah terurai, dan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman lain, serta mudah kembangbiakkan. ”Alasan dipilih jenis tanaman yang beragam adalah untuk menjaga kesuburan tanah, karena jika tanaman yang ditanam berjenis sama akan mempercepat terjadinya ketandusan”, tegas Dini Tiara Sasmi yang mendapat kesempatan untuk berpendapat dan kemudian diaminkan oleh Budi Koesoemo selaku pembicara pada pembekalan Green Student di Happy Hiking in Chevron.


Laporan Teguh Budianto-GSA dari UIN Suska Riau

Ketika Nature Park Menjadi Paru-Paru Pekanbaru

Siapa bilang jalan-jalan ke hutan tidak menyenangkan? Green Student telah membuktikannya dan rata-rata anggota Green Student mengaku siap jika diajak Hiking di hutan lagi.

Udara pagi masih menggigit dengan dinginnya, namun beberapa Green Student terlihat sudah stand by di lobby gedung Riau Pos, memakai T-shirt putih dengan dikombinasikan dengan baju panjang. Kemudian masing-masing Green Student mengisi absen dan bersiap-siap.

“ Saya khawatir sekali ketika ada yang memberitahu bahwa bus yang menjemput sudah datang, sementara saya masih dalam perjalanan menuju Riau Pos, akhirnya saya sebarkan info tersebut ke semua teman-teman Green Student yang masih di perjalanan agar mempercepat kedatangannya,” ungkap Teguh Budianto, koordiantor Green Student Ambassador (GSA).
Ada 29 orang Green Student yang hadir pagi itu Ahad (21/11) lalu, minus satu orang karena berhalangan. Meski sedikit lewat dari waktu yang dijadwalkan yaitu pukul 06.15 menjadi 06.30 Green Student tetap bersemangat mengikuti Happy Hiking in Chevron (H2C). Sebelum naik bus yang telah disediakan oleh PT Chevron pacifik Indonesia (PT CPI) Green student sempat berfoto bersama dengan senyum lebar.
Sepanjang perjalanan menuju Camp CPI Rumbai Green Student tampak menikmati pemandangan pagi dari dalam bus. Tidak ketinggalan pula Direktur Eksekutif Save The Earth foundation (SEFo) Andi Noviriyanti, ikut berbaur dengan Green Student yang menjadi peserta H2C di dalam bus.
Sampai di Camp CPI Green Student langsung menuju ke Multifunction Building untuk makan pagi bergabung dengan Green Student yang sudah tiba sejak sabtu (20/11). Green student disambut baik oleh Humas PT CPI.Yulia Rintawati.
Selesai makan pagi Rinta membagi-bagiakan tas berisi kaos, topi dan brosur Rumbai Forest Nature Park dan langsung dipakai oleh Green Student. Masih di Multifunction Building, Green Student mendengarkan presentasi Dept. HES PT CPI oleh Budi Oetoemo. Presentasi tersebut menguraikan strategi Chevron dalam perlindungan lingkungan.
Dengan visi CPI menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia, maka pihak CPI berusaha untuk menerapkan beberapa pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan lingkungan korporasi dengan usaha penghentian Flaring (Suar Bakar) dan Venting Flaring (suar bakar) dan venting. Karena flaring maupun venting menghasilkan metana dua kali lipat lebih besar dibandingkan karbon dioksida dan menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar.
CPI juga melakukan pengelolaan air produksi, dengan cara mengambil minyak nya saja dari dalam perut bumi kemudian air nya di injeksikan kembali. Kemudian CPI juga memperhatikan pengelolaan limbah, menerapkan system reduce, reuse, reycle.
Selain itu CPI juga mengikuti dan terlibat dalam kegiatan dan pengembangan yang terkait dengan keanekaragaman hayati. Lalu CPI juga bekerjasama dengan NGO-NGO lingkungan hidup. Dan CPI juga tidak melupakan program penghijauan dengan konsep memulihkan ekosistem awal.
Budi mengungkapkan bahwa setiap hari di CPI banyak berkeliaran hewan-hewan di sekitar camp perumahan karyawan maupun di jalan-jalan nya.
“Setiap kelompok hewan liar tersebut telah memiliki daerah lintasan masing-masing, sehingga setiap hari mereka selalu melewati tempat tersebut,” papar Budi.
Menurut Budi hewan-hewan tersebut tidak pernah menyerang manusia, jika mereka tidak merasa terganggu. Di camp CPI manusia dan hewan dapat hidup saling berdampingan.
Setelah mendengarkan dan melihat presentasi melalui slide dari Budi Oetomo, Direktur Eksekutif SEFo, Andi Noviriyanti memberikan sambutan mengenai kegiatan H2C tersebut. Novi panggilan akrabnya menekankan pentingnya mencatat daripada mendengarkan.
“Jika kalian hanya mendengarkan, maka kalian hanya belajar 20 persen, berbeda jika kalian menuliskannya, maka kalian akan belajar lebih banyak, begitupula dengan kegiatan kita kali ini, jika kalian hanya mendengarkan saja presentasi-presentasi tanpa mencatat nya, maka kalian hanya akan mampu mengingatnya hanya dalam beberapa hari,” ungkap novi panjang lebar kepada Green Student.
Semangat Green Student makin berkobar ketika mendengar sambutan Hanafi Kadir, Manager Humas CPI.
“ Green Student adalah makhluk langka…” ucap Hanafi yang membuat para Green Student ternganga mendengarnya.
Menurut Hanafi, anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan semakin jarang ditemukan, sehingga jika ada generasi seperti itu dianggap hal yang langka.
“ Kalian tidak sendiri menjaga lingkungan ini, kami juga berusaha untuk melakukan itu, jika kita saling bersinergi semuanya tidak akan berat dilakukan,” lanjut Hanafi.
CPI mempunyai komitmen yang kuat terhadap pelestarian lingkungan, dan untuk memberikan wadah bagi orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan CPI membentuk Ecology Club tahun 1980 yang beranggotakan karyawan-karyawan PT CPI.
Menurut Marthinus Arbian, dari Ecology Club, pembentukan klub tersebut bertujuan untuk membantu melestarikan flora dan fauna di sekitar camp. Sampai saat ini anggota klub telah mencapai 700 orang.
Marthinus juga menyebutkan bahwa sekitar 400 hektar dari 1.226,20 hektar luas camp CPI Rumbai merupakan hutan alam yang disebut Rumbai Forest Nature Park. Lalu pada tahun 2001 di gagas Park Ranger bekerjasama dengan World Wide Found for-nature(WWF) dengan tugas membantu para tracker (sebutan bagi penjelajah Nature Park), berperan memonitor keadaan hutan dan menjaga kelestarian kawasan hutan serta seluruh biodiversity di dalamnya.
Masih di Multifunction Building, Emy Andriati, Direktur perkumpulan YASA( LSM lingkungan-red) mengajak Green Student untuk sekilas mengenal hutan alam Rumbai milik CPI melalui presentasi dan tayangan slidenya. Menurutnya pengenalan ini sangat penting sebelum para Green Student memulai hiking di kawasan hutan yang masih asli tersebut.
Dari penjelasan Emy dapat disimpulkan jika Nature park kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Dilihat dari tingginya biodiversity nya Nature Park menyimpan 120 spesies Kayu dengan empat spesiesnya merupakan spesies yang dilindungi. 75 spesies Burung dengan 14 spesies yang dilindungi. 14 Mamalia, enam spesies dilindungi. Lima Primata dan satu yang dilindungi.
Selain itu di Nature Park tutupan vegetasinya masih baik dengan berbagai jenis pohon pelindungnya seperti Trembesi, Kulim, Jelutung, Gaharu dan Meranti. Lebih lanjut Emy juga menjelaskan bahwa ekologis seperti itu mempunyai banyak manfaat, yaitu sebagai penyimpanan cadangan karbon, juga penyerap karbon dioksida,lalu pensuplai oksigen, sebagai daerah resapan air. Sebagai pengatur tata air dan yang pasti adalah pendingin suhu udara.
“Singkatnya Nature Park adalah paru-paru Pekanbaru,” ujar Emy.
Selain presentasi, Emy juga menyampaikan standar operasional dalam menjelajah hutan dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada di dalam hutan. Sementara itu koordinator program YASA Johny Setiawan membagikan kaus tangan kepada seluruh Green Student untuk dipakai ketika memasuki kawasan Nature Park.
“Gunanya adalah untuk melindungi tangan dari berbagai tumbuhan dan binatang-binatang kecil di hutan nanti,” jelas Jhony.
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu para Green Student tiba, saatnya memulai ekspedisi di Nature park! Sebelum berangkat 49 Green Student di bagi menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah sepuluh orang dengan ketua kelompoknya antara lain, Teguh Budianto, Martua Siahaan, Roma indrawan, Miftahul Huda dan Andri Daena . Rombongan Green Student menuju kawasan Nature Park dengan diantar bus.
Sampai di bibir hutan kelompok yang telah dibagi-bagi tersebut ternyata mendapat tambahan beberapa mahasiswa dari berbagai universitas yang sedang Kerja Praktek (KP) di CPI. Setiap kelompok satu tambahan anggota. Ada yang dari UIN Suska, Universitas Riau dan Universitas Islam Bandung(Unisba).
Kemudian masing-masing kelompok mendapatkan satu Park Ranger untuk memandu rombongan. Penjelajahan dibagi menjadi dua rute, rute biru dan rute kuning. Rute kuning adalah rute panjang dengan mengelilingi 4,2 km luas hutan tersebut dan memakan waktu tiga sampai empat jam. Sedangkan rute biru, rute pendek hanya memakan waktu 20 menit.
Ternyata bukan hanya Green Student saja yang bersemangat untuk menjelajah hutan, tetapi hal yang sama juga dirasakan oleh Andi Noviriyanti. Dengan memilih jalur biru Novi pun ikut menjelajah bersama Hanafi kadir dan Mario( pendamping Green Student). Kelompok yang diketuai Teguh Budianto mendapatkan kehormatan untuk ikut dalam rombongan tersebut. Namun setelah usai mengantarkan rombongan tersebut kelompok ini juga akan menjelajahi rute kuning.
Pukul 09.55 Green Student mulai memasuki hutan, setiap kelompok satu dengan kelompok lainnya berselisih waktu kurang lebih lima menit. Belum berjarak 10 meter dari bibir hutan para Green Student telah menemui sebuah jembatan dari besi, diatas sungai kecil, para Green Student melewatinya dengan bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi pelan. Namun makin masuk kedalam hutan, jalan yang dilalui ternyata tidak datar, dengan pohon-pohon Meranti atau pun Gaharu berdiri kokoh, jalan setapak yang dilalui Green Student makin naik, sehingga untuk meneruskan perjalanan Green Student harus mendakinya dengan berpegangan dengan pohon-pohon di kanan kiri jalan.
Di beberapa tempat jalan tidak hanya mendaki tetapi ada juga yang menurun, curam, ada yang miring, licin, bahkan Green Student harus melewati beberapa sungai kecil dengan jembatan kayu-kayu melintang ala kadarnya. Saat melewati dataran yg sulit, para anggota kelompok saling memberikan bantuan dan semangat.
“Untunglah Martua tadi kalah suit dengan Teguh, kalau tidak kita harus melewati dua rute nih,” ucap Yonatan Green Student yang menjadi anggota Martua Siahaan dalam hiking tersebut sambil tertawa.
Meski medan yang dilalui cukup berat tetapi para Green Student tidak mengeluh, seperti Fitri dan veronica yang sering tertinggal jauh dibelakang ketika berjalan, begitu sampai di hadapan kelompoknya pasti selalu kelihatan bersemangat lagi.
Sepanjang perjalanan Green Sudent banyak menemukan rotan, lalu tumbuhan semacam pandan-pandanan dan beberapa pohon yang unik dengan model batang yang saling melilit. Sayang, selama penjelajahan Green Student tidak bertemu hewan-hewan yang ada di dalam hutan tersebut.
“hewan-hewan disini memiliki insting yang sangat sensitif, mereka tidak akan mau menampakkan diri jika mencium bau manusia,” ujar Awaludin, salah satu Park Ranger yang menjadi guide Green Student.
Waktu semakin beranjak siang, namun suasana di dalam hutan tetap sejuk, dan setelah tiga jam lebih perjalanan Green Student sampai juga pada garis finish. Beristirahat sejenak di bawah pepohonan, kemudian para Green Student kembali menaiki bus menuju sungai Ambang untuk makan siang.
Di dalam bus, terlihat wajah-wajah lelah, namun perjalanan terus berlanjut menuju sungai Ambang. Sungai yang telah di bendung dan dirubah menjadi waduk. Di tepian sungai itulah para Green Student menikmati makan siang. Sungai Ambang merupakan salah satu tempat yang sangat dijaga kelestariannya, di tepian sungai Ambang terdapat larangan berenang dan memancing di sana.
Selesai makan siang, kegiatan hiking berakhir, para Green Student dari luar kota kembali ke messhall untuk menginap satu malam lagi disana, sedangkan Green Student yang dari Pekanbaru bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Semoga kapan-kapan kita bisa happy happy lagi bersama Chevron,” kata para Green Student.


