Minggu, 14 Agustus 2011

GSJ News: Cacing Tanah, Sang Penyelamat Bumi

Cacing Tanah, Sang Penyelamat Bumi


Masih seringkah isu global warming terngiang di telinga kita? Mungkin tidak sesering pertama kali isu tersebut beredar ke ranah publik. Santernya berita pemanasan global mungkin mulai surut, akan tetapi yang masih jelas tergambar adalah kondisi lingkungan yang buruk yang muncul sebagai akibat dari perubahan iklim ekstrim.
Memburuknya kondisi iklim di bumi yang berkepanjangan menyebabkan sulitnya berspekulasi untuk memperkirakan gambaran kondisi bumi di masa yang akan datang. Bahkan dengan semakin maraknya penggundulan hutan yang seyogyanya sering disebut-sebut sebagai paru-paru dunia, penanaman seribu pohon pun tak langsung dapat mengobati penyakit yang sedang diderita oleh bumi.
Lalu, apa hubungan antara cacing tanah dengan global warming? Di dalam tulisannya, Rob J. Blakemore menyebutkan, jika kita berbicara tentang gas rumah kaca dan pemanasan global, posisinya berada di lapisan litosfer, bukan di lautan atau di pepohonan.
Secara langsung lautan dan tanah bertindak sebagai penyerap karbon global utama, bukan di lapisan litosfer. Manajemen yang dalam pengolahan tanah dan pelestarian hutan secara tepat adalah mekanisme yang paling praktis untuk menyerap karbon atmosfer tanpa efek samping.
“Karbon yang menjadi penyebab global warming dapat diserap oleh tumbuhan melalui stomata dan akar, tapi akar tidak dapat secara langsung menyerap karbon,” jelas Ridho Christina, mahasiswi Universitas Riau
“Melalui cacing sebagai agen recycle sesungguhnya yang memakan bahan organik di dalam tanah dan mengubahnya menjadi bahan anorganik sehingga dapat di serap oleh akar tumbuhan, sehingga bumi terselamatkan dari emisi karbon” lanjut mahasiswa yang tengah meneliti cacing tanah untuk proses tugas akhirnya, menjelaskan dengan semangat.
Apakah cacing dapat membantu menyelamatkan planet ini? Jika ada kelompok hewan yang tidak boleh punah demi kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi, maka yang pertama kali adalah cacing tanah. Karena 90 persen asupan makanan di bumi berasal dari lingkungan terrestrial (daratan-red) dan setiap tanah yang sehat pasti pernah melewati usus cacing.
“Meski penting dan besar artinya bagi masa depan kehidupan di bumi, tidak begitu banyak orang yang menghiraukan cacing tanah bahkan merasa enggan untuk melihat dan jijik untuk menyentuhnya,” ucap Ridho.
“Minimnya penelitian dan literatur mengenai cacing tanah menyebabkan tidak banyak masyarakat tahu peranan cacing tanah di dalam ekosistem selain berperan sebagai ‘penyubur tanah’ dan ‘umpan pancing’ itu saja”, tambahnya.(diah-gsj/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province