Senin, 12 Maret 2012

Save The Earth: Mengenal Srikandi Lingkungan Hidup Dunia

    DI ATAS POHON: Julia Butterfly Hill ketika melakukan  protes terhadap perusahaan yang ingin menebang pohon tersebut. Julia hidup dan tinggal di atas pohon tersebut selama 738 hari.
   Kiprah perempuan tak bisa dianggap enteng. Kaum hawa ini terus memberi warna dan kekuatan dalam berbagai perjuangan. Itu sebabnya ada Hari Perempuan Sedunia yang ditetapkan setiap tanggal 8 Maret. Bertepatan dengan itu, mari kita mengenal para srikandi yang perjuangan dalam penyelamatan lingkungan hidup dunia.
   Dimulai dengan Dr Wangari Muta Maathai dari Afrika. Perempuan kulit hitam ini mendirikan gerakan sabuk hijau pada tahun 1977 yang bertujuan untuk mencegah erosi tanah dan tetap menjaga keberlangsungan kayu di hutan. Maathai memotivasi ibu-ibu di Afrika mengumpulkan bibit tanaman, menanamnya serta menjaga hasilnya. Karena inilah akhirnya ia digelari Mama Mitii yang berarti ibu pepohonan. Maathai lahir di Nyeri, Kenya pada tanggal 1 April 1940 dan meninggal di Nairobi, 25 September 2011 pada umur 71 tahun.


   Sedangkan dari Amerika Serikat ada Rachel Louise Carson, biolog kelautan dan juga seorang penulis yang tulisannya sering berhubungan dengan peluncuran pergerakan lingkungan global. Pada akhir tahun 1950-an, Carson mengubah perhatiannya pada konservasi dan masalah lingkungan yang disebabkan oleh pestisida, dan lalu ia menulis Silent Spring (1962). Selain itu juga ada Julia Butterfly Hill atau Julia Hill yang terkenal dengan perjuangannya mempertahankan sebatang pohon sequioia raksasa. Pohon ini berusia lebih dari 600 tahun dengan tinggi 180 kaki. Pohon ini terancam dari usaha penebangan oleh perusahaan perkayuan Pasific Lumber Company. Julia tinggal dan hidup di pohon tersebut selama 738 hari dari tanggal 10 Desember 1997 sampai dengan 18 Desember 1999. Julia Hill juga mendirikan sebuah yayasan circle of life yang bisa dikunjungi di website http://www.circleoflife.org.


   Tak hanya berkutat pada tumbuhan saja. Salah seorang aktivis lingkungan perempuan bernama Dian Fossey memfokuskan dirinya untuk mempelajari keluarga gorila selama bertahun-tahun di Rwanda. Hampir sama dengannya, Dame Jane Morris Goodall seorang ahli primata dari Inggris yang terkenal dengan penyelidikannya tentang simpanse.


   Beralih dari benua Eropa dan Amerika. Dari Asia pun cukup banyak terlahir aktivis-aktivis lingkungan hidup perempuan. Misalnya saja, Mei Ng dari China. Ia lahir di Hongkong dan kemudian menimba ilmu bidang Antropologi di University of California pada tahun 1972. Kemudian ia bekerja keras untuk menciptakan kesadaran akan lingkungan di seluruh daratan China. Ia juga mendirikan Hong Kong’s first renewable energy education center sebagai pusat pendidikan energi terbaharukan di Hongkong. Pada tahun 2002 dia terpilih menjadi Dewan Penasihat Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


   Dari India ada Vandana Shiva. Lahir pada tanggal 5 November 1952 di India. Ia aktif menyuarakan tentang pertanian organic. Selain itu ia juga memulai sebuah gerakan yang bernama Navdanya, dimana petani India berpartisipasi untuk menciptakan “zona kebebasan”. Hal ini ditujukan untuk menjaga tanaman agar terbebas dari bahan kimia.


   Sedangkan dari Indonesia sendiri ada Yuyun Yunia Ismawati yang aktif menyuarakan kebersihan di pantai-pantai Bali bersama organisasi Bali fokusnya. Juga ada “eyang” Harini yang memiliki nama lengkap Harini Bambang Wahono yang berjuang memberantas sampah di Kampung Banjarsari bahkan juga menciptakan lingkungan yang asri di kampung tersebut. Bahkan Kampung Banjarsari pun sempat menjadi desa percontohan UNICEF.


   Itu hanyalah sebagian kecil dari srikandi-srikandi lingkungan hidup. Masih banyak yang lainnya dan tentu saja akan terus bermunculan srikandi-srikandi baru. Apakah kamu srikandi lingkungan hidup berikutnya? Keep green! (afra-gsj/int/new)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province