Senin, 20 Februari 2012

For Us: Melihat Kehidupan Anak-anak di Kawasan Inti Cagar Biosfer Mengandalkan Alam sebagai Wahana Bermain

Memancing, berenang, berperahu, dan mencari buah-buahan hutan, menjadi wahana bermain bagi anak-anak di kawasan konservasi.


Laporan Andi Noviriyanti
Tasikbetung, andinoviriyanti@riaupos.co


   Langit cerah siang itu, Minggu kedua Februari di Tasik Betung. Sinar matahari sempurna menyapa permukaan air tasik yang hitam. Akibatnya wajah tasik terlihat membiru bak hamparan laut dalam. Tumbuhan khas tasik yang tumbuh di bagian-bagian tasik yang dangkal, seperti pulau di tengah lautan.
Jefrizal (12) dan Miswan (10), serta beberapa anak lainnya tampak duduk tenang di atas pompong atau perahu. Mereka asyik memancing. Modalnya hanya setengah cangkir cacing tanah dan pancing bambu. Ikan sebesar ibu jari pun seperti berebut mendekati umpan mereka. Sebentar saja, tempat pancingan mereka sudah terlihat terisi ikan-ikan kecil itu.


   “Ha, ikan besar,” ujar Jef sembari tertawa. Ia pun menarik-narik pancingnya. Lalu tiba-tiba dia membuka baju dan langsung terjun ke dalam tasik. Ternyata ia bukan mendapatkan ikan besar, tetapi pancingnya tersangkut sampah rerumputan yang ada dalam tasik.


   Pancing anak-anak ini memang sangat gampang tersangkut sampah rumput dari dalam tasik. Pasalnya tasik itu, jika musim kering, menjadi daratan dan bisa ditumbuhi rerumputan. “Beberapa bulan lalu, tempat ini mengering. Susut airnya sampai tiga meter,” ujar Kalub, ayah Jef.


   Saat musim hujanlah, tasik menjadi surga tempat bermain bagi anak-anak di tempat itu. Karena mereka bisa memancing, berenang dan berperahu mengelilingi tasik. Sesekali-kali mereka juga bisa mengambil buah-buahan hutan, terutama buah boboti.


   Bagi anak-anak di Tasikbetung, boboti itu layaknya cemilan kuaci. Ukurannya kecil, seperti kacang. Warnanya putih. Rasanya seperti jambu bol, agak sedikit kelat dan asam. Buah boboti itu mereka masukan ke dalam plastik kemudian itulah yang dijadikan cemilan saat bermain.


   Begitulah kehidupan anak-anak siang itu di Dusun 2, Kampung Baru, Desa Tasikbetung, Kecamatan Sungaimandau, Kabupaten Siak. Satu dari tiga desa yang termasuk dalam kawasan inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu (GSK-BB). Tepatnya berada di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil.
Berada di hutan konservasi, membuat anak-anak di Tasikbetung sangat mengandalkan alam sebagai wahana permainannya. Meski demikian, Jef, Miswan, Yulianto (12), Parlan (11) dan kawan-kawan juga punya permainan yang sama-sama digemari oleh anak-anak di seluruh dunia, yakni bermain bola.
Bahkan saat ditanya apa cita-citanya, Jef menggeleng saat ditanya apa mau jadi polisi, tentara, pegawai atau presiden? Baginya menjadi pemain bola adalah cita-cita tertingginya.


   “Kalau jadi pemain bola, dapat piala dan hadiah,” ujarnya. Itu sebabnya, meski tidak punya pelatih, Jef dan kawan-kawan kerap latihan main bola. Terutama saat berada di sekolah mereka.
Di sekolah, mereka memang lebih banyak bermain. Apalagi murid-murid di sekolah itu tiap kelas hanya hitungan jari. Berkisar 4-6 orang per kelasnya.


   “Di sekolah kami tidak ada upacara, tapi kalau lagu Indonesia Raya tahulah,” ujar Yulianto yang disambut anggukan teman-temannya.


   Sekolah dasar menjadi satu-satunya sekolah di tempat itu. Bila ada anak-anak di tempat itu yang ingin melanjutkan ke SMP atau SMA, maka mereka harus meninggalkan desa mereka.


   “Kalau ke SMP, tidak begitu jauh sekolahnya. Bisa diantar. Tetapi kalau SMA yang di Sungaimandau, harus tinggal di sana,” cerita Jef.


   Kalub (48), ayah Jef membenarkan hal itu. Anak perempuannya kini duduk di bangku SMA kos di Sungaimandau. Sesekali saja pulang ke rumah mereka.


   Dari sekitar 350 KK di Desa Tasikbetung itu, hanya ada satu orang anak di desa tersebut yang melanjutkan ke perguruan tinggi. “Hanya anak kepala dusun yang tamat SMA, sekarang sedang kuliah. Selain itu rata-rata tamat SD. Hanya beberapa yang lanjut ke tingkat SMP,” jelas Yuyu Arlan, Manager Flagship Conservation Sinar Mas Forestry (SMF) yang banyak berkecimpung dalam upaya konservasi di Cagar Biosfer GSK-BB.


   Menurut M Zainir, humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Jumat (17/2), desa yang berada di kawasan konservasi memang tidak dimungkinkan untuk membangun sekolah di tempat itu.
“Desa yang berada di kawasan konservasi biasanya di-enclave (dikeluarkan). Jadi tidak ada perluasan wilayah bagi desa itu. Itu sebabnya tidak memungkinkan untuk membangun sekolah-sekolah lanjutan. Hal ini untuk mengurangi tekanan terhadap hutan atau kawasan konservasi. Jadi kalau ingin sekolah, memang harus keluar desa,” terang Zainir.


   Begitu pula halnya, menurut Zainir, dengan kehidupan masyarakatnya. Mereka harus bisa bersinergi dengan alam dengan keterbatasan akses dan fasilitas. Jika tidak, pilihannya harus relokasi. Namun, pilihan itu agak sulit, karena biasanya mereka tidak mau dipindah, karena sudah turun menurun hidup di tempat itu.
Itu pulalah sebabnya, kegiatan pemberdayaan ataupun peningkatan taraf hidup masyarakat di tempat itu lebih diarahkan kepada upaya-upaya konservasi. Misalnya pembibitan atau usaha keramba.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province