Rabu, 01 Februari 2012

Save The Earth: Perubahan Iklim Panas Terik di Riau


    Perubahan iklim, itulah isu yang akhir-akhir ini banyak berkembang. Memang panas di siang hari bisa seketika berganti dengan hujan, itulah fenomena yang terjadi sekarang ini. Bukan hanya itu saja, panas yang dirasakan pada siang hari itu juga lebih terik dan menyengat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya itu saja, dampak dari perubahan iklim ini seperti bencana alam banjir tentu sangat meresahkan masyarakat.



   Menurut Philip Mustamu, Kepala Stasiun Meteorologi Pekanbaru ini merupakan bagian dari fenomena alam. Namun, di Riau perubahan iklim ini memang lebih terasa dikarenakan kondisi hutannya yang semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun.


   “Jika dibandingkan dengan di pulau Jawa, perubahan iklim di Riau ini memang lebih terasa. Ini dikarenakan hutan di Riau yang dahulunya cukup luas berkurang dengan cepat,” ungkap Philip ketika ditemui Tim Riau Pos For Us di kantornya..


   Secara umum, Indonesia memiliki dua musim yaitu kemarau dan hujan. Jika curah hujan lebih kecil dari 50 mm per sepuluh hari dalam tiga dekade maka itu disebut memasuki musim kemarau. 


    “Saat ini di Pekanbaru sedang memasuki musim kemarau. Namun, bukan berarti tidak ada hujan. Dan itu cukup normal,” ungkap Philip 


    “Memang panas di siang hari sedikit lebih terik dan ini berhubungan dengan kelembapan yang tinggi. Dimana kelembapan ini juga dapat mempengaruhi temperatur pada siang hari tersebut,” tambahnya.


    “Untuk kelembapan tadi malam (23/12) sebesar 24 derajat celcius, dan itu cukup tinggi,” lanjutnya lagi.
    Sementara itu berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru ini, untuk tahun 2011 sendiri temperatur tertinggi itu terjadi pada bulan Mei, dengan suhu 35,8 derajat Celcius. Lalu, untuk temperatur terendahnya sebesar 19,9 pada bulan November. 


    “Tahun kemarin memang permulaan hujan sedikit mundur dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dimulai pada bulan Oktober dengan puncak hujan pada bulan November dan Desember juga masih ada hujan,” tutur Warih Budi Lestari, prakirawan di BMKG.


    “Sementara biasanya masa transisi ke kemarau itu terjadi pada bulan April dan Mei, jadi kemaraunya berlangsung pada bulan Mei, Juni dan Juli baru kemudian hujan. Untuk tahun 2012 ini juga belum tentu akan seperti itu karena masa transisi itu juga tidak selalu tetap,” tambahnya lagi.


    Data temperatur untuk bulan Januari 2012 sendiri juga belum bisa dikeluarkan oleh BMKG karena harus menunggu hingga akhir bulan. Baru kemudian bisa dirata-ratakan temperatur maksimum dan minimum dalam sebulannya. Selain itu, menurut Warih biasanya data tersebut baru bisa dipublikasikan sekali setahun. 


Pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan istilah global warming disinyalir menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim tersebut. Pemanasan global ini terjadi berawal dari terbentuknya efek rumah kaca di bumi. Dimana panas matahari yang masuk ke bumi terkurung di dalam bumi dan tidak bisa keluar.


   “Gelombang pendek yang dihasilkan matahari di siang hari masuk ke dalam bumi. Dan seharusnya keluar lagi dari bumi pada malam hari dalam bentuk gelombang panjang. Namun yang terjadi sekarang gelombang panjang tersebut tidak bisa keluar akibat dari emisi karbon yang merusak lapisan ozon, sehingga terjadilah efek rumah kaca,” ungkap Philip.


   Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau, Fadrizal Labay.“Perubahan iklim itu terjadi dikarenakan oleh pemanasan atau global warming yang muncul karena adanya emisi gas rumah kaca, dimana emisi karbon terperangkap di bumi sehingga panas matahari hanya bisa masuk saja ke bumi tapi tidak bisa keluar lagi dari bumi,” ungkap Fadrizal Labay.


   “Dan ini terjadi dikarenakan oleh banyaknya emisi yang dihasilkan dari industrialisasi, kebakaran gambut serta kualitas dan kuantitas hutan kita yang semakin berkurang,”tambahnya.


   Lalu, untuk data kondisi hutan Riau sendiri berdasarkan keterangan dari Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) tutupan hutan alam Riau semakin berkurang dari tahun ke tahun.


“Untuk tahun 2011 lalu hutan alam Riau tinggal sekitar 2,48 juta hektare, berkurang sebanyak 86 ribu hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Ini tentunya sangat jauh sekali berkurangnya,” tutur Muslim, koordinator Jikalahari.


   Selain itu pembakaran bahan bakar fosil atau dalam bentuk bahan bakar minyak yang biasa digunakan oleh kendaraan bermotor juga menjadi salah satu penyumbang emisi karbon untuk bumi ini. Pada dasarnya perubahan iklim yang terjadi sekarang ini disebabkan oleh pemanasan global yang disebabkan oleh terjadinya efek rumah kaca.


   “Saran saya, jika panas sedang terik sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah serta tetaplah menjaga lingkungan dan perbanyak menanam pohon,”saran Philip mengakhiri pembicaraannya. (afra-gsj)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province