Sabtu, 12 November 2011

Info Cagar Biosfer: Masyarakat di GSK-BB Simbiosis Mutulisme dengan Alam

Masyarakat di GSK-BB Simbiosis
Mutulisme dengan Alam



Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) semakin mendunia semenjak digelarnya Workshop Internasional South-South Cooperation (SSC), awal Oktober lalu. Dalam hal tersebut, pemerintah dan pihak swasta bekerjasama dengan pihak luar negeri untuk mengembangkan cagar biosfer tersebut. Baik dalam perekonomian, sosial, politik dan budaya masyarakat yang tinggal di GSK-BB. Partisipasi dari  berbagai pihak untuk mengembangkan cagar biosfer tersebut sangat berpengaruh dengan hiruk pikuk kehidupan masyarakat disana. 


Dari sektor pertanian, masya­rakat mempunyai peluang besar untuk meningkatkan perekonomian dari dari hasil pertanian tersebut. begitu juga dengan perkebunan dan peternakan, hal tersebut akan sangat membantu meningkatkan pe­rekonomian serta kesejahteraan masyarakat sendiri. Sebab, hasil dari pertanian, perkebunan, peternakan yang mereka kelola adalah merupakan suatu keunikkan ter­sendiri. Semua yang mereka lakukan adalah contoh pemanfaatan hasil alam yang baik dan mempunyai prosedur sehingga tidak merusak alam itu sendiri. Selain itu, peningkatan dari segi ekonomi akan terbantu juga dari kebiasaan mereka nelayan. Nelayan di tasik-tasik (danau) yang ada di GSK-BB adalah salah satu upaya pemanfaatan hasil alam yang memiliki dampak negatif, mereka sangat menghargai alam. Kekayaan alamlah yang membuat mereka bisa menggantungkan masa depan anak cucu mereka nantinya.

Kehidupan mereka tak jauh dari budaya yang melekat seolah sejak lahirnya GSK-BB. Kekentalan budaya melayu yang didukung dengan nilai agamais mereka yang mayoritas menganut agama islam ini, semakin menggambarkan betapa eratnya ikatan rohaniah mereka satu sama lain.” Keseharian mereka masih sangat tradisional sekali, mereka senantiasa berinteraksi dengan alam. Dari pagi mereka mulai beraktifitas hingga malam tiba, yang mereka lakukan tidak jauh dari alam. Begitu juga dengan perlengkapan maupun peralatan yang mereka gunakan sehari-hari. seperti halnya memancing, mereka menggunakan alat yang terbuat dari bambu yang diberi nama lukah. Mereka tidak ingin menggunakan alat-alat atau tambahan zat kimia untuk menangkap ikan, karena mereka bergantung pada alam dan tidak ingin merusaknya. Demikian halnya juga dengan memasak, menggu­nakan tungku yang sederhana saja. Serta tak rayal mereka berinteraksi dengan alam karena hubungan keduanya saling bergantungan,” ujar Herfita Staff Falgship SinarMas Forestry.

Mata pencaharian masyarakat disana rata-rata adalah nelayan. Banyaknya tasik-tasik yang kaya akan hasilnya menjadikan nilai ekonomi tersendiri bagi mereka. “Kehidupan mereka sepertinya tidak bisa dilepaskan dari alam GSK-BB , sebab manfaat alam itu sendiri merupakan jembatan bagi kehidupan mereka kelak. Justru karena itu mereka tetap mengupayakan kelestarian alam tanpa harus merugikan diri mereka sendiri dengan merusak alam, yah kehidupan mereka dengan alam GSK-BB saling bergantungan,” tutup wanita 31 tahun Staff Flagship SinarMas Forestry tersebut.(pia-gsj/new)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province