Sabtu, 12 November 2011

Penanggulangan Sampah: (Azwarly Hanef) Pikir Ulang (Rethink)

Pikir Ulang (Rethink)

Bicara soal sampah, saya ingat dengan film Wall-E. film ini bercerita tentang robot pintar dengna setting tahun 2110,  yang tugasnya  mengumpulkan sampah lalu diolah menjadi sebuah bentuk kubus dan menjadikannya bertumpuk tumpuk menyerupai gedung gedung. Wall-E satu-satunya robot sampah yang masih ada di bumi, sementara manusia meninggalkan bumi dan melakukan perjalanan dengan pesawat canggih luar angkasa mengelilingi antariksa. Sesekali manusia akan mengirimkan robot pencari tumbuhan ke bumi untuk memastikan sudah bolehkan manusia pulang kembali ke planet mereka.

Dalam film tersebut ditunjukkan bahwa mulai tahun 2110 kea­daan lingkungan di bumi sudah semakin parah dan tak mungkin lagi bisa ditinggali oleh manusia karena racun yang dikeluarkan oleh sampah-sampah tersebut. Dari tahun 2011 menuju 2110 itu berarti hampir satu abad la­gi.­ Masih lama kah? Atau malah terlalu cepat? Mau cepat atau lambat pun, serta terlepas dari prediksi tentang keadaan bumi di masa depan, sampah sudah menjadi masalah yang sulit untuk ditanggulangi. Benarkan kan? Jawablah dengan nurani dan logika kita.
Membersihkan lingkungan dari sampah tidak bisa secara instant, karena ini menyangkut pola pikir dan mindset seseorang. Misalnya saja masyarakat Jepang. Dalam masyarakat negeri matahari terbit tersebut tertanam nilai-nilai moral yang disebut rasa malu. Malu jika membuang sampah sembarangan. Terbalik dengan Negara Indonesia (saya, minta maaf untuk Indonesia dengan contoh ini), teman-teman saya sering menertawakan saya sebagai orang yang terlalu patuh aturan hanya karena saya membuang sampah pada tempatnya. Apa yang salah dengan itu? Pola pikir, itu jawabnya.
Jepang merupakan negara  ma­ju, namun bukan hanya itu yang menyebabkan perbedaan dalam menanggulangi sampah. Namun bila harus diuraikan maka tidak akan ada habisnya, karena selain faktor perbedaan lingkungan dan teknologi, faktor kebiasaan ma­syarakat suatu negara pun sangat mempengaruhi pengelolaan sampah yang ada. Tidak akan ada habisnya bila harus membicarakan faktor faktor yang mempengaruhi pengelolaan sampah. Selain karena begitu banyak faktor yang ada, terlebih lagi hampir semua faktor terikat bagai sebuah mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain.
Faktor lain yang kita tahu dengan penambahan jumlah sampah adalah peningkatan teknologi. Semakin berkembangnya teknologi maka semakin banyak pula barang-barang baru yang dihasilkan. Nah, dari sini masalah yang besar mulai muncul, bila merujuk kepada film Wall-E, maka akan kita lihat bahwa sampah yang bertebaran itu hampir seluruhnya merupakan barang elektronik. Maka, bila penanganan mengenai sampah barang elektronik ini akan menjadi rumit untuk dilakukan oleh orang orang khususnya di lingkungan rumah tangga. Terlebih jika kita mengaitkan dengan aspek semakin berkurangnya lahan kosong dan hijau karena pembangunan terlalu gencar terjadi tanpa memperdulikan dampaknya terhadap lingkungan. Meskipun Negara ber­kem­bang, Indonesia tidak luput dari persoalan ini, lihatlah berapa banyak impor barang-barang elektronik ke negara ini? Hal itu berarti sampah baru.
Jika sudah begini, lalu bagaimana seharusnya pengelolaan sampah yang sebaiknya dilakukan ? keadaanya maka program terbaik yang dapat dilakukan ialah melaksanakan 5R (reuse, recycling reduce, rethink and replace). Nah, rethink, atau berpikir ulanglah yang ingin saya tekankan di sini. Pikir ulang untuk membuang sampah tidak pada tempatnya. Apakah kita akan malu dengan ejekan orang yang memiliki mindset kuno atau peduli dengan masa depan bumi yang lebih modern namun juga lebih bersih?***

kiriman
Azwarly Hanif
Mahasiswa Teknik Informatika
UMRI Pekanbaru
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province