Sabtu, 15 Desember 2012

CTPRC Kenalkan Program Lanjutan


    CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) masih menyimpan banyak potensi dan keindahan alam yang belum terungkap secara menyeluruh. Bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyibak misteri yang tersimpan di dalam belantara warisan alam Riau tersebut. 
Karenanya, sebagai wujud kepedulian terhadap GSK-BB, Center  for Tropical Peat Swamp Restoration and Conservation (CTPRC) bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) telah melaksanakan kegiatan program ekowisata pertama kalinya pada awal November 2012 lalu.
    Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan program ekowisata tersebut pihak CTPRC dan aliansi terkait lainnya, dalam seminar sehari  yang bertema “Ekowisata Riau dan Tantangan Pengelolaannya” memperkenalkan program lanjutan yang tak kalah menarik.
    Program “Came and Planting” atau lebih menarik disebut “CAMPING” merupakan program yang ingin mengajak masyarakat luas dari berbagai lapisan untuk mengetahui, mengenal, dan turut melestarikan GSK-BB. Program ini tidak hanya ditawarkan untuk para peneliti, pelajar pecinta alam, maupun karyawan, tetapi juga menawarkan paket bagi keluarga yang berminat memperkenalkan alam lebih dekat kepada anak-anaknya sekaligus mengajarkan arti penting pelestarian alam.
    CAMPING juga memperkenalkan keunikan dari ekosistem hutan rawa gambut, serta fungsinya di alam. Gambut sebagai penyimpan karbon terbesar dan penghambat peningkatan suhu bumi merupakan salah satu fungsinya. Selain itu, keunikan  yang dapat ditawarkan Cagar Biosfer GSK-BB adalah Tasik dengan air hitamnya saat musim hujan, dan padang rumput pada saat musim kemarau. Didukung oleh infrastruktur jalan dan transportasi yang telah memadai tentunya semakin memudahkan perjalanan ekowisata menuju GSK-BB tersebut.
     “Selain untuk menikmati keindahan alam, adanya program CAMPING di GSK-BB diharapkan memberikan dampak peningkatan aspek sosial-ekonomi bagi masyarakat setempat dengan penyediaan homestay serta pengenalan budaya lokal, seperti kuliner khas Melayu sebagai salah satu contoh kecilnya,” jelas Dr Haris Gunawan, pakar gambut tropika sekaligus Direktur CTPRC.
    Sejauh ini pengenalan daya tarik hutan rawa gambut tropis masih dirasa kurang, sehingga potensi alam yang terdapat di Bukit Batu tersebut membutuhkan publikasi yang lebih intens agar lebih dikenal masyarakat.
    “Besarnya potensi alam yang tersedia tidak akan ada artinya jika tidak dikelola dan dikemas secara apik,” tutur Hj Kartinawati SH MH sebagai pembicara yang mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau Jumat (30/12) lalu.
    Kegiatan ini, sebut Dr Herman MSc selaku ketua pelaksana seminar, seminar yang diselenggarakan oleh Jurusan Biologi yang didukung oleh pihak Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau ini juga merupakan salah satu cara untuk menjembatani potensi wisata alam kepada masyarakat khususnya yang ada di Riau.(diah-gsj/dac)





Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province