Senin, 15 Oktober 2012

Dari Summer School Jakarta, Tangerang, Jogjakarta, Solo Pelajari Peran Energi Terbarukan

Sumber daya energi Indonesia dan dunia saat ini semakin menipis, energi menjadi barang langka dan semakin mahal, padahal pertumbuhan konsumsi energi rata-rata 7 persen setahun.

Laporan  ADHITYA FERNANDO, Pekanbaru

Ketergantungan dan permintaan yang semakin tinggi akan bahan bakar fosil tidak berimbang dengan produksi dan ketersedian cadangan energi fosil, yang saat ini sudah semakin menipis.
Dikhawatirkan kondisi ini akan menimbulkan krisis energi di beberapa masa yang akan datang. Selain itu, semakin tebalnya lapisan gas rumah kaca dan berbagai polutan di udara akibat dari pembakaran bahan bakar fosil menimbulkan banyak dampak buruk bagi bumi dan kehidupan manusia. Berbagai keadaan ini menjadi pendorong untuk pengembangan energi alternatif yang lebih terjamin kesediannya dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan energi yang diambil dari aktivitas alam seperti angin, panas dan cahaya matahari, ombak laut, aliran air, panas bumi dsb telah mulai dikembangkan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Usaha yang dilakukan pemerintah ini jelas membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.
Sosialisasi dan pemahaman masyarakat menjadi sangat penting untuk ini. Senada dengan hal tersebut, berdasar rilis program Indonesian-German Summer School 2012 yang diikuti oleh UIN Suska Riau bekerjasama dengan UIN Jakarta dan  University of Applied Science Amberg-Weiden (HAW) Jerman pada tanggal 9-19 September kemarin di empat tempat di Indonesia (Jakarta-Tangerang-Yogyakarta-Solo) mengangkat tema Renewable energy & entrepreneurship-leadership.
UIN Suska Riau mengutus 6 orang mahasiswa dan satu orang dosen pendamping. Diantara utusan tersebut adalah: Adhitya Fernando, Syamsuddin Muhammad, Chairum Bahri, M Isnaini Hadiyul Umam, Siti Sanisma dan Intan Septia Latifa didampingi oleh Kunaifi ST, PgDipEnSt, M.Sc, dosen,  yang juga ketua Energy Research Center (EnReach) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska.
Ditemui di ruangan kerjanya di EnReach, Kunaifi menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggali peluang-peluang bisnis yang potensial menggunakan teknologi energi terbarukan di lokasi kegiatan, melalui pengalaman belajar dalam lingkungan internasional.
Kunaifi juga menambahkan bahwa pada program kemarin peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen dari Jerman dan Indonesia, belajar bersama tentang energi terbarukan, lingkungan hidup, kewirausahaan, dan kepemimpinan.
Sementara itu ketika ditanya mengenai bentuk proses belajarnya, Kunaifi menjelaskan bahwa mahasiswa belajar melalui  kuliah di kelas, seminar, pengalaman praktek, dan kunjungan lapangan. ‘’Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari mahasiswa Indonesia dan Jerman, lalu belajar bagaimana sebuah masalah diidentifikasi dan didekati, bagaimana metode menghasilkan solusi, dan mempresentasikan solusi yang diusulkan. Dalam masa dua minggu setelah program selesai, mahasiswa juga mendapat tugas membuat laporan individu tertulis,’’ sambung Kunaifi.
Dalam kesempatan yang sama, Icam, panggilan Syamsuddin Muhammad mengatakan bahwa ia tertarik dengan HECO (High Efficient Cooking Stove), kompor berbahan bakar pelet atau lazimnya disebut briket namun dalam ukuran kecil, yang sempat diperagakan dan dipraktekkan penggunaannya pada program kemarin. ‘’Pelet tersebut terbuat dari ranting kayu, serbuk gergaji, daun-daun  dan semacamnya yang dikeringkan dan dipadatkan, kemudian dipres dan dicetak kecil-kecil’’, terang Icam.
Intan septia Latifa menjelaskan bahwa penggunaan pelet sangat ramah lingkungan karena emisinya sangat rendah dan pelet tersebut sangat efisien. ‘’Energi yang dihasilkan pelet cukup besar, tetapi saya lupa pastinya berapa nilai energi yang dihasilkannya,’’ tukas Intan sambil mengingat-ingat total energi yang dihasilkan 1 kilogram pelet.
Lain halnya dengan Siti Sanisma dan Chairum Bahri, mereka cenderung lebih tertarik dengan sel foto surya. Sebuah piranti elektronik yang dibuat untuk menangkap sinar dan panas cahaya matahari untuk dikonversi menjadi energi listrik.
Dalam agenda program itu mereka mengunjungi PLTH turbin angin dan panel surya yang terletak di Pantai baru, Bantul Yogyakarta. Daerah tersebut merupakan pusat pengembangan energi terbarukan di yogyakarta. Kawasan tersebut terletak di pinggiran Yogyakarta. ‘’Saya melihat ada manfaat simultan dari dibangunnya PLTH turbin angin dan panel surya di daerah tersebut. Mayoritas penduduk sekitar adalah nelayan dan pedagang. Seluruh energi listrik untuk kebutuhan perikanan dan dagang dan kebutuhan lain masyarakat sekitar disupply dari PLTH tersebut’’, pungkas Adhitya Fernando.   
Mesin pembuat balok es pun kini sudah tersedia disana berkat adanya energi listrik PLTH.Ini menjadi sangat efisien untuk pengawetan ikan hasil tangkapan, karena sebelumnya nelayan harus mengangkut ikan hasil tangkapan ke kota untuk mendapatkan es, menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Ini membuat aktifitas tidak efisien.
Tetapi kini masyarakat sekitar menjadi sangat terbantu berkat adanya PLTH tersebut. ‘’Pengembangan energi terbarukan mempunyai manfaat besar untuk solusi energi daerah terpencil (remote area)’’, tambah Adhitya Fernando.***


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province