Laporan Asrul Rahmawati-GSJ Universitas Muhammadiyah Riau

Jelajahi Hutan Alam Rumbai Park bersama Green Student


Ahad, (21/11) Green Student yang tergabung dalam Green Student Journalist (GSJ) dan Green Student Ambassador (GSA) bekerja sama dengan PT. Chevron Pasific Indonesia (CPI) wilayah Rumbai mengadakan Happy Hiking in Chevron (H2C). Para peserta berasal dari dalam dan luar kota Pekanbaru, yaitu sebanyak 30 orang dari dalam kota dan 20 orang dari luar kota.

Sehari sebelumnya yaitu tepat pada hari Sabtu (20/11) telah diadakan technical meeting (TM) bagi para peserta Happy Hiking in Chevron (H2C) ini. Bertempat di ruang rapat redaksi yang ada di lantai II gedung Riau Pos, Jalan H.R. Subrantas KM. 10, 5 Panam.
Dalam technical meeting ini, Teguh Budianto selaku koordinator Green Student Ambassador (GSA) menjelaskan agenda kegiatan yang dilakukan peserta pada hari minggunya. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian seragam Green Student Journalist (GSJ) bagi anggota GSJ yang belum memiliki seragam ini oleh koordinator Green Student Journalist (GSJ), Asrul Rahmawati. Selain itu, Ivit Sutia selaku Koordinator Green Student juga berpesan agar peserta tidak lupa membawa berbagai perlengkapan yang sudah ditentukan seperti, baju kaus lengan panjang, topi, sepatu kets dan celana panjang.
“Jangan lupa juga persiapkan perlengkapan pribadi, seperti obat-obatan, air minum dan lainnya,” ujar gadis yang biasa disapa dengan sapaan Tya ini.
Kemudian esoknya sejak matahari belum muncul, peserta Happy Hiking in Chevron (H2C) sudah ada yang mulai berkumpul di gedung Riau Pos, Panam. Semua peserta yang berkumpul di gedung Riau Pos pagi itu berasal dari wilayah dalam kota Pekanbaru, karena 20 orang peserta dari luar kota Pekanbaru sudah terlebih dahulu berangkat menuju Rumbai Camp milik Chevron di Rumbai, setelah technical meeting pada hari Sabtu (20/11) sore, sekitar pukul 16.00 WIB.
Pagi itu, para peserta sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapannya. Andi Noviriyanti, Direktur Eksekutif Save The Earth Foundation (SEFo) juga berkali-kali mengingatkan peserta yang membawa kendaraan bermotor untuk mengunci ganda kendaraannya yang akan ditinggal sementara di Riau Pos agar lebih Safety.
Akhirnya satu-satu peserta pun memasuki bis yang ada di depan gedung Riau Pos, setelah sebelumnya foto bersama. Tapi, peserta dari dalam kota yang berangkat menuju Rumbai Camp pagi itu hanya 29 orang karena salah seorang peserta berhalangan hadir.
Peserta H2C ini juga didampingi langsung oleh Andi Noviriyanti dan Mario Kizzas, salah seorang wartawan Riau Pos. Kemudian sekitar pukul 06.45 WIB bis yang membawa peserta H2C pun berangkat menuju Rumbai Camp.
Sedikit lebih lama, karena harus memutar arah menuju Rumbai, akhirnya udara sejuk di Rumbai Camp pun bisa dirasakan oleh peserta dari dalam kota Pekanbaru yang kemudian bergabung dengan peserta dari luar kota Pekanbaru. Dan sebelum memulai acara para peserta sarapan bersama terlebih dahulu, kebersamaan sangat terasa dalam acara sarapan bersama ini.
Setelah sarapan, dilanjutkan dengan pembagian baju dan topi dari Chevron, ini bagi peserta dari dalam kota Pekanbaru yang dilakukan oleh Asrul Rahmawati dan Febria dari SEFo. Lalu, setelah semuanya berganti pakaian dengan seragam dari Chevron, acara pun dimulai yang diawali dengan penjelasan beberapa materi dari Chevron seperti yang pertama Strategi Chevron dalam Perlindungan Lingkungan oleh Budi Koesuma. Di sini dijelaskan tentang visi lingkungan Chevron menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerjanya dalam penyelamatan lingkungan. Selain itu juga dipaparkan tentang cara Chevron mengolah limbah dan air produksi sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.
Di sela-sela penjelasan tersebut, salah seorang dari green student mengacungkan tangan untuk bertanya kepada penyaji. “Tadi pada awal slide ditampilkan burung yang katanya bermigrasi, sebenarnya dari mana asal burung tersebut? ” ujar R.A Diah Sulistia Ningrum, GSJ dari Pekanbaru.
Pertanyaan tersebut langsung di jawab pematerinya yaitu Budi Koesoma. “Burung-burung tersebut berasal dari belahan bumi utara, dimana saat belahan bumi utara itu sedang musim dingin maka burung-burung tersebut akan bermigrasi dan salah satu tempat persinggahannya tersebut adalah hutan di Rumbai Camp,” ujarnya.
Setelah pemaparan materi yang pertama tersebut diselingi dengan kata sambutan, pertama dari pihak SEFo oleh direktur SEFo sendiri. Dalam sambutannya Andi Noviriyanti yang biasa disapa dengan panggilan Novi ini juga memperkenalkan Green Student yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa yang ada di Riau. Dan yang kedua sambutan dari pihak Chevron juga ada yang diwakili oleh Humas Chevron yaitu Hanafi Kadir.
“Dalam menggali pengetahuan dan pengalaman serta keterampilan itu sebaiknya juga disinergikan dengan alam dan lingkungan kita,” pesan Hanafi Kadir kepada semua peserta.
Setelah kata sambutan tersebut dilanjutkan dengan penjelasan materi berikutnya tentang Ekologi oleh Martinus. Di sini diperkenalkan Ecology Club yaitu sebuah perkumpulan pegawai Chevron yang ada di Rumbai. Club ini concern terhadap lingkungan dan berdiri sejak tahun 1988. Salah satu bentuk kegiatannya adalah membantu mengembangkan program penghijauan serta pelestarian flora dan fauna. Selain itu juga menggagas adanya Park Ranger di hutan alam di Rumbai Park. Pembentukan Park Ranger ini bekerja sama dengan WWF (World Wildlife Fund). Selain itu juga diterangkan tentang Nature Park Rumbai yang terdiri dari West Park dengan luas 76 Ha dan East Park dengan luas 28 Ha.
Ada sepuluh jalur yang bisa digunakan untuk mengitari Nature Park ini, tiga diantaranya adalah jalur merah sejauh 1 KM dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dan jalur biru sejauh 2,6 KM dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam serta jalur kuning sejauh 4,2 KM dengan waktu tempuh sekitar 3 sampai 4 jam. Dari ketiga jalur itu nantinya peserta H2C akan memakai jalur kuning.
Pemaparan materi ini juga diselingi dengan beberapa pertanyaan berhadiah topi dari Chevron. Salah satunya adalah pertanyaan tentang mengapa banyak gajah berkeliaran di kawasan penduduk bukan di habitatnya lagi. Kemudian salah seorang peserta langsung mengacungkan tangannya.
“Menurut saya itu karena habitat dari gajah itu sendiri sudah rusak, sehingga gajah-gajah kehilangan tempat tinggalnya, makanya mereka kemudian mencari tempat baru agar bisa tetap bertahan hidup,” jawab Asrul Rahmawati dengan tegas diiringi oleh tepuk tangan dari peserta lainnya.
Lalu berlanjut ke Penjelasan terakhir dari Park Ranger tentang sekilas hutan alam yang ada di Rumbai ini serta hal-hal yang harus dipersiapkan untuk masuk hutan seperti GPS, kompas, topi, sepatu dan lainnya. Park Ranger ini sudah ada sejak tahun 2001.
Hutan alam yang ada di Rumbai Park ini termasuk yang masih alami ditandai dengan masih adanya burung Enggang yang hidup di dalam hutan tersebut. Selain itu Biodiversitasnya juga tinggi dengan masih beragamnya spesies yang hidup di hutan ini. Hutan alam ini luas seluruhnya 400 Ha atau sekitar sepertiga dari luas Rumbai Park yaitu 1226,26 Ha dan merupakan paru-paru utama kota Pekanbaru. Banyak manfaat yang bisa didapat dengan adanya hutan ini salah satunya bisa menjadi daerah resapan air dan untuk suplai oksigen (O2). Di hutan alam ini juga terdapat kantong semar (Nephentes Spp.), salah satu spesies herba yang dilindungi saat ini.
Kemudian Park Ranger juga membagikan sarung tangan untuk perlindungan tangan selama di hutan nanti kepada semua peserta. Nantinya peserta akan dibagi atas 5 regu yang akan dipandu oleh masing-masing Park Ranger. Setelah semua persiapan selesai, para peserta pun dengan bersemangat berangkat menuju lokasi penjelajahan.
Setibanya di lokasi, sekitar pukul 10.00 WIB satu persatu regu pun memasuki hutan. Tapi ada salah satu regu yang berkesempatan untuk mencoba jalur merah sebelum memasuki jalur kuning yaitu regu keempat. Karena regu ini akan mendampingi Hanafi Kadir dan Andi Noviriyanti serta beberapa panitia lainnya untuk menjelajahi hutan terlebih dahulu dengan jalur merah tersebut.
Kondisi hutan alam Chevron ini memang masih sangat alami bisa dilihat dari komposisi tumbuhannya yang masih beragam serta kanopi hutan yang juga terdiri dari pohon kecil, sedang dan besar.
Lalu, Sekitar seperempat perjalanan di jalur kuning peserta dari regu keempat sempat menemukan liana yaitu tumbuhan yang biasanya tumbuh melilit atau memanjat pohon (woody climbers). Selain itu Park Ranger juga memberikan pengarahan jika seandainya tersangkut rotan maka jangan dilawan tapi kembalikan ke arah sebelumnya, karena kalau dilawan maka baju bisa robek dan juga kulit bisa luka. Park Ranger juga menjelaskan tentang jamur yang bisa dimakan dan tidak, salah satunya bisa dilihat dari warnanya yaitu jika mencolok maka jamur itu tidak bisa dimakan.
Di sela-sela istirahat di dalam hutan salah satu peserta, Fitri Andini bertanya kepada Dedi Koesuma yang ikut mendampingi regu keempat ini. “Pak, bagaimana PT.CPI menanggapi isu yang banyak beredar di masyarakat kalau tanah Riau ini dibawahnya sudah kosong karena pertambangan minyak?” tanyanya antusias.
“Sebenarnya minyak itu adanya di dalam pori-pori batu, jadi minyak yang tanah di bawah itu tidak akan kosong jika ada pertambangan atau penyedotan minyak tersebut, karena batunya tetap berada di bawah tanah. Selain itu juga air dan sisa pasir produksi itu akan kembali diinjeksikan ke dalam tanah,” jawab Dedi Koesuma.
Setelah istirahat beberapa menit, para peserta kembali melanjutkan perjalanan menjelajahi jalur kuning ini. Di perjalanan ini peserta juga sempat melihat jejak tapir dan kantong semar. “Kantong Semar ini jika masih belum terbuka tutupnya bisa dipotong dan air di dalamnya bisa diminum jika seandainya tersesat di hutan,” papar Joni, salah seorang Park Ranger yang memandu regu ke empat ini.
“Biasanya kami mengecek ulang hutan alam ini minimal satu minggu sekali, seperti misalnya jika ada yang berani mengusik hutan maka akan langsung kami laporkan ke security,” tambahnya lagi.
Perjalanan pun berlanjut dan semakin seru, walaupun ada yang beberapa kali terjatuh tapi tidak menyurutkan semangat peserta menjelajahi hutan alam Rumbai Park ini. Jalur-jalur di hutan alam Rumbai ini juga ditandai dengan patok-patok dan di setiap patok dituliskan jarak tempuh perjalanan seperti angka satu untuk 100 meter.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, semua regu kembali berkumpul di tempat tadi ketika awal mau masuk hutan. Tak lama kemudian para peserta pun berangkat menuju ke sungai ambang, sebuah tempat rekreasi di Rumbai Camp untuk makan siang bersama.
Ketika jarum jam terus bergerak dan menunjukkan pukul 13.35 WIB, semua peserta tiba di sungai ambang dan mulai makan siang. Berbagai macam tempat dipilih oleh peserta, seperti di jembatan yang ada di dekat danau atau di gazebo yang ada di sekeliling danau. Energi pun kembali terisi dengan beberapa menu makan siang itu. Hingga sampai pada akhir acara, semua peserta berkumpul kembali untuk berfoto bersama dengan panitia di tepi sungai ambang. Kebersamaan semakin terasa di sini.
Kemudian selesai dari sungai ambang, peserta dari dalam Pekanbaru beserta Andi Noviriyanti diantar kembali ke Riau Pos. Sementara itu peserta dari luar kota Pekanbaru kembali ke penginapan yang ada di Rumbai Camp untuk istirahat sebelum pulang esok harinya (22/11). Tapi, sebelumnya semua peserta berhenti dulu untuk sholat di mesjid yang ada di kawasan Rumbai Camp.

