Kamis, 22 September 2011

Save The Earth: Masyarakat Modern Versus Sampah dan Konfrensi Pemuda Ramah Lingkungan

Masyarakat Modern Versus Sampah
istimewa
SAMPAH: Membuang sampah pada tempatnya harus diberikan kepada generasi muda sejak dini. Agar kedepan bumi menjadi ramah lingkungan.
MASYARAKAT  modern adalah masyarakat yang melek teknologi. Padahal hakekatnya, perilaku mereka terhadap lingkungan menjadi indikator identitas modern tersebut.

Hal itu dituturkan oleh Faisal Rani, Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau kepada Riau Pos (15/9) lalu. Ujung dari paradigma modernisasi yang dianut oleh masyarakat kita saat ini adalah kemajuan teknologi. Namun teknologi yang tidak berwawasan lingkungan akan merugikan manusia itu sendiri, tambahnya.
Faisal mencontohkan pada negara Jepang yang terkenal sangat santun dalam berlingkungan. “Jepang merupakan budaya timur yang modern, namun karakter masyarakatnya sangat peduli terhadap lingkungan. Karakter tersebut terbentuk bukan secara otodidak, namun telah mengakar, terjadi secara bertahap dan sangat sistematis. Sehingga tidak salah jika Jepang terkenal dengan kota-kotanya yang bersih,” paparnya Dosen yang mendapat gelar S3 dari Universitas Malaysia ini.
Jangan salahkan jika kemudian masyarakat kita mengetahui beragam teknologi tingkat tinggi. Namun ketika memakan buah pisang di mobil mewah mereka, dengan tanpa basa-basi mereka membuang kulitnya ke jalanan. “Ini merupakan karakter dan pola pikir masyarakat,” lanjutnya.
Karakter inilah yang harus dirubah secara sistematis jika ingin menghasilkan masyarakat modern yang seutuhnya. Dalam artian, bukan hanya bersaing dibidang pembangunan teknologi, namun juga santun pada lingkungan.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau, Fadrizal Labay, bahwa masyarakat dulu yang sangat tradisional sekalipun memiliki khazanah atau tradisi yang sangat menghargai lingkungan. Itu lah makanya orang melayu punya sikap yang disebut dengan kearifan lokal. Yaitu kearifan yang seharusnya menjadi panutan bagi generasi muda, terutama dalam menjaga alam.
“Jadi jika masyarakat modern adalah masyarakat yang juga menghargai lingkungan terkadang sangat tidak tepat,” ungkapnya. Hal itu bisa dilihat dari pembangunan, lanjutnya, pembangunan gedung-gedung bertingkat kadang tidak dibarengi dengan pembangunan mind set individual. Sehingga kearifan lokal dalam menjaga  lingkungan yang telah menjadi tradisi orang Melayu, sedikit demi sedikit raib seiring dengan munculnya budaya modern.
Berapapun undang-undang yang dibuat oleh pemerintah tentanng lingkungan tetap tidak akan berguna maksimal, jika wawasan masyarakat tentang penjagaan lingkungan bukanlah bagian dari diri mereka.
Saat ini, rata-rata masyarakat Pekanbaru menghasilkan sampah rumah tangga sebanyak 180-280 ton per  hari. Jumlah ini akan meningkat drastis pada hari raya seperti lebaran, natal, imlek dan sebagainya.
Ini baru sampah yang dibawa oleh truk pengangkut sampah dari Tempat Pembuang Sampah (TPS) resmi. Belum termasuk di TPS-TPS yang tidak resmi dan sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan di jalan-jalan, got, dan tempat-tempat lainnya.
Jadi jika kita ingin dicap sebagai masyarakat modern, maka cobalah untuk tidak mengotori tempat-tempat disekitar kita dengan sampah yang kita produksi secara individu. Minimal, jika tidak menemukan tempat sampah, kantungi dulu permen atau pembungkus makanan yang kita gunakan. Kemudian dibuang setelah menemukan tempat sampah.
Sikap ini sangat simple, namun kita telah menjadi bagian dari masyarakat modern sekaligus telah menjaga kearifan lokal dengan tidak membuang sampah sembarangan.(tya-gsj/new)

Konfrensi Pemuda Ramah Lingkungan
 
 internet
KONFERENSI TUNZA: Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi  TUNZA tahun ini, yaitu konferensi  anak muda se-dunia tentang lingkungan hidup.
KONFRENSI  TUNZA merupakan Konferensi International yang diikuti oleh anak- anak (10-14 tahun) dan  pemuda (15-25 tahun) dari seluruh negara dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali. TUNZA International Children and Youth Conference On the Environment 2011 rencananya dilaksanakan 27 September-Oktober 2011 di Bandung.
Konfrensi ini untuk meningkatkan  kepedulian dan kesadaran generasi muda dunia akan pentingnya green economy, green lifestyles, forests, sustainable consumption and state of the global environment. Dengan demikian diharapkan tumbuh rasa kepedulian yang tinggi untuk lingkungan hidup melalui proses edukasi, kerjasama dan pertukaran informasi.
Hasil dari kegiatan ini akan berupa deklarasi yang akan dinamakan Deklarasi Bandung  dan menjadi masukan United Nations Conference on Sustainable Development “Rio+20?, sebagai posisi generasi muda dunia untuk RIO +20? Pembangunan Berkelanjutan.
Menteri Negara lingkungan Hidup,  Gusti  Muhammad Hatta, menekankan bahwa generasi muda merupakan kunci bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia. Generasi muda merupakan pemimpin dunia masa mendatang. Generasi inilah yang menurut Gusti bisa memperjuangkan bumi untuk tetap ramah lingkungan. Pola masyarakat agar bisa memlihara pohon, hemat energi, mengurangi polusi bisa dilakukan dengan program ini.
Kegiatan konferensi ini rencananya akan dihadiri oleh 1.500 orang yang berasal dari 180 negara. Ini menjadi salah satu strategi diplomasi lingkungan hidup khususnya dalam mempersiapkan generasi muda untuk memimpin dunia di bidang lingkungan hidup.(int/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province