Sabtu, 12 November 2011

Our Green Inspiration: (Yuyun Ismawati) Bali Fokus Berantas Sampah Bali

Yuyun Ismawati
Bali Fokus Berantas Sampah Bali

Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya. Ini jugalah yang mengundang banyak wisatawan baik domestik maupun dari luar negeri untuk mencecap indahnya Bali. Tapi, ada masalah utama yang paling penting dibalik keindahan panorama alam bali. Sampah, ya setiap wisatawan yang mendatangi dan kemudian meninggalkan Bali akan meninggalkan rata-rata lima kilogram sampah per orangnya. Sungguh ironis memang. Inilah yang mengetuk pintu hati insinyur lingkungan hidup Indonesia ini. Dialah Yuyun Ismawati.

Masa kecilnya sebagai seorang anak tentara amatlah disiplin. Sejak menikah ia hidup berpindah-pindah. Setelah menjadi konsultan air bersih di Bandung. Ia lalu pindah ke Jakarta dan menjadi konsultan lingkungan di Amdal (Analisa Dampak Lingkungan). Lalu karena tak puas ia pun putar haluan lagi menjadi dosen Trisakti.
Akhirnya jalan hidupnya pun mengantarnya ke Bali pada tahun 1996 ketika mengikuti suaminya yang seorang arsitek dan mendapatkan proyek di sana. Lalu, pada mulanya ia ingin menjadi relawan di Yayasan Wisnu, sebuah LSM lingkungan di Bali. Namun, karena dianggap sangat berkualitas ia pun diangkat menjadi direktur untuk mengembangkan yayasan tersebut. Bahkan, hanya ada dana 250 ribu di rekening dua orang staf ketika itu.
Sampah  yang pertama kali mengusik hatinya ketika sampai di Bali. Karena itulah ia pun ingin berfokus untuk menanggulangi sampah. Dan bersama empat orang temannya mendirikan LSM sendiri pada Juni 2000 yang diberi nama Bali Fokus.
Menurutnya masalah sampah itu sustainable business, karena selama orang masih berkutat dengan sampah, maka bisnis akan terus berjalan. Perjuangannya cukup berat karena harus menjelaskan kepada masyarakat dan ketika itu belum ada seorang pun yang peduli terhadap sampah.
Namun, perjuangannya kembali mendapatkan cobaan pada akhir tahun 2007. Ia bersama dua kawannya dari US, India dan Filipina, ditangkap polisi Bandung dan ditahan selama 24 jam atas aktivitasnya. Ketika itu ia menolak dibangunnya pembangkit listrik tenaga sampah yang hanya berjarak 200 meter dari permukiman yang ditengarai memiliki dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Bahkan untuk itu ketiga kawannya dideportasi. Tapi, ia tetap tidak kapok dan masih terus berjuang untuk menyuarakan berbagai hal yang mengancam kesehatan manusia dan juga efek dari rumah kaca.
Namun, semua perjuangannya itu berbuah manis. Ia menjadi salah satu dari Heroes of Environtment 2009 versi majalah Time. Tak hanya itu saja, penghargaan bergengsi dalam bidang lingkungan pun disabetnya, yakni The Goldman Environmental Prize juga pada tahun yang sama. Itulah Yuyun Ismawati, meski banyak rintangan yang dihadapinya bahkan menjadi single parent karena berpisah dengan suaminya pada tahun 2003 tak membuatnya patah arang untuk tetap bersemangat menjaga lingkungan. (afra-gsj/int/new)

"Sampah adalah persoalan nyata yang dialami oleh setiap manusia”
Yuyun Ismawati

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province