Minggu, 28 Februari 2010

SMAN 1 Siak, bagaikan Sekolah di Dalam Hutan

Salah satu visi SMAN 1 Siak adalah berwawasan lingkungan. Itu membuat sekolah ini giat dalam memperhatikan masalah lingkungannya. Memperbanyak menanam pohon di lingkungan sekolah adalah wujud nyata untuk mencapai misi tersebut. Ini terlihat dengan banyaknya pohon-pohon di lingkungan luar dan dalam sekolah.

Pohon-pohon yang banyak ditanam di sekolah ini adalah pohon pucuk merah (Syzygium oleana). Pohon tersebut telah ditanam sekitar 200 batang. Tingginya sudah mencapai tiga meter. Daun hijaunya yang lebat dan batangnya yang stabil serta kebutuhan airnya yang sedang membuat pohon ini semakin bernilai guna. Pohon ini termasuk jenis tanaman evergreen. Disamping itu, pohon ini juga bisa meredam suara.

SMAN 1 Siak terletak di tepi Jalan Hangtuah. Jalan ini termasuk jalan utama di Kota Siak. Tidak heran kalau suara-suara kendaraan bisa mengganggu aktivitas di sekolah. Tapi, hal ini bisa diatasi dengan banyaknya ditanam pohon pucuk merah di sepanjang pekarangan luar sekolah, mengingat tanaman pucuk merah ini bisa meredam suara. Sehingga jika dilihat dari tepi jalan, sekolah ini seperti sekolah di dalam hutan hijau yang lebat.

Suasana sejuk dan teduh juga bisa dirasa di dalam sekolah ini. Di tepi-tepi ruang kelas, kantor dan taman sekolah banyak terdapat pohon pucuk merah yang rindang. Membuat aktivitas belajar siswa-siswi menjadi lebih nyaman. Pohon pucuk merah ini terus dikembangkan oleh pihak sekolah. Pembibitan terus dilaksanakan. Jika sudah cukup umur, bibit pucuk merah ini ditanam di lahan-lahan yang masih kosong.(Risky Ade Maisal-GSJ dari SMAN 1 Siak)

Sabtu, 27 Februari 2010

Pertanian Skala Kecil, Dinginkan Bumi


Masyarakat dunia saat ini berlomba-lomba menjadi negeri industri pertanian. Didorong tak saja oleh pasar bebas, transportasi yang lancar, tetapi juga paradigma mengganti bahan bakar fosil dengan agroguel (bahan bakar nabati) seperti biodisel. Jika itu dibiarkan terus merajalela, bahan bakar dari industri pertanian itu tak saja jadi bahan bakar pengganti fosil, tetapi juga jadi bahan bakar untuk kelaparan dan kemiskinan.

Itulah yang kini sedang dirisaukan oleh Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI). Lelaki yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai 50 orang di dunia yang menyelamatkan bumi dari Harian Guardian, sebuah harian termuka di Inggris, mengungkapkan agroindustri tak saja akan menjadi bahan bakar bagi kelaparan dan kemiskinan, tetapi sekaligus juga menjadi pengkontribusi dari emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim.

Industri pertanian yang dimaksud adalah pertanian dan perkebunan skala besar serta usaha peternakan yang membutuhkan lahan yang sangat luas. Sehingga menggeser lahan pertanian masyarakat skala kecil yang dulu banyak ditemukan di wilayah agraris seperti di Indonesia dan negara-negara agraris lainnya.

Pria berkumis ini, kepada Riau Pos, beberapa waktu lalu, menyebutkan kontribusi emisi karbon dari industri pertanian di mulai dari sektor transportasi yang mengantar bahan makanan itu ke berbagai belahan dunia. Misalnya, saat ini sangat mudah menemukan buah-buahan, sayur-sayuran, dan danging dari Afrika, Amerika Selatan atau negara-negara kepualaun di Eropa atau Amerika. Kita juga tak lagi kesulitan menemukan beras dari Asia di Amerika atau Afrika.

Nah, dari bahan bakar transportasi antar benua itulah yang menyebabkan emisi karbon menjadi cukup besar. Organisasi petani di Swiss bernama UNITERRE mengkalkulasikan bahwa untuk mengangkut satu kilo asparagus impor dari Mekiko membutuhkan lima liter minyak dengan membawanya dengan pesawat (11.800 km) ke Switzerland. Padahal jika itu ditanam di Switzerland, hanya dibutuhkan 0,3 liter minyak untuk sampai kepada konsumen.

Belum lagi dampak dari moderenisasi industri pertanian yang dalam proses pertaniannya banyak menggunakan bahan kimia seperti untuk pupuk dan pestisida. Selain itu, pertanian monokultur dan peternakan banyak menghasilkan nitrogen dioksia (NO2), yakni senyawa nomor tiga terpenting dalam memberi kontribusi pada pemanasan global.

Persoalan lainnya dari dampak industri pertanian adalah memusnahkan biodiversity (keanekaragaman hayati) dan sekaligus menghilangkan kemampuannya untuk menangkap karbon (salah satu emisi gas rumah kaca). Padahal, tambahnya, secara natural karbon ditangkap dari udara oleh tumbuh-tumbuhan dan disimpan dalam batang kayu dan bahan-bahan organik di dalam tanah. Siklus karbon ini telah menjadi bagian dari keseimbangan iklim selama jutaan tahun.

Namun, dengan adanya industri pertanian membuat keseimbangan itu terganggu. Pasalnya untuk membangun industri pertanian mereka tidak saja menggunakan banyak pestisida dan pupuk kimia, tetapi juga membakar hutan dan lahan untuk menyiapkan pertanian monokultur.
Belum lagi, industri pertanian juga mendorong areal pertanian menjadi areal produksi pertanian. Misalnya menjadi komplesk industri, perumahan, dan kawasan wisata pertanian. Hal itu juga memberi kontribusi pada pelepasan emisi karbon secara masif.

Pria yang menjadi Koordinator Umum International Operational Secretariat (IOS) of La Via Campesina, sebuah organisasi pergerakan petani dunia ini, juga mengkritisi bahan bakar nabati. Dia menyebut itu sebagai solusi yang salah dalam menghadapi krisis energi dan mengurangi emisi karbon sesuai dengan mandat Protokol Kyoto. Pasalnya untuk produksi bahan bakar nabati tersebut lagi-lagi kembali mendorong industri pertanian yang akhirnya mengekspansi lahan pertanian.

Hendry menyebutkan industri pertanian, menurutnya, yang dikelola corporate itu menyebabkan semakin sedikit akses petani terhadap lahan. Alhasil tidak saja menimbulkan kesenjangan yang memicu konflik masyarakat dan perusahaan tetapi juga mendorong masyarakat menghadapi persoalan kelaparan dan kemiskinan. “Industri bahan bakar nabati, sekaligus menjadi bahan bakar kelaparan dan kemiskinan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menyuarakan kedaulatan pangan sebagai kunci menyediakan matapencarian untuk miliaran orang dan upaya menyelamatkan bumi. Menurutnya kedaulatan pangan memprioritaskan pasar lokal dan nasional, memberdayakan petani dan keluarga petani dalam mengendalikan pertanian, dan menjaga produksi pangan. Selanjutnya kedaulan pangan juga mendistribusikan dan mengkonsumsi pangan berlandaskan keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial.***

Jumat, 26 Februari 2010

KOMAHI Taja Kegiatan Kepemimpinan Berwawasan Lingkungan

Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau menyelenggarakan kegiatan green leadership pada 12 sampai 14 Februari. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari ini merupakan sebuah kegiatan tahunan yang diadakan untuk menumbuhkan sikap dan jiwa kepemimpinan kepada para mahasiswa Hubungan Internasional.

“Latihan Kepemimpinan dan Manajemen (LMT) tahun 2010 ini, mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dengan LMT yang telah lalu. Sebab tahun ini, tema yang digunakan adalah green leadership. Tema tersebut sengaja diambil dengan alasan saat ini kita membutuhkan para pemimpin yang tidak hanya memimpin anggota atau masyarakatnya namun juga memahami dan mengerti dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Terutama berbagai permasalahan lingkungan yang selama ini telah menjadi persoalan internasional,” terang Fajril Amini selaku ketua panitia kegiatan tersebut.

Green leadership ini mempunyai konsep ramah lingkungan. Hampir semua perlengkapan acara yang kita gunakan merupakan reuse dan recycle dari perlengkapan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sehingga disamping menggunakan barang-barang yang masih bisa dipakai kembali, kegiatan ini juga sangat hemat”. Fajril menambahkan penjelasannya. Green leadership mempunyai slogan respect, care dan charismatic.

Respect berarti seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau menghormati orang lain dan lingkungannya. Sementara care merupakan bentuk dari sifat kepedulian seorang pemimpin tidak hanya kepada manusia namun juga kepada alam. Sedangkan charismatic adalah bagaimana seorang pemimpin mampu memberikan image yang baik dala kepeimpinannya. Dilla Siska Putri, koordinator acara green leadership menyepakati pernyataan Fajril. Bahwa saat ini, Indonesia membutuhkan pemimpin yang peduli terhadap lingkungan, dan tidak hanya berkonsentari terhadap permalahan politik dan bisnis saja. “Simpelnya, melalui kegiatan green leadership ini, kami ingin menumbuhkan sifat serta mental seorang pemimpin yang peduli terhadap kehidupan biotik dan abiotik,” ucap Dilla menimpali.

Pada puncak kegiatan green leadership tersebut, peserta akan dibagi menurut kelompok-kelompok tertentu. Kemudian setiap kelompok diwajibkan membuat sebuah produk dari barang-barang bekas yang telah disediakan panitia acara. Pembuatan produk layak pakai dari barang bekas tersebut dilakukan sesuai dengan konsep kepemimpinan, sebab semua kelompok diharuskan mempunyai ketua dan wakil ketua. Yang kemudian akan mengkoordinir teman-temannya dalam membuat barang tertentu.

Namun pembuatan barang dari peralatan bekas tersebut mempunyai proses wajib yang harus dilakukan oleh para kelompok. Diantaranya, setiap kelompok harus mempunyai perencanaan matang dan tertulis, sebagai bahan rujukan bagi juri acara untuk menilai kelompok mana yang terbaik. Kemudian dilanjutkan dengan tahap pembuatan barang. Di bagian akhir setiap kelompok melalui juru bicara mereka yang dipilih secara acak dari anggota kelopok lainnya, diberi kesempatan mempresentasikan barang yang telah dibuatnya. Menjelaskan manfaat barang tersebut dan seberapa jauh barang yang telah di recycle itu mampu menjadi jalan sederhana untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan sehingga manusia terhindar dari berbagai permasalahan lingkungan.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari semua pihak yang terkait dengan jurusan Hubungan Internasional. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Efragil Samosir, Mayor Komahi. Bahwa green leadership bukan hanya sebagai pelatihan kepemimpinan biasa namun juga memberikan pesan moral kepada Mahasiswa Hubungan Internasional bahwa pemimpin yang berwawasan lingkungan saat ini, akan mampu menjaga alam disamping juga menjaga masyarakatnya.

“Bahkan untuk membuang sampah pada tempatnya, dibutuhkan jiwa kepemimpinan terhadap diri sendiri. Ini menunjukkan betapa seseorang perlu mendapat wawasan serta pendidikan tentang arti memimpin dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan, sehingga apa yang dilakukannya tidak merugikan siapapun apalagi lingkungannya,” Efragil mengakhiri penjelasannya.(Ivit Sutya – GSJ dari Pekanbaru)

Kamis, 25 Februari 2010

SMP Darma Yudha Kembangkan Biopori

Biopori atau lubang resapan air di dalam tanah untuk pencegahan banjir mungkin belum terlalu familiar bagi masyarakat terutama masyarakat Pekanbaru.

Teknik biopori adalah suatu cara sederhana yang bisa digunakan untuk mencegah banjir dan sangat gampang digunakan dalam rumah tangga yang cenderung tidak mempunyai sumur resapan serta berhalaman sempit. Praktik biopori sangat sederhana dan mudah diterapkan dilingkungan sehari-hari. Hal inilah yang coba dikembangkan oleh sekolah Darma Yudha sejak 8 Maret 2009 lalu.

Ditemui disekolahnya siswa-siswi Darma Yudha terlihat sangat terampil mendemontrasikan cara-cara pembuatan biopori kepada GSJ. Tidak cukup 10 menit dua lubang mungil telah mereka buat lengkap dengan segala perlengkapannya dan tadaaa jadilah biopori sang penyelamat di kala hujan lebat sebagai tempat resapan air yang sangat fleksibel sebab tidak perlu tempat yang luas membuatnya. Bahkan sedikit tanah kosong dipojok sekolah, bisa dimanfaatkan untuk biopori dengan ukuran sekolah seluas Darma Yudha.

