Kamis, 22 September 2011

Info Green, 18 September 2011-Kehidupan di Rumpun Bambu dan Diving di Puncak Gunung Api

 RUMPUN BAMBU: keberadaan rumpun bambu yang kadang dianggap tidak penting ternyata mampu menguraikan limbah. 
Kehidupan di Rumpun Bambu
Menanam jutaan hingga milyaran pohon telah menjadi program resmi pemerintahan Indonesia. Namun pohon yang ditanam tidak jauh dari pohon pelindung ataupun buah-buahan. Bagaimana dengan bambu? Keberadaannya sebagai tanaman tradisional tidak banyak dilirik orang. Selain itu, bambu juga tidak dinyatakan sebagai tanaman langka. Ironisnya masih mudahkah bambu ditemukan saat ini? Terutama di kota-kota besar?

Di Indonesia, sebanyak 88 dari 159 jenis bambu merupakan tanaman endemik, dan 56 jenis diantaranya berfungsi secara ekonomis. Sementara jumlah bambu diseluruh dunia adalah 1.250 dengan 75 marga.  Tidak banyak yang tahu peran bambu bagi lingkungan.  Padahal, bambu merupakan tanaman yang  mampu bertahan hidup ketika bom atom diledakkan di Nagasaki dan Hiroshima, pada masa Perang Dunia Dua (PD II). Beragam manfaat bambu lainnya, mampu memberi kehidupan bagi habitat di sekitarnya. Tanaman bambu gampang berkembang secara cepat dan merupakan pelindung tanah dari kerusakan serta erosi. Selain itu, Bambu mampu menghambat banjir bandang karena batangnya yang lentur dan kuat. Tidak hanya itu, akar-akar bambu memiliki aerobik rhizosphere yang mampu menguraikan limbah. Hal inilah yang menyebabkan hutan bambu mampu menyaring air sehingga menjadi jernih. So, jangan lupa untuk menanam dan merawat bambu juga ya.(tya-gsj/int/new)

Diving di Puncak Gunung Api
Pernahkah Anda membayangkan berenang atau melakukan aktifitas air lainnya seperti diving dan snorkling di puncak gunung api? Nah, kesempatan langka seperti itu bisa Anda nikmati di dekat Pulau Mangehetan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Wisata bahari seperti ini hanya ada di Indonesia dan merupakan satu-satunya di dunia.
Pulau Mangehetan memiliki keunikan berupa gunung api bawah laut. Gunung Api tersebut hanya berjarak sepuluh meter dari permukaan laut yang jernih. Sehingga para perenang atau pengunjng dapat menikmati gelembung-gelembung udara yang keluar dari perut gunung. Anda juga tidak perlu khawatir akan kedinginan di dalam air, karena berkat gunung api ini suhu air di sekitar pulau menghangat hingga 60 derajat celcius. Kelompok Swadaya Masyarakat Komunitas Mandiri Sangihe (KSM Komasa) telah menjadikan keunikan tersebut menjadi ikon wisata bahari Sulawesi Utara. Anda yang ingin berwisata ke pulau ini juga tidak perlu khawatir karena akses transportasi sangat mudah dan gampang di sini.(tya-gsj/int/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province