Minggu, 14 Agustus 2011

For Us: Mengikat Sungai Siak dengan Jalur Hijau

 Mengikat Sungai Siak dengan Jalur Hijau


Hempasan ombak berasal dari mesin kapal besar maupun kecil yang melalui Sungai Siak menghantam keras pinggiran sungai.Tanpa ada pengikat berupa pohon dan tanaman, tanah dari pinggir sungai terlihat turun kedalam air secara berlahan. Bila dibiarkan berlarut tanpa pengikat berupa jalur hijau di sepanjang sungai, abrasi akan terus terjadi setiap harinya.

Laporan Mashuri Kurniawan Pekanbaru 
mashurikurniawan@riaupos.co.id

Penelusuran Riau Pos  ditepian sungai ini dengan menggunakan sampan, akhir pekan lalu terlihat jelas hamparan perkebunan kelapa sawit berjejer rapi. Lahan tutupan berupa hutan disepanjang sungai sudah berubah menjadi perumahan masyarakat, pergudangan, pabrik, dan lahan perkebunan. Jalur hijau masih sangat kurang disepanjang kiri dan kanan pinggiran sungai.
Di wilayah hilir, air sungai masih dapat digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus. Bahkan kebutuhan air bersih dipasok dari Sungai Siak. Tetapi sekitar 10 tahun terakhir ini, air sungai tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai air minum, mandi dan cuci, karena fisik dan kimia air berubah.
T  Ariful Amri dari Rona Lingkungan Riau, menjelaskan, kondisi aliran Sungai Siak sudah rusak parah. Pengikat jalur hijau berupa pohon berubah fungsi karena ulah tangan manusia. Selain limbah pabrik, penebangan pohon disepanjang aliran  sungai kebanggaan masyarakat Riau ini salah satu penyebab rusaknya ekosistem sepanjang aliran sungai.
Terjadinya secara terus menerus pengrusakan jalur hijau disepanjang alirannya, sambung Ariful, menyebabkan terjadinya abrasi setiap hari. Sedikit demi sedikit tapi pasti, tegasnya, tanah dipinggiran masuk kedalam Sungai Siak.   Kondisi ini memperburuk kondisi Sungai Siak. Ditambah lagi,  beroperasinya pabrik dan perkebunan sawit.
Menurut dia, kerusakan jalur hijau  disepanjang Sungai Siak selain karena penebangan secara liar juga limbah tambahan kimia yang berasal dari pabrik dan kapal. Kemudian, kehidupan manusia yang  juga tinggal ditepi sungai dinilai sebagai penyumbang limbah. Limbah berupa plastik, besi, karet, dan bentuk lainnya kedalam sungai memang harus dihentikan.
‘’Pembangunan  pabrik  di aliran Sungai Siak dari peraturan perundang-undangan, di sepanjang sungai ini memang tidak bermasalah. Tapi masalahnya muncul ketika dihadapkan pada daya dukung sungai untuk menampung limbah. Pastinya pohon dan tanaman pengikat yang menjaga keseimbangan ekosistim sungai rusak karena limbah itu,’’ terangnya.
Untuk itulah perlu kesadaran masyarakat  secara bersama menjaga jalur hijau sepanjang aliran sungai. Dengan cara melakukan penanaman pohon, sambungnya, perlu dilaksanakan dimulai dari sekarang, sebelum abrasi terus menghancurkan tebing pinggir sungai.
‘’Menanam pohon disepanjang Sungai Siak diyakini bisa menjaga keseimbangan ekosistem sungai dan memberikan dampak baik bagi kelangsungan hidup biota air. Ini tentunya harus dilakukan secara bersama,’’ imbuhnya.
Permasalahan Sungai Siak terangnya, terkadang sulit untuk dimengerti oleh mereka yang memiliki dana. Perubahan lahan yang seharusnya diperuntukan menjadi hutan penyanggah dan daerah resapan, disepanjang sungai tidak dijaga dengan baik. Alhasil, sambungnya, karena ulah orang berduit  air mengalir deras ke daratan. Kondisi inilah yang menyebabkan banjir selalu saja terjadi.
Daerah resapan , ulas  Ariful, memegang peranan penting dalam menjaga ekosistem sebuah sungai. Mengembalikan daerah resapan dengan menggalakkan kembali penanaman pohon dan menjaga kebersihan sungai.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pekanbaru, Adriman mengatakan, pertumbuhan populasi penduduk, memberikan banyak pengaruh terhadap sungai dan lingkungan sekitarnya. Pemukiman baru berkembang . Sungai mulai mengalami kehilangan fungsi dan penurunan kualitas lingkungannya.
‘’Pendangkalan sungai yang terjadi lebih banyak dikarenakan  faktor alam maupun ulah manusia. Tidak diimbangi dengan penanaman pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan lainnya, disepanjang sungai bisa menyebabkan turunnya tanah ke dalam sungai karena  dihempas ombak,’’ ungkapnya.
Menurutnya, kesadaran  akan pentingnya penghijauan disepanjang sungai saat ini masih sangat kurang. Bila Sungai Siak diikat dengan jalur hijau bisa berdampak baik  bagi lingkungan sungai. Sebab, fungsi pohon diantaranya bisa menyerapkan air ke tanah, mengikat butir-butir tanah, mengikat air dari pori tanah dengan kapilaritas dan tegakan permukaan.
Akar pohon berfungsi menyerap air hujan ke tanah, sehingga tidak mengalir sia-sia.
Selanjutnya, akar pohon mengikat air dipori tanah dan menjadikan sebagai cadangan air di musim kemarau. Sehingga ketersediaan air tanah secara berkesinambungan tetap terjaga dan menjadikan debit mata air, sungai dan danau tetap besar,