“Biopori ini merupakan salah satu program Darma Yudha untuk para siswa-siswi setingkat SMP bekerja sama dengan Gerakan Kemanusian Indonesia. Sekolah Darma Yudha ingin menumbuhkan sifat peduli lingkungan kepada siswa-siswi, dimana mereka bisa melakukan sesuatu tidak hanya di sekolah namun juga dipraktikkan dirumah masing-masing. Biopori adalah salah satu program yang tepat karena pembuatannya sederhana dan tidak memerlukan biaya mahal namun berfungsi sangat efektif menjaga lingkungan terutama menghindari banjir di saat hujan,” ujar Christian Pramudana kepala sekolah Darma Yudha.

Program biopori ini mendapat apresiasi yang penuh semangat dari siswa-siswi Darma Yudha. Philip dari kelas 9 menceritakan dengan bangga bahwa sekolahnya sudah mempunyai kurang lebih 20 buah lubang biopori.

“Membuatnya sangat gampang dan tidak membutuhkan waktu banyak, kami memanfaatkan waktu luang atau saat libur sekolah untuk membuat lubang biopori tersebut. Kelas tujuh dan kelas delapan bersama-sama membuatnya. Kami sangat senang membuat lubang resapan air ini. Sebab biopori bisa mencegah banjir sehingga sekolah kami bebas dari satu masalah lingkungan itu, apalagi nanti timbunan sampah organik dipipa biopori bisa diambil dan dijadikan pupuk kompos” cerita Philip dan teman-temannya antusias.

Mendampingi murid-muridnya membuat biopori dua guru Darma Yudha Bapak Fachrul dan Nunus menjelaskan tentang tahapan pembuatan biopori. Tahapan pertama pembuatan biopori adalah menentukan tempat pembuatan lubang, lokasinya bisa dimana saja di lingkungan sekolah atau rumah tempat tinggal, dan tidak perlu tanah yang luas. Kemudian membuat lubang mungil dengan menggunakan peralatan bor tanah yang bisa didapatkan di toko kelontong. Bor tanah ini terbuat dari besi dengan desain khusus dan memiliki ukuran proporsional untuk kedalaman lubang.

Selanjutnya di tanah yang sudah dilubangi tanam pipa dengan panjang 20 Cm, besar diameter pipa sesuai dengan lubang yang telah dibuat dan jangan lupa menyisakan bagian atas pipa sekitar 5 Cm dari permukaan tanah. Langkah finishing tutup bagian atas pipa yang tadi disisakan dengan kasa berpori kecil. Kasa ini bermanfaat untuk menyaring sampah-sampah besar masuk ke dalam biopori sehingga penyerapan air tidak maksimal jika masuk kedalam lubang.

“Setelah tahap finishing, siswa-siswi akan mendapat tugas bergiliran untuk memeriksa kondisi lubang biopori seminggu sekali, mereka akan mengecek apakah kasanya terlepas atau materi-materi tidak penting seperti sampah yang masuk ke lubang sehingga menghalangi penyerapan air dan kemudian merapikannya kembali sehingga penyerapan air maksimal” jelas Fachrul lebih lanjut. Darma Yudha berkeinginan memperluas kegiatan ini sehingga tidak hanya dilaksanakan dilingkungan sekolah namun juga di luar sekolah dan tempat-tempat umum sehingga permasalahan banjir di Kota Pekanbaru bisa diatasi.

“Saat ini kami masih membutuhkan kerja sama dari instansi atau perusahaan yang mempunyai minat terhadap pendidikan dan lingkungan sehingga bisa bekerjasama dengan pihak sekolah dalam mengembangkan biopori ini tidak hanya di lingkungan sekolah Darma Yudha namun juga lingkungan masyarakat yang lebih luas,” ucap Christian.

Ke depan, tambahnya, pihak sekolah juga akan mencanangkan program lingkungan baru seperti pengelolahan sampah organik dan karya ilmiah lingkungan. Namun mereka masih menunggu jika ada pihak luar yang ingin membantu program ini atau transfer ilmu serta bantuan peralatan seperti kerja sama mereka dengan Gerakan Kemanusia Indonesia. (Ivit Sutya – Mahasiswa HI Universitas Riau)

Selasa, 23 Februari 2010

Berkurangnya Kampung Kami, karena Abrasi

Melihat Salah Satu Kampung yang Terkena Abrasi di Tepian Sungai KamparMelihat Salah Satu Kampung yang Terkena Abrasi di Tepian Sungai Kampar

42 Km dari Kota Pekanbaru menuju Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar, sebuah Kampung bernama Alai, di Desa Sei Tarap, Kecamatan Kampar Timur, tengah dilanda abrasi besar-besaran. Luas daratan kampung itupun kini telah berkurang, karena sebagian masuk ke dalam Sungai Kampar.

“Dulunya kampong ini cukup luas. Di sepanjang bantaran sungai selain terdapat rumah penduduk juga ada lahan untuk bermain anak anak. Bermain bola voli di siang hari dan bermain patok lele di petang hari. Bahkan sepanjang sungai berdiri puluhan batang betung (bambu) yang menjadi payung untuk bangku-bangku (sebutan untuk bale-bale) tempat para lelaki duduk di petang petang hari,” tutur H Yasmail Akbar, warga kampung itu, mengenang bagaimana kampungnya dulu sebelum ditelan abrasi.

‘’Semua sudah hilang. Batang betung sudah tumbang. Bukan hanya itu lapangan pun sudah habis dikikis air,’’ tambahnya, Rabu (10/2), sambil menunjuk ke tebing sungai yang sudah dikikis oleh abrasi.

Tak hanya betung dan lapangan tempat bermain saja yang hilang, lanjutnya. Tetapi, rumah warga pun sudah berada di bibir tebing dan hanya menunggu waktu saja untuk ikut masuk ke dalam sungai.

Yasmail bercerita, dulu semasa kecilnya dia selalu menghabiskan sore harinya di pinggiran Sungai Kampar. Duduk sambil bersenda gurau dengan teman-temannya di atas bangku-bangku tersebut sambil menikmati hembusan angin yang menyusup di antara daun betung. Namun itu hanya tinggal kenangan kini.

Abrasi tebing sungai itu telah berlangsung lama. Sedikit demi sedikit tebing-tebing sungai itu terkikis tiap kali air sungai naik. Akibatnya lahan desa itu semakin berkurang.
Abrasi yang terjadi di tebing Sungai Kampar ini juga menggerus tanah yang berada di bawah tebing. Sehingga walaupun dari dataran tampak masih ada dataran namun di bawah tebing itu sudah digerus oleh air.

‘’Seperti tebing ini, sebenarnya di bawah tebing ini sudah habis digerus air dan bolong. Hanya saja karena ada jalan aspal di atasnya makanya masih bertahan namun kalau dibiarkan jalan ini bisa runtuh,‘’ ujarnya sambil menunjuk jalan yang dimaksud.

Dari pantauan Riau Pos di lapangan, memang bagian bawah jalan itu sudah bolong. Padahal tiga meter dari jalan ada rumah warga yang tentu saja akan berbahaya kalau jalan tersebut runtuh.

Yasmail juga bercerita dulunya di bibir sungai ketika lapangan masih ada juga ada beberapa rumah dan warung milik warga yang menjual makanan saat petang tiba. Namun dengan adanya abrasi warga yang mendiami rumah tersebut memilih untuk pindah, karena setiap banjir tiba tebing sungai selalu runtuh. “Kampung ini memang sudah jauh berkurang tidak seluas dulu,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Sei Tarab Edison, Kamis (11/2) lalu. Menurutnya, dulunya, di desa ini mempunyai lahan yang luas. Warga juga mempunyai kebun di sepanjang sungai untuk bertanam sayur-sayuran namun semua itu saat ini sudah hilang. ‘’Bisa dikatakan hamper 20 persen, wilayah desa ini sudah hilang di bawah sungai. Dan dari 6 Km desa yang berupa tebing sungai semuanya mengalami abrasi yang parah. Hanya sekitar 2 Km saja yang masih baik itupun terancam akan abrasi juga,‘’ ujarnya.

Pihaknya sudah pernah membuat proposal ke Pemkab Kampar untuk meminta bantuan dam sungai. Tahun 2008 lalu dam tersebut sudah dibangunkan. Hanya saja pembangun dam tersebut sekitar 100 meter saja.

‘’Itupun pembangunannya belum sempurna karena dam tersebut tidak ditimbun karena katanya kekurangan dana,‘’ ujarnya.

Dari Pemkab Kampar sendiri saat dikomfirmasi Riau Pos melalui Kadis PU Ir Azmi MT menyatakan Pemkab Kampar sudah menurunkan anggaran untuk mendam tebing sungai Kampar di Desa Sei Tarab. Namun karena keterbatasan dana dam yang baru dilakukan memang hanya 100 meter. Itupun menimbulkan masalah sendiri karena tebing tersebut sudah digerus air sampai kedalaman yang sangat dalam dan di bawah permukaan daratan. Kontraktor pun mengeluh karena membutuhkan biaya yang lebih besar.

Kondisi abrasi ini menurutnya sangat membahayakan bagi bertahannya daratan diperkirakan kurang dari lima tahun maka perkampungan akan berkurang separuhnya.

Abrasi yang terjadi di Kampar tidak hanya pada Desa Sungai Tarab, Kecamatan Kampar Timur saja. Namun hampir disemua desa yang berada ditebing Sungai Kampar, sungai Subayang dan Sungai Tapung.

‘’Untuk Sungai Kampar saja dari peninjuaan kami beberapa waktu yang lalu hampir 2/3 dari tebing sungai yang ada mengalami abrasi‘’ ujar wakil ketua DPRD Kampar H Syahrul Aidi LC MA kepada Riau Pos di Bangkinang. Panjangnya mencapai ratusan KM. Abrasi ini menurutnya mengurangi banyaknya wilayah desa yang sebelumnya pernah ada.

‘’Untuk mengatasi ini tidak hanya bias dilakukan oleh dana Pemkab Kampar saja. Namun harus mengikutsertakan pihak yang lebih besar seperti APBD Provinsi dan APBN secara nasional,‘’ ujarnya.

Politikus dari PKS ini menyatakan abrasi ini harus menjadi isu nasional sehingga banyak pihak yang ikut membantu. Untuk satu meter dam, dibutuhkan puluhan juta. Sementara tebing sungai yang rusak sudah sangat luas dan panjang. Oleh karena itu jika pembiayaannya hanya dibebankan kepada Kampar saja, menurutnya, tidak akan bisa.

Untuk itu dia berharap Pemkab Kampar bisa membawa persoalan ini ke pemerintah propinsi dan nasional sehingga ada upaya penyelamatan. ‘’Kita harus menjemput bola untuk bias menyelamatkan kondisi ini,‘’ ujarnya.


Galian C Perparah Abrasi

Selain itu, berdasarkan pantauan Riau Pos di lapangan. penyebab abrasi di kampung itu juga adalah aktivitas galian C ilegal. Para pengusaha galian C mengeruk sungai dan kerikil yang ada disungai tersebut dengan menggunakan mesin hisap yang mampu mengeruk batu dan kerikil hingga ke dasar sungai. Bahkan pipa penyedot kerikil tersebut panjangnya mencapai 40 meter bahkan 70 meter. Sehingga walaupun pompong pembawa mesin berada ditengah sungai namun pipa menjangkau tebing sungai dan akhirnya tebingpun tergerus.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kampar Ir Jalinus saat dikomfirmasi Riau Pos menyatakan dari hampir 80 pengusaha galian C di sungai Kampar hampir semuanya tidak mempunyai izin. Pihaknya sudah berulang kali memperingatkan. ‘’Namun peringatan itu tidak digubris bahkan kita malah tidak dianggap apa apa,‘’ujarnya.


Tanami Kembali Bambu

Adanya abrasi ini disebabkan juga karena adanya kerusakan lingkungan. Wahyudi, sekretaris Yayasan Pelopor kepada Riau Pos menyatakan, adanya abrasi ini selain faktor alam juga disebabkan karena kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah banyaknya penebangan pohon di sepanjang Sungai Kampar.

‘’Bambu atau betung yang dulu menahan tebing juga sudah banyak ditebang,‘’ ujarnya.

Yudi menyatakan saaat ini semua pihak harus kembali turun bersama-sama menanam bantaran sungai. Menurutnya kalau diharapkan kemampuan pemerintah untuk membangun turap, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama.

‘’Kalau perlu setiap desa menanam kembali bambu betung itu dan menjaganya sampai besar sehingga tebing sungai dapat diselamatkan,‘’ujarnya.

Yudi juga mengharapkan adanya political will dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini. Salah satunya dengan membuat Perda atau aturan khusus untuk menyelamatkan tebing sungai sehingga mereka yang merusak lingkungan akan mendapatkan sanksi tegas.

Semoga Pemkab Kampar cepat bertindak dan bisa mengatasi ketidakberdayaannya dalam menghentikan aktivitas galian C ilegal. Tentu juga segera pula merehabilitasi bantaran sungai dengan penghijauan. Agar kampung-kampung yang berada di tepian Sungai Kampar itu tidak hilang masuk ke dalam sungai.(ndi).

