Jumat, 09 September 2011

Our Green Inspiration: Pohon Sumber Kehidupan

Pohon Sumber Kehidupan
 

MESKI jasadnya telah terkubur. Tapi semangat Almarhum Badri Ismaya dalam menyelamatkan lingkungan masih terasa hingga sekarang. Ia adalah salah seorang tokoh penting dalam upaya penyelamatan daerah aliran sungai Ciliwung Hulu dan juga penghijauan kawasan Cisarua.
Bahkan masa lalunya yang cukup kelam yakni sebagai mantan penjarah kayu, tak menutup kemungkinan ia untuk bisa berbuat baik terhadap lingkungan. Dulu karena desakan kebutuhan ekonomi ia sempat berprofesi sebagai seorang penebang pohon liar di hutan sekitar Cisarua, Bogor.
Tapi akhirnya Badri bertobat pada akhir tahun 1979. Ketika itu ia baru pulang dari menjarah kayu di hutan pada Hari Jum’at. Dalam keadaan yang letih itu tiba-tiba ada setetes air yang jatuh ke kepalanya. Tanpa sadar air yang hanya setetes itu bisa membuat letihnya hilang. Ternyata air itu berasal dari akar pohon. Dari kejadian itu ia pun merenung dan sadar bahwa pohon adalah sumber kehidupan. Dan sejak saat itu pun Badri bertekad untuk menanam pohon dimanapun ia berada.
Lalu, ia pun mulai menanam pohon di sepanjang daerah alirah Sungai Ciliwung. Ini dilakukannya karena ia melihat gersangnya sungai ciliwung di daerah hulu sekitar tahun 1980.
Sejak saat itu ia juga banyak melakukan penyuluhan di wilayahnya. Bahkan berbagai kalangan pun mulai datang dan belajar padanya. Ia pun juga sempat ditawarkan untuk tinggal di Malaysia dan Prancis. Namun, ia menolak karena merasa Indonesia masih memerlukannya.
Bahkan dulu dalam sehari Badri sanggup menanam seratus hingga lima ratus pohon. Luar biasanya lagi biaya operasionalnya pun ia tanggung sendiri meski sesekali ada mendapat bantuan dari pemerintah atau organisasi lainnya. Dan meski menerima uang untuk proyek penanaman, tidak sepeserpun diambil oleh Badri. Semuanya murni untuk penanaman pohon. Sedangkan untuk kehidupannya, Badri lebih memilih untuk bertanam jamur.
Kini jika melewati kawasan puncak maka bisa dilihat pohon-pohon yang telah ditanam oleh Badri. Ia menanam dimanapun ada tanah kosong dan lahan-lahan kritis di kawasan Puncak. Tidak peduli panas dan hujan setiap hari ia akan menanam.
Meski begitu Badri juga sempat menghadapi rintangan dalam melestarikan lingkungan. Ia sempat dipukuli para makelar tanah di kawasan Puncak karena Badri melarang cukong membangun bangunan di Puncak karena tidak ada IMB-nya. Tapi, itu tak meruntuhkan niatnya untuk melestarikan lingkungan.
Selain menjadi pelopor penanam pohon di lahan kritis sekitar Cisarua, Badri juga memulai pembuatan dan penggunaan sumur resapan. Sekitar 1985, saluran air yang berada di sisi jalan di atas kampung tersumbat. Airnya membanjiri rumah Badri. Ia lalu berinisiatif membuat lubang di halaman rumah dan diisinya dengan bebatuan, ijuk, dan material lain. Air buangan selokan dia arahkan masuk ke sumur resapan tersebut. Setelah itu, banjir tak datang lagi. Lalu, tetangganya pun akhirnya ikut juga membuat sumur resapan.
Karena kegiatannya ini Badri juga sering dipanggil ke daerah lain untuk menjadi pembicara. Bahkan ia juga pernah diundang untuk menjadi pembicara di Malaysia dan Singapura pada tahun 2001. Juga ke Filipina pada tahun 2005. Tak ketinggalan Kalpataru pun pernah diraihnya pada tahun 2002. Juga penghargaan keteladanan dari Presiden pada tahun 2007.
Dan meski Badri Ismaya telah berpulang pada tanggal 10 Februari 2010 lalu. Semangatnya masih terasa hingga sekarang melalui pohon-pohon yang ditanamnya.(afra-gsj/int/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province