Selasa, 20 Desember 2011

Green Teacher (Yuli Wastuti): Ajarkan Kearifan Lokal

Ajarkan Kearifan Lokal

Masyarakat Indonesia merupakan bagian dari rumpun besar Melayu dunia. Kita memiliki beranekaragaman kebudayaan dan adat istiadat. Riau tidak kalah dengan daerah-daerah lain. Riau kaya akan kearifan lokal yang menjadi budaya dan tata prilaku masyarakatnya. Kearifan tersebut berlaku bukan hanya antara manusia. Namun juga menjadi sebuah khasanah hidup bagi hubungan dengan Tuhan dan alam.

Kearifan masyarakat Melayu Riau terhadap alam tak terperi dan terbilang bijaknya. Kita memiliki pendahulu/nenek moyang yang sangat santun menyikapi alam. Mereka berkebun, mereka bertani namun mereka tidak pernah mengeksploitasi. Mereka memelihara, mencintai, menyayangi dan mengasihi. Mereka menjadikan alam sahabat. Bagi mereka jika alam kesakitan maka manusia akan lebih sakit menanggung akibatnya.
Itu gambaran tentang penghargaan pendahulu kita kepada alam. Alam diibaratkan sebagai sumber daya namun juga sumber bencana. Oleh karena itu jika manusia mampu mengelola alam tersebut tanpa merusak keseimbangannya antara sumber daya dan bencana. Ia akan menjadi kehidupan bagi manusia. Begitu juga sebaliknya alam akan menjadi bencana jika sumber daya yang dikandungnya dikuras habis, sebab alam juga butuh diri mereka sendiri untuk mampu memenuhi kebutuhan manusia.

Ajaran kearifan lokal dari leluhur kita tentang alam. Saat ini seolah sebagai ajaran kuno namun tidak klasik. Karena kalau klasik masih banyak orang yang mengincarnya untuk dijadikan pelajaran alih-alih dikoleksi. Barang kuno adalah barang yang tidak lagi berguna untuk saat ini. Karena sudah ada barang modern sebagai penggantinya yang “mungkin” lebih canggih. Namun apakah kecanggihan itu ramah terhadap alam?

Menelaah ini, adalah tugas para pengajar, bukan hanya guru di sekolah namun juga orangtua dan masyarakat di lingkungan siswa untuk mengingatkan siswa atau anak-anak kita bahwa Riau punya kearifan terhadap alam.

Nenek moyang orang Riau memiliki sudut padang berkelanjutan terhadap pengelolaan alam. Meski sekalipun mereka tidak mengenal apa itu global warming, apa itu perubahan iklim. Sebab mereka memahami bahwa jika alam rusak manusialah yang akan menanggung akibatnya. Ini secara jelas juga tercantum dalam kitab suci al-quran.

Sekarang para siswa kita diajarkan tentang berbagai ilmu. Mulai dari ilmu sosial, alam, etika dan sebagainya yang semuanya bernafaskan modernisasi. Namun muatan lokal hanya menggambarkan tentang budaya. Padahal dalam mata pelajaran ini termakhtub kearifan yang bisa digali oleh para guru sebagai bagian dari manusia melayu Riau seutuhnya. Manusia peduli alam.

Mengajarkan siswa kearifan lokal menjadi hal yang krusial saat ini. Sebab sudah saatnya kita kembali pada kearifan yang kita miliki, kearifan lokal yang peduli kepada ala. Riau memilikinya itu tergambar dari hutan larangan adat dan adat-istiada atau prilaku lainnya yang tercermin dibeberapa masyarakat saat ini. Mereka begitu bijak bahkan meperlakukan hewan sekalipun. Sebab bagi mereka itu adalah bagian dari keseimbangan alam.

Ketika kita bicara keanekaragaman hayati, mungkin mereka tidak akan mengetahuinya. Namun mereka percaya bahwa keberadaan harimau dapat mengotrol hama babi hutan dikebun mereka. Oleh karena itu si dia tidak boleh diburu sembarangan. Kemudian ketika berkebun, masyarakat pendahulu memperhatikan bahwa ada kawasan-kawasan terlarang dari hutan untuk dibuka. Karena di sana merupakan sumber daya kehidupan. Yaitu air yang mengalir. Hutan harus lestari. Hingga budaya modern datang dengan teknik perkebunan modernnya. Hutan hilang, air tiada yang muncul adalah bencana bagi manusia. Nah, sekarang siapa yang lebih modern?***
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province