Senin, 27 Februari 2012

Save The Earth: Ketika Gajah dan Manusia Hidup Bertetangga

 Gajah: Tampak pawang gajah sedang memandikan dua ekor gajah di Pusat Latihan Gajah Minas.
Hutan Talang dan Camp Chevron Pacific Indonesia (CPI) Duri, tampaknya menjadi tempat singgah bagi gajah-gajah yang kehilangan habitatnya.
Laporan Mashuri Kurniawan 
Duri, mashurikurniawan@riaupos.co.id
   Sejak delapan tahun tahun yang lalu rombongan gajah itu mulai memasuki camp. Selama berhari-hari mereka akan tetap berada disana, kemudian baru akan keluar setelah mendapat makanan yang cukup.

   Keberadaan kawanan gajah yang memasuki area manusia memang bukan permasalahan yang baru terjadi. Masalah seperti itu sudah sering terjadi di berbagai kabupaten di Riau. Namun kerukunan antara gajah dan manusia yang hidup bertetangga masih jarang terjadi. Jika tidak terjadi konflik antara manusia dan gajah. Maka yang terjadi adalah gajah tersebut tidak mampu bertahan hidup di kawasan manusia.

   Salah satu contohnya adalah ditemukannya dua ekor gajah di daerah operasi CPI Duri. Induk gajah dan anaknya itu ditemukan dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Apalagi sang induk gajah sedang mengalami dehidrasi kala itu. Sementara sang anak terus setia menemani ibunya dan tidak beranjak pergi sampai tim evakuasi CPI datang meneyelamatkan keduanya.

   “Induk nya sudah sekarat waktu itu pada akhirnya nyawanya tidak tertolong lagi, hal itu menyebabkan anaknya menjadi terlihat sangat sedih. Ia menangis dan tetap menunggui induknya sampai induknya itu mati,” kenang Tiva Permata, Communican Specialist PGPA dengan berkaca-kaca ketika menceritakan peristiwa tersebut.

   Pada akhirnya anak gajah yang ditinggal mati induknya itu di serahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Kemudian anak gajah tersebut dibawa ke Pusat Latihan Gajah Minas. Karena gajah tersebut ditemukan di daerah operasi maka gajah tersebut diberi nama lintang talang. Dinamakan persis dengan nama hutan yang dirawat oleh pihak CPI dan berada di dalam camp CPI Duri.
Sampai saat ini pihak CPI tetap concern terhadap permasalahan gajah yang sering masuk ke area camp. Misalnya saja jika ditemukan gajah yang sakit di dalam camp maka pihak CPI akan mengusahakan pengobatannya. Bekerjasama dengan BBKSDA dan WWF Riau dalam memastikan keselamatan gajah tersebut.

   Tiva juga menjelaskan bahwa 65 persen gajah mati karena disebababkan oleh manusia, dan 30 persen yang di bunuh oleh manusia dikarenakan rasa takut.Sementara itu gajah yang masuk camp menurut Tiva disebabkan oleh semakin berkurangnya makanan yang bisa diperoleh di alam bebas.

   Sementara itu, tidak jauh dari kompleks Talang yang sering menjadi tempat lintasan gajah, terdapat hutan yang dirawat oleh pihak CPI dan sering disebut dengan Hutan Talang. Berbagai keanekaragaman hayati masih tersimpan disana. Hutan Talang masih menyimpan flora dan fauna yang utuh. Mereka hidup di balik pepohonan tinggi, rawa-rawa serta rerimbunan semak-semak yang jarang dikunjungi manusia.

   Suasana sejuk langsung terasa ketika tim for us memasuki gerbang melengkung dari papan yang betuliskan Duri Forest Conservation Area. Kawasan tersebut terletak di area camp CPI Duri kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Jalur track masuk kedalam hutan konservasi tersebut kecil dan ditumbuhi semak yang mulai meninggi. Luas total jalur track tersebut hampir mencapai 5,6 kilometer dan berakhir di penangkaran kupu-kupu.

   “Dulu hutan ini dikelola oleh ecology club, banyak yang ekspatriat, dan banyak juga yang dipindah tugaskan ke Camp Rumbai atau mengurusi pekerjaan yang lain. Sehingga sekarang jarang yang masuk kesini,” jelas Beldi Yommi, Leader Facility Management Camp CPI Duri yang ikut menemani perjalanan tim for us ke dalam hutan konservasi.