Senin, 22 Februari 2010

Valentine untuk Bumi

“Mencintai bumi bisa dilakukan dengan banyak hal. Dengan cara membuang sampah di tempatnya. Mengurangi penebangan pohon agar bumi tetap sejuk. Mengolah limbah agar tidak menjadi gas yang berbahaya dan salah satunya adalah mengurangi polusi atau menciptakan udara yang segar seperti car free day ini,” terang Edo anggota GSJ panjang lebar.

Berbagai cara anak-anak muda dalam merayakan hari valentine menginspirasi Green Student Journalis (GSJ) untuk membuktikan rasa cintanya terhadap bumi. Salah satu agenda pembuktian itu adalah dengan hadirnya GSJ di car free day dan menggelar aksi kampanye cinta bumi, Ahad (14/2). Kegiatan GSJ in action di car free day selain untuk mengekspresikan rasa kecintaan terhadap bumi juga bertujuan untuk memberikan kepahaman terhadap generasi muda maupun generasi tua bahwa rasa cinta itu tidak hanya bisa diberikan terhadap manusia tetapi juga diberikan terhadap lingkungan dan bumi yang ditinggali manusia ini.

Dalam aksi itu GSJ membuat semacam baju dari karton untuk mengumpulkan tanda tangan dan testimoni dari pengunjung car free day. Selain baju dari karton GSJ juga membawa voice wall yang berfungsi sama dengan baju karton tersebut. Voice wall tersebut terlihat mencolok dengan ukuran 2,5 meter dan berwarna pink.

“Sengaja sih dipilih warna pink, biar pas sama perayaan valentine day “ ungkap Nana salah satu anggota GSJ.

Selain itu GSJ juga membagi-bagikan stiker yang bertuliskan love our earth kepada pengunjung. Dalam aksi tersebut ada Dian dan Imam dari MAN 2 Model yang ikut sukarela membantu GSJ dengan memakai baju karton dan berkeliling untuk berusaha mendapatkan tanda tangan dan testimoni dari pengunjung.

“Saya lagi kalah taruhan sama teman kak, jadi saya mau bantuin deh,” kata Imam yang dengan ikhlas dan pasrah memakai baju karton dan terlihat seperti robot berjalan.
Tanggapan pengunjung car free day sangat bermacam-macam. Sebagian besar mendukung kegiatan kampanye tersebut. Namun tidak sedikit juga yang acuh tak acuh terhadap kegiatan GSJ.

“Biar sajalah bumi ini hancur, bukankah sekarang lingkungan memang sudah mulai hancur dengan ditebanginya pepohonan,“ ungkap salah seorang pengunjung car free day sembari berlalu.

Hal lain yang terjadi adalah ada beberapa orang yang sibuk memotret aksi GSJ dengan kamera handphone tetapi ketika dimintai tanda tangan atau komentarnya tentang lingkungan langsung bergegas pergi dengan rasa tak bersalah dan senyum tanpa dosa. Namun dibandingkan yang kontra kepada aksi GSJ yang pro lebih banyak. Mulai dari komunitas sepeda onthel. Ada beberapa klub futsal yang antusias memberikan tanda tangan dan testimoni di voice wall. Ada juga bapak-bapak polisi lalu lintas (Polantas) yang bertugas menjaga garis batas area car free day dengan senang hati memberikan tanda tangan dan testimoni plus foto-foto bareng GSJ. Salah seorang Polantas juga sempat meminta penjelasan kepada GSJ tentang bagaimana kiat-kiat mencintai bumi.

“Mencintai bumi bisa dilakukan dengan banyak hal. Dengan cara membuang sampah di tempatnya. Mengurangi penebangan pohon agar bumi tetap sejuk. Mengolah limbah agar tidak menjadi gas yang berbahaya dan salah satunya adalah mengurangi polusi atau menciptakan udara yang segar seperti car free day ini,’’ terang Edo anggota GSJ panjang lebar.

Ada kelompok eskul EYES, semacam Sispala dari SMA 8 yang di ketuai oleh Habib, memberikan tanda tangannya dan mereka merasa GSJ adalah wadah yang cocok untuk komunitas yang cinta kepada lingkungan. Sementara yang paling ramai dan seru ada Challenger Mountain Bike Club (CMBC) yaitu klub sepeda gunung.

“ CMBC ini terbentuk karena hobi yang pertama, yang kedua klub sepeda ini kan tiap minggu off road di sepanjang jalan Tenayanraya hingga rumbai, jadi ya bisa dibilang komunitas ini adalah komunitas yang ramah lingkungan. Karena dengan bersepeda kita bisa mengurangi emisi, setidaknya seminggu sekali,” tutur Debby satu-satunya perempuan di CMBC Pekanbaru.
Menurut penuturan Debby CMBC ini memiliki banyak klub di luar pekanbaru seperti di Perawang dan Duri. Jadi ketika ada event-event, klub yang dari Perawang dan Duri bergabung dengan klub yang di Pekanbaru.

“Anggota CMBC tidak dibatasi oleh umur kok, siapa saja bisa gabung asalkan mempunyai hobi bersepeda dan naik gunung, bahkan yang dari Perawang ada lho yang masih SD,” papar Debby yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan ini.

Agenda CMBC ini juga lumayan padat. Terbukti pada tanggal 26 mendatang mereka akan ke Medan dan akan mendaki gunung yang ada di Medan dengan sepeda.

CMBC memang termasuk komunitas yang peduli dengan alam dan lingkungan. Karena seperti yang telah dituturkan Debby sepeda adalah kendaraan yang tidak menimbulkan polusi bahkan bersepeda bisa mengurangi lemak dan melemaskan otot kaki. Lagipula komunitas ini sering mengunjungi gunung untuk membuktikan cintanya pada bumi dan lebih dekat dengan lingkungan.
Selain GSJ in Action di car free day juga diramaikan dengan senam massal. Di pagi itu ada juga pertunjukan barongsai karena selain valentine day hari Ahad tersebut bertepatan dengan hari raya Imlek. Tak jauh dari tempat GSJ standby terdapat mobil Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru yang mengadakan acara pemeriksaan kesehatan gratis.

Dalam aksinya GSJ juga membawa kantong plastik besar untuk mengumpulkan sampah. Jika pemerintah mempunyai semboyan “one man one tree” atau satu orang satu pohon untuk perbaikan bumi maka GSJ mempunyai semboyan “satu orang satu sampah” untuk perbaikan lingkungan. GSJ in action di car free day berakhir pada pukul 09.00 WIB bersamaan dengan waktu berakhirnya car free day yang dimulai dari pukul 05.00 – 09.00 WIB. Sebelum bubar GSJ sempat berfoto-foto di depan tugu pahlawan dan meneriakkan yel-yel tentang lingkungan membuat pemakai ruas jalan yang sudah dibuka untuk kendaraan menoleh kepada GSJ. Ada yang tersenyum.Ada yang menggeleng tak mengerti. Namun ada juga yang mengangguk-angguk.

“Hari ini GSJ ingin menyerukan kepada semua generasi, khususnya generasi muda untuk lebih mencintai lingkungan, mencintai bumi, dan memahami apa itu arti valentine day. Bahwa rasa cinta itu nggak hanya untuk sesama manusia apalagi hanya untuk pasangannya saja, bumi dan lingkungan juga membutuhkan kasih sayang kita, karena itu mari kita sama-sama menjaga bumi kita agar global warming maupun bencana-bencana alam yang lain tidak sampai terjadi lagi,” ucap Ivit Sutya koordinator GSJ dengan berapi-api.

“Setuju…”seru anggota GSJ yang lain dengan penuh semangat.(Asrul Rahmawati, GSJ dari Fasilkasi UMRI)

Jumat, 19 Februari 2010

SMP Darma Yudha Kembangkan Biopori

Biopori atau lubang resapan air di dalam tanah untuk pencegahan banjir mungkin belum terlalu familiar bagi masyarakat terutama masyarakat Pekanbaru.

Teknik biopori adalah suatu cara sederhana yang bisa digunakan untuk mencegah banjir dan sangat gampang digunakan dalam rumah tangga yang cenderung tidak mempunyai sumur resapan serta berhalaman sempit. Praktik biopori sangat sederhana dan mudah diterapkan dilingkungan sehari-hari. Hal inilah yang coba dikembangkan oleh sekolah Darma Yudha sejak 8 Maret 2009 lalu.

Ditemui disekolahnya siswa-siswi Darma Yudha terlihat sangat terampil mendemontrasikan cara-cara pembuatan biopori kepada GSJ. Tidak cukup 10 menit dua lubang mungil telah mereka buat lengkap dengan segala perlengkapannya dan tadaaa jadilah biopori sang penyelamat di kala hujan lebat sebagai tempat resapan air yang sangat fleksibel sebab tidak perlu tempat yang luas membuatnya. Bahkan sedikit tanah kosong dipojok sekolah, bisa dimanfaatkan untuk biopori dengan ukuran sekolah seluas Darma Yudha.

“Biopori ini merupakan salah satu program Darma Yudha untuk para siswa-siswi setingkat SMP bekerja sama dengan Gerakan Kemanusian Indonesia. Sekolah Darma Yudha ingin menumbuhkan sifat peduli lingkungan kepada siswa-siswi, dimana mereka bisa melakukan sesuatu tidak hanya di sekolah namun juga dipraktikkan dirumah masing-masing. Biopori adalah salah satu program yang tepat karena pembuatannya sederhana dan tidak memerlukan biaya mahal namun berfungsi sangat efektif menjaga lingkungan terutama menghindari banjir di saat hujan,” ujar Christian Pramudana kepala sekolah Darma Yudha.

Program biopori ini mendapat apresiasi yang penuh semangat dari siswa-siswi Darma Yudha. Philip dari kelas 9 menceritakan dengan bangga bahwa sekolahnya sudah mempunyai kurang lebih 20 buah lubang biopori.

“Membuatnya sangat gampang dan tidak membutuhkan waktu banyak, kami memanfaatkan waktu luang atau saat libur sekolah untuk membuat lubang biopori tersebut. Kelas tujuh dan kelas delapan bersama-sama membuatnya. Kami sangat senang membuat lubang resapan air ini. Sebab biopori bisa mencegah banjir sehingga sekolah kami bebas dari satu masalah lingkungan itu, apalagi nanti timbunan sampah organik dipipa biopori bisa diambil dan dijadikan pupuk kompos” cerita Philip dan teman-temannya antusias.

Mendampingi murid-muridnya membuat biopori dua guru Darma Yudha Bapak Fachrul dan Nunus menjelaskan tentang tahapan pembuatan biopori. Tahapan pertama pembuatan biopori adalah menentukan tempat pembuatan lubang, lokasinya bisa dimana saja di lingkungan sekolah atau rumah tempat tinggal, dan tidak perlu tanah yang luas. Kemudian membuat lubang mungil dengan menggunakan peralatan bor tanah yang bisa didapatkan di toko kelontong. Bor tanah ini terbuat dari besi dengan desain khusus dan memiliki ukuran proporsional untuk kedalaman lubang.

Selanjutnya di tanah yang sudah dilubangi tanam pipa dengan panjang 20 Cm, besar diameter pipa sesuai dengan lubang yang telah dibuat dan jangan lupa menyisakan bagian atas pipa sekitar 5 Cm dari permukaan tanah. Langkah finishing tutup bagian atas pipa yang tadi disisakan dengan kasa berpori kecil. Kasa ini bermanfaat untuk menyaring sampah-sampah besar masuk ke dalam biopori sehingga penyerapan air tidak maksimal jika masuk kedalam lubang.

“Setelah tahap finishing, siswa-siswi akan mendapat tugas bergiliran untuk memeriksa kondisi lubang biopori seminggu sekali, mereka akan mengecek apakah kasanya terlepas atau materi-materi tidak penting seperti sampah yang masuk ke lubang sehingga menghalangi penyerapan air dan kemudian merapikannya kembali sehingga penyerapan air maksimal” jelas Fachrul lebih lanjut. Darma Yudha berkeinginan memperluas kegiatan ini sehingga tidak hanya dilaksanakan dilingkungan sekolah namun juga di luar sekolah dan tempat-tempat umum sehingga permasalahan banjir di Kota Pekanbaru bisa diatasi.

“Saat ini kami masih membutuhkan kerja sama dari instansi atau perusahaan yang mempunyai minat terhadap pendidikan dan lingkungan sehingga bisa bekerjasama dengan pihak sekolah dalam mengembangkan biopori ini tidak hanya di lingkungan sekolah Darma Yudha namun juga lingkungan masyarakat yang lebih luas,” ucap Christian.

