Senin, 21 November 2011

Save The Earth: Kantor Ramah Lingkungan, Tidak Butuh AC

Kantor Ramah Lingkungan
Tidak Butuh AC

foto: dokumen oranye design  for  riau pos
GARDEN WALL: Dari pintu masuk jejeran bambu sebagai garden wall seolah mengucapkan selamat datang.

Pernahkah Anda membayangkan dalam kondisi cuaca Pekanbaru yang kerap gerah sebuah kantor tidak punya air conditioner (AC)? Asumsinya ada dua, pertama, kantor tersebut tidak punya anggaran dalam artian masih konvensional. Kedua, mereka memang memiliki sistem bangunan yang ramah lingkungan.

Nah, itulah yang dialami oleh tim Riau Pos-For Us ketika memasuki kantor di kawasan Jalan Palapa, Sukajadi. Suasana sejuk dan tenang menyapa kami yang datang menjelang siang. Namun jangan heran karena Anda tidak akan menemukan AC di sini.

Disamping kanan bangunan ditembok parmanen dengan semen menyerupai dinding, namun menyisakan space/ruang kosong dengan bangunan utama. Tembok tersebut berfungsi laiknya pagar.

Jejeran bambu jepang, berwarna kuning dan berdaun mungilnya memastikan tembok itu menjadi eksotis dan ramah. Tanaman rumput yang sengaja dirambatkan menyusuri lapisan dinding tembok, menambah hijau suasana. “Bambu dan rumput yang merambat tersebut berfungsi sebagai garden wall,” tutur Dedi Ariandi, owner kantor yang bernama Oranye Design tersebut.

Garden wall merupakan taman yang ditata untuk melindungi dinding dari terpaan sinar matahari langsung. Letaknya pun bisa disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. “Jika area bangunan yang kerap mendapat sinar matahari langsung cukup luas untuk dijadikan taman kecil, maka Anda bisa menanam pohon dengan pokok besar dan rimbun di lokasi tersebut,” ujar Dedi begitu ia kerap dipanggil membagi tips tentang bangunan ramah lingkungan.

Bapak dua anak ini juga tak ragu membagi cara memilih tanaman untuk garden wall kepada pembaca Riau Pos-For Us. “Tanaman kecil seperti bambu juga cukup bagus sebagai alternatif bagi area halaman samping yang kecil atau sempit,” tambahnya. Pilihan untuk space/lahan bangunan yang sangat tidak memungkin ditanami pohon besar atau bambu mungil jatuh pada tanaman merambat.

Tanaman itu bisa dijalarkan di dinding. Hasilnya, dinding atau tembok bangunan juga tetap dingin sehingga bangunan akan lebih hemat energi. “Tapi, berbagai pilihan tersebut juga kembali kepada selera pemilik bangunan, apakah menanam pohon besar, bambu ataupun tanaman rambat,” serunya memberi pilihan.

Namun, jika di sisi bangunan yang kerap mendapat sinar matahari langsung tidak tersedia area sedikitpun untuk ditanami tanaman, atau menginginkan tambahan intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah, maka pilihan berikutnya jatuhkan pada Water Wall (air yang mengalir di dinding). Fungsi utama water wall juga sama dengan garden wall yaitu mendinginkan rumah dengan nilai estetika yang bisa dinikmati dari dalam ruangan.
Berprofesi sebagai praktisi aristektur di Pekanbaru membuat Dedi selalu memperhatikan aspek-aspek lingkungan disetiap karyanya. “Pekerjaan arsitek berbeda dengan pelukis. Pelukis menuangkan karyanya di atas kampas, sebesar dan seluas apapun lukisan tersebut selama masih dipajang dan tidak dibuang maka tidak akan menghasilkan limbah,” jelasnya.

Namun, ungkapnya kemudian, pekerjaan arsitek merupakan pekerjaan pembinaan lingkungan. Di mana mereka membentuk lingkungan baru dengan bangunan yang mereka rancang. Design bangunan arsiktektur memiliki perencanaan matang. Mulai dari atap bangunan hingga fondasinya. Bahkan pipa-pipa yang tersembunyipun membutuhkan hitung-hitungan yang matang. Selain berefek pada cost pembangunan itu sendiri, rancangan tersebut juga akan berdampak pada lingkungan. Setelah bangunan selesai, maka akan menghasilkan berbagai limbah. Misalnya, limbah rumah tangga hingga limbah sisa bangunan.