Laporan Afra Nisa-GSJ dari UIN Suska Riau

Happy Hiking in Chevron 100% Happy


(Kegiatan yang sangat bermanfaat dan sesuai terutama bagi para generasi muda agar lebih mengenali dan mencintai hutan dan lingkungan).
The soft light of the morning sun started the great activities to find the happiness, and now, the story started...

PEKANBARU – Minggu (21/11) – Matahari tidak pernah terlambat bersinar, selalu ingat waktu disaat ia akan melakukan tugasnya. Dan sekitar pukul 06.15, saya memasuki bangunan yang megah tempat berbagai sumber berita berasal, Riau Pos, beberapa teman – teman Green Student (GS) yang lain sudah lebih dahulu datang – hanya beberapa – yang lainnya mungkin akan segera menyusul. Terlambat dari jadwal yang ditentukan. Kebiasaan ngaret, sudah melekat mendarah daging. Hingga akhirnya, sekitar pukul 06.30, 29 GS dari Pekanbaru bersiap berangkat menggunakan bus menuju Rumbai. Tujuan kami Happy Hiking in Chevron (H2C), menyatu dengan hutan dan alam di kawasan Rumbai Forest Nature Park and Jogging Trails.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang menyegarkan dan menyejukkan mata. Masih pagi, udara masih belum terpolusi dan kendaraan bermotor yang menjadi ciri khas di kota besar masih belum banyak di jalan. Sesampainya di tempat tujuan, kami disambut hangat menuju ke Multifuntion Building dan bertemu dengan 20 GS lainnya yang berasal dari luar kota Pekanbaru. Sarapan pagi bersama-sama sambil bercerita satu dengan yang lain. Dari wajah kami terlihat rasa antusias dan tidak sabar untuk segera happy hiking. Tapi tentu saja, kami tidak bisa langsung pergi begitu saja menuju Rumbai Forest Nature Park and Jogging Trails tanpa ada “bekal” dan persiapan yang baik. Beruntung kami diberikan berbagai informasi dan penjelasan dari Departemen HES PT CPI, Kak Andi Novianti, Bapak Hanafi Kadir, dan dari Ecology club dan Park Ranger. Tidak lupa sepasang sarung tangan diberikan kepada kami semua, dan kami sangat menyadari kegunaannya begitu berada didalam hutan.
Chevron Tetap Peduli dengan Lingkungan
Pagi itu, setelah sarapan, Yulia rintawati (mbak rita) selaku humas, mengiringi kami dari rangkaian acara satu menuju acara lainnya. Presentasi dimulai oleh Bapak Budi Koesoemo memberikan penjelasan kepada kami tentang PT Chevron Pasific Indonesia (CPI ) dalam perlindungan lingkungan. Chevron yang merupakan perusahan kontraktor minyak terbesar di Indonesia, tentu saja tidak melupakan keberadaan lingkungan. Bagaimanapun juga, dalam pemanfaatan sumber daya minyak, aspek lingkungan tetap menjadi hal terpenting. Mungkin dalam masyarakat kita pernah mendengar hal yang kurang baik mengenai Chevron, bahwa Chevron adalah perusahanan yang mengekploitasi minyak tanpa ada usaha dan upaya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, hal tersebut tidak benar, karena Chevron sendiri memiliki visi dalam lingkungan hidup yaitu menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia.
Tentu saja visi tersebut tidak hanya menjadi visi yang tertulis saja tanpa adanya usaha, upaya dan kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan lingkungan. Jika dijabarkan satu persatu usaha, upaya, dan kegiatan mengenai lingkungan yang telah dilakukan, dapat dipastikan laporan ini akan menjadi sangat panjang sekali. Disini saya akan mencoba untuk memaparkan kembali mengenai hal tersebut, tentu saja berdasarkan fakta, informasi dan penjelasan yang saya dapat melalui Pak Budi.
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah upaya mengenai penghentian penggunaan venting dan flaring. Kedua istilah ini masih baru dan terasa asing di telinga saya. Untungnya Bapak Budi Koesoemo dari memberikan penerangan mengenai hal tersebut. Dalam pengelolahan minyak, penggunaan venting dan flaring (suar bakar) dapat merusak lingkungan. Meskipun di Indonesia saat ini masih memperbolehkan keduanya dalam batasan tertentu. Chevron sebagai perusahaan yang beroperasi dengan standar tingkat dunia, akan merancang proyek baru tanpa flaring (suar bakar) dan venting secara kontinu.
“Untuk venting kontinu di rencanakan harus bisa dihentikan pada 31 Desember 2010 dan untuk suar bakar kontinu pada 31 Desember 2014,” jelas Bapak Budi sambil menunjukkan slide presentasinya kepada kami.
Bapak Budi juga menjelaskan tentang 3R. Istilah 3R ( Reduce, Reuse and Recycle) yang sekarang sering diperdengarkan dalam program pemeliharaan dan pelestarian lingkungan juga diperhatikan oleh pihak PT. CPI dalam pengelolaan limbah. Reduce yang berarti meminimalisir penggunaan bahan- bahan yang dapat merusak lingkungan, salah satunya dengan membeli bahan – bahan dalam bentuk curah. Selain itu, dengan memanfaatkan / pemakaian kembali barang atau bahan yang sebelumnya telah digunakan (Reuse), juga dapat mengurangi limbah seperti produk solidifikasi limbah dan produk bioremidasi. Sedangkan recycle dalam pengelolaan limbah dalam hal ini sebagai contohnya adalah transformer oil dan minyak pelumas bekas.
Pembekalan selanjutnya Kak Andi dan Bapak Hanafi berikan kepada kami yang tentu saja membuat kami semakin antusias. Kalimat – kalimat yang memotivasi diberikan kepada kami yang semakin tidak sabar melakukan acara utama, hiking tentunya. Seperti yang dikatakan Bapak Hanafi, yang pada intinya, kenangan yang dilakukan saat bersama-sama itu akan lebih menyenangkan dan membahagiakan dan akan membekas diingatan.
Bapak Marthinus Arbian dari Ecology Club of Rumbai (ECR) juga memberikan penjelasan kepada kami mengenai hutan Rumbai tempat kami melakukan kegiatan hiking nanti. Bapak Marthinus kemudian menjelaskan sejarah singkat tentang berdirinya Ecology Club of Rumbai (ECR). ECR berdiri pada tanggal 24 Agustus 1988 oleh Mr. J. Tahija, Chairman of CPI Board of Commissioners.
Rumbai Forest Nature Park and Jogging Trails terdiri dari dua bagian, yaitu bagian barat (West Park) yang seluas 76 Ha dan bagian timur (East Part) seluas 28 Ha. Hutan ini menyimpan keanekaragaman hayati yang menakjubkan. Banyak flora dan fauna yang beragam didalam hutan ini, termasuk spesies – spesies yang dilindungi karena jumlahnya yang semakin lama semakin berkurang. Flora dalam hutan ini meliputi 120 spesies seperti Kulim, Meranti, Tembesu, Jelutung, Gaharu, Pulai, dan lain-lainnya. 4 (empat) spesies yang dilindungi seperti Tembesu (Fagraea fagrans), Kulim (Scorodocarpus borneensis), Jelutung (Dyera costulata), Gaharu (Aquilaria malaccensis) dan 1 spesies herba yang dilindungi yaitu kantung semar (nephentes sp).
Sedangkan fauna yang ada didalam hutan ini juga sangat beragam meliputi jenis Aves (burung), seperti raja udang, enggang, serindit, jalak, beo, burung madu, dan sebagainya. Mamalia, seperti Tapir (Tapirus indicus, Kucing hutan (Felis bengalensis), Landak (Hystrix brachyura), Beruang madu (Helarctos malayanus), Tupai tanah (Lariscus insignis), Pelanduk (Tragulus spp), dan sebagainya – Primata, seperti Beruk, Kera ekor panjang, Siamang, Kekah dan Lutung. Serta spesies – spesies reptil seperti Ular, Biawak, Bunglon, Kadal, Tokek, Kura-kura, Labi-labi, Salamander, dan Cicak.
Waktu semakin berjalan dan kami memang semakin tidak sabar. Setelah pembekalan terakhir dari Park Ranger, akhirnya mengantarkan kami menuju acara utama Happy Hiking in Chevron. Sambil mempersiapkan alat – alat dan perlengkapan seperti topi, sarung tangan, dan minuman mineral, kami keluar dari Multifunction Building menuju bus. Dengan wajah yang berseri - seri kami bersiap memasuki bus. Sebelum masuk kedalam bus, salah satu hal yang harus dilakukan, tentu saja photo session. Setelah berfoto, dalam hati saya berucap, “It’s the time for the happy hiking !”


