Minggu, 14 Agustus 2011

Penanggulangan Sampah (Thilal Fajri ): Sampah Menjadi Lebih Berharga

Sampah Menjadi Lebih Berharga
Sore itu aku cukup terpana melihat sebuah kerajinan tangan, yaitu lampu hias. Warna beragam, mulai dari hijau, biru, merah. Kuperhatikan seksama, ternyata  lampu hias itu terbuat dari botol plastik bekas. Wah, bagus ya pak, komentarku pada penjual lampu hias tersebut.
Pemanfaatan botol bekas menjadi lampu hias, tentu menjadi bentuk daur ulang yang sangat bagus. Tidak hanya mengurangi  banyaknya  limbah sampah, apalagi di kota-kota besar seperti Medan, tetapi juga memberi nilai tersendiri bagi pembuatnya. Tentu,  botol bekas tersebut mampu mendulang rupiah setelah di make over menjadi lampu hias nan menarik.
Di beberapa kota besar, sampah sudah menjadi  masalah klasik yang belum dapat ditanggulangi secara tuntas. Tidak banyak orang yang memiliki kesadaran bersama, bagaimana caranya agar paling tidak jumlah sampah tidak berjumlah, atau bagaimana cara mendaur ulang atau juga memusnahkannya tanpa menimbulkan efek  atau sampah baru.
Dilihat dari kaca mata ilmiah, sampah memberi banyak dampak negatif, yaitu  berkembangnya organisme pathogen, yang muncul karena sampah yang tidak segera ditanggulangi sehingga  terkena air hujan yang kemudian membentuk lindi (air sampah) yang bisa mencemari tanah, lingkungan, bahkan sumur.  Nah, pathogen sendiri juga merupakan bibit penyakit yang dapat menimbulkan penyakit tifus, hepatitis dan lain-lain. Itu baru secuil dampak negatif dari serentetan dampak negatif lainnya. Jadi,  alasan apa lagi yang membuat  kita untuk tidak peduli? Tidak hanya untuk lingkungan, namun demi kesehatan kita juga sebagai mahluk  ciptaan-Nya yang lebih mampu untuk merawat dan melestarikan lingkungan.
Namun teknologi dan informasi telah memberi kita banyak solusi. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk dapat menanggulangi polusi sampah tersebut. Salah satu penanganannya adalah dengan konsep Zero Waste yaitu Reduce, Reuse and Recycle.
Zero Waste adalah proses dimana awal dari proses produksi hingga produksi selesai, dapat dihindari lahirnya/munculnya sampah kembali atau diminimalisir terjadinya sampah. Konsep ini memiliki orientasi pada pengananan sampah yaitu, pengomposan, daur ulang sampah plastic dan kertas, teknologi pembakaran sampah dan insenator, teknologi pengolahan sampah organic menjadi pakan ternak dan beberapa orientasi lain termasuk juga peluang dan tantangan usaha daur ulang, seperti lampu hias tadi.
Hingga kini memang belum banyak yang mampu melakukan daur ulang atau pemanfaatan kembali  limbah sampah tersebut.  Pengomposan dan daur ulang  sampah anorganik  berbahan kertas atau plastik adalah daur ulang yang paling dikenal masyarakat.  Padahal masih banyak lagi penanggulangan lain.  Rasanya peran pemerintah sendiri, juga masih minim terhadap masalah ini.
 Jika masih menghimbau, “buanglah sampah pada tempatnya” atau “jangan membuang sampah sembarangan”,  belum banyak memberi dampak bagi masyarakat. Bagaimana jika diadakan penyuluhan mandiri atau bekerja sama dengan beberapa pihak , penyuluhan untuk masyarakat agar bisa mendaur ulang atau menangani masalah sampah secara tuntas. Sehingga wawasan masyarakat menjadi terbuka dan bisa membuka lapangan kerja baru.
Hal yang paling mendasar adalah, bagaimana kesadaran kita terhadap lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah di sungai, tidak menutup titik-titik biopori (titik resapan air) seperti yang sering terjadi pada pembangunan beberapa proyek properti atau gedung, dan tau bagaimana cara mengolah sampah sesuai jenisnya. ***
Reaksi:

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province