Senin, 22 Oktober 2012

Unri Ajak Lestarikan Gambut

SUNGAI air hitam dan tanah gambut yang selalu basah. Betapapun keringnya kala musim kemarau panjang, ia seperti mangkuk raksasa sebagai tempat menyimpan air saat musim hujan. Ia yang menjaga ketersediaan air kala musim kering tiba, merupakan sistem alam yang luar biasa. Terjaganya sistem alam yang bekerja memberikan jaminan akan ketersediaan air dan mencegah bencana banjir kapanpun itu musimnya.
Tanah gambut yang terbentuk ribuan tahun lalu, seakan mutiara hitam yang menyimpan potensi batubara jutaan kubik pada masanya nanti, walaupun sekarang masih mengakumulasi dalam bentuk simpanan karbon yang bernilai jutaan dolar ketika era perdagangan karbon tiba. Belum lagi keunikan formasi dan kekayaan hutan yang terbentuk mengikuti tingkat kedalaman gambut.
Semakin dalam gambut (dome), semakin jarang dan kecil-kecil diameter pohon hutannya. Belum lagi keunikan berbagai hewan endemik. Gambaran sempurna keutuhan ekosistem alami hutan rawa gambut, yang saat sekarang semakin terancam dan bahkan semakin sulit mempertahankannya, karena sebagian besar telah menjadi kawasan budidaya dengan gambut yang sangat kering, terbakar, dan mengalami penyusutan (shrinkage).
Sejak tiga tahun lalu, dimulai dari tahun 2009, keterlibatan institusi pendidikan, seperti Universitas Riau, dan Universitas Kyoto, Jepang melakukan penelitian intensif, terutama di hamparan gambut blok Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis yang mengkombinasikan berbagai disiplin ilmu, aspek sosial-ekonomi, biodiversitas-ekologi, iklim dan hidrologi, dan restorasi.
Pembangunan Sundak Research Shelter, dan Pangkalan Bukit Research Shelter di dalam kawasan hutan, hasil kerjasama Balai Konservasi Sumberdaya Alam Riau, Universitas Riau (Unri), Universitas Kyoto Jepang, Kelompok Masyarakat Desa Temiang yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Peduli Hutan dan CTPRC Indonesia, menjadi momentum penting bagi upaya-upaya meningkatkan aktifitas penelitian dan pelibatan masyarakat tempatan dalam mempromosikan konservasi hutan gambut dengan melibatkan peran serta masyarakat.
Selain itu beberapa kegiatan pemberdayaam masyarakat juga dilaksanakan sejak tahun 2010, seperti model desa konservasi, yang dilaksanakan oleh BBKSDA Riau, Biovillage oleh LIPI, dan Penanaman Jelutung oleh Sinar Mas Grup-ASKUL-PILI, dan rencana rehabilitasi oleh BBKSDA Riau.
Sebagai upaya terus mempromosikan usaha-usaha konservasi gambut khususnya di cagar biosfer blok bukit batu, dan memberikan dukungan rencana ekspos dan penjajakan ekowisata Pembantu Rektor IV Unri, Ir Adhy Prayitno, dan Drs Rahmat MT, pekan kemaren beserta tim melakukan kunjungan dan melihat langsung kondisi terkini gambut di suaka margasatwa Bukit Batu, mengadakan pertemuan dan diskusi dengan masyarakat dan kepala Desa Temiang, yang juga dihadiri perwakilan perusahaan grup Sinar Mas, yang beroperasi di blok hamparan gambut bukit batu.(melati-gsj/dac)


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province