Hutan Rumbai ( Rumbai Forest Nature Park and Jogging Trails) yang Menawan
Sekitar pukul 09.30 kami memulai perjalan menuju Rumbai Forest Nature Park, tepatnya West Park. Sesampai disana, kami dibagimenjadi 5 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari sekkitar 10 orang. Saya bersama ke sembilan teman lainnya(Asrul, Aprian, Fitri, Yonatan, Martua, Natanael, Veronica, Mesya dan seorang mahasiswa yang sedang melakukan studi penelitian) bergabung di kelompok 4. Bersama Pak Awal (34), salah seorang park ranger yang menuntun kami selama hiking didalam hutan. Sekitar pukul 09.55, kami (kelompok 4) masuk kedalam hutan dan memulai penjelajahan.
Jogging trails yang ada di hutan Rumbai ini ada 3 jalur, yaitu jalur kuning, jalur biru dan jalur merah. Dan kami akan menyusuri jalur yang terpanjang. Saat – saat awal, jelas kesemua anggota masih dan memiliki stamina yang msih baik untuk melangkahkan kaki menyusuri jalan – jalan dan semak belukar. Beruntung, Pak Awal cukup ramah dan bersedia menjawab pernyataan – pertanyaan kami mengenai berbagai hal yang ada di dalam hutan di dalam hutan.
“Ini jenis pohon apa Pak?” saya mengajukan pertanyaan kepada Bapak Awal ketika melihat sebuah pohon yang cukup besar dan hampir tumbang.
“Pohon meranti,” jawab Pak Awal. Pak Awal juga menjelaskan bahwa pohon- pohon didalam hutan ini tidak boleh ditebang sembangan, kalau pun ada pohon yang tumbang, pohon – pohon tersebut tumbang dengan sendirinya karena faktor alam seperti angin dan faktor usia dari pohon itu sendiri. Sepanjang perjalanan, Pak Awal juga banyak menemukan botol – botol air mineral yang dibuang sembangan. Ia mengambil botol – botol dan sampah – sampah tersebut dan menyimpannya kedalam tasnya. Ia juga mengajak dan meminta kami melakukan hal yang sama jika menemukan sampah dan botol mineral. Yang mengherankan, sebelum kelompok kami ada tiga kelompok lagi yang telah lebih dahulu masuk kedalam hutan. Apa mereka tidak mengambil sampah atau botol jika melihatnya? Padahal kami melalui rute yang sama. Mungkin saja ada yang terlewatkan atau tidak terlihat.

Dalam penjelajahan didalam hutan, terdapat pita – pita berwarna merah yang di pohon atau ranting sebagai kode atau penanda bahwa kami melewati rute yang benar. Hal ini juga dimaksudkan agar kami tidak tersesat didalam hutan. Pak Awal juga memeberikan penjelasan bahwa ada batu yang dicat berwarna kuning, yang ditemukan setiap 100 meter sebagai penunjuk jarak yang telah ditempuh.
Hampir setengah perjalanan, tenaga kami cukup terkuras, dan ada seorang anggota dari kelompok kami, veronika yang memang memerlukan waktu untuk beristirahat. Kami pun memutuskan untuk beristirahat. Di sebelah kanan kami ada mata air yang indah, dan pada bagian tanah pinggirnya terdapat jejak – jejak makhluk hidup. Beberapa anggota kami memberikan kesimpulan bahwa itu adalah jejak babi hutan dan Pak Awal membenarkan hal tersebut. Setelah merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.
Dalam hati saya ingin sekali bisa melihat dan menemukan kantung semar (Nephentes sp), karena tumbuhan ini termasuk tumbuhan herba yang dilindungi. Selain itu, saya juga ingin melihat hewan – hewan hutan yang lainnya, terutama burung enggang dan raja udang (yang juga dilindungi) dan burung serindit yang menjadi ciri khas dari propinsi Riau. Namun karena pada saat itu sudah hampir siang, kecil kemungkinan bagi saya untuk bisa melihat jenis – jenis burung tersebut. Berdasarkan keterangan dari Park Ranger, burung – burung tersebut hanya dapat dijumpai pada waktu pagi hari dan sore hari. Untuk melihat hewan – hewan yang ada di hutan juga susah, karena mengingat sebelum kelompok kami telah ada 3 kelompok lain yang lebih dahulu masuk kedalam hutan. Mungkin hewan – hewan tersebut telah bersembunyi dan tidak menampakkan wujud nya lagi.
Dalam perjalanan, salah seorang anggota kelompok kami, Martua, bersiul dan tanpa diduga oleh kami, siulan itu mendapat balasan. Kami melihat sekeliling mencari sumbernya. Benar itu adalah suara burung yang asli, namun karena keterbatasan penglihatan, kami tidak dapat menentukan apa jenis burung tersebut.
Hari semakin siang. Namun berkat keberadaan pohon – pohon yang tinggi di dalam hutan, tentu saja kami jadi tidak begitu merasa sengatan sang surya tersebut. Bekal air mineral kami sudah habis tak bersisa. Beberapa kali istirahat untuk memulihkan tenaga sambil melihat – lihat keasrian hutan rumbai ini. Tapi tetap, kami bersemangat hingga garis akhir.
Pada saat hampir memasuki batu ke 20 (lebih kurang hampir 2 km perjalanan), salah satu anggota kami, Veronica mendadak jatuh karena kakinya merasa keram. Kami sempat panik dan melakukan pertolongan pertama sesuai dengan kemampuan kami. Kami kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali beristirahat dan melanjutkan kembali jika veronica sudah merasa lebih baik. Sekitar 7 menit kami beristirahat, dan Veronica bisa melanjutkan pernjelajahan selanjutnya. Kami semakin semangat karena tanda – tanda akhir menuju garis akhir sudah mulai terlihat. Dan sekitar pukul 12.06, kami keluar dari hutan dan bisa bernafas lebih lega.
Lelah, letih, lesu, capek, dan kaki pegal – pegal, mungkin kami semua merasakan hal yang sama.tapi rasanya semua itu dapat terbalas dengan pengalaman yang telah kami dapatkan dan rasa bahagia dan puas telah melakukan semua kegiatan dengan baik dan bersama-sama. Kami beristirahat di hamparan rumput, sambil menunggu kelompok 5, kelompok yang terakhir. Sekitar pukul 12.30, kami semua menuju bus masing – masing dan menuju ke lokasi rekreasi di bagian timur, east park, yaitu waduk sungai Ambang untuk makan siang. Dari kesemua peserta, bisa dipastikan wajah – wajah mereka terlihat lelah, tapi tentu saja ada kebahagiaan dan kesenangan yang terpancar dibalik itu semua. Makan siang kali ini terasa berbeda, karena lebih menyatu dengan alam, bersama – sama dengan teman – teman, dan menikmati pemandangan indah di waduk sungai Ambang.
Setelah makan siang, tentu saja kami tidak melupakan kebiasaan kami selaku Green Student, yaitu memastikan tempat disekitar kami tidak kotor dan dipenuhi sampah. Sampah dari bungkusan makanan kami disatukan di satu tempat sehingga tidak berserakan dan mengganggu pemandangan dan keindahan alam. Berfoto bersama menjadi kegiatan terakhir hingga akhirnya kami kembali menuju bus hingga kami kembali diantar ke Riau Pos. Melelahkan memang, namun dibalik kesemua itu pasti tentu saja ada manfaat dan tidak ada suatu hal yang sia – sia. NO PAIN NO GAIN, dibalik semua rasa lelah ini, tentu saja saya merasakan bahagia. Jadi semua kelelahan ini terbayar sudah. Dan terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan dalam acara atau kegiatan ini. Kegiatan Happy Hiking in Chevron, dapat saya pastikan 100 % merasa saya happy.
BEBERAPA KOMENTAR PARA GREEN STUDENT TENTANG HAPPY HIKING IN CHEVRON
1.TEGUH BUDIANTO – MAHASISWA – GREEN STUDENT AMBASSADOR
“Senang bisa berbagi pengetahuan dari perusahaan sekelas chevron. Ditambah lagi adanya komitmen mereka untuk turut serta dalam pengupayaan penurunan emisi karbon. Ini menunjukkan kepedulian dan dorongan terhadap orang-orang seperti kita yang butuh support dari pihak luar. Kegiatan green student bisa saja berjalan, tapi dengan adanya dukungan lebih. maka, kegiatan yang tadinya di tingkat AWeSOME menjadi OUTSTANDING! ”
2.ASRUL RAHMAWATI – MAHASISWI – GREEN STUDENT JOURNALISTS
“Wah, luar biasa. Kalau diajak lagi kesana saya masih mau. Trus saya merasa dekat dengan hutan yang masih alami”
3.YONATAN PANGIDOAN LUBIS – MAHASISWA – GREEN STUDENT AMBASSADOR
“Senang sekali bisa melakukan kegiatan hiking bersama Chevron. Menambah ilmu dan pengalaman dan membuat kita merasa dekat dengan alam”
4.AFRANISA – MAHASISWI – GREEN STUDENT JOURNALIST
“Seru, menyenangkan, pengen lagi, tambah pengalaman, dan menambah ilmu”
5.ROBBY ANGGRIAWAN – MAHASISWA – GREEN STUDENT AMBASSADOR
“Menyenangkan sekali, mudah – mudahan ada kegiatan seperti ini lagi yang menambah ilmu dan pengalaman. HAPPY HIKING IN CHEVRON memang bikin happy.”

Laporan Robby Anggriawan-GSA dari Universitas Islam Riau

Laporan Perjalanan happy Hiking in Chevron


Happy Hiking in Chevron yang di adakan oleh Save the Earth Foundation ( SEFO ) Riau Pos dengan bekerja sama dengan PT. Chevron Pasific Indonesia ( CPI ) yang berlangsung, Sabtu s/d Senin (20-21/11/10) di Hutan Alam Rumbai Pekanbaru yang mempunyai luas kurang lebih 1.226.28 ha, 400 ha terdiri dari hutan dan sisanya terdiri atas atena perumahan, perkantoran dll. Kegiatan ini diikuti Green Student Journalist dan Green Student Ambasador atau disebut dengan Green Student Riau pos yang terdiri dari Mahasiswa dan Siswa Sekolah Menengah Atas yang berada di Propinsi Riau, seperti UNRI, UIR, dan beberapa Sekolah Menengah Atas seperti dari Kabupaten Pelalawan, Siak, dan Kampar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti sebanyak 50 peserta yang terdiri 30 peserta Green Student Pekanbaru dan 20 peserta dari Green Student Journalist dan Ambasador luar kota.

