Selasa, 20 Desember 2011

Cara Gaul Jaga Lingkungan (Teguh Budianto): Sentuhan Kreativitas

Sentuhan Kreativitas
 
Paradigma sekarang tentang anak muda yang identik dengan kebebasan berekspresi sepertinya patut diacungi jempol. Karena dengan adanya hal itu dapat memacu munculnya kreativitas anak muda yang terbiasa atau membiasakan dirinya berfikir di luar kotak (out of box), yaitu mencoba menembus batas-batas fikiran yang biasanya diakui oleh orang-orang kebanyakan.

Pola pikir seperti ini terbukti mampu memberikan benefit di bidang industri kreatif yang tidak mengesampingkan faktor perubahan pada lingkungan. Bahkan bisa dikatakan bahwa kondisi lingkungan dan kekhawatiran manusia menjadi sebuah inspirasi penuh bagi pelaku industri kreatif untuk bisa tampil di publik.
Sebagai contohnya, ada beberapa industri sepatu berskala rumahan yang tentunya dimotori oleh anak muda lahir dari sisa-sisa potongan kain batik yang melahirkan produk sepatu berkualitas dan punya gaya.

Lalu ada industri tas dan dompet yang lahir dari sisa-sisa wallpaper juga pada dasarnya mempunyai pola pikir yang sama, yaitu jika sisa-sisa benda tersebut dibuang maka sudah pasti akan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan, daripada dibuang lebih baik dimanfaatkan.

Adanya contoh-contoh sederhana tersebut rasanya patut kita jadikan teladan dalam hal menjaga lingkungan. Apa lagi jika kita mampu menghasilkan produk yang bagus tentu saja hal ini dapat mengangkat perekonomian kita pribadi. Faktor yang dirasa cukup penting saat kita mencoba untuk berkarya dari sisa-sisa barang bekas adalah dengan tidak melakukan plagiarism.

Kebanyakan dari mereka yang berkecimpung di dunia ini adalah dengan melihat kondisi di lingkungan sekitar mereka pribadi. Kita juga bisa mulai dari lingkungan sekitar kita, apa yang ada dan apa yang bisa kita perbuat.

Kita yang sudah jengah dengan perilaku sekumpulan orang yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan lingkungan, dan butuh cara baru untuk memberikan perubahan di publik mungkin bisa memilih cara ini dengan memproduksi suatu barang menjadi alternative kampanye kita terhadap lingkungan. Dengan demikian, orang-orang yang dahulunya tidak peduli sekalipun, secara tidak langsung ternyata juga mendukung soft campaign yang kita lakukan.

Hal tersebut diatas sebagai sebagai gambaran jika kita memposisikan diri sebagai calon produsen untuk suatu produk ramah lingkungan. Namun partisipasi kita lebih sederhana lagi jika kita memposisikan diri sebagai konsumen produk ramah lingkungan, cukup dengan menggunakan produk-produk tersebut. Selain terlibat secara tidak langsung terhadap soft campaign dari produsen, kita juga turut serta dalam kampanye cinta produk dalam negeri, dan tetap mempertahankan keberlangsungan usaha kecil menengah di Indonesia. Ditambah lagi jika produk yang dibeli adalah produk fashion yang memang diproduksi khusus dengan target pasar anak muda. Benar-benar sebuah efek domino yang positif, bukan?

Hal itu kemudian akan menjadi cara gaul dalam menjaga lingkungan. Sebab dalam mengembangkan produknya tentu produsen melihat selera pasar namun mereka juga harus idealis terhadap upaya penyelamatan lingkungan.

Dengan cara seperti ini, tidak terasa baik produsen maupun konsumen telah ramah terhadap lingkungan. Apalagi jika kemudian, produsen sengaja menyisipkan pesan-pesan lingkungan terhadap produk-produk mereka. Lihatlah bahwa go green telah menjadi gaya hidup. Bukan hanya bagi beberapa kalangan. Namun anak muda atau remaja yang ingin punya citra bagus dilingkungannya mereka harus mengetahui apa itu semangat go green.

Pergeseran makna gaul tersebut dari yang tadinya identik dengan hura-hura sekarang lebih kepada go green merupakan kemajuan. Tapi jangan lupa sentuhan kreativitas itu perlu.***
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province