Ke depan, tambahnya, pihak sekolah juga akan mencanangkan program lingkungan baru seperti pengelolahan sampah organik dan karya ilmiah lingkungan. Namun mereka masih menunggu jika ada pihak luar yang ingin membantu program ini atau transfer ilmu serta bantuan peralatan seperti kerja sama mereka dengan Gerakan Kemanusia Indonesia. (Ivit Sutya – Mahasiswa HI Universitas Riau)

Kamis, 18 Februari 2010

Tumpukan Sampah Organik yang Dipadatkan

ilegal logging dari udaraMengenal Gambut, dari Semenanjung Kampar ke Kopenhagen (1)

Tiga tahun yang lalu, Emmy Hafild, saat itu Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, mengungkapkan kepada Riau Pos, Riau bisa menjadi pahlawan dunia untuk dalam hal perubahan bila menyelamatkan gambut yang dimilikinya. Bahkan bisa meraup dolar dunia dari stok karbon yang dimilikinya di lahan gambut. Namun benarkah itu? Inilah hasil penelusuran panjang Riau Pos dari sejumlah literatur, diskusi bersama para ahli dalam dan luar negeri, hingga pengalaman tiga kali berturut-turut mengikuti Konferensi Perubahan Iklim Sedunia (UNFCCC) sejak Bali (2007) hingga Kopenhagen (2009)

Akhir November 2009, di GG House, Bogor, dalam pembekalan wartawan Indonesia yang akan meliput Konferensi Perubahan Iklim Sedunia (UNFCCC) COP 15, di Kopenhagen, Prof Daniel Murdiyarso dari Center for International Forestry Reseach, membuka forum diskusi tentang gambut.

“Gambut itu seperti tumpukan sampah yang dipadatkan,” ujarnya memberi penjelasan sederhana tentang jenis tanah yang kini banyak diributkan oleh aktivis lingkungan agar eksploitasinya dihentikan. Terutama di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, yang kini masih terus menjadi perdebatan para pihak, antara kepentingan ekonomi, konservasi dan melawan perubahan iklim.

Tumpukan sampah itu, berisi zat-zat organik yang dipadatkan. Bisa potongan daun, ranting, batang pohon hingga berbagai bahan organik lainnya yang pembusukannya terhenti karena tingginya kadar asam akibat kawasan itu jenuh (tergenang) air.

Gambut umumnya mengisi cekungan-cekungan yang berada tidak jauh dari sungai. Itulah sebabnya gambut sering disebut sebagai tempat penyimpan cadangan air untuk sungai-sungai di dekatnya. Air di areal gambut secara alami akan mengalir ke sungai-sungai tersebut lewat aliran air tanah bila musim kemarau tiba. Keberadaan gambut di sekitar sungai itulah membuat sungai tak gampang meluap saat musim hujan dan tak mudah kering di musim kemarau.

Sekarang, bayangkan bila tumpukan sampah organik itu dikeringkan dengan cara membuat kanal-kanal di antaranya? Air dari kawasan gambut tersebut pasti akan terkumpul ke dalam kanal, kemudian akan secepat kilat pula mengalir ke tempat yang lebih rendah akibatnya tanah dari tumpukan sampah organik tadi mengering. Jika sudah mengering, ia tak lagi bisa mengikat air (Ia bersifat irreversible). Akibatnya, fungsinya sebagai penyimpan cadangan air menghilang.

Bila air hujan turun, air yang jatuh di kawasan gambut akan segera saja lewat. Mereka tak lagi bisa bersatu. Air itu akan langsung bersatu di sungai. Sungai yang tidak memiliki kapasitas terbatas akan meluapkannya ke seluruh penjuru yang lebih rendah dari tubuhnya. Alhasil banjir di sekitar bantaran sungai terjadi di mana-mana saat musim hujan tiba.

Saat musim kering tiba, sampah organik padat yang memang tak bisa lagi menyatu dengan air ini akan semakin kering dan menjadi bahan bakar bagus bila sekali terpatik api. Sama seperti kalau kita mengumpulkan daun dan ranting-ranting kering serta kayu-kayu lapuk.

Jika dibakar segera menyala dan kalau sudah menyala apinya pun menjadi liar. Tidak saja melalap yang dibagian atas, tetapi juga ke kiri dan ke kanan serta ke bahwa. Sama halnya kalau kita membakar serbuk gergaji, apinya akan menyebar kemana-mana. Jalaran apinya kadang juga tidak kelihatan, tapi tahu-tahu semua sudah menghitam tanda terbakar.

Nah, sekarang bayangkan lagi, kalau lapisan sampah organik kering dan padat itu terbakar hingga ketebalan 20 meter (ketebalan gambut dalam)! Pasti kebakarannya sangat hebat dan sangat sulit dipadamkan. Tumpukan sampah organik kering dan padat itu tidak akan berhenti terbakar kalau tidak disiram dengan air yang mampu menggenangi wilayahnya secara keseluruhan. Kalau hanya disiram sedikit, sama halnya dengan memercikkan api di tungku api. Pasti yang kemudian muncul adalah asap tebal. Apipun belum tentu padam. Api bisa saja sudah menjalar ke bagian kanan, kiri, dan bawah yang tidak tersentuh air tadi.

Fenomena itulah yang dihadapi oleh daerah-daerah pemilik kawasan gambut yang telah rusak. Jika musim hujan kebanjiran, jika musim kering dikepung asap akibat kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan terjadi di mana-mana.

Selain itu, persoalan kerusakan gambut, kini tak lagi populer sekedar penyebab banjir dan kebarakan hutan dan lahan serta bencana asap. Tetapi telah bergerak menjadi persoalan dunia, karena kawasan gambut rentan menjadi kawasan penghasil emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim.

Pasalnya kawasan itu memiliki potensi mengemisi karbon dua kali lipat. Pertama, saat ia dikeringkan, kedua saat ia terbakar. Gambut kering dan terbakar ini pulalah yang menempatkan posisi Indonesia menjadi negara nomor tiga di dunia sebagai penghasil emisi.

Rabu, 17 Februari 2010

Hemat Energi, dari Minyak Tanah menjadi Gas

Langkah pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke gas tidak saja memiliki dampak bagus bagi perekonomian bangsa karena mengurangi subsidi. Tetapi juga berdampak bagus bagi lingkungan karena mengurangi polusi udara.

Masyarakatpun senang dengan program tersebut, seperti yang dikemukakan Bude Ella, seorang pedagang lontong di Jalan TegalSari Rumbai.

Perempuan ini menilai, kebijakan pemerintah mengganti subsidi minyak tanah dengan gas merupakan langkah yang efektif. Alasannya penggunan gas memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya memasak jadi lebih cepat sehingga penggunaan gas lebih hemat dibanding minyak tanah. Dengan demikian energi yang digunakan lebih sedikit sehingga mengurangi emisi gas.

Hal senada juga diutarakan oleh Pitok, seorang karyawan swasta yang tinggal di Jalan Merapi, Bukit Barisan. “Istri saya merasakan kemudahan dalm memasak dan jika dibandingkan dengan minyak tanah, harga gas jauh lebih murah,’’ kata bapak satu anak ini.

Jadi pakai gas lebih hemat, sekaligus bisa membantu menyelamatkan bumi dari polusi udara yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global. (Ghista Dilla-GSJ)

Selasa, 16 Februari 2010

Gambut, antara Penyelamat atau Sumber Petaka

Mengenal Gambut, dari Semenanjung Kampar ke Kopenhagen (2)

Gambut tak hanya bisa menjadi penyelamat dunia dari perubahan iklim. Namun sekaligus juga menjadi sumber petaka bila salah urus karena emisi gas rumah kacanya dapat memicu percepatan terjadinya perubahan iklim.

Kembali bayangkan gambut sebagai tumpukan padat sampah organik yang berisi potongan ranting, daun, batang, dan zat organik lainnya yang dikeringkan kemudian dibakar. Pastilah gas-gas rumah kaca seperti carbon dioksida (CO2), methana (CH2), dan nitorus oksida (N2O) sebagai hasil pembakarannya tak terhingga banyaknya. Apalagi jika sampah yang dibakar itu ketebalannya hingga 20 meter (kedalaman gambut dalam) seperti yang terdapat di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan.

Saat gambut rusak atau terbakar, menurut Hans Joosten dari Wetland International, awal Desember lalu, tak hanya melepaskan stok karbon yang tersimpan sejak ribuan tahun lalu. Namun, tambah Haris Gunawan, dosen biologi FMIPA Universitas Riau, medio Januari, juga mengakibatkan gambut kehilangan kemampuannya menyerap emisi karbon di udara lewat vegetasi yang dimilikinya.

Gambut secara global, menyimpan sekitar 329-525 giga ton (Gt) karbon. Sekitar 86 persen (445 Gt) dari karbon di lahan gambut tersimpan di daerah subtropis, terutama Kanada dan Rusia. Sementara sisanya 14 persen (70 Gt) terdapat di daerah tropis, terutama di Indonesia (sekitar 50 persen lahan gambut tropis terdapat di Indonesia, red). Haris menjelaskan, gambut di daerah tropis berasal dari material kayu, sementara subtopis dari rumput dan lumut.

Data Wetland International, lahan gambut terluas terdapat di Rusia bagian Asia (1.176 280 km2), selanjutnya Kanada (1.133.926 km2), dan nomor tiga Indonesia (265.500 km2). Dengan demikian Indonesia memiliki luas kawasan gambut tropis terluas karena Rusia dan Kanada termasuk daerah subtropis.

Meskipun lahan gambut di daerah tropis lebih sedikit, namun menurut data Wetland International emisi gas rumah kaca paling banyak terjadi di daerah gambut tropis, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia dan Papua New Guini. Bahkan data Wetland yang dilansir di Konferensi Perubahan Iklim Sedunia (UNFCCC) COP15, di Kopenhagen, Desember lalu, menyebutkan tingkat emisi Indonesia dilahan gambut paling tinggi (500 Mton Co2, data 2008 dan belum termasuk kebakaran lahan gambut,red). Faktor utama tingginya tingkat emisi ini terkait dengan pengeringan lahan gambut.

Namun posisi Indonesia itu akan kebalikannya, dari si sumber petaka (karena melepaskan gas rumah kaca) menjadi penyelamat bumi (bila lahan gambut yang ada di dikelola dengan cara berkelanjutan). Pasalnya salah satu poin dalam International Symposium and Workshop on Tropical Peatland, tahun 2007 lalu, menyebutkan lahan gambut Indonesia yang berkisar 20 juta hektar tersebut mampu menyimpan sekitar 30 persen kapasitas karbon global di dalam tanah. Selanjutnya di atas tanah, lahan gambut bisa menyimpan karbon dalam bentuk vegetasi hutannya. Jadi tingkat menyerap karbon di lahan gambut dua kali lipat.

Dengan demikian pendapat Emmy Hafild, saat itu Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, yang menyatakan Riau bisa menjadi pahlawan dunia dalam melawan perubahan iklim lewat pengelolaan lahan gambutnya secara berkelanjutan dapat dibenarkan. Bila lahan gambut di Riau yang menurut data Badan Lingkungan Hidup (BLH) seluas 4.033.666 ha (terluas di Sumatera, red) dengan kandungan karbon sebesar 16.833,45 juta ton dikelolah dengan baik.

Senin, 15 Februari 2010

Danau Aneh yang Tidak Membeku di Kutub Selatan

Secara gaib alam yang menarik memperlihatkan kehebatan sihirnya : di alam salju yang ekstrem dingin diluar dugaan secara menakjubkan terdapat sebuah danau yang tidak membeku. Kutub selatan adalah dunia salju yang tidak dihuni manusia, mempunyai istilah “daratan putih”.

Di kutub selatan, sejauh mata memandang, tampak sehamparan luas salju yang putih mulus dan cahaya perak yang berkilauan. Tanah seluas 14 juta km persegi ini, hampir seluruhnya diselimuti oleh salju setebal ratusan hingga ribuan meter, suhu 50-60 derajat C di bawah nol, membuat segala yang ada disini kehilangan daya hidup dan fungsinya semula. Minyak bumi disini membeku bagaikan beton aspal menjadi benda padat warna hitam, sedangkan minyak tanah disini menjadi bahan tak terbakar karena tidak mencapai titik nyala.

Namun, secara gaib alam yang menarik ini memperlihatkan kehebatan sihirnya yang menakjubkan : di alam salju yang ekstrem dingin ini di luar dugaan terdapat sebuah danau yang tidak membeku. Masalah seputar danau yang tidak membeku ini, ilmuwan mengemukakan berbagai perkiraan dan dugaan, namun hingga saat ini belum ada seorang ilmuwan pun yang dapat memberi kesimpulan yang memuaskan dan meyakinkan. Danau yang tidak membeku di kutub selatan ini memang begitu misterius, jika hendak menyingkap cadar misteri ini masih perlu penelitan lebih lanjut.

Fenomena ganjil danau yang tidak membeku
Sebagian besar daerah Antartika diselimuti dengan lapisan es yang sangat tebal, tebal rata-rata mencapai 1.880 meter dan lapisan es di sejumlah besar daerah mencapai lebih dari 4.000 meter, sehingga disebut “daratan es dan salju”. Iklim di daratan kutub selatan sangat dingin, suhu rata-rata per tahun hanya -25 derajat C, suhu terendah mencapai –90 derajat C, karena itu juga disebut “ekstrim dingin dunia”.