Fungsi jalur hijau lainnya, sambungnya, sungai tidak  terjadi kekeringan pada musim kemarau dan pada musim penghujan bencana banjir tidak terjadi. Akar pohon juga mengikat buti-butir tanah sehingga dapat mencegah terjadinya erosi dan terjadinya tanah longsor.
‘’Pohon-pohon dihutan mendaur ulang hujan dan membangun iklim mikro terjaga, kelembaban terkendali dan curah hujan turun. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan secara sederhana menyimpulkan semakin tinggi pohon yang tumbuh subur diatas tanah akan semakin memberi manfaat yang lebih bagi eositim sekitarnya,’’ kata Adriman.
Penyempitan Areal
Resapan Air
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau, Fadrizal Labay menambahkan, Kota Pekanbaru merupakan daerah yang sedang membangun dan mempunyai potensi untuk terus berkembang. Kemajuan sektor pembangunan perdagangan, industri seperti pengolahan sawit dan karet yang berada di daerah hulu, aktifitas masyarakat di sepanjang bantaran sungai sangat mempengaruhi kualitas lingkungan yang ada di sekitarnya. 
Fadrizal menjelaskan, kurangnya jalur hijau di Sungai Siak menyebabkan endapan sedimentasi akibat abrasi di kiri kanan daerah aliran sungai semakin tinggi  Kondisi ini diperparah dengan aktivitas masyarakat di sepanjang sempadan sungai.
Pembukaan areal kebun sawit, karet, perluasan permukiman, dan lain-lain yang mengakibatkan berkurangnya luasan daerah aliran sungai dan tanaman khas sempadan sungai yang berdampak terhadap ekosistem di perairan sungai. Masyarakat sekitar diharapkannya, bisa menjaga lingkungan sekitar dengan cara menanam pohon disepanjang pohon.
‘’Bukan menebang pohon, tetapi menanam pohon disepanjang sungai. Dengan demikian aan mengikat Sungai Siak. Langkah ini harus dilakukan segera, agar generasi masa mendatang bisa menikmati sejuknya aliran sungai,’’ ujar Fadrizal.
Menurut Fadrizal, penghijauan lingkungan adalah solusi utama untuk mengatasi banjir   agar tidak terus terulang lagi dan terulang lagi. Minimnya area resapan air mengakibatkan aliran air hujan di permukaan tanah akhirnya akan menggenang dan menimbulkan banjir. Selain berfungsi sebagai area resapan air dan ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau ini semakin penting artinya dalam mendukung program mengatasi pemanasan global.
   Aliran Sungai Siak memang harus ditanam pepohonan. Dengan demikian, daerah resapan air bisa terjadi. Air Sungai tida akan meluap dengan cepat menuju daratan. Masalah inilah yang juga perlu mendapatkan perhatian serius seluruh elemen masyarakat di Kota Pekanbaru, khususnya yang tinggal di bantaran sungai.
   Penghijauan hutan kembali di areal hulu Sungai Siak  mutlak harus dilakukan, agar daya resap air hujan semakin optimal serta tidak langsung masuk ke areal sungai. Hal yang mendesak lainnya adalah dicari solusi agar air hujan terutama dengan kapasitas curah yang tinggi, dapat ditahan atau ditunda alirannya jangan langsung sekaligus tumpah ke daratan.
    Selanjutnya, jalur hijau sepanjang aliran Sungai Siak merupakan solusi tepat untuk mengatasi segala bencana akibat kerusakan lingkungan seperti banjir. Jika program penghijauan lingkungan dari hilir sampai dengan hulu Sungai Siak dilaksanakan dengan baik, maka permasalahan banjir bisa diatasi dengan baik.
Nelayan Tak Bisa
Mencari Ikan   
Pemandangan disepanjang Sungai Siak siang itu, terlihat sebuah perahu penyeberangan mengangkut beberapa orang warga. Perjalanan menelusuri sungai siang itu Riau Pos didampingi Azhar (38). Sampan milik bapak dua anak ini berlayar menelusuri tepian sungai dibawah pepohonan hijau Udaranya terasa sepoi dan dingin siang itu. 
Hutan sepanjang sungai banyak di huni kera, ular, babi hutan dan burung. Terkadang disepanjang sungai juga terlihat rusa minum dipinggiran sungai. Tanah rawa disepanjang sungai menjadi sumber kehidupan bagi ikan dan udang kecil. Penghuni sepanjang sungai tersebut, terus terancam kelangsungan hidupnya karena jalur hijau rusak parah.
Azhar bercerita, banyak penduduk sekarang ini menjadi pengayuh perahu penyeberangan. Dahulu penduduk sepanjang aliran Sungai Siak lebih banyak sebagai nelayan. Pekerjaan yang paling banyak  pencari ikan dan udang untuk dikonsumsi sendiri maupun di jual. Namun lanjutnya, kondisi sungai sudah tidak bagus lagi. Pepohonan hijau disepanjang sungai  secara berangsur rusak.
‘’Biasanya, ikan banyak yang hidup dibawah akar pohon sepanjang sungai, khususnya udang. Sekarang sudah sulit. Pohon sepanjang sungai mulai berangsur habis. Katanya air sungai juga sudah tercemar limbah. Sudah serba sulit sekarang ini,’’ ungkapnya.
Dari penuturannya,  pada tahun 1980-an, disepanjang sungai masih alami. Banyak pohon besar dan tanaman-tanaman tumbuh liar di pinggiran aliran sungai tersebut. Akar pohon menancap ke dalam tanah dan melindungi tanah di sekitar. Tumbuhan di sepanjang aliran sungai tersebut berperan sebagai daerah resapan. Pertahankan jalur hijau memang harus dilakukan sepanjang aliran Sungai Siak.***
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province