Minggu, 02 Januari 2011

Ketika Nature Park Menjadi Paru-Paru Pekanbaru

Siapa bilang jalan-jalan ke hutan tidak menyenangkan? Green Student telah membuktikannya dan rata-rata anggota Green Student mengaku siap jika diajak Hiking di hutan lagi.

Udara pagi masih menggigit dengan dinginnya, namun beberapa Green Student terlihat sudah stand by di lobby gedung Riau Pos, memakai T-shirt putih dengan dikombinasikan dengan baju panjang. Kemudian masing-masing Green Student mengisi absen dan bersiap-siap.

“ Saya khawatir sekali ketika ada yang memberitahu bahwa bus yang menjemput sudah datang, sementara saya masih dalam perjalanan menuju Riau Pos, akhirnya saya sebarkan info tersebut ke semua teman-teman Green Student yang masih di perjalanan agar mempercepat kedatangannya,” ungkap Teguh Budianto, koordiantor Green Student Ambassador (GSA).
Ada 29 orang Green Student yang hadir pagi itu Ahad (21/11) lalu, minus satu orang karena berhalangan. Meski sedikit lewat dari waktu yang dijadwalkan yaitu pukul 06.15 menjadi 06.30 Green Student tetap bersemangat mengikuti Happy Hiking in Chevron (H2C). Sebelum naik bus yang telah disediakan oleh PT Chevron pacifik Indonesia (PT CPI) Green student sempat berfoto bersama dengan senyum lebar.
Sepanjang perjalanan menuju Camp CPI Rumbai Green Student tampak menikmati pemandangan pagi dari dalam bus. Tidak ketinggalan pula Direktur Eksekutif Save The Earth foundation (SEFo) Andi Noviriyanti, ikut berbaur dengan Green Student yang menjadi peserta H2C di dalam bus.
Sampai di Camp CPI Green Student langsung menuju ke Multifunction Building untuk makan pagi bergabung dengan Green Student yang sudah tiba sejak sabtu (20/11). Green student disambut baik oleh Humas PT CPI.Yulia Rintawati.
Selesai makan pagi Rinta membagi-bagiakan tas berisi kaos, topi dan brosur Rumbai Forest Nature Park dan langsung dipakai oleh Green Student. Masih di Multifunction Building, Green Student mendengarkan presentasi Dept. HES PT CPI oleh Budi Oetoemo. Presentasi tersebut menguraikan strategi Chevron dalam perlindungan lingkungan.
Dengan visi CPI menjadi perusahaan energi global yang dihormati atas kinerja perlindungan lingkungan tingkat dunia, maka pihak CPI berusaha untuk menerapkan beberapa pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan lingkungan korporasi dengan usaha penghentian Flaring (Suar Bakar) dan Venting Flaring (suar bakar) dan venting. Karena flaring maupun venting menghasilkan metana dua kali lipat lebih besar dibandingkan karbon dioksida dan menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar.
CPI juga melakukan pengelolaan air produksi, dengan cara mengambil minyak nya saja dari dalam perut bumi kemudian air nya di injeksikan kembali. Kemudian CPI juga memperhatikan pengelolaan limbah, menerapkan system reduce, reuse, reycle.
Selain itu CPI juga mengikuti dan terlibat dalam kegiatan dan pengembangan yang terkait dengan keanekaragaman hayati. Lalu CPI juga bekerjasama dengan NGO-NGO lingkungan hidup. Dan CPI juga tidak melupakan program penghijauan dengan konsep memulihkan ekosistem awal.
Budi mengungkapkan bahwa setiap hari di CPI banyak berkeliaran hewan-hewan di sekitar camp perumahan karyawan maupun di jalan-jalan nya.
“Setiap kelompok hewan liar tersebut telah memiliki daerah lintasan masing-masing, sehingga setiap hari mereka selalu melewati tempat tersebut,” papar Budi.
Menurut Budi hewan-hewan tersebut tidak pernah menyerang manusia, jika mereka tidak merasa terganggu. Di camp CPI manusia dan hewan dapat hidup saling berdampingan.
Setelah mendengarkan dan melihat presentasi melalui slide dari Budi Oetomo, Direktur Eksekutif SEFo, Andi Noviriyanti memberikan sambutan mengenai kegiatan H2C tersebut. Novi panggilan akrabnya menekankan pentingnya mencatat daripada mendengarkan.
