Selasa, 14 Februari 2012

Save The Eart: Panas Dingin Ekstrem Melanda Bumi

 
 SALJU: Jalanan di Rumania tertutup salju. Ini adalah salah satu akibat dari cuaca ekstrem yang melanda kawasan Benua Eropa.
 
   CUACA bisa menjadi malapetaka dan bencana bagi manusia. Tidak hanya suhu dingin yang terlalu rendah saja seperti yang terjadi di Benua Eropa saat ini. Panas terik yang menyengat-pun bisa berdampak sama.

   Dalam pekan ini saja suhu dingin melanda sebagian daerah dari benua Eropa. Sebanyak 131 orang meninggal di Ukraina akibat dari suhu dingin ekstrem. Masyarakat yang meninggal sebagian besar adalah gelandangan. Negara bekas jajahan Uni soviet ini menderita korban terparah dibandingkan negara-negara lainnya. Tak hanya itu saja, banyak juga yang dirawat di rumah sakit akibat kedinginan. Berbagai penyakit yang menyerang di antaranya, frostbite dan hipotermia.

   Sementara itu di Italia puluhan rumah harus bertahan tanpa listrik. Bahkan korban tewas mencapai 17 orang. Diketahui juga bahwa ini merupakan salju pertama yang turun sejak tahun 1985 di Roma, Italia. Banyak hal yang terhambat dikarenakan hal ini. Akses jalan yang putus karena salju tebal di negera ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan makanan. Terutama yang berada di daerah terpencil.

   Sedangkan Negara Belanda suhu bahkan mencapai -22,8 derajat celcius pada Sabtu (4/2) lalu. Ini juga merupakan suhu terendah yang terjadi di negara tersebut dalam kurun waktu 27 tahun. Bahkan sekarang suhu di Inggris hampir mencapai dua derajat celcius, seperti yang diungkapkan Mark Lockwood, profesor fisika ruang antariksa Reading University.

   Ternyata tak hanya cuaca dingin saja yang bisa menyebabkan banyak korban berjatuhan. Setahun yang lalu, tepatnya di tahun 2011. Cuaca ekstrem berupa panas terik menerpa berbagai belahan dunia. Bahkan dilaporkan di Jepang, 13 orang tewas akibat dari suhu yang menyengat itu.

   Indonesia sebagai salah satu negara tropis pun ikut dilanda hal tersebut. Pada tahun 2011 lalu, suhu di berbagai kota yang ada di Indonesia meningkat. Khususnya untuk Medan dan Kota Pekanbaru yang biasanya bersuhu 30 derajat celcius seketika berubah menjadi 35 derajat celcius.

   Uniknya, jika kini Negara Italia juga diterpa suhu dingin yang ekstrem. Pada 2011 lalu, Italia juga sempat dilanda gelombang udara panas yang mencapai suhu 43 derajat celcius. Bahkan pemerintah Italia juga sempat menghimbau warganya untuk mengurungkan aktivitas di luar rumah.

   Seperti halnya cuaca dingin, panas yang ekstrem pun bisa menimbulkan berbagai penyakit. Salah satunya adalah dehidrasi. Dampak langsung dari dehidrasi itu kulit akan menjadi kering yang bisa saja berujung pada kanker kulit.

   Nah, kenapa panas-dingin ekstrem itu bisa terjadi? Banyak hal yang bisa menyebabkannya salah satunya adalah sumbangan dari emisi gas-gas rumahkaca seperti karbon dan methane. Di mana, hal tersebut telah merubah orbit bumi saat mengelilingi matahari. Hal ini juga berpengaruh pada gerakan lempeng tektonik yang diduga turut berperan dalam menentukan kapan zaman es akan kembali terjadi di bumi ini.

   Para Ilmuwan pun mulai memprediksi bahwa Eropa akan memasuki zaman es dalam beberapa dekade kedepan atau lebih tepatnya diperkirakan 1500 tahun lagi. Hal ini juga dipengaruhi oleh bintik matahari (Sunspots) berupa lubang gelap pada permukaan matahari. Bintik matahari ini disebabkan oleh bidang kecil dari aktivitas magnetic yang mengganggu aliran normal gas, sehingga menghasilkan panas yang lebih intens.

    Berdasarkan temuan dari Profesor Lockwood dan timnya bintik matahari itu tidak bisa terlihat. Sehingga diperkirakan Eropa akan menghadapi musim dingin yang sangat luar biasa. Kondisi ini disamakan dengan zaman es yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Ini bisa berarti musim dingin yang akan datang akan terjadi dibawah suhu 2,5 derajat celcius. Sangat jauh sekali berbeda dengan kedaan musim dingin di Inggris biasanya yang bersuhu paling rendah hanya 5 derajat celcius.

   Selain itu juga diprediksi dalam 50 tahun ke depan terdapat satu dari sepuluh kesempatan di mana matahari akan kembali dalam kondisi pada tahun 1645 dan 1715. Dimana ketika itu sungai Thames, di London secara berkala membeku, seperti halnya laut Baltik.

   Sementara itu pergerakan matahari pada 2011 lalu ke arah utara ditengarai juga menjadi penyebab timbulnya panas yang ekstrem. Hal tersebut membuat jarak antara matahari dan bumi semakin dekat.(afra-gsj/int/new)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province