Sabtu, (20/11/10) para peserta Happy Hiking baik dari dalam kota maupun dari luar kota Pekanbaru berkumpul di ruang redaksi Riau Pos untuk berdiskusi happy hiking, pukul 16.30 Wib peserta dari luar kota di jemput Pihak CPI dan Chek in di DBQ serta disambut oleh ibu Yuli perwakilan dari CPI, sedangkan peserta dari dalam kota kembali kerumah masing masing. Pukul 18.30 Wib peserta dari luar kota menuju Messhall Rumbai untuk makan malam bersama dilanjutkan ke gedung Display Room, di sinilah para peserta mulai mendapatkan ilmu dan materi tentang terjadinya gempa dan proses pengolahan minyak mentah, Ternyata minyak hitam atau minyak nias sangat berharga tinggi melebihi harga Emas bila minyak tersebut di olah kembali menjadi minyak yang dapat digunakan, awalnya dimulai dengan pencarian sumur minyak, pengeboran, pemompaan, penampungam, penyulingan, pengapalan dan sampai menjadi minyak seperti bensin, solar pertamak dll.
Dalam pengeboran selain minyak mentah ternyata air dan gas juga ikut di pompa keluar tapi sangat disayangkan air yang keluar hanya ditampung dan dibuang seta gas juga tidak termanfaatkan dengan baik karena selama ini gas hanya dibakar ke udara “ seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar yang berkelanjutan maka sumber minyakpun sudah mulai terbatas pada saat ini terbukti dari sepuluh pengeboran sumur minyak Bumi, ternyata ada sekitar empat sumur minyak yang tidak mencukupi bahkan nihil tidak ada minyak didalamnya, bahkan biaya yang dibutuhkan untuk pengeboran minyak mencapai 7M per satu sumur minyak belum yang lainnya lagi” sebut pak Yordi, kepada para peserta. Kegiatan ini berlangsung sangat meriah dan menarik terbukti dari terpesonanya peserta ketika melihat foto dan pertanyaan pertanyaan peserta Happy hiking kepada pak Yordi.
Minyak merupakan bahan pokok bagi kehidupan manusia, Banyak dampak buruk yang akan terjadi terhadap masayrakat jika sumber minyak terbatas, seperti antrian panjang kendaraan di SPBU, Mogoknya Pengusaha Besar maupun kecil, dan perusahaan tertentu. Seiring meningkatnya teknologi dan kebutuhan akan bahan bakar maka beliau berpesan kepada para peserta untuk menghemat energi dan menjaga lingkungan sekitar karena sumber energi yang ada dibumi terbatas dan itu semua merupakan warisan untuk anak cucu Adam.
Sesuai dengan visi lingkungan hidup PT CPI “ menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia” tentu CPI mempunyai program atau strategi lingkungan hidup yang sudah terencana, contohnya saja Pengelolaan Lingkungan Korporasi meliputi Acquire Plan & Construct, Operate, Decommission & Abandon, Divest, Penghentian Flaring (Suar Bakar) dan Venting, pengolahan air produksi, pengolahan limbah meliputi kegiatan Reduce, Reuse, dan recycle, melakuakan injeksi yaitu dengan pengembalian air kedalam tanah yang keluar bersamaan dengan minyak bumi ketika dipompa keluar dari permukaan, Program Penghijauan serta menjaga keanekaragaman hayati. Kesempatan ini dimanfaatkan dengn baik oleh peserta dengan pengambilan gambar pengeboran minyak, jenis bor minyak dan berfoto bersama pak Yordi dan ibu Yuli. lebihnya para peserta diberikan bingkisan dari CPI yang dapat menambah semangat dan motifasi para peserta.
Dalam rangkaian acara green student (21/10), para peserta baik dari luar kota maupun dalam kota berkumpul di Multifuncation Building untuk sarapan pagi, setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan dari CPI kepada 30 peserta dari dalam kota pekanbaru. Tidak beberapa lama Acara sosialisasi tentang strategi CPI dalam lingkungan pun dimulai, materi ini disampaikan oleh Budi Koesoemo dilanjutkan dengan persentase Ecologi Club oleh Marthinus Arbian, Ecologi Club berdiri pada tahun 1988 beranggotakan pegawai yang bekerja di rumbai, Club ini mempunyai rencana mengadakan Eko wisata, merencanakan 10 jalur track dan membantu mengmbangkan program penghijauan.
Dalam penyampaian materi tersebut para peserta memperhatikan dengan seksama apalagi adanya sesaon pertanyaan berhadiah, peserta yang berani menjawab pertanyan dari pemateri makan berhak mendapakan hadiah berupa Topi. 10.00 wib peserta bersiap untuk menuju ke West Park namum sebelumnya dari 50 peserta dibagi menjadi lima kelompok, masing masing kelompok beranggotkan sepuluh peserta, kelompok pertama di pimpin oleh Roma Indrawan, Anri Muhamd Shaleh Deana, Marpua, Teguh Budianto dan kelompok terakhir dipimpin oleh Mistahul Huda.
Seluruh peserta telah siap maka satu demi satu tiap kelompok memasuki hutan Rumbai yang setiap kelompoknya didampingi oleh penunjuk jalan dari pihak CPI, hutan yang dijelajahi yaitu sekitar 76 hektar dan terdapat tiga jalur / jogging track, jalur kuning, jalur biru, dan jalur merah. Para peserta melewati jalur kuning yang merupakan jalur terpendek yakni dapat ditempuh selama tiga jam perjalanan, walaupun di tengah terik matahari para peserta tetap semangat dan antusias.
West Park telah dimanfaatkan dengan baik seperti penelitian jamur dari Finlandia tahun 2008, Penelitian dan Pratikum Mahsiswa/i UNRI,UIN,UIR,UMRI, dll selain itu West Park juga merupakan paru paru Kota Pekanbaru. dalam hutan Rumbai sendiri terdapat berbagai jenis tanaman dan binatang yang dilindungi meliputi Terdapat 120 spesies kayu (4 spesies dilindungi,”Tembesu, Kulim, Jelutung dan gaharu), 75 spesies burung (14 spesies dilindungi,” Enggang, elang, burung raja udang, Burung madu” dll), 14 spesies mamalia(6 spesies dilindungi,” Tapir, beruang madu, kucing hutan,kancil, da landak,”), 5 jenis primata (1 spesies dilindungi,” siamang,”), 9 jenis reptil (2 spesies dilindungi,” sanca dan labi-labi” ), dengan keanekaragaman yang masih terjaga para peserta pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil dokumentasi. Setelah selesai melakukan perjalanan yang melelahkan para peserta beserta rombongan langsung menuju area rekreasi sungai ambang untuk makan siang bersama dengan menikmati pemandanagan alam yang indah dan sungai yang menajubkan dengan keasriannya yang masih terjaga.
Setelah selesai makan siang di Sungai Ambang para peserta berfoto bersama CPI,SEFO, dan GSJ Riau Pos dilanjutkan menuju masjid untuk melaksanakan Solat zuhur dan istirahat sejenak, banyak kesan yang tidak terlupakan dan akan selalu terkenang di hati para peserta Hiking karena kegiatan ini sangat banyak manfaatnya dan banyak dampak positifnya bagi generasi muda masa depan, PT. CPI dan SEFo Riau Pos diharapkan dapat melaksanakan kegiatan positif seperti ini di tahun yang akan dating, akhirnya waktu berpisah pun tidak bisa di hindarkan, rombongan Green Student dari dalam kota meninggalkan Rumbai Camp menju kota pekabaru, sedangkan peserta dari luar kota menuju Mess Rumbai untuk beristirahat hingga esok hari, tepat pukul 08.00 Wib peserta dari luar kota pun di berangkatkan oleh CPI menuju Riau Pos dan kembali ke kota Kabupaten Masing masing

Laporan Agus Yogi Radin Pradipta-GSJ dari SMAN 1 Pangkalan Kerinci Pelalawan

Happy Hiking in Chevron (H2C)

Suasana pagi kota Pekanbaru begitu cerah. Ahad (21/11) sekitar pukul 05.40 wib, sebanyak 30 orang Green Student (dari kota Pekanbaru) sedang bersiap-siap di kantor utama Riau Pos, untuk kegiatan Happy Hiking in Chevron (H2C). Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama SEFo Riau Pos, Health Environment and Safety (HES) dan Rumbai Ecology Club PT. Chevron Pasific Indonesia (CPI) . Sebuah bus besar sudah terparkir dan siap untuk membawa kami, generasi pecinta lingkungan, menuju Rumbai. Tepatnya di kawasan camp PT. Chevron Pacifik Indonesia (CPI), tempat acara berlangsung.

Setelah menempuh perjalanan satu jam, kami turun dari bus yang berhenti tidak jauh dari Multifunction Building (bangunan serba guna), di sana sudah menunggu 20 Green Student (dari Siak, Pelalawan, dan Kampar). Sekarang lengkap 50 orang Green Student, terdiri dari Green Student Journalist (GSJ) dan Green Student Ambassador (GSA) peserta terpilih untuk kegiatan H2C. Setelah makan pagi bersama, dilanjutkan dengan presentasi dari Dept. HES CPI oleh Budi Koesoemo. Budi membuka pembicaraan dengan mengalihkan perhatian kami semua ke layar infokus. Terlihat foto seekor burung yang menarik, namanya Bentet Coklat. Foto itu diambil dari hutan alami Rumbai yang dikelolah oleh PT.CPI. Burung Bentet Coklat adalah burung imigran ribuan kilometer dari bumi sebelah utara. Ketika di utara musim dingin, maka burung tersebut akan bermigrasi ke selatan, nah hutan alami Rumbai adalah salah satu tempat persinggahan burung unik tersebut saat hendak ke selatan. Begitu penjelasan singkat Budi tentang manfaat hutan alami Rumbai yang dikelola oleh Dept. HES CPI.
Budi masih terlihat semangat mempresentasikan materinya, membuat kami, Green Student, semakin antusias mengikuti kegiatan ini. Kali ini Budi menyampaikan tentang komitmen PT CPI dalam menjaga lingkungan. Setiap benefit (keuntungan) dari minyak bumi yang diperoleh PT CPI tidak serta merta menjadi tolok ukur keberhasilan, tetapi juga bagaimana PT CPI bisa mengatasi impact (dampak), terutama lingkungan, dengan cara yang baik dari kegiatan produksi minyak tersebut. Maka dari itu diperlukan keseimbangan dalam memenej keduanya, benefit dan impact.
Dalam pengolahan minyak mentah, maka akan ada gas-gas yang terbentuk dari prosesnya, sebagian besar merupakan gas berbahaya. Metode untuk mengelola gas ini ada dua. Pertama, metode Venting, yakni gas-gas tersebut akan dilepas begitu saja ke atmosfer bumi. Kedua, metode Flaring, yakni gas-gas tersebut dibakar sampai habis. Metode Venting yang melepaskan gas-gas ke atmosfer, merupakan gas yang 21 kali lebih berbahaya dari gas-gas karbon penyebab efek rumah kaca di atmosfer bumi. Dengan pertimbangan komitmen untuk menjaga lingkungan, PT CPI menetapkan 31 Desember 2010 sudah tidak lagi menjalankan metode Venting, digantikan dengan metode Flaring.
Tidak terlepas dari komitmen PT CPI dalam menjaga lingkungan, PT CPI menargetkan nihil air buangan 100% pada 31 Desember. Mereka optimis bisa mencapai target tersebut, karena sekarang program itu sudah terlaksana 91%. PT CPI sadar akan pentingnya penghematan air.
Disamping itu, PT CPI juga sudah menerapkan program 3R, Reduce, Reuse, dan Recycle. Selanjutnya, pak Budi menjelaskan program penghijauan yang dilakukan oleh CPI. Program tersebut dilakukan dengan konsep memulihkan ekosistem awal dan teliti dalam pemilihan jenis tanaman. Begitu penjelasan lengkapnya, terdengar tepuk tangan gemuruh peserta setelah Budi mengakhiri presentasinya.
Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Direktur Eksekutif SEFo, Andi Noviriyanti. Novi, begitu panggilanya, menyampaikan terima kasih kepada PT CPI yang bersedia bersama-sama SEFo menyelenggarakan kegiatan H2C untuk Green Student. Ia juga berharap Green Student bisa belajar banyak dari kegiatan ini, kemudian menuliskan dan menceritakan kepada teman-teman yang lain. Sebagai generasi penerus, Green Student tidak hanya belajar, tetapi ikut serta dalam mensosialisasikan pentingnya peduli lingkungan kepada teman, keluarga dan masyarakat. Akhir sambutan, Novi menginformasikan kepada seluruh peserta untuk membuat laporan jurnalistik sebagai hasil dari kegiatan ini. Akan dipilih 2 tulisan terbaik untuk diterbitkan di Riau Pos dan mendapatakan hadiah.
Acara selanjutnya adalah kata sambutan dari Manager Communications PT Chevron Pasific Indonesia (CPI), Hanafi Kadir. Hanafi mengungkapkan begitu penting peran generasi muda untuk menjaga lingkungan. Dengan kegiatan seperti ini diharapkan Green Student, sebagai generasi muda, bisa belajar dan mengambil manfaat bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan. Sambutan diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari semua peserta.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.45 wib. Itu artinya kami sebentar lagi akan berangkat menuju lokasi hiking, Rumbai Forest Nature Park – West, biasa disingkat West Park. Sebelum berangkat kami diberikan informasi tentang Rumbai Ecology Club, West Park dan persiapan-persiapan memasuki hutan. Tentang Rumbai Ecology Club, disampaikan oleh Marthinus Arbian. Rumbai Ecology Club adalah kelompok dari pegawai PT CPI yang aktif melakukan pelestarian lingkungan, menjaga flora dan fauna, serta melakukan program penghijauan. Tentang West Park dan persiapan memasuki hutan disampaikan oleh Emy. Hutan alami yang ada di Rumbai ini ada dua blok, pertama East Park (timur)seluas 28 HA dan yang kedua West Park (barat) seluas 76 HA. Hutan yang menjadi rute kami hiking adalah West Park. Kami akan berjalan 2,4 km untuk menikmati hiking di hutan Chevron yang alami ini. Jelas Emy singkat.
Akhirnya, bus yang mengantarkan kami menuju lokasi hiking berhenti. Dan segera kami membentuk lima kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 orang, ada 1 ketua kelompok dan 1 pemandu. Setelah ada instruksi, kami mulai memasuki West Park dengan kelompok masing-masing.
Di dalam hutan, kami bisa menemukan pohon-pohon yang besar, serta beraneka ragam tanaman hutan yang masih tumbuh dengan baik. Menurut informasi, di dalam hutan ini, kalau beruntung, kita bisa melihat burung yang populasinya sudah sedikit, seperti burung Bentet Coklat, dan sebagainya. Tetapi karena kami memasuki hutan saat hari sudah mulai siang, burung-burung unik tersebut tidak bisa dilihat lagi.
Medan yang kami lewati cukup sulit, tetapi itu menjadi daya tarik untuk tetap dilalui. Akar-akar dan tumbuhan kecil sesekali membuat kami tersandung. Ada daerah berair, kami harus melewatinya dengan berjalan pada sebuah batang yang menjadi jembatan. Diperlukan keseimbangan dan saling tolong menolong antar sesama teman tim. Banyak pelajaran yang berharga kami dapatkan ketika diperjalanan menelusuri hutan West Park ini. Pelajaran dan pengalaman yang akan berguna bagi kehidupan.
Pukul 12 siang semua peserta keluar dari hutan, ada rasa penat bercampur happy (bahagia) pada diri kami karena hari ini begitu banyak pengalaman yang didapatkan. Akhirnya, semua rangkaian acara kami berakhir dengan acara makan siang bersama di Waduk Sungai Ambang. Waduk Sungai Ambang adalah danau buatan. Biasanya berbagai jenis hewan menggunakan air ini untuk minum dan makan mereka. Keteduhan dipinggir waduk menjadi tempat makan bersama yang nyaman, sekaligus menutup acara ini dengan berfoto bersama.


