Jumat, 16 September 2011

Save The Earth: Recycle Ban Bekas Bisnis Selamatkan Lingkungan

Recycle Ban Bekas Bisnis 
Selamatkan Lingkungan
BISNIS sambil menyelamatkan lingkungan itulah yang dilakukan oleh Emiwati (48), sejak sepuluh tahun lalu Ia telah mengembangkan usaha daur ulang ban bekas hingga beromset Rp500.000 hingga Rp1 juta perhari.
Ban bekas merupakan limbah padat yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Terutama akan menjadi kendala terhadap kesuburan tanah. Karena ban bekas tidak mudah terurai, butuh waktu 10-50 tahun, itupun jika dibuangnya ke laut.
“Ini merupakan usaha turun-temurun keluarga saya, sejak tahun 1976 lalu,” ujar Emi panggilan akrabnya.
Sekarang usaha Emi telah berkembang, selain mengirim hasil daur ulangnya ke luar Provinsi Riau, seperti Kalimantan, Surabaya, Tanjung Pinang dan sebagainya. Ia juga mengekspor produk dari ban bekas ini ke Vietnam.
Kemudian ban tersebut dijadikan sebagai tali dengan panjang 120 meter. Harga satu meternya 1.000-2.000 meter. Nah, bisa dihitung sendirikan berapa keuntungan yang didapat untuk satu ban bekasnya. Bukan hanya dijadikan tali, Emi menceritakan bahwa produk-produk recycle ban bekas yang diproduksinya antara lain pot bunga, ayunan, tali, galangan kapal, spare part mobil dan sebagainya.
Emi yang kini punya delapan orang karyawan ini membuka usahanya di Kecamatan Tampan, kurang lebih 300 meter dari jembatan lekton dua.
Ban dan Global Warming
Pernahkan terpikirkan oleh kita, bahwa kondisi ban yang kita gunakan untuk menggulirkan kendaraan bermotor,  berpengaruh terhadap tiap tetes bahan bakar yang kita bakar. Ujung-ujungnya berkontribusi terhadap pemanasan global, yang satu dari banyak hal penyebabnya adalah pembakaran emisi yang tidak sempurna.
“Dua dua jenis struktur ban yang sering digunakan untuk kendaraan, yaitu ban biasa dan radial,” terang Yossi, manager marketing salah satu toko model (tomo) Brigstone di Pekanbaru. Ban biasa hanya terdiri dari lapisan karet dan benang (cord). Cord ditenun secara zig-zag membentuk sudut 40 sampai 65 derajat terhadap keliling lingkaran ban, lanjutnya.
Sementara ban radial adalah ban dengan kontruksi cord (benang) searah (radial) terhadap pusat ban. Selain itu, bagian ban yang berhubungan langsung dengan jalan diperkuat oleh semacam sabuk pengikat yang dinamakan breaker atau belt. ini menyebabkan gulir ban radial lebih stabil, dan cengkraman telapak ban di aspal lebih kuat.
Yossi juga menjelaskan bahwa kondisi angin di dalam ban dan bahan karet pembuat ban sangat mempengaruhi hambatan gulir ban. Hal ini berpengaruh secara langsung pada pembakaran bahan bakar minyak.  Semakin tinggi hambat gulir ban, semakin boros bahan bakarnya. “Oleh karena itu setiap akan berkendara apalagi jarak jauh, periksalah tekanan angin ban. Ini bukan hanya untuk kenyamanan berkendara namun juga demi menghemat bahan bakar,” tuturnya.
Tips kedua agar kendaraan anda menjadi green car adalah dengan memperhatikan bahan baku karet pembuat ban. Karet yang bagus akan menjadikan hambat gulir ban rendah, sehingga laju kendaraan lebih cepat akibatnya pembakaran di mesin kendaraan juga lebih bersih. “Tanyakan pada bengkel langganan Anda bahan baku karet ban yang di pakai, sehingga dalam berkendara kita tidak lagi berkontribusi terhadap pemanasan global,” saran Yossi. (tya-gsj/new)
Reaksi:

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province