Namun, justru di atas tanah yang diselimuti dengan es dan salju yang dingin ini, terdapat danau tidak beku, benar-benar membingungkan. Pada 1960 silam, dimana setelah sarjana Jepang menganalisis data pengukurannya mendapati, suhu air di bawah lapian es tipis permukaan tersebut sekitar 0 derajat C, seiring dengan meningkatnya tingkat kedalaman, suhu air terus meningkat. Di kedalaman sepanjang 16 meter, suhu air naik 7.7 derajat C. suhu ini terus secara stabil bertahan hingga kedalamam 40 meter. Di bawah 40 meter, suhu air perlahan-lahan naik. Dan di kedalaman 50 meter, tingkat kenaikan suhu tiba-tiba melonjak drastic. Sampai pada dasar sedalam 66 meter, di luar dugaan suhu air mencapai 25 derajat C, tidak jauh berbeda dengan suhu di permukaan Dongha pada musim panas.

Bagaimana terjadinya danau yang tidak membeku di lingkungan yang sangat dingin di kutub selatan ini, sungguh membingungkan.

Dalam kurun waktu 1974-1976, dimana dalam foto yang direkam berkali-kali dari satelit bumi buatan, para ilmuwan mendapati bahwa di alam benua es kutub selatan terdapat sebuah danau yang tidak membeku seluas kurang lebih 480,36 ribu meter persegi. Danau ini kadang muncul dan kadang tak kelihatan. Pada 1981 silam, eks negara Uni Soviet dan Amerika Serikat mengirim tim survei ke kutub selatan yang dibentuk 26 personel. Mereka mencari posisi danau tersebut berdasarkan petunjuk dari foto yang direkam satelit, namun tidak ditemukan. Para tim survei hanya menemukan gelembung udara yang tak terhitung banyaknya dengan suhu agak tinggi di perairan danau yang tidak membeku tersebut.

Mengapa terdapat danau yang tidak membeku di kutub selatan ?
Setelah fenomena yang ganjil ini diumumkan, seketika menarik minat para ilmuwan, mereka melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap hal ini dan mengemukakan berbagai pandangan mereka.

Ada yang mengemukakan bahwa itu adalah akibat percampuran antara suhu dan tekanan atmosfer dalam kondisi tertentu. Menurut mereka, bahwa di kawasan kutub selatan, karena air laut dikedalaman 500 meter tidak secara langsung bersentuhan dengan udara yang dingin, maka suhu air lebih tinggi dari suhu dipermukaan. Efek dari perbedaan suhu ini membuat air laut menghasilkan gerakan yang mengarah secara vertikal, dengan demikian akhirnya membentuk sebuah pusaran.

Dengan bersandar pada kekuatan pusaran ini, air laut di kedalaman 500 meter lalu digulung sampai ke atas permukaan laut, kemudian menjadi danau yang tidak membeku.

Dan menurut pandangan lainnya, bahwa di kawasan yang berdekatan dengan laut di kutub selatan, terdapat sejumlah lubang air asin. Lubang-lubang air asin ini dapat menyebarkan energi panas, sehingga dengan demikian membeku menjadi bongkahan es raksasa. Saat bobot bongkahan es terlalu besar, maka segenap bongkahan es-nya akan tenggelam ke dasar laut. Di bawah tekanan bongkahan es yang maha besar, air laut yang bersuhu lebih tinggi di lapisan dalam akan naik ke permukaan, lalu menjadi danau tidak beku. Setelah air danau bersentuhan beberapa saat dengan udara dingin, air danau tersebut kemudian menjadi bongkahan es raksasa, karenanya danau tidak beku itu pun lenyap.

Bahkan sejumlah ilmuwan menduga : bahwa di bawah lapisan es kutub selatan, besar kemungkinan terdapat sebuah markas rahasia yang dibangun makhluk angkasa luar, mereka-lah yang menyebarkan energi panas di tempat aktivitas mereka sehingga membuat es disini menjadi lumer.

Oleh : Kresno Aji

Minggu, 14 Februari 2010

Isu Perubahan Iklim Disetarakan Isu Perekonomian

Hasil survei yang dilakukan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Climate Confidence Monitor pada Juli-Agustus 2009 menunjukkan adanya peningkatan kepedulian dan komitmen global terhadap dampak buruk perubahan iklim. Survei ini dilakukan terhadap 12.000 nasabah HSBC yang berasal dari 12 negara. Sayangnya, Indonesia belum termasuk menjadi salah satu negara yang disurvei.

Vice President Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Furiyanti memaparkan, empat konsen dari survei ini adalah keprihatinan responden terhadap dampak perubahan iklim, komitmen untuk menanggulangi dampak perubahan iklim, keoptimistisan dalam mengurangi dampak perubahan iklim, dan tingkat kepercayaan diri untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Hasilnya, tujuh dari sepuluh reponden atau sebanyak 69 persen menganggap isu perubahan iklim lebih penting atau setidaknya sama penting dengan upaya penanganan masalah ekonomi.

"Secara umum, isu perubahan iklim ini menempati peringkat keempat disamping isu ekonomi, terorisme dan kekerasan. Posisi ini bahkan diatas isu nature disaster dan penyakit pandemik seperti AIDS, flu babi, dan kemiskinan. Bahkan, di Meksiko, 22 persen responden memposisikan perubahan iklim di urutan teratas," urai Furi, pada jumpa pers di HSBC Learning Centre, Menara Mulia, Jakarta, Selasa (17/11) sore.

Sebanyak 65 persen responden di 12 negara ini berpandangan, dibutuhkan upaya internasional yang lebih serius, khususnya oleh pemerintah, dalam menangani masalah perubahan iklim. "Hal ini berarti, ada pesan kepada pemerintah untuk mempersiapkan kebijakan program kerja atas penanganan perubahan iklim. Terutama, dalam UN Climate Change Conference di Kopenhagen, Desember mendatang," tambah Furi.

Terhadap konferensi perubahan iklim PBB tersebut, survei juga menunjukkan, adanya keinginan bertindak yang lebih kuat dari negara-negara berkembang dibandingkan negara maju. Sebanyak 86 persen responden di Brazil dan 75 persen responden di China, yakin bahwa kesepakatan yang dihasilkan di Kopenhagen sangat penting. Secara global, hanya 2 persen responden yang menyatakan kesepakatan baru tidak penting.

Dari sisi gaya hidup, komitmen responden untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan juga meningkat. Setidaknya, hal itu ditunjukkan dari 36 persen responden yang menyatakan komitmen untuk mengubah gaya hidupnya. Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan survei yang sama tahun 2008 (32 persen). Aksi nyata yang dipilih responden, di antaranya menerapkan daur ulang barang yang tak terpakai dan menghemat energi.

Survei mengenai perubahan iklim ini merupakan bagian dari HSBC Climate Partnership yang dimulai sejak tahun 2007. Dua belas negara yang disurvei di antaranya adalah Australia, Brazil, Kanada, China, Jerman, Hongkong, India, Malaysia, Meksiko, Inggris, dan Amerika Serikat. Tahun depan, Indonesia diusulkan menjadi salah satu negara yang turut disurvei.

Sumber: Warga Hijau

Sabtu, 13 Februari 2010

Nadine Chandrawinata: Hemat Air Yuk!

Nadine Chandrawinata selama ini selalu jadi sosok yang peduli lingkungan. Kali ini, mantan Puteri Indonesia ini memberikan dukungan pada gerakan 'Say No Krisis Air Indonesia dan Dunia.' Nadine berharap dapat mengajak masyarakat terlibat serta dalam gerakan ini.

Nadine ikut terlibat dalam kegiatan ini dengan harapan dapat mengajak serta masyarakat untuk lebih memperhatikan alam. "Keterlibatan di Live Earth ini memang untuk alam karena alamnya sudah sangat parah bukan hanya Indonesia saja tapi dunia bahwa kelangkaan akan air bersih itu sekarang sudah mulai terasa. Keterlibatan saya sendiri ingin mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan alam kita dengan menghemat air," terangnya saat ditemui di Gedung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta Pusat, Selasa (2/2).

Acara Live Earth ini bukan hanya dilakukan Indonesia, tapi juga 40 negara lain. Nadine sendiri akan ikut berpartisipasi dengan hadir di Bali. "Saya mendukung acara Live Earth ini bukan hanya Indonesia tapi ada 40 negara yang terlibat di acara ini. Yang pastinya tanggal 18 April akan berada di Bali, saya sendiri belum tahu apakah saya nanti akan berpuisi, nari atau hanya menjadi MC. Saya berharap pesan-pesan yang berhubungan dengan acara ini bisa sampai ke masyarakat," katanya.

Jumat, 12 Februari 2010

Limbah Plastik Kini Mudah Dihancurkan

Plastik merupakan sampah nomor satu yang jadi musuh lingkungan. Materinya yang susah diuraikan membuat tumpukan sampah plastik terus menggunung. Perlu waktu ratusan tahun mengurai sampai plastik oleh mikroba dalam tanah.

Tapi kini limbah plastik mudah dihancurkan dan bisa terdegradasi dalam waktu 4-8 minggu dan bisa menyatu dalam tanah. Penguraian limbah plastik dengan cepat itu memungkinkan dengan menggunakan teknologi nano.
Teknologi nano yang digunakan di sini adalah penambahan nano kalsium karbonat sebagai filler pada lembaran plastik. Cara kerjanya, mikroorganisme akan mengurai plastik dengan proses erosi secara perlahan.

Semakin kecil ukuran partikel kalsium karbonat (sekitar 50 nm), maka semakin besar kontak mikroorganisme dengan plastik. Artinya proses erosi juga semakin besar, sehingga plastik menjadi lebih mudah terurai secara biologis.

"Teknologi ini sangat ramah lingkungan, karena plastik yang biasanya hanya bisa terurai dalam waktu ratusan tahun bisa terdegradasi dalam waktu beberapa bulan," kata Sekjen Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) Dr.Eng. Agus Haryono ketika dihubungi detikHealth, Rabu (16/12/2009).

Sebetulnya, bentuk nano partikel itu seperti bubuk, tetapi setelah diformulasikan ke dalam formula plastik maka bentuknya adalah lembaran plastik.

Formula nanoteknologi untuk sampah,--yang merupakan hasil kerjasama peneliti LIPI, BATAN dan Balai Besar Kimia dan Kemasan Deperin--, ini dibuat beragam. Semakin besar kandungan nanonya, plastik akan semakin cepat terurai. Tetapi sifat plastis dan sifat transparannya akan berkurang.

"Jadi perlu formula yang tepat, sesuai dengan keinginan dari pengguna plastik tersebut. Sampai saat ini masih belum ada nama khusus untuk produk nanoteknologi sampah ini. Bentuk kemasan secara khususnya juga belum ada, masih berupa lembaran plastik," tutur Agus.

Pakar polimer kimia LIPI itu mengatakan, semua plastik baik ukuran besar, sedang atau kecil bisa menjadi lebih mudah terdegradasi secara biologis dengan penambahan partikel nano.

Sampah plastik ini apabila sudah dihancurkan (secara biologis) maka bisa kembali ke tanah. Apabila plastik ini didaur ulang menjadi plastik biodegradable juga aman dipakai konsumen karena filler plastik ini adalah kalsium karbonat yang tidak beracun.

"Memang harga jual plastik biodegradable akan lebih mahal dari plastik konvensional. Oleh karena itu harus ada kebijakan dari pemerintah untuk memberikan kuota terhadap plastik biodegradable supaya lebih terjangkau oleh masyarakat luas," ungkap pria yang mengambil gelar S1, S2 dan S3 di Waseda University, Jepang.

Teknologi plastik biodegradable menurut Agus memang lebih mahal daripada teknologi untuk plastik konvensional. Di beberapa negara maju seperti Eropa misalnya, bioplastik dijual di supermarket dengan harga 8-10 kali lipat lebih tinggi dibanding harga plastik biasa.

"Tetapi masyarakat di Eropa masih mampu dan mau membeli bioplastik ini meskipun harganya jauh lebih mahal. Meski mahal harga sebesar itu masih terjangkau untuk mereka selain kesadaran lingkungan masyarakatnya juga sangat tinggi," jelas pria kelahiran Pamekasan, 21 Februari 1969.

Sedangkan di Jepang, pembungkus plastik sebagian besar sudah diberi tambahan kalsium karbonat untuk menambah kecepatan urainya.

Di Indonesia, masih sangat sulit untuk menjual bioplastik yang mahal kepada publik karena daya beli masyarakat dan kesadaran lingkungan yang relatif masih rendah.

"Maka itu pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup harus terus mendorong kesadaran publik ini, sekaligus memberikan subsidi supaya harga bioplastik lebih terjangkau," kata Agus.

Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA), menurut Agus juga sangat cocok menggunakan teknologi ini tapi untuk mewujudkannya perlu dukungan dari pemerintah. "Untuk plastik yang akan dibuang ke TPA memang sebaiknya memakai teknologi ini," katanya.