Laporan Risky Ade Maisal-GSJ dari Politeknik Caltek Riau

Happy Hiking in Chevron (H2C)

Minggu (21/11) pagi, pukul 06.00 WIB waktunya para anggota GSJ berkumpul untuk mengikuti acara Happy Hiking in Chevron (H2C) di Nature Park Rumbai, Komplek PT CPI. Acungan jempol untuk PT. CPI karena mereka telah tiba d Riau pos 20 menit sebelum jam 6 pagi. Sebelum nya jadwal yang diberikan adalah pukul 06.15. Tetapi para GSJ baru sebagian yang hadir. Setelah menunggu 30 menit lamanya. Akhirnya seluruh para anggota GSJ telah hadir.

Setelah Asrul Rahmawati sebagai koordinator GSJ dan Teguh Budianto sebagai koordinator GSA memeriksa anggota dan perlengkapan mereka semua perjalanan dimulai. Seluruh Green Student terlihat sangat gembira dan semangat untuk mengikuti heking ini chevron.
Perjalan menuju Nature Park Rumbai ditempuh sekitar 45 menit. Setibanya di Komplek PT CPI kami menuju tempat berkumpul di MultiFunction yang disana telah berkumpul para Green Student dari luar kota. Acara diawali dengan Breakfast. Sesuai dengan jadwal. Acara dilanjutkan dengan presentasi tentang PT CPI dan Visi Misi mereka dalam menjaga lingkungan. Presentasi yang disampaikan Budi Koesdemo dari Bagian keselamatan kerja dan lingkungan PT CPI sangat menarik dan bersemangat hingga sluruh Green Student tertarik dan mengikuti seluruh Presentasi yang diberikan.
Pak Budi menjelaskan tentang komitmen Chevron menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia. Beliau juga menjelaskan memiliki dasar bahwa Melakukan kegiatan usaha dengan penuh tanggung jawab secara sosial dan etis. Serta dalam melakukan kegiatan usaha tetap menghormati hukum, mendukung hak asasi manusia yang berlaku universal, melindungi lingkungan, dan memberikan keuntungan bagi komunitas di tempat kita bekerja.
Presentasi selanjut nya disampaikan oleh Pak Martinus dari Ecology Club. Beliau menjeleaskan tentang Nature Park yang ada di Komplek PT CPI. Ecology Club berdiri pada tahu 1988. Pada tahun 2001 Ecology club menggagas ada nya Park Ranger. Park Ranger adalah pemandu di dalam hutan dan membatu para Tracker dalam menjejalah hutan serta memonitor Lingkungan hutan.
Di dalam Komplek PT CPI memiliki 2 daerah hutan. Yaitu West Park seluas 76 Ha dan East Park seluas 28 Ha yang masih terjaga keaslian hutan nya. Luas Komplek PT CPI adalah1.226,28 Ha yang 400 Ha adalah hutan. Rumbai Nature Park memiliki berbagai macam jenis tanaman dan hewan hingg yang langka. Beberapa Tanaman langka dan dilindungi adalah Tembesu (Fagraea fagrans), Jelutung (Dyera costulata), dan Gaharu (Aquilaria malaccensis). Serta kekayaan hewan langka dan dilindungi diantara nya Raja udang, Enggang, Kucica dan sebagainya.
Rumbai Nature Park yang masih terjaga keaslian nya merupakan paru-paru Provinsi Riau dan Menyimpan banyak flora dan fauna yang bermanfaat untuk pengetahuan Generasi masa depan.
Setelah presentasi yang cukup banyak. Tibalah acara yang ditunggu-tunggu para Green Student yaitu Heking. Tidak lupa pula mereka mengabadikan perjalanan mereka. Para Green Student melakukan kegiatan heking di West Park. Mereka dibimbing oleh Park Ranger dalam perjalan Hiking.
Perjalanan hiking ditutup dengan makan siang di danau buatan di dekat east park.Para Green Student banyak belajar tentang lingkungan. Sehingga mereka dapat mengetahui manfaat alam. Hal itu dapat memotivasi mereka untuk menjaga lingkungan.


Laporan Ridho Hidayat-GSJ dari SMAN 1 Tambang

Ajak Generasi Muda Cintai Dan Lestarikan Alam


Ahad, (21/11). Hari minggu merupakan hari libur biasa bagi sebagian orang. Tapi tidak demikian bagi para Green Student yang mengikuti Happy Hiking in Chevron (H2C). Pukul 05.30, peserta H2C yang terdiri dari 50 orang ini sudah berkumpul di gedung Riau Pos untuk bersama-sama berangkat menuju camp Chevron, Rumbai. Kegiatan H2C ini sendiri merupakan undangan dari PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) yang turut berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Strategi Chevron dalam perlindungan lingkungan, merupakan presentasi yang mengawali acara H2C seusai sarapan dengan suguhan hidangan nasi goreng. “Visi dan misi PT CPI dalam perlindungan lingkungan adalah, menjadi perusahaan energi global yang dihormati karena karyawan, kemitraan, dan kinerjanya, serta melakukan kegiatan usaha yang penuh tanggung jawab secara sosial juga menghormati hukum, mendukung hak azasi manusia secara universal dan melindungi lingkungan”, Ucap Budi Koesoemo mengawali acara H2C. Yang menariknya, selain presentasi Budi Koesoemo juga mengajak berinteraksi dengan peserta H2C dengan Tanya jawab berhadiah.
Kuatnya keinginan CPI untuk melestarikan lingkungan dapat dilihat dari tingginya diversitas keanekaragaman baik dari segi flora maupun fauna. Diantaranya 120 spesies kayu, 75 spesies burung, 14 mamalia, 5 primata, serta beberapa reptilia
Tak lama berselang, Andi Noviriyanti memperkenalkan para peserta H2C yang merupakan gabungan Green Student Journalis (GSJ) dan Green Student Ambassador (GSA), baik dari dalam kota Pekanbaru maupun dari luar kota. Diantaranya, dari Siak, Kampar, Pelelawan, dan lainnya.
“Untuk menggali pengetahuan, pengalaman, mengasah keterampilan dan kegiatan apapun, tentunya harus sinergi dengan kegiatan menjaga alam”, pesan Hanafi Kadir dalam sambutannya selaku Manager Humas CPI.
Beberapa saat sebelum memulai hiking, peserta H2C juga mendapatkan pengarahan dari Marthinus Sarbian perwakilan dari Ecology Club, dan Emy Andriati.
Untuk memasuki jalur track hutan CPI, peserta H2C dibagi perkelompok agar dapat dengan mudah memantau. Menariknya, dari dua kelompok terakhir, salah satunya akan mendapatkan keberuntungan untuk menjajaki jalur track yang lebih dalam dengan cara melakukan suit. Kelompok 4 pun bersorak-sorai gembira karena Teguh Budianto, selaku ketua kelompok memenangkan suit tersebut. Kelompok ini sendiri akan langsung dipandu oleh Boedi Koesoemo.
Meskipun jalur yang di tempuh lebih jauh, peserta H2C yang tergabung dalam kelompok 4 in tetap semangat menikmati keunikan alam yang terdapat di hutan CPI. “Salah satu contoh keunikan dari hutan CPI ini adalah bentuk interaksi dari dua jenis tanaman yang dalam jangka waktu lama telah membentuk rupa yang aneh dan berbeda dari tumbuhan lainnya. Tanaman tersebut adalah Liana, yang merupakan jenis tanaman memanjat yang melilit tanaman inangnya, sehingga, dengan proses yang cukup panjang Liana tersebut menyatu dengan tanaman induknya”, jelas lelaki setengah baya yang akrab di panggil Jhon, Ranger Park pemandu kelompok istimewa ini.
Sambil menambahkan, Budi Koesoemo pun menunjukan sehelai bulu burung elang kepada peserta H2C. “Ini dapat di jadikan penanda jejak satwa, bahwa satwa tersebut pernah melintasi daerah ini. Atau jejak lainnya berupa jejak kaki, kubangan lumpur, bahkan dapat pula di tandai dengan adanya kotoran dari feses satwa tersebut”, terang Budi.
Dengan sedikit terengah-engah, akhirnya peserta kelompok 4 ini mampu menyelesaikan jalur track terpanjang di banding kelompok lain. Dampaknya, kelompok 4 merupakan satu-satunya kelompok yang di tunggu oleh seluruh keolmpok lainnya untuk segera makan siang.
Masih dengan wajah ceria peserta H2C pun berfoto ria bersama pejabat Chevron. Dan di akhir kegiatan hiking tersebut, pihak Chevron mengajak berkeliling peserta H2C di lingkungan camp Chevron sampai mengantarkan peserta kembali ke gedung Riau Pos dengan di bekali souvenir dari Chevron berupa T-shirt cantik dan topi.

