Senin, 08 Oktober 2012

aat Durian Kampar Terkalahkan Monthong Mereka Generasi Pembudidaya

Kabupaten Kampar masih dikenal sebagai daerah penghasil buah durian terbesar di wilayah Riau. Pohon-pohon besar berusia puluhan tahun yang tumbuh di pekarangan dan batas-batas tanah warga menjadi saksi. Namun, itu kini. Bagaimana nasibnya sepuluh atau dua puluh tahun ke depan?

Laporan BUDDY SYAFWAN, Tambang buddysyafwan@riaupos.com

Pohon-pohon setinggi tiga meter lebih itu  berdiri kokoh diantara rerimbunan perkebunan  kelapa sawit milik warga. Meski hanya terletak diatas lahan seluas 1,8 hektare, namun, keberadaan mereka seolah menantang pohon-pohon yang selama beberapa dekade terakhir dianggap sebagai emas hitam penghasil pundi-pundi mulai dari petani kecil hingga para konglomerat.
Meski terlihat timpang, namun itu tak menyurutkan niat Arkadius, Kepala Dusun Srijaya, Desa Balam Jaya Kabupaten Kampar Provinsi Riau untuk  terus menanam pohon-pohon berdaun kuncup tersebut. ‘’Tetap, saya tetap akan menanam durian. Karena, saya sudah menghitung dari sisi lingkungan dan ekonomi, durian-durian ini akan jauh lebih menguntungkan untuk jangka panjang,’’ ungkap lelaki yang biasa disapa Pak Kadus itu saat Riau Pos berkunjung ke desa tersebut, Jumat (5/10) lalu.
Sambil duduk dibalai-balai yang dia dirikan khusus untuk mengawasi  180 batang pohon durian yang seluruhnya merupakan varietas lokal Kampar tersebut, dia menjelaskan alasan utama mengapa dia menanam pohon-pohon durian yang kini  sudah berusia berkisar 10 tahun tersebut.
‘’Awalnya, saya tergerak menanam karena dulu saat bekerja, bos/pimpinan tempatnya bekerja selalu rutin memesan buah durian setiap musim panen di Kampar. Sebulan itu, mereka bisa memesan durian  dengan nominal Rp5 juta. Angka yang cukup besar ketika itu dan itu menggoda pikiran saya untuk menanam sendiri durian-durian tersebut. Dari pada setiap bos pesan saya harus membeli, levbih baik saya menanamnya sendiri,’’ kenang dia tentang sekelumit perjalanan menanam durian lokal Kampar tersebut.
Tidak ada pengetahuan khusus saat melakukan penanaman. Hanya ada kemauan, walaupun saat itu, banyak orang yang malah bingung melihat Arkadius menanam, namun dia terus konsisten  mempertahankan lahan yang dibelinya seharga hanya Rp13 juta tersebut untuk durian lokal.
‘’Saya maklumi omongan orang tentang pohon-pohon durian ini karena memang sepuluh tahun yang lalu itu, sudah ramai masyarakat yang menanam kelapa sawit diatas lahan-halan yang mereka miliki. Sebagian lagi ada yang menjual lahannya kepada pemilik modal,’’ ujar lelaki yang sehari-hari juga punya profesi sebagai pelangsir kebutuhan material bangunan itu.
Tapi, bukan tanpa alasan juga bila dia  punya optimisme yang besar terhadap tanaman yang dulunya hanya dijadikan sebagai tanaman sebagai batas pekarangan atau kebun-kebun lama itu. Salah satunya termasuklah aspek ekonomi. ‘’Saya sudah hitung. Kalau menanam karet, per hektare berapa, kalau sawit berapa, tanam monthong berapa dan kalau menanam durian lokal menghasilkan berapa dan bisa bertahan berapa lama. Hitung-hitungan saya jauh lebih untung menanam durian lokal ini, walau waktu panennya relatif lebih lama ketimbang menanam sawit atau durian monthong yang saat ini juga sudah booming ,’’ optimis lelaki berkulit coklat itu.
Mungkin sekarang, sambung Arkadius dia rugi. Karena bila ditanami sawit, pada usia 4 atau 5 tahun, sudah bisa panen dan menghasilkan, sementara untuk durian varietas lokal seperti durian tembaga, kobaw, kunyit, tiongsu, baru bisa menghasilkan pada umur diatas 10 tahun. ‘’Ya, seperti kebun saya sekarang ini, pohon-pohon durian ini masih belajar berbuah. Hasilnya belum maksimal,  baru untuk dikonsumsi sendiri saja. Tapi, ke depan, mungkin saya orang paling beruntung,’’ ungkap dia lagi.
Arkadius mencontohkan, seorang temannya yang juga menanam durian lokal dengan jumlah delapan batang saja, setiap panen, per pohon bisa menghasilkan hingga Rp18 juta.  Apalagi bila dia menanam sebanyak 180 pohon seperti sekarang ini.
‘’Bila satu batang kita hitung minimum saja menghasilkan Rp1 juta, berarti setiap musim panen saya akan mendapatkan uang Rp180 juta. Perawatannya minim, biaya yang dikeluarkan kecil, tapi hasil yang didapatkan besar, jauh lebih besar dari kelapa sawit dan satu lagi, umur pohon durian lokal ini bisa mencapai ratusan tahun. Itu gambaran sederhananya saja,’’ paparnya.
Dia pun mengaku tidak terlalu ambil pusing ketika saat ini, banyak juga diantara masyarakat setempat yang mulai beralih menanam durian monthong (Thailand) karena dinilai punya prospek pasar bagus dan lebih cepat panen. ‘’Saya rasanya lebih optimis durian lokal ini akan menjadi andalan ke depan dan akan menghasilkan untuk  waktu yang lama,’’ ungkap lelaki yang juga mengaku punya sehektare kebun sawit itu.


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province