Teknologi nano kini sudah mulai diterapkan di berbagai industri nasional seperti industri keramik, industri tekstil, industri kosmetik, industri pangan, dan industri cat. Menurut kajian Departemen Perindustrian, saat ini 33-35 persen industri nasional sudah menerapkan nanoteknologi di bagian produksinya. Penelitian tentang teknologi nano di beberapa lembaga penelitian seperti LIPI juga sudah mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun swasta.

"Dana riset dari pemerintah cukup, demikian juga kerjasama riset dengan swasta, tentang pengembangan teknologi nano mulai banyak dilakukan," katanya.

Sumber: Detik

Kamis, 11 Februari 2010

Slank Bikin Lagu Bertema Alam

Slank membuktikan diri sebagai musisi yang mendukung segala bentuk kegiatan positif. Satu lagi kiprah grup musik di ini dalam kegiatan yang membawa kebaikan, yakni dengan memberikan dukungan dalam acara Live Earth yang membawa tema 'Say No Krisis Air Indonesia dan Dunia.' Sebagai bagian dari dunia musik, Slank akan memberikan kontribusinya dalam lagu.

"Ada dua acara di April itu, lari sejauh 6 kilo sebagai simbol masyarakat yang cari air sejauh 6 kilo dan konser. Mungkin panitia pilih Bali acara Live Earth ini kan serentak main bareng di 40 negara, di LA main, Tokyo main. Dan Bali tempat yang fenomenal, tempat yang terindah dari Indonesia," terang Kaka yang ditemui di Gedung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta Pusat, Selasa (2/2).

Sebagai bentuk kepedulian, Slank akan membuat lagu tentang alam dan dijadikan Ring Back Tone. "Yang aku tahu panitia punya ide, musisi yang terlibat di acara ini bikin lagu tentang alam dan akan dirilis untuk Ring Back Tone dan dananya akan dikolektif untuk pendanaan ini," ujar Kaka soal pembuatan lagu.

Ditanya soal kerja sama dengan Nadine Chandrawinata, Kaka mengaku belum tahu, tapi memastikan kalau dalam bentuk seni. "Belum, bentuknya pasti tentang seni karena Slank seni suara, dia main film. Sebetulnya Slank sendiri sedang rekaman album," ungkap vokalis ini yang menambahkan kalau kegiatan ini jadi yang kedua kalinya kerja sama dengan mantan Puteri Indonesia tersebut.

Sumber: Kapanlagi

Rabu, 10 Februari 2010

Go Green: Hadiah Termahal Untuk Anak Cucu Anda

Go GreenBerikanlah hadiah yang termahal untuk anak cucu anda, Dunia Bebas Polusi. Hadiah ini bisa anda berikan tanpa harus keluar uang sepeser pun. Hanya dari diri anda sendiri untuk kebahagiaan dan kesehatan keturunan anda.

Apa itu? Mudah, cukup terapkan prinsip 4 R berikut dalam keseharian anda. Go Green!

* Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

* Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

* Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.

* Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami.

Mudah dan Murah kan? GO GREEN!

Sumber: http://www.dexton.adexindo.com/artikel-go-green-hadiah
Foto:

Selasa, 09 Februari 2010

Kompos Komunal

Kompos KomunalKOMPOS KOMUNAL. Ahli kompos komunal dari Jepan, Koji Takakura (kiri), memberikan pelatihan pengelolaan sampah komunal di Kelurahan Sambung Jawa, Makassar, Kamis (28/1). Pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga kepada warga agar dapat memanfaatkannya menjadi kompos komunal.

Foto: Antara

Senin, 08 Februari 2010

Bersahabat dengan Sampah

Sampah menjadi masalah penting bagi keindahan Kota Pekanbaru, ketika banyak sampah ditemukan teronggok begitu saja di pinggir-pinggir jalan. Belum lagi sampah yang bertebaran di jalanan akibat pengendara motor atau mobil yang membuang bungkus makanan atau kulit buah-buahan di jalan. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa bungkus makanan dan kulit buah tersebut tidak akan berefek besar terhadap lingkungan.

“ Saya sering juga kok buang bungkus permen ketika di perjalanan, biasanya dilempar gitu aja, masalahnya saya malas kalau harus menyimpan sampah di tas, jadi ya lebih baik buang aja, lagi pula teman- teman saya juga sering kok melakukan hal itu” ujar salah seorang mahasiswi sebuah universitas swasta di Pekanbaru.

Hal yang berlawanan diungkapkan oleh Tanti Hidayah, mahasiswi Fasilkom STMIK. “Gara-gara buang sampah sembarangan got-got jadi tersumbat dan menyebabkan banjir, padahal tong sampah sudah disiapkan dimana-mana. Pemerintah juga sudah menghimbau untuk selalu menjaga kebersihan, tapi ternyata hasilnya belum maksimal masih banyak orang-orang yang seenaknya sendiri membuang sampah sembarangan” ungkapnya.

Menurut mahasiswi semester lima ini cara untuk mengatasi hal tersebut hanyalah dengan kesadaran diri sendiri, bahwa masing-masing pribadi harus menyadari pentingnya menjaga kebersihan karena keberadaan sampah yang tidak pada tempatnya selain tak sedap dipandang mata tetapi juga bisa menimbulkan berbagai penyakit.

Selain itu sebagai bukti kecintaannya kepada lingkungan mahasiswi yang tinggal di Jalan Putri Nilam, Sukajadi ini sering memakai kembali barang yang masih bisa dipakai ulang, seperti kaleng kue yang dijadikannya sebagai tempat menyimpan pena dan alat-alat tulis.
“Kalau masih bisa dipakai, kenapa tidak? Daripada kita buang-buang uang untuk membeli kotak pena lebih baik menggunakan barang yang sudah tak dipakai lagi, lebih hemat, efisien dan mengurangi sampah” ujarnya?

Sampah dapat dimanfaatkan dan dapat diolah lagi sehingga jika didaur ulang dilakukan melalui pengolahan sampah yang tepat maka akan mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomis. “Dari sampah keluarga dan tanpa keluar rumah saya bisa menghasilkan uang sekitar 5 juta perbulan” tutur Nurhayati, pemilik usaha bunga ucapan “7 Island” di simpang tiga jalan Kaharudin Nasution.

Wanita yang sering disapa Bude tersebut, membuat berbagai prakarya dari sampah. Misalnya kulit kacang yang diwarnai dan dirangkai menjadi bunga hiasan. Terus ada topi dari daun nangka kering, kendi-kendi dari kulit jagung dan kipas dari daun pandan. Ada juga celengan dari aqua botol bekas yang dihias dengan daun-daun jambu kering atau daun rambutan. Terdapat juga rumah-rumahan boneka dan pigura foto dari sedotan bekas. Selain itu juga ada kardus indomie yang disulap menjadi tempat hantaran pengantin yang cantik.
“Dengan membuka usaha seperti ini saya bisa melaksanakan anjuran Pak Wali Kota untuk mengurangi sampah sekaligus mendapatkan penghasilan” ungkapnya.

Menurut pengakuannya sebuah celengan dari botol bekas dan daun-daun rambutan kering dijual dengan harga 35 ribu, sementara bingkai foto dijualnya dengan harga 10 ribu perbuah. Maka tak heran jika Bude bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp5 juta perbulan.
Hasil prakarya Bude tersebut juga sering diikut sertakan dalam pameran barang-barang bernilai seni di Bandung dan Jakarta, bahkan hasil prakarya Bude sering dijadikan souvenir oleh para mahasiswa yang mengikuti pertukaran pelajar di berbagai negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Wanita yang menjalani bisnis membuat prakarya dari barang bekas dan sampah lebih dari sepuluh tahun ini, mengatakan bahwa cara menanggulangi sampah harus berawal dari hal yang paling kecil yaitu keluarga, karena produksi makan keluarga dan sampah adalah seimbang,jadi alangkah bagusnya jika sampah tersebut dimanfaatkan dengan cara mengolahnya menjadi prakarya atau minimal memakai kembali barang yang masih bisa dimanfaatkan.

Menurut Bude kaum remaja adalah generasi penerus yang harus peduli dengan lingkungan karena lima atau sepuluh tahun lagi remaja yang sekaranglah yang akan menjadi panutan bagi generasi-generasi selanjutnya jadi kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan harus lebih ditingkatkan.

“Masih banyak kaum remaja yang tidak peduli dengan lingkungan jadi alangkah baiknya kalau diadakan lomba-lomba yang bertemakan lingkungan, seperti lomba daur ulang sampah atau fashion dengan barang bekas, misalnya topi atau baju dari dedaunan kering” saran wanita yang punya semboyan hidup maju terus untuk berkarya ini.

Jadi sampah mempunyai potensi besar yang tersembunyi. Barang bekas atau sampah masih bisa dimanfaatkan, selagi kreativitas terus dikembangkan. Jadi memakai barang hasil daur ulang telah mengurangi sampah yang bisa mengurangi keindahan kota, mengakibatkan berbagai macam penyakit dan menyebabkan banjir. (Asrul Rahmawati GSJ - Mahasiswa Fasilkasi UMRI)

Kanibalisme di Kutub Selatan Akibat Global Warning

Menjelang KTT Perubahan Iklim Kopenhagen, bukti menyeramkan tentang dampak perubahan iklim kini muncul di ujung utara Canada. Seperti dikutip Radio Australia, Minggu (6/12), para ilmuwan melaporkan, kini sering terjadi aksi saling-memakan alias kanibalisme di kalangan Beruang Kutub. Bahkan, baru-baru ini sekelompok wisatawan menyaksikan pemandangan yang menyeramkan, seekor beruang kutub jantan memisahkan seekor anak beruang dari induknya, dan memakannya.

Menurut para ilmuwan selama tahun ini saja paling tidak sudah terjadi 8 kasus anak beruang kutub dimakan oleh biruang kutub dewasa lainnya. Es laut Teluk Hudson yang biasanya dimanfaatkan beruang kutub untuk berburu anjing laut, untuk menggemukkan badan selama musim dingin, sekarang ini memakan waktu lebih lama sebelum membeku.
Oleh karena itu, beruang-beruang kutub itu harus mampu bertahan lebih lama di daratan, sementara gemuk badannya terus menyusut sampai 30 persen. Parahnya, pada Desember ini, ada kemungkinan kebekuan akan terjadi lebih lama lagi. Pasalnya, menurut prakirawan, kawasan itu akan mengalami suhu udara rata-rata yang lebih tinggi paling tidak seminggu lagi.

Sumber: Pikiran Rakyat

Minggu, 07 Februari 2010

Beting Es Kutub Selatan Runtuh Akibat Perubahan Iklim

Gambar yang diambil oleh satelit AS memperlihatkan satu bagian Beting Es Wilkins, yang sangat besar di Kutub Selatan, mulai runtuh akibat perubahan iklim secara cepat di satu wilayah yang dengan cepat menjadi hangat di wilayah itu, kata beberapa ilmuwan dari US National Snow and Ice Data Center (NSIDC), Selasa.

Meskipun daerah yang runtuh saat ini memiliki luas 160 mil persegi, satu bagian besar Beting Es Wilkins, seluas 5.000 mil persegi, sekarang hanya ditopang oleh satu jalur sempit es di antara dua pulau, kata Ted Scambos, pemimpin kelompok ilmuwan di NSIDC.

"Jika terjadi sedikit kemunduran lagi, 'dinding penopang es' terakhir itu dapat runtuh dan kita akan kehilangan separuh dari seluruh daerah beting es dalam beberapa tahun ke depan," katanya, seperti dikutip Xinhua.

Dalam 50 tahun terakhir, Semenanjung Kutub Utara barat telah mengalami peningkatan temperatur terbesar di Bumi, naik sebanyak 0.5 derajat Celsius per dasawarsa. "Kami percaya Beting Es Wilkins telah ada selama setidaknya beberapa ratus tahun, tapi udara hangat dan kondisi terbuka terhadap gelombang samudra mengakibatkan pemisahan," kata Scambos -- yang pertama menyaksikan proses pemisahan tersebut pada Maret.

Beting Es Wilkins adalah lapisan es luas abadi yang mengambang di bagian barat-daya Semenanjung Kutub Selatan dalam jarak sekitar 1.000 mil di sebelah selatan Amerika Selatan.

Citra satelit menunjukkan Beting Es Wilkins mulai runtuh pada 28 Februari. Banyak data memperlihatkan bahwa bongkahan besar besar, dengan ukuran 25,5 kali 1,5 mil (2,4 kilometer), terlepas dari bagian depan barat-daya beting es tersebut, sehingga memicu pemisahan 220 mil persegi bagian dalam beting es itu.

Dengan mendekatnya akhir musim pencairan pada musim panas di Kutub Selatan, banyak ilmuwan memiliki dugaan kuat bahwa Beting Es Wilkins akan kian terpisah dalam beberapa bulan mendatang.

"Kondisi tak biasa ini selesai bagi musim ini," kata Scambos. "Tetapi saat Januari datang, kami akan mengamati untuk melihat apakah Beting Es Wilkins akan kian terpisah."