Laporan RA Diah Sulistioningrum-GSJ dari Universitas Riau

Green Student Journalist in Chevron


Seneeeeeeng banget ….
Satu kalimat itu lah yang menggambarkan perjalanan kami ke Rumbai Camp. (Rugii kalo gak ikut).Tiga hari di Rumbai Camp merupakan waktu yang sangat berkesan bagi kami, anak Green Student Journalist.

Awalnya perjalanan hari pertama menuju ke Pekanbaru menggunakan mobil. Waktu perjalanan kurang lebih setengah jam. Kami sampai ke Riau Pos Pekanbaru sekitar jam dua siang. (huffft ! ternyata kami terlambat)
Ternyata yang ikut ke Rumbai Camp lumayan banyak juga lho. Tiga puluh orang dari Pekanbaru dan dua puluh orang dari luar kota, yaitu Pelalawan, Siak dan Kampar. Seketika bus dari PT Chevron datang menjemput kami untuk ketempat tujuan yaitu Rumbai Camp.
Giila, keren banget pemandangan di sana. Udaranya masih alami, sejuk, hijau banget dech.Sesampainya di Rumbai Camp kami langsung ke resepsionis untuk mengambil kunci kamar masing-masing. Tau gak, kamar yang kami tempati itu termasuk class VIP. Di dalam ruangan itu semua tertata dengan rapi.
Seling beberapa waktu setelah kami beristirahat, sholat, dan makan malam kami langsung bekunjung ke Display Room. Di sana kami bias melihat langsung minyak asli hasil dari PT Chevron dan kami juga melihat contoh-contoh Fosil, alat-alat yang digunakan untuk memperoleh minyak, dll.
Kami juga mendapat penjelasan dari salah seorang Geology Club tentang bagaimana PT Chevron memperoleh minyak dan cara-caranya.
Besok paginya dihari kedua, kami harus bergegas bangun pagi untuk menjalani aktivitas lainnya. Pagi ini, kegiatan pertama kami yaitu ke Multifunction Building mendengarkan persentasi yang menjelaskan tentang PT Chevron dan Rumbai camp. Setelah itu kami pergi Happy Hiking ke hutan asli di Rumbai Camp. Di hutan itu memiliki tiga jalur, yaitu :
1. Jalur merah
2. Jalur biru
3. Jalur kuning
Kami melewati jalur kuning. Perjalanan di jalur ini memakan waktu kurang lebih tiga jam. (mpe pegel-pegel ne kaki)
Perjalanan di hutannya, seruu banget !
kami banyak menemukan tumbuhan yang unik-unik. (namanya juga hutan asli)Huffffft ! sayangnya, kami berangkat agak kesiangan jadi kami gak bisa melihat atau mendengar burung-burung berkicau atau bernyanyi.(yeeaahh … kali aja burungnya nyanyi lagu Afgan, Hehehe . . .)
Setelah keluar dari hutan kami beristirahat sejenak. Baru lah kami menaiki Bus menuju sebuah Danau di Rumbai Camp, sesampainya di danau kami dipersilakan menyantap makanan yang telah dihidangkan.(ceiillleeeeehh …)
Usai makan kami semua berfoto ria di dekat danau. Setelah itu kami pulang menuju hotel.Hari ketiga merupakan hari akhir dari perjalanan Kami di Rumbai Camp yang takkan pernah telupakan. Dari sana kami banyak mengambil pelajaran berharga yang mungkin dapat diterapkan di daerah kita baik kebersihan, kedisiplinan, dan Go Greennya yang paling utama.

Laporan Jamilla Rosa-GSJ dari SMKN 1 Pangkalan Kerinci Pelalawan

Rabu, 29 Desember 2010

Happy Hiking In Chevron


“Sungguh nikmatnya hidup ini bila kita dekat dan memahami alam”.

Agar tetap terjaganya keseimbangan alam di Chevron Rumbai sehingga tetap bisa dinikmati. Potensi alam yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai. Tak terkecuali sebidang hutan alam di Chevron Rumbai, tumbuhan dan satwa-satwa langka, merupakan keanekaragaman hayati yang patut dilestarikan.

Salah satu potensi sumber daya alam sebagian besar dapat bermanfaatkan sebagai pelestarian keanekaragaman hayati dan keseimbangan alam. Hutan Alam Rumbai yang berada di dalam kawasan PT. CPI merupakan bentang alam tropika yang unik, karena merupakan ekosistem alami, di dalam lingkungan hidup perkotaan.
Happy hiking in Chevron ini membuat kami, mengetahui keanekaragaman hayati di kawasan hutan alam Chevron Rumbai dengan melakukan kegiatan secara langsung, mengenal alam lebih dekat agar tetap terjaga kelestariannya.
Ecology Club of Rumbai Sumatra berupaya untuk menciptakan kesadaran dan meningkatkan minat lebih akrab dengan alam. CPI bekerjasama dengan Ecology Club of Rumbai membentuk taman konservasi di batas utara dan timur kamp Rumbai, keanekaragaman tanaman dan hewan terdapat di kedua hutan primer dan sekunder. Ecology Club of rumbai ini mengembangkan taman dan bertanggung jawab atas manajemen.
Area hutan alam rumbai ini terbagi menjadi dua bagian, timur dan barat, masing-masing dengan pintu masuk utama sendiri. Di kedua wilayah tinggi dan dataran rendah kami mengamati ekosistem yang berbeda.
Di dalamnya terdapat jalan, semua jalan melingkar dan kembali ke titik asal. Melalui jalan tersebut kami mengamati ekosistem hutan di pandu team park renger, di dalamnya juga terdapat tempat bersantai terletak di pintu masuk ke taman timur di ambang debit sungai. hutan alam rumbai ini terdapat berbagai macam flora dan fauna tropis dataran rendah yang sangat dilindungi.
Sebuah pengalaman yang amat berharga mendapatkan berbagai pengetahuan tentang alam ini dan bagaimana kita semua itu sangat saling membutuhkan, kegiatan melestarikan kekayaan alam ini sangat bermanfaat bagi kita semua.

laporan Anri Muhammad saleh Daena-GSJ dari SMAN 1 Pangkalan kerinci Pelalawan

Penyusuran Hutan Alam yang Menakjubkan

Pagi sudah menampakan wujudnya,di saat kesibukan aktivitas pagi minggu,(21/11) namun hal ini sama sekali tak mengurangi niat semua anggota Green Student Journalist maupun Green Student Ambasador,pagi itu mereka semua memulai kegiatanya yaitu menyusuri hutan alam yang terdapat di kawasan Chevron rumbai.

“Pagi ini pasti akan jadi hari yang istimewa bagi kita semua,jarang-jarang ada kegiatan seperti ini.terima kasih buat chevron yang sudah menyelenggarakan acara seperti ini dan semoga kedepanya acara-acara sseperti ini bisa terus di laksanakan,”ungkap Heru kurniawan, salah satu Green Student Journalist dari Siak.
Menyusuri hutan bukan hanya mengasikan namun juga memberi manfaat yang cukup banyak untuk kita semua,di antaranya kita dapat lebih dekat dengan alam,melihat dengan langsung apa yang terdapat di dalamnya dan kita juga akan mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga maupun ilmu yang tak kita dapatkan langsung seperti biasanya dari media-media cetak maupun dari elektronik,dengan kita terjun langsung kelokasi tentunya akan sangat berbeda dari pada kita hanya melihatnya ataupun membacanya baik dari media cetak ataupun elektronik,rasanya tentu akan sangat berbeda.
Rasa takjub bercampur senang jelas terpancar dari dari raut muka para peserta yang ikut kegiatan tersebut,tak ketinggalan komentar Abror salah satu GSJ dari Pelelawan
“wah,keren banget suasana di dalam hutan ini,saya sangat terpesona melihat hutan ini,masih asri dan terawat tidak ada samapah-sampah seperti hutan kebanyakan lainya,”tegas Abror di tengah penyusuranya.
Hutan alam di kawasan Chevron ini memiliki luas kurang lebih tujuh puluh enam hektar di west park serta dua puluh delapan hektar di east park,kawasan hutan alam ini masih sangat bagus dan bersih,buktinya di kawasan hutan ini masih terdapat aneka ragam flora maupun fauna yang masih cukup terawat dan belum banyak di jamah oleh tangan-tangan jahil oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab selayaknya kebanyakan hutan alam lainya.
Penyusuran yang melelahkan namun mengasyikan ini akhirnya terselesaikan dengan raut wajah lelah namun tak berarti menyesal dari semua anggota GSJ maupun GSA,dengan harapan semoga kedepan akan lebih banyak lagi acara-acara yang seperti ini dan sekali lagi terima kasih Chevron.


Menyusuri harta warisan alam

Laporan Ahmad Fuad Reaka-GSJ dari SMAN 1 Siak

Green Student Bener-Bener H2C



Sabtu(21/11) pukul 5.30, 50 peserta Green Student berkumpul di halaman depan Kantor Riau Pos, Panam. Bukan untuk aksi demo lingkungan, tapi bersiap-siap akan melaksanakan kegiatan Happy Hiking in Chevron (H2C). Kegiatan ini sendiri merupakan hasil kerja sama Save Earth Foundation (SEFo) Riau Pos dengan Department HES CPI Chevron.

