Senin, 18 Juli 2011

For Us: SICANUS Pemangsa Ulat Bulu

SICANUS
Pemangsa Ulat Bulu

SICANUS: Preadator yang satu ini sangat cekatan menekan jumlah populasi ulat bulu. Sicanus juga menjadi salah satu primadona bagi perusahaan perkebunan dalam mengendalikan hama ulat bulu.


Gerakannya sangat cepat. Bisa terbang dengan jarak 20 meter. Memiliki kecepatan dalam melumpuhkan lawan. Mulutnya yang runcing seperti jarum menjadi senjata untuk mencari makan.
Laporan Mashuri Kurniawan  Pangkalankerinci 
mashurikurniawan@riaupos.co.id

MakanaNnya ulat daun. Ukurannya yang kecil seperti jenis serangga, tidak membuatnya gagal dalam memangsa ulat yang ukurannya lebih besar.Predator ini  diberinama Sicanus.
Hidupnya di dalam hutan bisa dilihat bergantung pada bunga kesya tora dan bunga turnera. Perkembangannya sangat pesat. Satu ekor betina bisa menerlurkan sebanyak 300 anakan. Predator yang satu bisa mengkonsumsi sepuluh ekor ulat. Sekali bertelur hewan itu bisa menghasilkan 300 telur. 
Jantan memiliki ukuran lebih kecil dari betina. Warna tubuhnya kecoklatan membuat hewan itu bisa bersembunyi di dedaunan kering bila ada burung yang ingin memangsanya.  
Warna dadanya coklat bercambur orange baik jantan maupun betina. Perkembangbiakannya sangat cepat. Hanya butuh waktu 21 hari untuk menelurkan anaknya. 
 Sicanus memiliki indera penciuman yang bagus. Bila sudah mencium bau ulat daun, dengan cara merayap hewan itu, tanpa diketahui mangsanya langsung menusuk dan menghisap cairan makanannya itu .
 Hewan ini sangat mandiri, anakan yang baru berusia 1,5 bulan sudah bisa dilepas sendiri mencari makan.
  Bila sudah menemukan mangsanya, maka tidak akan luput dari tusukan mulutnya. Sekarang ini predator tersebut banyak digunakan untuk mengendalikan hama ulat, baik diperumahan warga, lahan pertanian dan perkebunan. 
Daya tangkapnya yang cekatan dan konsumsi makanan cukup banyak dinilai sangat berguna menekan populasi ulat perusak tanaman.
 Peristiwa mewabahnya ulat bulu di Pulau Jawa beberapa waktu lalu juga  memanfaatkan Sicanus untuk membasmi keberadaan hama itu.  
Dunia juga mengakui preadator yang memang berasal dari Indonesia ini sangat ampuh membasi keberadaan hama ulat. 
Untuk kebutuhan ‘minum’, ulat bulu memakan dedaunan sebagai sumber makanan sekaligus minuman. 
Untuk kebutuhan makan, hama bulat bulu menyukai dedaunan pohon varietas tertentu. Tetapi jika jumlahnya sudah, daun apa saja bisa jadi sasaran untuk dimakan. perkembangbiakan hewan ini sangat luar biasa cepat, sehingga daya rusaknya sangat 
PT Inti Indo Sawit Subur Asian Agri  di Kabupaten Pelalawan,  salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, sangat merasakan manfaat dari Sicanus.      Tanpa harus mematikan mata  rantai makanan di areal perkebunan, dan penyerbukan sawit tetap bagus, Sicanus menjadi hewan yang dipergunakan untuk mengendalikan hama ulat bulu.  
Seorang Mantri Pengendalian Hama Penyakit, PT Indo Sawit Subur Asian Agri, Warjo mengatakan, untuk menangani hama ulat bulu  perusahaan tidak lagi  melakukan pengendalian terhadap hama tersebut dengan menyemprotkan insektisida.     Dahulunya kata dia, pengendalian awal populasi ulat bulu adalah dengan melakukan penyemprotan pestisida untuk menurunkan populasi ulat bulu,
Pengendalian yang dilakukan dengan pestisida, sambungnya, dinilai  dapat berdampak buruk. Terutama  resistensi dan membunuh musuh alami ulat bulu, sehingga jumlah populasi ulat bulu tidak menurun, justru semakin meningkat
’’Kami sudah fikirkan bagaimana menemukan musuh alami  ulat bulu seperti predator, parasit dan patogen yang nantinya bisa diperbanyak di laboratorium. Sicanus sudah kita kembangbiakan untuk mengendalikan hama ulat bulu ini. Bila sudah berkembang langsung kita lepas  ke areal perkebunan,’’ ungkapnya.  
Pengendalian hama ulat bulu di areal perusahaan sudah bisa dilakukan dengan baik. Hanya saa, terangnya, untuk pengembangbiakan Sicanus sangat sulit dilakukan. 
Pasalnya, hewan preadator ini sangat sulit dikembangkan. ‘’Dalam hitungan bulan tidak bertelur dan dipisahkan maka salah satu hewan ini pasti jadi santapan kawan lainnya,’’ ungkapnya. 
Namun demikian, dari sekian banyak  Sicanus yang dikembangbiakan semuanya berhasil.  Tidak ada preadator ini yang mati. ‘’Yang mati tidak  ada, tapi dimakan sesama sicanus ada. Itu karena tidak kita pisahkan setelah dikawinkan,’’ terangnya. 
Menurut  Manajer PT Indo Sawit Subur Asian Agri di Kabupaten Pelalawan, Faisal, perkembangbiakan ulat bulu, ditentukan oleh lingkungan biotik dan abiotik. Saat ini kondisi lingkungan abiotik sangat mendukung perkembangbiakan ulat bulu karena hujan yang terus menerus. Keadaan ini menyebabkan perkembangbiakan atau aktivitas predator, patologis dan patogen musuh alami ulat bulu lebih lambat. 
Hujan berkesinambungan juga menyebabkan pertumbuhan tanaman inang menjadi subur sehingga ulat bulu memperlihatkan sifat alaminya, yakni bertelur banyak.   Maka dari itu, jelasnya, perusahaan mengembangkan pembasmian hama ulat bulu melalui predator Sicanus. Dengan demikian, tidak ada lagi yang namanya, ulat bulu berkeliaran leluasa di areal perkebunan sawit. 
‘’Daripada kita mempergunakan peptisida tentulah berdampak buruk pada ekosistim disekitar tanaman sawit. Bahkan bisa membunuh binatang lain pemangsa ulat bulu. Perkembangbiakan ulat bulu inilah yang sudah dilakukan perusahaan dengan pengembangan Sicanus,’’ ujarnya.  
Sicanus, jelasnya, sangat cekatan menangkap buruannya. Bila predator ini menemukan ulat bulu langsung seekor ulat bulu sampai habis dalam hitungan detik. Tanpa ampun Sicanus menghisap cairan ulat bulu yang ditemukannya. ‘’Namanya juga predator, pastilah tidak ingin mangsanya lepas,’’ ungkapnya. 
Sicanus merupakan predator yang baik untuk pengendalian ulat buluyangtingkat perkembangbiakannya juga cepat sehingga bisa menangkal ulat bulu dengan cepat sesuai dengan pola perkembanganbiakan ulat bulu. Dalam keadaan tertentu saat dapat melakukan fungsi predatornya terhadap ulat bulu maka keseimbangan Sicanus juga tinggi.*** 
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province