Beting Es Wilkins adalah salah satu rangkaian beting es yang telah runtuh di Semenanjung Barat Kutub Selatan dalam 30 tahun terakhir. Larsen B menjadi yang paling terkenal, karena menghilang hanya dalam waktu sekitar 30 hari pada 2002. Runtuhnya Beting Es Prince Gustav Channel, Larsen Inlet, Larsen A, Wordie, Muller dan Jones juga mempertegas pemanasan yang tak pernah terjadi sebelumnya di wilayah Kutub Selatan, kata Scambos.

Sumber: Antara

REDD Plus Plus?

Mengenal Gambut, dari Semenanjung Kampar ke Kopenhagen (3)

Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD) menjadi pembicaraan paling hangat di seluruh kawasan negara berkembang yang memiliki hutan. Bahkan kini berkembang pula skema REDD plus. Lalu bisakah gambut secara khusus masuk sebagai skema REDD plus plus?

Eric J Layman, wartawan senior asal Amerika yang tinggal di Italia dan menjadi tutor bagi para jurnalis Indonesia yang akan berangkat meliput konferensi perubahan iklim Sedunia (UNFCCC) COP15 di Kopenhagen, akhir November lalu, cukup kaget mendengar cerita tentang gambut. Suatu kawasan yang memiliki fungsi sangat penting dalam mengurangi emisi karbon, terutama karena menyerap karbon dan tidak melepaskan karbon yang ada di dalam lapisan tanahnya.

Apalagi saat Eric, mendengar ada kedalaman gambut hingga 20 meter di Riau. Menurutnya, sudah selayaknya upaya menjaga dan menyelamatkan gambut dari kerusakan menjadi prioritas penting masyarakat dunia. Sehingga salah satu ide tulisan yang dikembangkan adalah bagaimana mendorong agar gambut masuk dalam mekanisme REDD plus plus (++). Seiring dengan berkembangnya wacana tentang mekanisme REDD plus sejak COP14, di Poznan, Polandia, Desember 2008.

Namun dalam penelusuran Riau Pos untuk mendorong gambut masuk dalam mekanisme REDD plus-plus, tidaklah seperti bayangan awalnya. Awalnya, ada dugaan plus pada REDD plus, memiliki makna ada kompensasi lebih yang diberikan bagi penerima REDD. Selanjutnya REDD plus plus, memiliki makna mendapatkan tambahan berganda. Dengan asumsi, sama halnya seperti tarif hotel yang selalu mencantumkan ++, artinya ada tambahan biaya lain dari harga yang telah dicantumkan.

Pada kenyataannya REDD plus di situ, menurut Teguh Surya, dari Friend of The Earth (di Indonesia dikenal dengan Walhi, red), salah satu pembicara dalam side event yang dilaksanakan Panos London bersama Climate Change Media Patnership (CCMP) di Bella Center, Kopenhagen, tempat COP 15 berlangsung, menyatakan bahwa plus maknanya bukan membayar lebih. Tetapi memasukkan kawasan konservasi dalam mekanisme REDD.

Lebih lanjut, Teguh mengupas tentang sejarah REDD. Menurutnya ide tentang mekanisme REDD, dimulai pada tahun 2005, tepatnya COP 11 di Montreal. Di mana Papua Nugini bersama dengan Costa Rica dan didukung oleh delapan negara lainnya (Coalition of Rainforest Nations) mengajukan proposal mekanisme penurunan emisi dari deforestasi dari negara-negara berkembang. Mengingat emisi dari deforestasi hutan tropis menjadi penyumbang terbesar kedua penyebab pemanasan global.

Kemudian, pembahasan skema REDD berkembang kencang saat COP13, di Bali, tahun 2007. REDD dalam konfrensi itu, secara sederhana diartikan sebagai pemberian insentif atau kompensasi finansial kepada negara-negara yang berkeinginan dan mampu mengurangi emisi dari deforestasi dan digradasi. Namun, belum usai persoalan REDD, pada COP14 di Poznan, Polandia skema REDD diperluas. Skema ini tidak lagi berhubungan langsung dengan upaya pengurangan deforestasi dan degradasi lahan. Akan tetapi difungsikan untuk melakukan konservasi cadangan karbon di hutan, pengelolaan hutan lestari, peningkatan cadangan karbon hutan baik melalui kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi.

Asumsinya, tambahnya, bila skema awal REDD hanya memberikan keuntungan kepada negara-negara pemilik hutan dengan laju deforestasi tinggi. Namun dengan adanya skema REDD plus dengan lingkup yang lebih luas, maka negara-negara yang selama ini aktif melakukan konservasi hutan juga bisa mendapatkan skema REDD. Dengan demikian REDD plus-plus tidak memungkin. Apalagi Doddy S Sukadri, Ketua Kelompok Kerja Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF) Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Desember lalu, menyatakan gambut tidak pernah dibahas dalam teks negosiasi.

“Kita pernah mengusulkan agar gambut dipisahkan dengan wetland (lahan basah). Namun tidak ada negara lain yang mendukung. Akhirnya yang ada hanya wetland. Meskipun memang gambut termasuk lahan basah. Namun fungsi gambut yang sangat penting dalam mengurangi emisi karbon, akhirnya tidak dibahas spesifik,” ujarnya.

Dalam pengamatan Riau Pos, persoalan gambut pada COP15 hanya dibahas pada kegiatan sampingan (side event). Selain itu, sejumlah orang yang Riau Pos tanyai tentang tahukah mereka tentang Semenanjung Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan sebagai salah satu hutan rawa gambut yang kini ramai dibicarakan di Indonesia, apalagi paska aksi Greenpeace menentang alih fungsi lahan di areal tersebut. Rata-rata menggeleng tidak tahu.

Meskipun gambut tidak dibicarakan di teks negosiasi dan tidak ada perhatian dunia terhadap nasib gambut, Jonotoro, praktisi gambut Riau, minggu ketiga Januari, menyatakan isu gambut dalam beberapa tahun ke depan akan semakin populer. Pasalnya inti dari upaya melawan perubahan iklim adalam mengurangi emisi. Jika emisi dari lahan gambut tidak dicegah, maka target untuk mengurangi emisi karbon tidak akan dicapai.

“Target Presiden SBY untuk menurunkan target emisi pada tahun 2020 sebesar 26 persen itu tidak akan tercapai, jika upaya penyelamatan gambut tidak dilaksanakan. Pasalnya 14 persen dari total target penurunan emisi itu itu berasal dari sektor kehutanan terutama dari hutan rawa gambut yang paling banyak melepaskan emisi bila rusak,” paparnya.

Ia juga menyerukan, meskipun gambut kini masih terkesan diabaikan, namun menurutnya prinsip kehati-hatian tetap harus dilaksanakan dalam pengelolaan gambut. Apalagi, menurutnya, gambut merupakan areal yang rapuh, dan jika sekali mengalami kerusakan hampir mustahil untuk kembali.***

Sabtu, 06 Februari 2010

Melihat Go Green di SMAN 2 XIII Kotokampar

”Lihat, Mulai Banyak Cabangnya!”

Tak hanya kawasan Candi Muara Takus, Kecamatan XIII Kotokampar, yang menjadi tempat kegiatan Go Green PLTA Kotopanjang yang dilaksanakan oleh Riau Pos Group (RPG) dan Save The Earth Foundation (SEFo), awal November lalu. Tetapi juga dilaksanakan di SMAN2 XIII Kotokampar secara swadaya oleh pihak sekolah. Bagaimana hasilnya? Berikut hasil kunjungan Riau Pos ke sekolah yang berada di wilayah pemukiman baru, tempat pemindahan masyarakat yang kampungnya ditenggelamkan demi PLTA Koto Panjang, Selasa (26/1) kemarin.

Matahari siang itu cukup bersahabat saat Riau Pos menjejakkan kaki di halaman SMAN 2 XIII Kotokampar, Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Kotokampar. Desa ini punya historis sendiri dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kotopanjang. Pasalnya untuk mewujudkan PLTA yang mampu memproduksi listrik 114 MW itu, desa mereka terpaksa ditenggelamkan dan akhirnya pindah ke lokasi sekarang, tempat sekolah itu berdiri. Itulah sebabnya, sekolah yang memiliki siswa 263 anak ini, menjadi sekolah yang paling antusias mengikuti kegiatan Go Green PLTA Kotopanjang.

Kunjungan mendadak Riau Pos ke sekolah tersebut menjadi bagian lawatan Riau Pos untuk melihat kondisi terkini hasil kegiatan penanaman Go Green Riau Pos di kawasan Candi Muara Takus, XIII Koto Kampar. Sekaligus pemberian sertifikat kegiatan tersebut kepada pihak sekolah di Kecamatan XIII Kotokampar yang ikut berpartisipasi pada kegiatan kemping dan penghijauan bersama Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Gusti Muhammad Hatta, awal November lalu.

SMAN2 XIII Kotokampar, lokasinya tidak terlalu dekat dengan jalan lintas Pekanbaru–Sumbar. Untuk masuk ke sekolah ini, harus masuk sekitar 3-5 Km dari jalan lintas, tepatnya di kilometer 73. Jalan ke sekolah ini tak bisa dibilang mulus, hanya bagian awalnya saja, setelah itu sejumlah jalan rusaklah yang ditemui dan berakhir dengan jalan semen sebelum sampai ke sekolah tersebut.

Sekolah yang dipimpin oleh Anizar SPd ini, sebenarnya bukan sekolah baru. Ia berdiri sejak tahun 1999. Hanya saja, lokasi sekolahnya yang ditempati sekarang, baru dibangun pada tahun 2004, sehingga masih gersang dan memerlukan penghijauan. Itulah sebabnya saat Panitia Go Green PLTA Kotopanjang menawarkan sekolah-sekolah yang hendak melakukan penghijauan di sekolah mereka bersamaan dengan kegiatan Go Green PLTA Kotopanjang di Candi Muara Takus, sekolah ini mengajukan diri. Bahkan pihak sekolah melakukan gotong royong dan persiapan penanaman saat kegiatan Go Green PLTA Kotopanjang berlangsung.
Menurut Dendi, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, jumlah pohon mahoni dan matoa yang ditanam di sekolah mereka sekitar 100 batang. Mulai dari jalan sempit memasuki SMAN 2 XIII Kotokampar, sampai ke sekeliling halaman sekolah.

“Semua pohon yang ditanam tumbuh subur, lihat saja mulai banyak cabang barunya. Padahal umurnya baru beberapa bulan (sekitar tiga bulan). Ini berkat pupuk organik yang diberikan panita,” ungkap Anizar, sembari memperlihatkan pohon-pohon mahoni dan matoa mereka yang tumbuh subur di sekeliling halaman sekolah.

“Dua tahun lagi, saat pohon-pohon ini sudah besar, pasti cantik jejeran pohon-pohon itu,” tambah Dendi sembari memperlihatkan jejeran pohon-pohon yang ditanam di pinggir jalan menuju sekolah mereka.

Dendi juga menjelaskan, bahwa bibit pohon yang mereka minta dari Panitia Go Green Riau Pos itu tidak saja ditanam di sekolah mereka, namun sebagian juga diberikan ke sekolah-sekolah di sekitar mereka. Dengan tujuan, agar sekolah-sekolah di kawasan itu, nanti juga sama hijaunya dengan sekolah mereka yang kini belumlah rindang karena ukurannya kebanyakan masih kecil-kecil kecuali pohon glodokan yang sudah setinggi orang dewasa.

Andi Noviriyanti

Jumat, 05 Februari 2010

Lapisan Barat Kutub Selatan Tidak Stabil

Lapisan Barat Kutub SelatanMenghangatnya Bumi belahan selatan saat ini diperkirakan memengaruhi lapisan es di Kutub Selatan atau Antartika. Tim periset Universitas Oxford dan Universitas Cambridge, Inggris, baru-baru ini mengungkapkan hasil studi yang menyatakan lembar es Antartika barat mulai tidak stabil. Tim mengembangkan model menjelajahi perubahan lapisan es dari dasar hingga lapisan yang mengapung.

"Volume es yang terdapat pada lapisan Antartika barat itu setara dengan kenaikan permukaan laut 3,3 meter," kata Dr Richard Katz dari Departemen Ilmu Kebumian Universitas Oxford. Model yang dikembangkan menunjukkan ketidakstabilan pada landasan garis yang disebabkan perubahan iklim secara bertahap. Hal itu dapat menimbulkan perpecahan es.

"Model-model iklim global ini sering menggunakan asumsi bahwa ketika dunia menghangat, lembaran es itu akan mencair dengan stabil, lalu menyebabkan kenaikan muka laut secara bertahap," kata Katz.

Tetapi, ia mengatakan, struktur lapisan es jauh lebih kompleks. "Kami perlu melakukan lebih banyak pekerjaan untuk membangun model lebih baik tentang perilaku lembaran es. Kemudian untuk memprediksi perilaku es di masa depan sebagai dampak perubahan iklim," ujar Katz.