   Hutan yang sering disebut dengan hutan Talang karena berada di area perumahan Talang ini menurut Beldi memang sangat jarang dijelajahi manusia. Selain izinnya juga sangat khusus, para tim ecology club biasanya ke hutan tersebut juga untuk tujuan tertentu misalnya pengamatan.

   Hutan talang sendiri memiliki luas seperlima dari camp Duri PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Hutan seluas 1200 hektar itu mempunyai ciri-ciri pohon endemik yang tinggi menjulang dengan lingkar pohon yang ramping. Sebagian yang tumbuh disana adalah pohon akasia, dengan semak salak hutan dan jenis tanaman perdu lainnya. Namun menurut keterangan Beldi, saat ini penanaman Akasia di hutan talang, maupun disekitar camp Duri sangat diminimalisir. Menurut penelitian Akasia merupakan pohon yang dapat menyebabkan bronchitis.

   “ Setiap tahun kita menanami area camp dengan 4000 pohon, bahkan tahun 2011 lalu penanaman pohon mencapai 4500 bibit. Pohon yang ditanam adalah trembesi, ketapang, mahoni dan jenis-jenis pohon yang mampu menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen,” paparnya.

   Selama di dalam hutan Beldi juga mewanti-wanti agar tim for us tidak mengambil apapun selain foto dan tidak meninggalkan apapun selain jejak. Semboyan Take only picture and leave only footprint harus benar-benar diterapkan jika tidak ingin ditangkap oleh security yang selalu mobile tiap satu jam di setiap area camp.

   Selain itu di dalam hutan Talang juga ada peraturan untuk tidak menebang pohon yang telah berdiameter 2 sentimeter. Pohon dengan diameter dibawah 2 sentimeter boleh ditebang dengan syarat ketika menebang satu pohon, sipenebang wajib mengganti dengan lima pohon.

   Fauna yang mendiami area hutan konservasi juga beragam, terdiri dari binatang yang bisa ditemui di setiap hutan sampai binatang yang memang dilindungi seperti beruang, ular, buaya, macan tutul, si amang, babi dan gajah serta jenis burung-burungan seperti rangkong dan burung-burung kecil lainnya. Sekitar 100 meter dari pintu gerbang, tim for us sempat menemukan kotoran gajah yang telah mengering. Hal itu mengidentifikasikan keberadaan gajah di dalam hutan tersebut.

   Untuk mengamankan hutan Talang maupun hutan di area camp, dari masuknya binatang maupun manusia ke wilayah camp. Maka dibuat jalan tanah untuk patroli tiap satu jam sekali dan kanal khusus sebagai boundary anatara camp dengan tanah masyarakat. Kanal itu memiliki ketinggian lima meter dengan dasar yang menyerupai ceruk dalam yang makin kebawah makin menyempit.

   Meskipun begitu, gajah merupakan hewan yang cerdik. Tetap saja mereka sering melintas dan kemudian masuk ke perumahan di dalam camp. Untuk menandai lintasan gajah, di pinggir jalan dipasang rambu-rambu khusus dengan tulisan lintasan gajah dan gambar dua ekor gajah. Mereka berasal dari hutan talang dan hutan-hutan kecil di sekitar area camp kemudian menyeberang jalan berasapal yang sering dilewati kendaraan menuju perumahan karyawan CPI.

   “Mereka selalu mempunyai jalur lintasan khusus setiap kali masuk ke dalam camp. Jumlahnya ada tiga spot, yakni di area Krakatau ada dua, di talang ada satu dan di dempo juga ada satu,” terang Beldi.

   Menurut Beldi, rombongan gajah tersebut melintas ke perumahan setiap 3-4 bulan sekali, namun beberapa tahun terakhir ini kapasitas melintasnya lebih sering. “ Saya pernah melihatnya sendiri, satu rombongan itu berjumlah 32 ekor dan ketika sudah memasuki area perumaha mereka menyebar menjadi berkelompok, tiap kelompok terdiri dari tujuh sampai delapan ekor gajah,” ujar Beldi.

   Di kawasan camp CPI Duri selalu ada peringatan untuk tidak memprovokasi gajah, mendahulukan kepentingan gajah ketika mereka melintas dan tetap berada didalam rumah ketika mereka sedang berada di dalam perumahan. Intinya ketika hewan tidak merasa terganggu dengan manusia maka ia juga tak ingin menyakiti dan menyerang manusia.(asrul-gsj)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province