“Jika kalian hanya mendengarkan, maka kalian hanya belajar 20 persen, berbeda jika kalian menuliskannya, maka kalian akan belajar lebih banyak, begitupula dengan kegiatan kita kali ini, jika kalian hanya mendengarkan saja presentasi-presentasi tanpa mencatat nya, maka kalian hanya akan mampu mengingatnya hanya dalam beberapa hari,” ungkap novi panjang lebar kepada Green Student.
Semangat Green Student makin berkobar ketika mendengar sambutan Hanafi Kadir, Manager Humas CPI.
“ Green Student adalah makhluk langka…” ucap Hanafi yang membuat para Green Student ternganga mendengarnya.
Menurut Hanafi, anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan semakin jarang ditemukan, sehingga jika ada generasi seperti itu dianggap hal yang langka.
“ Kalian tidak sendiri menjaga lingkungan ini, kami juga berusaha untuk melakukan itu, jika kita saling bersinergi semuanya tidak akan berat dilakukan,” lanjut Hanafi.
CPI mempunyai komitmen yang kuat terhadap pelestarian lingkungan, dan untuk memberikan wadah bagi orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan CPI membentuk Ecology Club tahun 1980 yang beranggotakan karyawan-karyawan PT CPI.
Menurut Marthinus Arbian, dari Ecology Club, pembentukan klub tersebut bertujuan untuk membantu melestarikan flora dan fauna di sekitar camp. Sampai saat ini anggota klub telah mencapai 700 orang.
Marthinus juga menyebutkan bahwa sekitar 400 hektar dari 1.226,20 hektar luas camp CPI Rumbai merupakan hutan alam yang disebut Rumbai Forest Nature Park. Lalu pada tahun 2001 di gagas Park Ranger bekerjasama dengan World Wide Found for-nature(WWF) dengan tugas membantu para tracker (sebutan bagi penjelajah Nature Park), berperan memonitor keadaan hutan dan menjaga kelestarian kawasan hutan serta seluruh biodiversity di dalamnya.
Masih di Multifunction Building, Emy Andriati, Direktur perkumpulan YASA( LSM lingkungan-red) mengajak Green Student untuk sekilas mengenal hutan alam Rumbai milik CPI melalui presentasi dan tayangan slidenya. Menurutnya pengenalan ini sangat penting sebelum para Green Student memulai hiking di kawasan hutan yang masih asli tersebut.
Dari penjelasan Emy dapat disimpulkan jika Nature park kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Dilihat dari tingginya biodiversity nya Nature Park menyimpan 120 spesies Kayu dengan empat spesiesnya merupakan spesies yang dilindungi. 75 spesies Burung dengan 14 spesies yang dilindungi. 14 Mamalia, enam spesies dilindungi. Lima Primata dan satu yang dilindungi.
Selain itu di Nature Park tutupan vegetasinya masih baik dengan berbagai jenis pohon pelindungnya seperti Trembesi, Kulim, Jelutung, Gaharu dan Meranti. Lebih lanjut Emy juga menjelaskan bahwa ekologis seperti itu mempunyai banyak manfaat, yaitu sebagai penyimpanan cadangan karbon, juga penyerap karbon dioksida,lalu pensuplai oksigen, sebagai daerah resapan air. Sebagai pengatur tata air dan yang pasti adalah pendingin suhu udara.
“Singkatnya Nature Park adalah paru-paru Pekanbaru,” ujar Emy.
Selain presentasi, Emy juga menyampaikan standar operasional dalam menjelajah hutan dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada di dalam hutan. Sementara itu koordinator program YASA Johny Setiawan membagikan kaus tangan kepada seluruh Green Student untuk dipakai ketika memasuki kawasan Nature Park.
“Gunanya adalah untuk melindungi tangan dari berbagai tumbuhan dan binatang-binatang kecil di hutan nanti,” jelas Jhony.
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu para Green Student tiba, saatnya memulai ekspedisi di Nature park! Sebelum berangkat 49 Green Student di bagi menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah sepuluh orang dengan ketua kelompoknya antara lain, Teguh Budianto, Martua Siahaan, Roma indrawan, Miftahul Huda dan Andri Daena . Rombongan Green Student menuju kawasan Nature Park dengan diantar bus.
Sampai di bibir hutan kelompok yang telah dibagi-bagi tersebut ternyata mendapat tambahan beberapa mahasiswa dari berbagai universitas yang sedang Kerja Praktek (KP) di CPI. Setiap kelompok satu tambahan anggota. Ada yang dari UIN Suska, Universitas Riau dan Universitas Islam Bandung(Unisba).