Memasuki komplek PT.Chevron sangat terasa sekali suasana yang asri, ini terlihat dari lingkungan komplek yang banyak pohon, tanaman bunga, rumput yang tertata rapi, dan tidak ada sampah dijalanan. Yang menarik perhatian adalah banyak spanduk yang bertuliskan motivasi untuk bekerja bagi para pekerja PT.Chevron. ini terbukti bahwa Chevron tidak hanya peduli pada lingkungan bahkan kepada para pekerja, PT.Chevron sangat peduli.
Kedatangan 30 peserta telah ditunggu oleh panitia H2C dan 20 peserta asal luar pekanbaru untuk sarapan pagi bersama-sama, ”makan yang banyak, biar kuat mengikuti hiking. Ada susu, jus” begitu lah ujar Rinta selaku panita H2C. Setelah menyantapi sarapan pagi, panitia membagikan souvenir berupa topi,peta dan baju. Tampak seluruh peserta sangat antusias untuk segera memakai baju dan topi yang nantinya akan dipakai selama mengikuti kegiatan H2C. Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi oleh Departmen HES CPI, presentasi ini disampaikan oleh salah seorang enginering PT.Chevron, Budi Koesomo. Saat dimana perusahaan besar lainnya menghancurkan alam tapi berbeda dengan PT.Chevron.
Sesuai dengan visi lingkungan hidup PT.Chevron sendiri, yaitu ”Menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia”.PT.Chevron tidak main-main dengan penyelamatan lingkungan, sebagai perusahaan terbesar dunia, PT.Chevron mulai memgurangi emisi gas yang terbuang ke udara. Strategi chevron dalam perlindungan lingkungan mulai digalakkan, seperti penghentian Flaring (Suar Bakar) dan venting, pengelolaan gas rumah kaca, pengelolaan limbah, keanekaragaman hayati dan program penghijauan.
Dalam hal pengelolaan limbah, chevron memiliki cara tersendiri, dalam membeli bahan bangunan, chevron membelinya dalam bentuk curah. Sebagai perusahaan terbesar bergerak dibidang eksplorasi minyak, chevron melakukan pengeboran ke dalam dasar bumi, namun yang diambil hanya minyak bumi saja, sedangkan air tanah yang ikut terangkat akan dikembalikan ke dalam dasar bumi.
Banyak sebagian orang yang mengangap kalau lampu neon yang telah rusak tidak ada gunanya lagi, namun hal ini sangat berbeda di chevron, dalam lampu neon terdapat gas merkuri yang berbahaya jika dibuang begitu saja ke alam. Lampu neon dimasukkan ke Alat penghancur Fluorescent, alat ini mennyerap gas merkuri yang kemudian dapat dipakai kembali. Selain itu pemanfaatan lumpur untuk dijadikan paving blok. chevron juga ikut melestarikan keaneragaman hayati. Saat ini chevron memiliki kurang lebih 400 ha hutan alami.
Suasana presentasi yang tegang, akhirnya pecah ketika Budi Koesomo memberikan pertanyaan, bagi peserta yang dapat menjawab akan mendapatkan hadiah. Terlihat peserta sangat antusias menjawab pertanyaan yang diberikan. Selain itu para peserta dapat mengajukan pertanyaan mengenai penyelamatan lingkungan.
Chevron memiliki suatu club lingkungan yang beranggotakan 200 orang, club ini dinamakan Ecology Club. Dalam kesempatan tersebut, Martius selaku ketua Ecology Club menjelaskan, saat ini hutan alam rumbai memiliki banyak keanekaragaman hayati. Terdapat 120 spesies kayu, 75 spesies burung, 14 spesies mamalia, 5 jenis primata dan 9 jenis reptil. Baik itu yang dilindungai oleh pemerintah ataupun tidak.
Komitmennya menjadikan hutan alam rumbai shevron agar terjaga dan alami membuat chevron banyak kedatangan tamu yang datang mengujungi hutan alam rumbai chevron salah satunya tahun 2007, orang australia datang untuk meneliti hutan tropik. Usai presentasi, Inilah acara yang ditunggu-tunggu oleh para peserta, saatnya untuk memasuki area West Park,
Masing-masing peserta diwajibkan memakai topi,kaos dan sarung tangan. “agar aman dalam hutan nanti” begitulah ujar Joni, yang dalam hal ini sebagai pemandu peserta dalam hutan.
Para peserta dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 10 anggota. Masing-masing kelompok akan di arahkan oleh park ranger agar tidak tersesat memasuki hutan. Memasuki hutan alam rumbai chevron, udara sejuk, dingin penuh suara burung menyambut kedatangan 50 peserta H2C. Hutan sebagai paru-paru dunia haruslah dijaga, saat ini jarang sekali hutan alami yang terjaga.
Chevron dibantu oleh park ranger(pemantau hutan) mengawasi selalu keberadaan hutan alami tersebut. Tiap minggunya para park ranger memasuki hutan untuk memantau keadaan dalam hutan. Dalam kesempatan mamasuki hutan alam rumbai chevron tersebut, para peserta tidak melewatkan kesempatan yang ada. Mereka dapat bertanya dengan para park ranger yang memandu para peserta memasuki hutan.
Isu yang berkembang saat ini, kedepannya riau akan menjadi provinsi yang ambrol kedasar bumi di akibatkan oleh ekspoitasi minyak secara terus-menerus yang mengakibatkan bagian dari lapisan bumi akan kosong. Namun hal ini dibantah oleh Budi Koesomo, dalam kesempatan menjelajahi west park chevron, “dilapisan bumi, minyak tidak terdapat dalam bentuk danau atau kawah yang jika diambil minyaknya akan mengakibatkan lapisan atas bumi akan ambrol, namun minyak bumi yang diambil melalui batuan dalam lapisan bumi, sehingga jika minyak tersebut telah disedot oleh pipa kilang minyak, maka batuan tersebut akan terisi air”.
Jarak tempuh peserta dalam menjelajahi west park lebih kurang 5,2 km. Meski perjalan yang ditempuh sangat melelahkan, namun sesuai dengan nama kegiatan ini yaitu Happy (senang) para peserta tetap semangat melanjutkan perjalanan. Ini terlihat ketika para peserta diajak untuk melihat kantung semar, dan jalur perjalanan Tapir. Meski hanya mendapati jejak kaki Tapir saja, para peserta menyempatkan diri berfoto bersama diarea yang banyak tumbuh kantung semar dan jejak-jejak kaki Tapir tersebut.
Malu bertanya seset dijalan, pribahasa yang mengungkapkan jangan malas untuk bertanya. Namun jika dalam hutan tersesat, bagaimana untuk bertanya. Dalam perjalanan menjelajahi hutan alam rumbai chevron. Para pengunjung tidak akan mengalami sesat, selain para pengunjunga hutan dipandu oleh park ranger, pada jalur perjalanan terdapat pita merah sebagai tanda jalan akses menjelajahi hutan, selain itu ada panduan patok yang berdiri kurang lebih 80 cm.patok tersebut memiliki tiga warna, kuning, kuning-biru dan biru bertuliskan angka. Jarak antara patok satu dengan patok lainya berjarak 100 meter, Jadi tetep happy hiking in chevron.

Laporan Fitriandini-GSJ dari UIN Suska Riau

Senyum kecil dari Sudut Kota Bertuah



Siang tepat pada hari sabtu tanggal 20 November 2010 langit seakan terlihat murung dengan sesekali menjatuhkan tangisnya ke bumi, Aku ( penulis ) tetap mengarungi jalan raya denan perlahan hingga akhirnya tepat pada pukul 02.00 WIB aku sampai di markas besar ku sebagai duta lingkungan provinsi Riau yaitu Riau Pos. Media informasi yang selalu mengutamakan kualitas dan kuantitas bacaan bukan hanya hiburan dan tampilan semata.

Kulihat disana telah ramai para sahabat Green student (kumpulan kaula muda yang peduli terhadap lingkungan) yang sedang asik bercengkrama satu dengan yang lain. Kami berkumpul di markas besar karena ingin membicarakan acara yang akan kami ikuti esok harinya yaitu hiking di Rumbai Forest Nature Park atau disebut juga Hutan Alam Rumbai (HAR) yang berada di dalam kawasan PT. Caltex Pacific Indonesia(Perusahaan eksplorasi minyak yang beroperasi di Riau), area ini merupakan bentang alam tropika yang unik, karena merupakan ekosistem alami, di dalam lingkungan hidup perkotaan.
Sungguh hal yang sangat aku nanti-nantikan dapat melihat sisi hijau nan asri di hamparan kota bertuah ini, dan mengamati secara langsung hutan alam Riau. Tepat pada pukul 14.15 rapat dimulai dengan pembahasan mengenai observasi kami di HAR, Setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh panitia, Aku semakin tertarik untuk mengikuti acara tersebut, rasanya tidak sabar untuk langsung masuk ke HAR dan melihat keindahan alam disana.
Gelap masih menyelimuti kota bertuah, dalam peraduan aku terhenyak bangun dikarenakan sebuah kebisingan yang memang setiap hari ku dengar, tubuh dengan mata setengah terpejam ini kemudian melintasi lorong rumah sederhana dan membasahi muka yang masih setengah tak bernyawa. Setelah semua terasa sudah benar-benar nyata aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk menantang hari, tepat pada pukul 06.00 WIB aku telah menyapa pagi dari bilik rumah dan langsung bergegas dengan sebuah harapan mendapat ilmu dan sebuah kenyataan alam yang menyambutku nanti masih dengan senyuman. Diperjalan kurasakan kesejukan pagi yang tak terganti hingga membuatku lalai akan waktu yang berlari, wara-wiri jalan menghampiri dan memberikanku sapaan lembut “ selamat pagi “.
Tepat pukul 06.20 WIB aku telah sampai di sebuah bangunan kokoh yang didalamnya telah terlihat lambaian dari para sahabat Green student, aku mengambil langkah mendekati mereka dan bersiap menuju Paru-paru kota bertuah yakni Rumbai Forest nature Park. Rombongan telah siap berangkat namun seperti biasanya sebelum memulai agresi jangan sampai melupakan sesi dokumentasi atau bernarsis ria.
Memerukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Rumbai Forest Natue Park, sesampainya disana kami disambut hangat oleh para panitia H2C yang berasal dari Chevron dan juga Sahabat Green student yang berasal dari luar kota Pekanbaru di Multifunction Building Kompleks PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) Rumbai, karena mereka di fasilitasi penginapan demi menjaga keselamatan para peserta. Pagi itu kami diberi sarapan pagi guna menjaga stamina untuk menelusuri Rumbai Fores Nature Park, setelah selesai menyantap sarapan pagi acara dimulai dengan kata sambutan oleh Ibu Andi Novirianti selaku Pembina dari Green Student.
Setelah dibuka secara resmi oleh Bpk. Hanafi kadir selanjutnya diberikan penjelasan seputar misi Chevron dalam orientasi kepedulian terhadap lingkungan. Kemudian sesi itu ditutup dengan Tanya jawab seputar Rumbai Forest Nature Park. Dan akhirnya tiba saat untuk menjelajahi secara langsung Rumbai Fores Nature Park , setelah sekian lama menanti aku dan rombongan akhirnya terjun menuju Rumbai Fores Nature Park dan disana kami dibagi menjadi beberapa kelompok dengan alasan agar lebih mudah untuk dikordinir. Dan juga sebelum memasuki area Rumbai Fores Nature Park kami dilengkapi dengan topi guna menghindari ancaman binatang dari atas dan sarung tangan agar menghidari tangan dari duri atau sejenisnya.
Tepat pada pukul 10.15 kami memasuki hutan dan tiba-tiba rasa takut menghampiri namun semua tertepis ketika aku sadari bahwa aku telah berada didalam hutan yang di sekelilingku hanya ada pohon-pohon besar. yah maklum saja aku baru pertama kali menjejakkan kaki di hutan alami, suasana di dalam begitu asri dan memang benar membuat hati lega, dibalik melesatnya pertumbuhan infrastruktur Pekanbaru terdapat juga bagian klasik yang tak dapat dipandang sebelah mata yaitu Rumbai Forest Nature Park. Nature Park Rumbai atau hutan Chevron Rumbai merupakan paru-paru Kota Pekanbaru. Oksigen yang dihasilkan oleh hutan seluas 400 hektare itu sangat bermanfaat bagi masyarakat Kota Pekanbaru.
Di hutan ini terdapat sekitar 120 spesies kayu, di antaranya meranti, tembesu, kulim, jelutung, gaharu, pulai, marpuyan, sendok-sendok, pagar-pagar, tempunik, mahang tapak gajah, dan lain sebagainya. Dari 120 jenis itu, tambahnya, empat merupakan spesies yang dilindungi yakni tembesu, kulim, jelutung, dan gaharu. Pohon-pohon yang tumbuh alami dan terjaga tersebutlah yang menyuplai oksigen bersih bagi masyarakat Kota Pekanbaru. Perjalan dilakukan selama tiga jam. Sunggu ini perjalan yang panjang bagiku namun semua rasa lelah telah lenyap melihat hamparan hutan dari dalam, dan melihat keunikan HAR secara langsung.
Bayangkan jika semua perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta peduli terhadap lingkungan seperti Chevron sudah barang tentu Pekanbaru bisa lebih sejuk dan asri serta ekologi lingkungan dapat terjaga dengan adanya wahana seperti Rumbai Forest nature Park. Kita butuh kontribusi nyata dari segala pihak untuk pelestarian lingkungan. It’s a great experience for me. Dan selanjutnya kami berharap semakin banyak orang yang sadar dan bebuat demi pelestarian lingkungan. Semua tidak dapat dipatokkan dengan sekelompok manusia, karena semua aspek harus bersama menyatukan visi membangun kota bertuah kembali asri. Dan kami menunggu kembali program Chevron dalam tema seperti ini.

Laporan Muhammad Fauzi Abdullah-GSA dari Universitas Riau

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province