Rabu, 25 Januari 2012

Program Lingkungan Yang Aplikatif: Pasar Tanpa Kantong Plastik



   SETIAP hari saya mengajar anak-anak tingkat kanak-kanak (TK) , setiap sebulan sekali biasanya hari sabtu, kami selalu membawa anak-anak untuk belajar  diluar ruangan. Tidak harus belajar seperti biasanya, tetapi lebih kepada mengenalkan lingkungan sekitar kepada mereka.  Kami mengajari mereka cara mendaur ulang limbah plastik. Segala jenis plastik. Termasuk botol plastiki yang dijadikan bunga atau hiasan sederhana lainnya.
   Beranjak dari hal tersebut saya sering kepikiran tentang kondisi lingkungan dan sampah plastik. Manusia tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan menggunakan plastik karena memang plastk sangat praktis di bawa keman-mana. Hanya saja sampah plastik tersebut siapapun tahu sangat sulit untuk diuraikan. Maaf kalau saya salah, bukan sulit tapi tidak bisa diuraikan oleh tanah. Jikapun bisa maka itu butuh waktu yang lama dan panjang.
   Kemudian pikiran saya melayang ke Italia, ketika peringatan hari bumi 2010, Negara pizza tersebut mencanangkan supermarket tanpa plastik. Supermarket yang tidak memberikan plastik untuk menempatkan barang belanja para pelanggannya akan mendapatkan penghargaan khusus dari pemerintahnya.
Bukan hanya itu, mereka juga mencanangkan kota bebas sampah plastik, steoroform, kaleng  bekas minuman yang sekiranya akan menyulitkan tanah untuk mengurainya. Hal tersebut menurut saya sangat bagus untuk diterapkan di kota kita ini. Yah, susah juga sih, jika pemerintah tidak langsung turut andil. Sebab pasar-pasar (baca minimarket, supermarket ) pasti tidak akan begitu mudah memberikan kantong yang lebih ramah lingkungan kepada para pelanggannya. Karena memang kantong tersebut mahal untuk dibagikan secara cuma-cuma.
   Namun ada cara lain yang bisa kita terapkan di kota tercinta ini. Kenapa tidak bagi pelanggan minimarket atau supermarket yang tidak meminta kantong plastik usai dari kasir, namun membawa sendiri keranjang dari rumah (mungkin desain kerancang lebih unik dan lucu-lucu biar nggak malu karena nenteng-nenteng keranjang belanja dari rumah). Nah orang-orang seperti itu oleh supermarket atau minimarket diberi hadiah atau penghargaan apa gitu...
   Buat supermarket atau minimarketnya, pemerintahlah yang menilai mereka. Apakah akan diberi penghargaan sebagai minimarket of the year atau minimarket ter go green, bisa saja kan? Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menekan penggunaan plastik. Namun semua kembali kepada kemauan dan inovasi dari pemerintah.
   Namun, supermarket atau minimarket tersebut juga harus mengumumkan kepada para pelanggannya untuk selalu ramah lingkungan. Untuk selalu menerapkan prilaku mencintai lingkungan. Dengan cara yang sederhana seperti tadi, cukup lah.
   Di sini kita telah menerapkan dua hal. Pertama menjaga lingkungan dari sampah plastik. Nah kedua, kita kan harus membawa keranjang atau kantong sendiri dari rumah. Kenapa tidak kantong tersebut juga dibuat dari hasil daur ulang.
   Namun pemerintah harus mengembangkan masyarakat yang memiliki usaha daur ulang sampah plastik menjadi tas-tas untuk dipakai kembali berbelanja ke pasar. Sebab butuh kreativitas dan keterampilan untuk mengerjakannya. Itu tidak gampang baik dari segi dana maupun dari segi keterampilan.
Kena tidak pemerintah kemudian mengadakan pelatihan khusus secara kontiniu untuk para masyarakat atau ibu-ibu rumah tangga keterampilan mendaur ulang  limbah plastik. Siapa tahu dengan program seperti ini, penghargaan sebagai kota terbesih yang dipertahankan Pekanbaru hingga berkali-kali bisa kita pertahankan berkali-kali lagi. Pekanbaru bisa menjadi kota percontohan khusus untuk daur ulang limbah plastik. Bisakah?***




Arma Winarni
Guru Playgroup & TK Islam Akmarunnas





Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province