Kemudian masing-masing kelompok mendapatkan satu Park Ranger untuk memandu rombongan. Penjelajahan dibagi menjadi dua rute, rute biru dan rute kuning. Rute kuning adalah rute panjang dengan mengelilingi 4,2 km luas hutan tersebut dan memakan waktu tiga sampai empat jam. Sedangkan rute biru, rute pendek hanya memakan waktu 20 menit.
Ternyata bukan hanya Green Student saja yang bersemangat untuk menjelajah hutan, tetapi hal yang sama juga dirasakan oleh Andi Noviriyanti. Dengan memilih jalur biru Novi pun ikut menjelajah bersama Hanafi kadir dan Mario( pendamping Green Student). Kelompok yang diketuai Teguh Budianto mendapatkan kehormatan untuk ikut dalam rombongan tersebut. Namun setelah usai mengantarkan rombongan tersebut kelompok ini juga akan menjelajahi rute kuning.
Pukul 09.55 Green Student mulai memasuki hutan, setiap kelompok satu dengan kelompok lainnya berselisih waktu kurang lebih lima menit. Belum berjarak 10 meter dari bibir hutan para Green Student telah menemui sebuah jembatan dari besi, diatas sungai kecil, para Green Student melewatinya dengan bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi pelan. Namun makin masuk kedalam hutan, jalan yang dilalui ternyata tidak datar, dengan pohon-pohon Meranti atau pun Gaharu berdiri kokoh, jalan setapak yang dilalui Green Student makin naik, sehingga untuk meneruskan perjalanan Green Student harus mendakinya dengan berpegangan dengan pohon-pohon di kanan kiri jalan.
Di beberapa tempat jalan tidak hanya mendaki tetapi ada juga yang menurun, curam, ada yang miring, licin, bahkan Green Student harus melewati beberapa sungai kecil dengan jembatan kayu-kayu melintang ala kadarnya. Saat melewati dataran yg sulit, para anggota kelompok saling memberikan bantuan dan semangat.
“Untunglah Martua tadi kalah suit dengan Teguh, kalau tidak kita harus melewati dua rute nih,” ucap Yonatan Green Student yang menjadi anggota Martua Siahaan dalam hiking tersebut sambil tertawa.
Meski medan yang dilalui cukup berat tetapi para Green Student tidak mengeluh, seperti Fitri dan veronica yang sering tertinggal jauh dibelakang ketika berjalan, begitu sampai di hadapan kelompoknya pasti selalu kelihatan bersemangat lagi.
Sepanjang perjalanan Green Sudent banyak menemukan rotan, lalu tumbuhan semacam pandan-pandanan dan beberapa pohon yang unik dengan model batang yang saling melilit. Sayang, selama penjelajahan Green Student tidak bertemu hewan-hewan yang ada di dalam hutan tersebut.
“hewan-hewan disini memiliki insting yang sangat sensitif, mereka tidak akan mau menampakkan diri jika mencium bau manusia,” ujar Awaludin, salah satu Park Ranger yang menjadi guide Green Student.
Waktu semakin beranjak siang, namun suasana di dalam hutan tetap sejuk, dan setelah tiga jam lebih perjalanan Green Student sampai juga pada garis finish. Beristirahat sejenak di bawah pepohonan, kemudian para Green Student kembali menaiki bus menuju sungai Ambang untuk makan siang.
Di dalam bus, terlihat wajah-wajah lelah, namun perjalanan terus berlanjut menuju sungai Ambang. Sungai yang telah di bendung dan dirubah menjadi waduk. Di tepian sungai itulah para Green Student menikmati makan siang. Sungai Ambang merupakan salah satu tempat yang sangat dijaga kelestariannya, di tepian sungai Ambang terdapat larangan berenang dan memancing di sana.
Selesai makan siang, kegiatan hiking berakhir, para Green Student dari luar kota kembali ke messhall untuk menginap satu malam lagi disana, sedangkan Green Student yang dari Pekanbaru bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Semoga kapan-kapan kita bisa happy happy lagi bersama Chevron,” kata para Green Student.


Laporan Asrul Rahmawati-GSJ Universitas Muhammadiyah Riau

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province