Kamis, 04 Februari 2010

Danau Sentani Papua

Danau Sentani PapuaDanau Sentani Papua Jadi Septictank Besar Warga

Alam kebanggaan Papua, Danau Sentani di Jayapura perlahan namun pasti sedang menuju kerusakannya. Danau dengan pulau-pulau kecil di dalamnya ini terancam oleh sedimentasi/pendangkalan akibat aktivitas di Pegunungan Cagar Alam Cycloops, sampah rumah tangga, hingga sampah bahan beracun berbahaya.

"Danau Sentani ini juga sudah mirip dengan septictank besar, tempat pembuangan kotoran manusia yang tinggal di tepi-tepi danau," ujar Franz Albert Yoku, Ketua Umum Badan Otorita Adat Sentani (BOAS), Selasa (19/1/2010) di Sentani Kabupaten Jayapura Papua.

Ini diungkapkannya dalam peresmian BOAS yang dilakukan Gubernur Papua Barnabas Suebu. Franz menuturkan, kondisi Danau Sentani semakin terancam oleh pertambahan penduduk yang tidak memiliki keterampilan. Ini membuat warga cenderung mengambil cara gampang untuk mengeksploitasi alam yang merusak.

Karenanya, Franz Albert menargetkan agar penduduk Sentani memperoleh pendidikan serta keahlian untuk mengelola dan menjaga alamnya. Lebih lanjut, ia pun berusaha agar Pegunungan Cycloops bebas dari permukiman penduduk, ladang/kebun, dan berbagai aktivitas manusia.

Aktivitas di Cycloops menyebabkan tanah tergerus sehingga turun ke sungai dan terbawa ke Danau Sentani. Kondisi yang berlangsung terus menerus ini dikhawatirkan menyebabkan pendangkalan di danau. Sementara itu, Gubernur Papua Barnabas "Bas" Suebu meminta agar BOAS menjaga adat istiadat serta budaya dan kearifan lokal masyarakat Sentani.

Bas yang juga asli dari suku di Sentani mengatakan nilai-nilai moral, sosial, serta etika bermasyarakat dalam masyarakat adat harus diperhatikan. Ia mencontohkan, kini banyak anak-anak suku di Sentani yang tak bisa lagi berbicara dalam bahasa lokal suku.

"Ini yang dapat menjadi kepunahan," ujar Bas. Ihwal kerusakan alam Hutan Lindung Cycloop, Bas mengatakan Pemprov Papua telah menyiapkan strategi pembangunan kota baru yang menjauhi Cycloop yaitu ke arah selatan-barat Danau Sentani. Ini diharapkan dapat mengendalikan kegiatan ke arah Cycloop.

Sumber: Kompas.Com

Rabu, 03 Februari 2010

Kami Tak Sanggup Menghentikan Kerakusan Ini...

Rakus. Begitu kesan pertama saat melihat sebagian hutan pendidikan dan penelitian milik Universitas Mulawarman, Samarinda, di kawasan Taman Hutan Rakyat Bukit Soeharto, digerogoti.

Pihak kampus tak bisa berbuat banyak, bahkan ketika hutan yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tersebut ditambang secara liar oleh berbagai kalangan. ”Kami tidak mampu menghentikan kerakusan ini. Kewenangan kami cuma memakai hutan ini untuk kepentingan pendidikan dan penelitian, tidak lain dari itu,” kata Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman (PPHT Unmul) Chandradewana Boer.

Tanggal 14 Januari lalu, Boer menunjukkan seluk-beluk hutan di wilayahnya, termasuk melihat seberapa parah penambangan yang telah berlangsung saat ini. Benar saja, hati tersayat melihatnya.

Betapa tidak. Hutan seluas lebih dari 40 kali lapangan sepak bola atau sekitar 40 hektar dari 20.271 hektar hutan yang dikelola Unmul itu sedang dihancurkan. Permukaan tanah dikupas dan materialnya dipindah-pindah. Perut bumi diacak-acak dan dibongkar agar batu bara bisa diambil dan dijual.

Pertambangan masih berlangsung, tetapi sudah menyisakan lubang galian (pit) yang amat lebar dan sangat dalam, mencapai 150 meter. Dasar dan dinding pit itu hitam sebagai bukti bahwa hutan Unmul itu mengandung batu bara yang melimpah. Buldoser, eskavator, traktor, truk, dan mobil gardan ganda berseliweran di jaringan jalan dalam pit, seperti berlomba.

Kegiatan seperti itu bukan hanya di lahan Unmul saja. Di sekeliling Tahura Bukit Soeharto beroperasi 19 perusahaan pemilik kuasa pertambangan dengan izin dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Yang ironis, 12 kuasa pertambangan di antaranya mengelola lahan konsesi yang ternyata tumpang tindih, seluas 1.156 hektar, dengan hutan Unmul.

Meskipun ditunjuk sebagai pengelola oleh Kementerian Kehutanan, Unmul tidak mampu menghentikan pertambangan. Yang mengenaskan, operasi tambang batu bara itu ternyata legal akibat adanya tiga Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan yang saling berbeda mengenai koordinat tata batas Tahura Bukit Soeharto. Padahal, SK-SK itu menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk meminta rekomendasi Kementerian Kehutanan guna penerbitan kuasa pertambangan.

Dalam konteks itu, SK terbaru bernomor 577 Tahun 2009 membatalkan SK 270/1991 dan SK 419/2004. Namun, kuasa-kuasa pertambangan yang telanjur keluar berdasarkan dua SK terdahulu tetap berlaku sampai izinnya habis.

Untuk mencapai pelabuhan harus melalui jalan-jalan dalam hutan ini. Boer dan kami pun harus ditanyai ini-itu oleh satuan pengamanan perusahaan tambang batu bara untuk masuk ke kawasan Unmul tersebut. Tuan rumah ternyata tidak leluasa menyusuri hutan milik mereka.

Di hutan Unmul bahkan juga ada ladang, permukiman, menara telekomunikasi, dan instalasi listrik. Kerusakan bertahun-tahun akibat pembalakan, perambahan, dan pertambangan mengakibatkan tidak lebih dari 6.000 hektar hutan Unmul yang masih berkondisi baik meskipun tidak terlalu lebat.

Tidak ada lagi hutan perawan karena Tahura Bukit Soeharto pernah terbakar hebat. Hutan berkondisi baik yang tersisa adalah generasi kedua yang masih selamat dari ancaman penghancuran. ”Kami berharap diberi kewenangan mengelola hutan secara mandiri, meski tidak luas, cukup yang 6.000 hektar yang masih bagus ini,” tambah Boer.

Kerakusan perlahan juga memangsa bumi Samarinda. Tidak hanya dirasakan kampus yang notabene memiliki kepentingan penelitian, yang memiliki kepentingan jauh ke depan, batu bara juga meresahkan warga. Warga di RT 25 Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda, contohnya.

Saat ini, permukiman RT 25 yang berjarak sekitar 25 meter dari bekas pertambangan batu bara sering kebanjiran akibat tiga danau bekas galian (pit) tidak direklamasi. Setiap sehabis hujan, air tiga danau yang bercampur lumpur dari erosi tanah bekas tambang meluap ke permukiman warga.

Masih di Kecamatan Samarinda Utara, tambang batu bara sudah tiga tahun ini menyusahkan warga RT 28 Kelurahan Tanahmerah. Sebelum ada tambang, warga memanfaatkan Sungai Rimbawan di belakang permukiman untuk mandi dan mencuci. Warga kadang berani mengonsumsi air sungai itu.

Namun, setelah ada tambang, sungai mendangkal akibat endapan lumpur dan pasir yang tebal dan hampir setinggi permukaan jalan. Air sungai masih ada, tetapi sangat sedikit. ”Kalau air dipakai mandi bisa membuat badan gatal-gatal. Air tidak bisa dipakai minum lagi sehingga kami harus membeli air isi ulang,” kata warga RT 28, Dominicus.

Pemerintah Kota Samarinda telah menerbitkan 76 kuasa pertambangan pada lahan konsesi 50.808 hektar atau 71 persen dari luas Kota Tepian yang 71.823 hektar. Sebanyak 55 kuasa pertambangan di antaranya sudah berproduksi pada lahan konsesi 38.814 hektar atau lebih dari separuh luas Samarinda. Kuasa-kuasa pertambangan itu ada di sekeliling bahkan di segala penjuru dalam kota.

Padahal, dari batu bara, Samarinda cuma mendapat pendapatan asli daerah Rp 399 juta atau 4 persen dari total PAD tahunan yang Rp 112 miliar.

Suria Dharma dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Unmul mengatakan, Samarinda kian rentan kebanjiran karena dikepung tambang. ”Reklamasi memang mahal, tetapi dampak bencana bagi masyarakat sebenarnya jauh lebih mahal sebab menyangkut kerugian material dan sosial,” katanya.

Sumber: Kompas.Com

Selasa, 02 Februari 2010

Taman Wisata Muara Angke

Menhut: Ini Kawasan Hewan, Bukan Kawasan Manusia
Taman Wisata Muara AngkeMenteri Kehutanan menjelaskan bahwa konservasi hutan mangrove adalah kawasan hewan bukan kawasan manusia.

"Taman Wisata Alam Angke Kapuk adalah kawasan hewan, bukan kawasan kita (manusia). Jadi di taman wisata ini sekaligus menjadi konservasi pohon magrove juga satwa-satwa. Sehingga bila pengunjung hendak berwisata ke tempat ini harus mempersiapkan diri dengan obat nyamuk, pakaian yang menjauhkan diri dari gigitan nyamuk DBD," ucap Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada acara peresmian Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Senin (25/1/2010).

Taman wisata yang memiliki luas lebih kurang 99,82 hektar ini ini merupakan lahan konservasi pohon mangrove dan satwa-satwa liar, di antaranya biawak, udang, dan burung-burung liar.

Menhut dalam sambutannya memberikan dukungan sepenuhnya kepada Sri Lela Murniwati, Direktur Utama PT Murindra Karya Lestari, atas kerja kerasnya selama 12 tahun untuk membangun taman wisata ini. "Apa yang dilakukan Ibu Murni ini luar biasa, beliau melakukan rehabilitasi mangrove, menjadikan kawasan ini sebagai tempat konservasi flora dan fauna," ucap Zulkifli.

Menhut berharap nantinya tempat ini bisa menjadi pusat pengembangan pendidikan hutan mangrove serta sekaligus bisa menjadi wisata alam yang terbaik untuk Jakarta, khususnya Jakarta Utara, bahkan bisa jadi untuk Indonesia sekaligus bisa menjadi wisata internasional.

"Taman wisata ini letaknya tidak jauh dengan Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan asing yang singgah di Jakarta," ucap Zulkifli.

Peresmian Taman Wisata Angke Kapuk ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan hutan mangrove oleh Menhut dengan menggunakan perahu karet.

Sumber: Kompas.Com

Senin, 01 Februari 2010

Indonesia Usulkan Bentuk Pusat Perubahan Iklim di Asia

Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) ditugaskan untuk melakukan penjajagan atas usulan pembentukan pusat perubahan iklim (Regional Centre for Climate Change) di Indonesia.

Usulan itu merupakan salah satu keputusan rapat pleno DNPI yang dipimpin Menko Kesra Agung Laksono di Kantor Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Jakarta Pusat, Senin (25/1/2010) petang.

Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, DNPI diharapkan bisa melanjutkan penjajagan dan mengomunikasikannya dengan negara-negara tetangga. Indonesia dinilai sebagai negara yang cukup strategis untuk menjadi pusat perubahan iklim di regional Asia.

Ketua Harian DNPI Rachmat Witoelar mengatakan, usulan tersebut masih berupa embrio. Namun, DNPI akan menjajakinya dengan serius. "Hingga saat ini masih belum ditentukan titiknya dimana. Tapi, kita rugi kalau centre itu di luar Indonesia, karena kita juga berkepentingan," kata Rachmat seusai rapat pleno.

Jika usulan tersebut disepakati, Indonesia akan segera melakukan lobby dengan negara-negara Asia. "Alasan kita kenapa? Karena Indonesia posisinya sangat tepat, kita negara kepulauan. Ideal menjadi pusatnya perubahan iklim," ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup ini.

Perkuat DNPI

Keputusan lainnya dalam rapat pleno kali ini untuk mendukung pelaksanaan Copenhagen Accord yang menjadi kesepakatan hasil pertemuan COP15 di Kopenhagen pada Desember 2009 lalu, yakni agar struktur di DNPI akan diperkuat.

Penguatan fungsi koordinasi DNPI di antaranya dengan memindahkan administrasi kesekretariatan di bawah koordinasi kantor Kementerian Koordinator Kesra. Selain itu, DNPI juga akan dilengkapi dengan pokja-pokja dari instansi terkait untuk menyukseskan Copenhagen Accord.

 
Design by Green Student Journalists | Bloggerized by Lasantha - Tebarkan virus cinta lingkungan | student_lovers_enviroment, Riau Province