“Oleh karena itu, pekerjaan arsitek sangat dekat dan bagian dari pekerjaan membina lingkungan. Jika arsitek tidak peduli terhadap efek baik dan buruk dari bangunan yang akan didirikannya. Maka dampaknya bisa sangat buruk terhadap lingkungan,” tegas arsitek yang telah ingin merancang bangunan dari usia empat tahun ini.

Namun, dengan kerendahan hati ia mengaku belum mampu mengembangkan bangunan yang ramah lingkungan dalam skala yang lebih luas. selain keterbatasan waktu dan finansial, pekerjaan tersebut biasanya dipegang oleh para perancang urban design (tata kota). Sehingga untuk kota yang lebih ramah lingkungan orang-orang dari perencanaan urban design memegang peranan penting.

Selain menerapkan konsep garden wall untuk mendinginkan ruangan, bangunan kantor Oranye Design juga memiliki sistem pencahayaan ruangan yang ramah lingkungan. “Siang hari intensitas cahaya yang masuk cukup terang, sehingga ketika bekerja kami tidak memerlukan cahaya lampu lagi. Jadi lebih hemat listrik, kan?” retorika alumni Universitas Katholik Parahyangan ini. Ia juga tengah menunggu penawaran dari perusahaan solar cell untuk memastikan bahwa sepenuhnya Oranye Design tidak akan tergantung lagi pada pasokan listrik PLN.

Lebih jauh memasuki kawasan kantor yang berkonsep minimalis tersebut, dari arah belakang akan tercium aroma bunga kenanga. Ditanya tentang kenapa menanam bunga dibelakang bangunan, ia menjelaskan bahwa “bunga kenangan sengaja jadi pilihan kami di sini, karena baunya yang harum dan berbunga sepanjang tahun.” Dedi juga menceritakan dibagian belakang kantornya merupakan got tempat saluran pembuangan bangunan dan masyarakat di sekitar kompleks tersebut. Jika mematikan pintu belakang dengan menembok, maka ruang bagian belakang akan menjadi gelap karena intensitas cahaya yang masuk berkurang. Sirkulasi udara juga terhambat. Sehingga siang haripun butuh lampu dan AC yang menerangi dan mendinginkan ruangan.

Nah dengan menanam bunga kenanga, maka bau dari got akan digantikan dengan harum kenanga. Sikap inilah yang dalam mitigasi perubahan iklim disebut dengan rethink. Berpikir ulang untuk melakukan atau memakai sesuatu yang tidak ramah lingkungan kemudian menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik terhadap lingkungan.

Dedi juga menyadari bahwa tidak semua dari bagian kantornya yang ramah lingkungan. “Kami masih memakai septi tank konvensional, karena septi tank biofil yang dapat mengolah limbah cair rumah tangga secara otomatis cukup mahal untuk diaplikasikan,” ungkapnya.

Satu dari seorang penggagas komunitas Nongkrong Bareng Arsitek (NBA) sejak Agustus 2010 lalu ini juga tak luput mengamati tentang dualisme bangunan ramah lingkungan. “Asumsi masyarakat kerap menyatakan bahwa penggunaan kayu yang berlebihan terhadap bangunan berkesan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu penggunan kayu diganti dengan baja ringan seperti aluminium,” terangnya. Namun faktanya, aluminium merupakan bahan tambang yang tidak bisa diperbaharui. Sementara digunakan hanya untuk sekali pakai. Selain itu, harga belinya juga sangat mahal. Hal ini juga tidak ramah lingkungan.

Untuk menghadapi itu semua, Dedi menyarankan pihak yang berwenang juga menjadikan pohon-pohon keras tersebut sebagai tanaman industri. Sehingga untuk mendapatknya juga akan lebih mudah dan murah, dan tidak perlu lagi menembang pohon dari hutan-hutan perawan yang semakin sedikit.

Kayu mahal karena langka dan berkesan merusak lingkungan. Namun jika diambil dari hasil kebun sendiri, ini telah membantu melestarikan alam dan mengembangkan pohon-pohon tersebut agar tetap ada.

Sebagai seorang arsitek yang kerap mendapat order dari para kliennya, Dedi selalu menyarankan design bangunan yang ramah lingkungan. “Namun semua kembali kepada klien sendiri, mereka nyaman dengan bangunan yang seperti apa itu hak klien untuk menentukan. Kita hanya membantu memberi pilihan, katanya terus terang.(tya-gsj)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province