Minggu, 04 Desember 2011

Info Cagar Biosfer: Masiswa Penelitian di GSK-BB

Masiswa Penelitian di GSK-BB

<RESAM: Satu di antara tumbuhan pandan berduri yang eksotis di Cagar Biosfer GSK-BB adalah Resam.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK_BB) menjadi tujuan penelitian yang diminati banyak pihak. Sesuai dengan tujuan dan fungsi awalnya. Hal serupa juga dilakukan oleh mahasiswa jurusan Biologi Fakultas FMIPA Universitas Riau, Diah Sulistio Ningrum. Ia melakukan sebuah penelitian mengenai hewan endemik tanah di cagar biosfer. Penelitian tersebut guna untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah atau untuk skripsinya.

Untuk memasuki kawasan GSK-BB, Diah biasa ia dipanggil, bercerita bahwa terlebih dahulu harus meminta izin ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau . Sebab, memasuki kawasan cagar biosfer tersebut harus mematuhi prosedur. Artinya tidak boleh sembarangan, harus dengan izin terlebih dahulu.

Selain melengkapi administrasi yang sudah ditentukan oleh BBKSDA Riau, mahasiswa biologi yang terdiri dari enam orang itu merancang atau mempersiapkan keperluan mereka ketika berada di kawawasan cagar biosfer tersebut. Seperti, mempersiapkan persediaan makanan, dan perlengkapan keamanan mereka.


“Kami memang merancang bahkan mempersiapkan dengan detail apa-apa saja yang akan kami perlukan saat berada di cagar biosfer. Selama sebelas hari kami kan melakukan penelitian di sana. Kami harus membawa persediaan makanan sebelum berangkat,” tuturnya. Ia juga menambahkan, bahwa tempat menginap mereka di sana, ya, jauh dari masyarakat. Jadi, persiapan sebelum berangkat memang harus matang.

Penelitian yang mereka lakukan sangat unik. Dengan tujuan untuk mengambil sample, mahasiswa semester akhir FMIPA Universitas Riau tersebut meneliti hewan-hewan endemik tanah. Seperti cacing tanah, semut, rayap dan serasah (daun). Penelitian itu berlangsung di perbatasan Desa Temiyang.

Mengingat di perbatasan tersebut hanya ada penginapan yang sudah disediakan khusus untuk para peneliti. Maka tidak satupun aktifitas masyarakat terlihat di sana. Perjalanan yang mereka tempuh pun tidak menggunakan jalur darat. Melainkan menggunakan jalur air. Dan untuk mencapai lokasi-lokasi penelitian, mereka menaiki pompong.(pia-gsj/new)
Reaksi:

1 komentar:

Diara Kagaya mengatakan...

Ralat : hewan-hewan yang diambil bukanlah hewan endemik, melainkan mackro fauna tanah berupa semut, rayap, cacing tanah, dan tidak ada atau belum ada literatur yang menyatakan bahwa ketiga jenis hewan ini adalah hewan endemik, selain itu, serasah yang berupa dedaunan, ranting maupun bagian-bagian tumbuh-tumbuhan lainnya yang telah berguguran tidak dapt dikatakan endemik.

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province